Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Elsa Naviati
"Cairan dibutuhkan oleh tubuh untuk konservasi energi Ketidakseimbangan cairan akan menyebabkan gangguan proses fisiologis yaitu pengaturan suhu tubuh media transportasi membantu proses memperbaiki sel di dalam tubuh dan metabolisme Karya ilmiah ini membahas mengenai penerapan Konservasi Energi untuk memenuhi kebutuhan cairan anak post operasi Terdapat lima kasus yang dibahas Intervensi diberikan berdasarkan pinsip prinsip konservasi mencakup semua trophicognosis yang ditemukan pada klien Hasil evaluasi pada akhir perawatan dari trophicognosis pada kelima kasus terpilih menunjukkan ada yang teratasi belum teratasi tetapi sudah menunjukkan perbaikan dan ada juga yang belum teratasi Pemantauan asupan dan haluran cairan memegang peranan penting dalam menyelesaikan masalah klien Kata kunci Kebutuhan Cairan Post Operasi Konservasi Energi.

Fluid imbalance will cause physiological processes The process is the regulation of body temperature transport media assist in the repair cells in the body and metabolism This paper discusses the application of Energy Conservation to meet the child 39 s needs postoperative fluid There are five cases discussed Interventions are given based on conservation principles pinsip trophicognosis include all those found on the client The evaluation results of treatment in five cases trophicognosis selected indicates there are resolved not resolved but is showing improvement and there are also unresolved Fluid intake and output monitoring is an important role of problem solving Key words Fluid needs Post operative Energy Conservation."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Dian Novita
"Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) adalah prosedur yang sering dilakukan untuk mengatasi fraktur. Masalah yang sering timbul pada post operasi ORIF adalah nyeri akut pada level severe. Manajemen nyeri yang tepat diperlukan untuk menangani respon nyeri. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap nyeri post operasi ORIF di RSUDAM Propinsi Lampung. Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan non-equivalent pretestpostest with control group, pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Jumlah sampel adalah 36 orang (18 orang kelompok kontrol dan 18 orang kelompok intervensi). Nyeri diukur dengan Numeric Rating Scale (NRS). Uji statistik menggunakan uji beda dua mean. Hasilnya ada pengaruh yang signifikan terapi musik terhadap penurunan tingkat nyeri pasien post operasi ORIF (P value = 0,000; α = 0,05). Tidak ada hubungan antara usia, jenis kelamin, dan riwayat pembedahan sebelumnya terhadap tingkat nyeri. Hasil penelitian ini merekomendasikan terapi musik sebagai intervensi mandiri keperawatan untuk mengurangi nyeri post operasi ORIF.

Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) is a common procedure for fracture treatment. Mostly problem in post ORIF surgery period is acute severe pain. The appropriate pain management is required. This research aimed to identify the effect of music therapy on post ORIF surgery pain at Abdul Moeloek Hospital Lampung Province. The design used quasi experiment with non-equivalent pretest-posttest with control group, recruting sample by consecutive sampling. There were 36 samples (18 respondents as the control group and 18 respondents as the intervention group). The pain was measured by Numeric Rating Scale (NRS). The analyze used T-test compare 2 mean. The result indicated that there was a significant effect of music therapy on reducing post ORIF surgery pain (P value = 0,000; α = 0,05). There was no significant correlation between age, sex, and surgical history with pain level. Music therapy is recommended.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
T30673
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sodikin
"Penanganan kasus hernia melalui pembedahan insisi kulit abdomen akan menyebabkan nyeri paska operasi. Manajemen nyeri dengan terapi analgetik tetap menimbulkan nyeri kembali 6 jam paska analgetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bacaan Al-quran (TBA) terhadap respon nyeri post operasi hernia. Desain penelitian ini adalah Quasi experiment pre and post test non equivalent control group dengan jumlah 20 responden. Hasil penelitian ada perbedaan skala nyeri (p=0,08 ; α=0,05) dan denyut nadi (p=0,01 ; α=0,05) sebelum dan sesudah TBA. Sementara pada kelompok tidak TBA didapatkan hasil tidak ada perbedaan skala nyeri dan denyut nadi sebelum dan sesudah terapi; terdapat perbedaan skala nyeri setelah TBA pada kedua kelompok (p=0,05 ; α=0,05); tidak ada perbedaan denyut nadi setelah terapi pada kedua kelompok; tidak ada hubungan faktor usia dan pengalaman mengatasi nyeri post operasi dengan nyeri dan denyut nadi. Maka disarankan bagi rumah sakit menggunakan terapi bacaan Al-quran sebagai terapi komplementer menurunkan nyeri.

Surgical treatment for hernia require abdominal skin incisition which leads to post operative pain. To overcome pain, analgesic is commonly used, however its effect only, for six hours. Thus providing analgesic combine with complementary therapy of Quran listening (TBA) would be more effective. This research aimed to identify TBA effect on post hernia surgery pain. This research used quasi experiment method with pre and post test non-equivalent control group, from 20 respondents. The result showed that there were significant differences in pain level (p=0,08 ; α=0,05) and pulse (p=0,01 ; α=0,05) before and after TBA therapy; there were difference pain level between treatment and control groups (p=0,0 5 ;α=0,05); and there were no difference in pain level and pulse in control group. There was no correlation between age and previous experience with pain level and pulse. Therefore, it is recommended using TBA as a complementary therapy for reducing pain level after hernia surgery."
Depok: Universitas Indonesia, 2012
T31400
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muthia Anjali
"Tidur sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia seringkali tidak terlalu diperhatikan pada masa rawat inap. Padahal pasien yang dirawat di rumah sakit sering mengalami gangguan tidur terutama pasien pre dan post operasi. Penurunan kualitas tidur ini akan berdampak pada pemulihan yang tidak optimal, penurunan kualitas hidup pasien, dan memanjangnya waktu rawat inap di rumah sakit. Salah satu intervensi yang dapat diberikan pada pasien adalah intervensi penerapan sleep hygiene di ruang rawat. Pasien yang ada dalam projek ini berjumlah tiga orang dengan diagnosis medis yang berbeda-beda. Pasien dijadwalkan post-operasi kembali ke ruang rawat. Ketiga pasien memiliki masalah kualitas tidur yang buruk dibuktikan dengan skor Richard Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ) yang rendah yaitu 30, 54, dan 52. Penulis memberikan intervensi berupa penerapan sleep hygiene kepada pasien bekerja sama dengan perawat ruangan selama 3 hari. Setelah intervensi terdapat perbaikan kualitas tidur pasien dilihat dari peningkatan skor RCSQ. Namun peningkatan skor RCSQ yang signifikan ini kemungkinan disebabkan karena pasien mengalami kecemasan sebelum operasi yang mengakibatkan kualitas tidurnya terganggu. Selain itu pada pasien dengan komorbid ditemukan peningkatan kualitas tidur yang kurang memuaskan. Pada intervensi berikutnya, direkomendasikan untuk mengkaji sleep hygiene pasien sebelum masa perawatan menggunakan instrumen yang baku, mengajarkanteknik relaksasi, menyarankan pasien membawa alat tidur dari rumah (eye mask dan/atau ear plug), dan memberikan edukasi terkait pentingnya tidur cukup dan kebiasaan tidur yang baik di rumah sakit.

Sleep, as one of the basic human needs, is often not given much attention during hospitalization. In fact, patients treated in hospital often experience sleep disorders, especially pre- and post-operative patients. This decrease in sleep quality will have an impact on suboptimal recovery, a decrease in the patient's quality of life, and a longer hospital stay. One intervention that can be given to patients is the intervention of implementing sleep hygiene in the treatment room. There were three patients in this project with different medical diagnoses. The patient is scheduled to return to the ward after surgery. The three patients had poor sleep quality problems as evidenced by low Richard Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ) scores, namely 30, 54, and 52. The author provided intervention in the form of implementing sleep hygiene to the patients in collaboration with the room nurse for 3 days. After the intervention, there was an improvement in the patient's sleep quality as seen from the increase in the RCSQ score. However, this significant increase in RCSQ scores was probably caused by the patient experiencing anxiety before surgery which resulted in disturbed sleep quality. In addition, patients with comorbidities found an increase in unsatisfactory sleep quality. In the next intervention, it is recommended to assess the patient's sleep hygiene before the treatment period using standard instruments, teach relaxation techniques, advise the patient to bring sleeping equipment from home (eye mask and/or ear plugs), and provide education regarding the importance of getting enough sleep and good sleep habits. in the hospital..
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Edi Rohendi
"ABSTRAK
Open reduction internal fixation (ORIF) pada fraktur ekstremitas bawah jumlahnya terus meningkat. Tingkat pengetahuan perawat yang baik dalam melakukan tindakan mobilisasi dini post ORIF sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat tentang mobilisasi dini pada pasien post ORIF ekstremitas bawah di RSAL Dr. Mintohardjo. Penelitian menggunakan metode cross sectional, jumlah responden 54 orang dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukan responden mayoritas memiliki pengetahuan kurang. Ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan mobilisasi dini (p=0,000; =0,05) dan hubungan yang bermakna antara pelatihan dengan tingkat pengetahuan tentang mobilisasi dini (p=0,008; =0,05). Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan landasan untuk memperkuat faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat.

ABSTRAK
Open reduction internal fixation ( ORIF ) in the lower extremity fractures is steadily increasing. The level of knowledge of good nurses in action early mobilization post ORIF indispensable. This study aims to determine the factors that affect the nurse's knowledge about early mobilization in patients post ORIF lower extremities in RSAL Dr. Mintohardjo. Research using cross sectional method, the number of respondents 54 people with a total sampling method. The results showed a majority of respondents have less knowledge. Found a significant relationship between the level of education and level of knowledge of early mobilization (p= 0.000 ; = 0.05) and significant relationship between training and the level of knowledge about early mobilization (p = 0.008 ; = 0.05). This study is expected to be the basis for strengthening the factors that affect the nurse's knowledge.
"
2016
S64989
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library