Ditemukan 77 dokumen yang sesuai dengan query
Nicky Wahyuni Hapsari
"Pemantauan Terapi Obat merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Tujuan PTO adalah untuk meningkatkan efektifitas terapi dan meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Diketahui (ROTD). Kegiatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto dilaksanakan selama tujuh hari. Pelaksanaan PTO dimulai dengan melakukan seleksi pasien, pengumpulan data, rekam medik dan wawancara langsung kepada pasien. Analisis masalah terkait obat dilakukan dengan menggunakan PCNE dimana DRP diklasifikasikan menjadi klasifikasi dasar yang memiliki 3 domain utama untuk masalah (problems), 9 domain utama untuk penyebab (causes) dan 5 domain utama untuk intervensi yang direncanakan (planned interventions), 3 domain utama untuk tingkat penerimaan (intervention acceptance) dan 4 domain utama status masalah (status of DRP). Perlunya komunikasi antar tenaga kesehatan yaitu dokter, perawat, dan apoteker dalam proses pemantauan terapi obat untuk meminimalisir adanya interaksi obat yang mungkin terjadi dan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien.
Therapeutic Drug Monitoring is a process that includes activities to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients. The purpose of TDM is to improve the effectiveness of therapy and minimize the risk of Unknown Drug Reactions. Drug Therapy Monitoring activities at Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) were carried out for seven days. TDM implementation starts with patient selection, data collection, medical records and direct interviews with patients. Analysis of drug-related problems is carried out using PCNE where DRP is classified into a basic classification that has 3 main domains for problems, 9 main domains for causes and 5 main domains for planned interventions, 3 main domains for the level of acceptance (intervention acceptance) and 4 main domains for the status of the problem (status of DRP). The need for communication between health workers, namely doctors, nurses, and pharmacists in the process of monitoring drug therapy to minimize drug interactions that may occur and to ensure safe, effective, and rational drug therapy for patients."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Audrew Johnson Budianto
"Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan Global TB Report 2018, Indonesia mencatat 842.000 kasus TB baru pada tahun 2017, dengan kematian akibat TB mencapai 116.400. Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu kegiatan berkesinambungan yang bertujuan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional. PTO meliputi evaluasi pemilihan obat, dosis, cara pemberian, respons terapi, Resolusi Outcome Terapi Obat (ROTD), serta merekomendasikan perubahan terapi bila diperlukan. Di RSUD Tarakan Jakarta, PTO dilaksanakan pada pasien dengan tuberkulosis paru, diabetes melitus, dan dispepsia. Proses PTO dimulai dengan seleksi pasien berdasarkan diagnosis, obat yang diresepkan, serta lama perawatan, diikuti dengan pengumpulan data rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan metode Hepler dan Strand. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengobatan pasien sebagian besar sudah tepat indikasi dan tidak menimbulkan interaksi obat yang merugikan. Namun, terdapat beberapa indikasi yang tidak diterapi seperti hipoalbuminemia dan anemia mikrositik, serta pemilihan antibiotik yang kurang tepat berdasarkan hasil kultur laboratorium.
Pulmonary tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. According to the Global TB Report 2018, Indonesia reported 842,000 new TB cases in 2017, with TB-related deaths reaching 116,400. Drug Therapy Monitoring (DTM) is a continuous activity aimed at ensuring safe, effective, and rational drug therapy. DTM includes the evaluation of drug selection, dosage, administration method, therapeutic response, Drug Therapy Outcome (DTO), and recommending therapy modifications if necessary. At RSUD Tarakan Jakarta, DTM is conducted for patients with pulmonary tuberculosis, diabetes mellitus, and dyspepsia. The DTM process begins with patient selection based on diagnosis, prescribed medications, and length of treatment, followed by collecting medical record data. Analysis is carried out using the Hepler and Strand method. The results of the analysis indicate that most patient treatments were appropriate for their indications and did not result in harmful drug interactions. However, there were some untreated indications such as hypoalbuminemia and microcytic anemia, as well as suboptimal antibiotic selection based on laboratory culture results."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Fitri Handayani
"Pemantauan terapi obat adalah proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan dalam pemantauan terapi obat berupa pengkajian pemilihan obat, dosis, cara pemberian, respon terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) dan rekomendasi atau alternatif terapi. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sistem organ yang paling sering terkena dampaknya dari penyakit ini adalah sistem pernapasan, sistem gastrointestinal (GI) sistem limforetik, kulit, sistem saraf pusat, sistem muskuloskeletal, sistem reproduksi, dan hati. Apoteker dalam menjalankan tugas pemantauan terapi obat melalui 6 (enam) tahapan seperti seleksi pasien, pengumpulan data pasien, identifikasi masalah terkait obat, rekomendasi terapi, rencana pemantauan dan tindak lanjut. Pengumpulan data pasien dan data penunjang lainnya diperoleh dari sistem prima rumah sakit. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah pasien didiagnosis TB Paru Bakteriologis relaps (kambuh) dan pasien memiliki riwayat Diabetes Melitus, kemudian terapi diberikan untuk infeksi yang diderita berserta keluhan lain yang diderita oleh pasien tersebut. Terdapat drug related problemberupa ketidaksesuaian dosis OAT dengan berat badan pasien yang tertulis di cppt dan interaksi obat yang mungkin dapat terjadi akibat penggunaan OAT dan parasetamol.
Drug therapy monitoring is a process that includes activities to ensure safe, effective and rational drug therapy for patients. Activities in drug therapy monitoring include assessment of drug selection, dosage, administration method, therapeutic response, adverse drug reactions (AEDs) and recommendations or alternative therapies. Tuberculosis is an infectious disease caused by the germ Mycobacteriumtuberculosis. The organ systems most commonly affected by this disease are the respiratory system, gastrointestinal (GI) system, lymphoretic system, skin, central nervous system, musculoskeletal system, reproductive system, and liver. Pharmacists in carrying out drug therapy monitoring tasks go through 6 (six) stages such as patient selection, patient data collection, identification of drug-related problems, therapy recommendations, monitoring and follow-up plans. Patient data collection and other supporting data are obtained from the hospital's prime system. The conclusion of this case study is that the patient was diagnosed with bacteriological relapsing pulmonary tuberculosis (relapse) and the patient has a history of diabetes mellitus, then therapy is given for the infection suffered along with other complaints suffered by the patient. There are drug related problems in the form of a mismatch in the dose of OAT with the patient's weight written on the cppt and drug interactions that may occurdue to the use of OAT and paracetamol."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Fenia
"Koledokolitiasis adalah keadaan tersumbatnya saluran Common Bile Duct oleh batu empedu yang dapat menyebabkan komplikasi infeksi saluran empedu dan ikterus. Koledokolitiasis dialami oleh pasien X yang merupakan pasien geriatri dengan multi-penyakit dan polifarmasi, sehingga membutuhkan pemantauan terapi obat karena pasien berpotensi rentan tidak patuh pengobatan, terjadi efek samping obat ataupun penurunan fungsi organ tubuh. Metode penelitian dilakukan dengan menelusuri rekam medis, melakukan pemantauan terapi obat dan visite pasien X. Hasil pemantauan terapi obat pasien X ditemukan potensi interaksi obat mayor antara cilostazol dengan lansoprazole, ibuprofen, dan siprofloksasin yang berakibat pendarahan dan interaksi antara simvastatin dengan siprofloksasin dan cilostazol yang berpotensi menimbulkan rhabdomyolisis. Menurut hasil visite, pasien tidak mengalami gejala klinis pendarahan atau rhabdomyolisis. Tes laboratorium aPTT dan PT direkomendasikan apabila pasien X mengalami gejala pendarahan untuk mempertimbangkan penurunan dosis cilostazol. Selain itu, pasien diketahui menggunakan lansoprazole dengan jangka waktu melebihi ketentuan BEERs Criteria, maka dapat direkomendasikan pertimbangan penghentian penggunaan lansoprazole karena berpotensi osteoporosis dan terinfeksi C. difficile.
Choledocholithiasis is a condition where the Common Bile Duct is blocked by gallstones which can lead to complications of bile duct infection and jaundice. Choledocholithiasis is experienced by patient X who is a geriatric patient with multi-disease and polypharmacy, so it requires monitoring of drug therapy because patients are potentially vulnerable to non-compliance with treatment, drug side effects or decreased organ function. The research method was carried out by tracing medical records, monitoring drug therapy and visiting patient X. The results of monitoring patient X's drug therapy found potential major drug interactions between cilostazol with lansoprazole, ibuprofen, and ciprofloxacin which resulted in bleeding and interactions between simvastatin with ciprofloxacin and cilostazol which had the potential to cause rhabdomyolysis. According to the results of the visit, the patient did not experience clinical symptoms of bleeding or rhabdomyolysis. Laboratory tests of aPTT and PT were recommended if patient X experienced bleeding symptoms to consider decreasing the dose of cilostazol. In addition, the patient was known to use lansoprazole for a period exceeding the provisions of the BEERs Criteria, so it can be recommended to consider discontinuing the use of lansoprazole because of the potential for osteoporosis and C. difficile infection."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Adristi Arum Nabilah
"Pelayanan kefarmasian merupakan pelayanan langsung yang diberikan kepada pasien untuk meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping obat dengan tujuan dapat meningkatkan keselamatan pasien sehingga kualitas hidup pasien terjamin. Pemantauan terhadap regimen terapi obat yang diterima tiap individu pasien menjadi salah satu bagian dari pelayanan kefarmasian agar dapat menghindari masalah terkait obat yang dapat muncul selama regimen pengobatan berlangsung serta memastikan keberhasilan atau kegagalan dari terapi yang diterima. Pasien terpilih yaitu Ny. M memiliki diagnosis utama SLE (Systemic Lupus Erythematosus). Pasien SLE harus selalu dilakukan monitoring terhadap aktifitas dan timbulnya manifestasi penyakit. Kebanyakan pasien SLE memiliki perubahan hasil pada tes laboratorium tertentu yang kemudian jika tidak segera diketahui dapat menyebabkan manifestasi penyakit tertentu. Modifikasi pengobatan pada saat terjadinya perubahan hasil laboratorium pasien dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan timbulnya manifestasi penyakit tertentu sehingga perlu dilakukan pemantauan terapi obat pada pasien Ny. M untuk menganalisis kesesuaian terapi, masalah terkait obat dan merekomendasikan solusi yang diperlukan Pemantauan terapi obat dilakukan dengan membandingkan data rekam medik pasien dengan hasil terapi berupa data laboratorium. Dari pemantauan terapi obat didapatkan terapi yang didapatkan pasien Ny. M sebagian besar sudah tepat, hanya ada beberapa obat saja yang sebaiknya dilakukan penurunan dosis, peningkatan dosis, menurunkan lama penggunaan terapi, penambahan terapi, penggantian terapi dan pemberhentian terapi. Pada regimen terapi Ny. M terdapat beberapa interaksi obat yang dapat diatasi dengan memberikan jeda waktu pemberian. DRP yang ditemukan pada regimen terapi Ny. M yaitu overdose, underdose, pemberian terapi tidak perlu, pemberian terapi tidak tepat, dan indikasi tanpa terapi.
Pharmaceutical services are direct services provided to patients to improve therapeutic outcomes and minimize the risk of drug side effects with the aim of improving patient safety so that the patient's quality of life is guaranteed. Monitoring of the drug therapy regimen received by each individual patient is a part of the pharmaceutical service in order to avoid drug-related problems that can arise during the treatment regimen and to ensure the success or failure of the therapy received. The selected patient, Mrs. M, has a primary diagnosis of SLE (Systemic Lupus Erythematosus). SLE patients should always be monitored for activity and disease manifestations. Most SLE patients have changes in the results of certain laboratory tests which, if not immediately known, can cause certain disease manifestations. Modification of treatment when changes in patient laboratory results can significantly reduce the possibility of manifestations of certain diseases, so it is necessary to monitor Mrs. M’s drug therapy to analyze the compatibility of therapy, drug-related problems and recommended solutions. Monitoring of drug therapy is carried out by comparing the patient's medical record data with the results of therapy in the form of laboratory data. From monitoring drug therapy, the therapy obtained by the patient Ny. M is mostly correct. There are only a few drugs that should be reduced in dose, increased in dose, decreased the duration of therapy, given as additional therapy, replaced the therapy, and discontinued the therapy. There are several drug interactions that can be overcome by giving a delay in administration. The DRP found in Mrs. M, namely overdose, underdose, giving an unnecessary therapy, giving an inappropriate therapy, and indications without therapy."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Siahaan, Uli Artha Br
"Pasien sepsis yang mendapatkan terapi obat mempunyai risiko mengalami masalah terkait obat. Kompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta respons pasien yang sangat individual meningkatkan munculnya masalah terkait obat. Hal tersebut menyebabkan perlunya dilakukan Pemantauan Terapi Obat (PTO) dalam praktik profesi untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pemantauan Terapi Obat (PTO) pada pasien dengan penyakit sepsis di ruang rawat inap teratai RSUP Fatmawati dan mengidentifikasi masalah terkait obat menggunakan PCNE V9.0. Metode yang digunakan berdasarkan temuan/kasus permasalahan terkait obat diklasifikasikan berdasarkan PCNE V9.0 Kemudian direkomendasikan penyelesaian permasalahan berdasarkan literatur. Hasil menunjukan penatalaksanaan sepsis sudah dilakukan sesuai dengan panduan tatalaksana sepsis (Kemenkes) dan identifikasi Drug Related Problem (DRP) menggunakan PCNE V9.0 didapatkan tiga masalah yaitu C1. Pemilihan obat; C2. Bentuk obat; C3 Pemilihan dosis.
Sepsis patients who receive drug therapy are at risk of experiencing drug-related problems. The complexity of the disease and the use of drugs, as well as the highly individualized patient responses increase the emergence of drug-related problems. This causes the need for Drug Therapy Monitoring (PTO) in professional practice to optimize therapeutic effects and minimize unwanted effects. This study aims to determine Drug Therapy Monitoring (PTO) in patients with sepsis in the lotus inpatient ward of Fatmawati Hospital and identify drug-related problems using PCNE V9.0. The method used is based on the findings/cases of drug-related problems classified according to PCNE V9.0 Then it is recommended to solve the problem based on the literature. The results showed that the management of sepsis had been carried out in accordance with the sepsis management guidelines (Ministry of Health) and the identification of Drug Related Problems (DRP) using PCNE V9.0, three problems were found, namely C1. drug selection; C2. medicinal form; C3 Dosage selection."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Fira Nabilla
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan proses yang mencakup kegiatan seperti pengkajian terkait obat yang digunakan pasien, pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat serta pemantauan efektivitas dan efek samping obat. Data penggunaan obat merupakan komponen penting dalam proses PTO. Analisis yang dapat dilakukan berdasarkan data penggunaan obat adalah penilaian kualitas penggunaan antibiotik serta analisis MTO pengobatan yang diterima pasien. Masalah Terkait Obat (MTO) yang terjadi pada pengobatan pasien dan memberikan rekomendasi tindak lanjut menggunakan metode SOAP. PTO dilakukan pada pasien berinisial NAN yang didiagnosis sindrom gangguan pernapasan akut, perdarahan intraserebral dan PDVK. Masalah Terkait Obat (MTO) yang terjadi pada pengobatan pasien N di ruangan PICU RSUP Fatmawati dengan diagnosis sindrom gangguan pernapasan akut, perdarahan intraserebral dan PDVK adalah adanya ketidaksesuaian dosis yaitu amikasin 1x60 mg. Kemudian ditemukan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD) terjadi pada pasien yaitu hipoalbumin yang merupakan ROTD dari parasetamol dan hiperglikemi akibat pemberian deksametason. Interaksi obat yang terjadi yaitu antara amikasin dan mannitol, asam valproate dan meropenem, parasetamol dan fenitoin, fenitoin dan asam valproate, amikasin dan furosemide, seftriakson dan furosemide, serta omeprazole dan fenitoin. Penilaian kualitas penggunaan antibiotik menggunakan metode gyssens menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik seftriakson sudah tepat atau bijak karena masuk ke dalam kategori 0. Kemudian Penggunaan meropenem masuk kategori IVA dan IIIA yang menginterpretasikan bahwa ada antibiotik lain yang lebih efektif daripada meropenem karena berdasarkan hasil kultur yaitu seftazidim dan sefepim masih sensitif terhadap pasien serta penggunaan antibiotik terlalu lama (lebih dari 14 hari). Penggunaan amikasin masuk kategori IIA dan IIB yang menunjukkan bahwa dosis dan interval yang tidak tepat.
Drug Therapy Monitoring (DTM) is a process that includes activities such as assessments related to drugs used by patients, providing recommendations for solving drug-related problems, and monitoring the effectiveness and side effects of drugs. Drug use data is an important component of the DTM process. Analysis that can be carried out based on drug use data is an assessment of the quality of antibiotic use as well as an DRP analysis of the treatment the patient receives. Drug-Related Problems (DRP) that occur in patient treatment and provide follow-up recommendations using the SOAP method. DTM was performed on a patient with the initials NAN who was diagnosed with acute respiratory distress syndrome, intracerebral hemorrhage, and PDVK. Drug-Related Problems (DRP) that occurred in the treatment of patient N in the PICU room at Fatmawati Hospital with a diagnosis of acute respiratory distress syndrome, intracerebral hemorrhage, and PDVK was a dose mismatch, namely amikacin 1x60 mg. Then it was found that adverse drug reactions (ADR) occurred in patients, namely hypoalbumin which was ADR from paracetamol, and hyperglycemia due to dexamethasone administration. Drug interactions that occur are between amikacin and mannitol, valproic acid and meropenem, paracetamol and phenytoin, phenytoin and valproic acid, amikacin and furosemide, ceftriaxone and furosemide, and omeprazole and phenytoin. Assessment of the quality of antibiotic use using the Gyssens method showed that the use of ceftriaxone was appropriate or wise because it was included in category 0. Then the use of meropenem was included in categories IVA and IIIA which interpreted that other antibiotics were more effective than meropenem because they were based on culture results, namely ceftazidime and cefepime. still sensitive to patients and the use of antibiotics for too long (more than 14 days). The use of amikacin is in categories IIA and IIB which shows that the dose and interval are incorrect."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Pavita Rena Anarizta
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional. Pemantauan terapi obat mencakup pengkajian pilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respons terapi dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi. Pemantauan terapi obat harus dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui. Dalam hal ini, keberadaan apoteker memiliki peran yang penting dalam mencegah munculnya masalah terkait obat melalui pemantauan terapi obat. Tujuan dari tugas khusus ini antara lain mengevaluasi dosis dan indikasi terapi yang diterima, melakukan analisis potensi interaksi antar obat dan melakukan analisis Drug Related Problem (DRP) dengan menggunakan klasifikasi Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) V9.1. Pengkajian yang dilakukan terhadap pasien dimulai dengan mengambil data dari rekam medis, catatan pemberian obat, catatan terintegrasi dokter, hasil pemeriksaan laboratorium, serta hasil kultur bakteri dan sensitifitas antibiotik. Setelah melakukan kegiatan penelitian tugas khusus terkait dengan pemantauan terapi obat pasien abses skrotum post-debridement dengan multimorbiditas di RSUP Fatmawati, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengobatan yang diterima oleh Tn.B sudah sesuai dosis dan sesuai indikasi, kecuali dalam pemberian antibiotik menurut hasil laboratorium. 2. Terdapat tiga macam potensi interaksi antar obat, yaitu cetriaxone dengan ringer laktat, domperidon dengan ondansetron dan ondansetron dengan paracetamol. Selama pemantauan tidak ada efek klinis dari interaksi yang berarti, dan paracetamol dilakukan penggantian terapi dengan natrium diklofenak. 3. Pasien Tn.B, yang menurut uji sensitivitas antibiotik hasilnya resisten terhadap ampicillin sulbactam, dikhawatirkan tidak mencapai efektivitas terapi jika terus diberikan antibiotik ampicillin sulbactam sebagai terapi antibiotik definitif. Namun dengan antibiotik yang diberikan perbaikan tetap terjadi meskipun hasil laboratorium menyatakan bahwa Tn.B resisten. Disimpulkan bahwa dalam uji sensitivitas antibiotik terjadi major error (false resistance) pada hasil uji.
Drug Therapy Monitoring (PTO) is a process that includes activities to ensure safe, effective and rational drug therapy. Monitoring drug therapy includes assessing drug choices, dosages, methods of drug administration, therapeutic response and recommendations for changes or alternative therapies. Monitoring of drug therapy must be carried out continuously and evaluated regularly at certain periods so that the success or failure of therapy can be known. In this case, the existence of a pharmacist has an important role in preventing the emergence of drug-related problems through monitoring drug therapy. The purpose of this special assignment includes evaluating doses and indications for therapy received, analyzing potential interactions between drugs and conducting Drug Related Problem (DRP) analysis using the Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) V9.1 classification. The assessment carried out on patients began by collecting data from medical records, drug administration records, doctors' integrated notes, laboratory examination results, as well as bacterial culture results and antibiotic sensitivity. After carrying out special task research activities related to monitoring drug therapy in post-debridement scrotal abscess patients with multimorbidity at Fatmawati General Hospital, the following conclusions can be drawn: 1. The treatment received by Mr.B was in accordance with the dosage and according to indications, except in administering antibiotics according to laboratory results. 2. There are three types of potential interactions between drugs, namely cetriaxone with Ringer's lactate, domperidone with ondansetron and ondansetron with paracetamol. During monitoring there were no clinical effects from significant interactions, and paracetamol was replaced with diclofenac sodium therapy. 3. Patient Mr.B, who according to the antibiotic sensitivity test results are resistant to ampicillin sulbactam, is feared not to achieve therapeutic effectiveness if he continues to be given the antibiotic ampicillin sulbactam as definitive antibiotic therapy. However, with the antibiotics given, improvement still occurred even though the laboratory results stated that Mr.B was resistant. It was concluded that in the antibiotic sensitivity test there was a major error (false resistance) in the test results."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Salma Hanunah Ulfa
"Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD). Indentifikasi DRP sangat penting untuk meningkatkan efektivitas terapi obat pada pasien melalui pengkajian lebih lanjut oleh apoteker mengenai profil pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk Pemantauan Terapi Obat (PTO) pada pasien di RSPAD Gatot Soebroto, mengkaji permasalahan terkait obat menggunakan metode klasifikasi Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE), dan memberi rekomendasi dan rencana terkait PTO pada pasien. Pelaksanaan kegiatan PTO dilakukan secara prospektif melalui beberapa langkah yaitu pengumpulan data pasien melalui rekam medik, profil pengobatan dan catatam penggunaan obat, serta wawancara dengan tenaga kesehatan lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien An.R dengan riwayat elektrolit imbalance (sudah stabil), demam thypoid membaik, infark hepar (perbaikan), ditemukan adanya masalah terkait obat yaitu interaksi antara phenobarbital dan omeprazole dengan efek samping peningkatan kejadian kejang. Rekomendasi dan intervensi yang diberikan ialah penghentian atau penundaan terhadap penggunaan phenobarbital, dan tetap meneruskan penggunaan omeprazole.
Therapeutic Drug Monitoring (TDM) is an activity that aims to increase the effectiveness of therapy and minimize the risk of Adverse Drug Reactions (ADR). Identification of DRP is very important to increase the effectiveness of drug therapy in patients through further assessment by pharmacists regarding treatment profiles. This study aims to Therapeutic Drug Monitoring (TDM) in patients at Gatot Soebroto Army Hospital, examine drug-related problems using the Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) classification method, and provide recommendations and plans regarding PTO in patients. The implementation of TDM activities is carried out prospectively through several steps, namely collecting patient data through medical records, treatment profiles and drug use records, as well as interviews with other health workers. The results of the analysis showed that patient An.R with a history of electrolyte imbalance (stable), typhoid fever improved, hepatic infarction (improved). A drug-related problem was found, namely the interaction between phenobarbital and omeprazole with the side effect of increasing the incidence of seizures. The recommendations and interventions given are stopping or delaying the use of phenobarbital, and continuing to use omeprazole."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Ardhona Irani
"Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Teknis Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan kegiatan yang meliputi pemastian terapi pengobatan yang efektif, aman, dan rasional bagi pasien dan pencegahan terhadap kejadian reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) yang dilakukan oleh Apoteker di rumah sakit. Kegiatan ini dilakukan untuk pengobatan kasus penyakit yang memerlukan perhatian khusus dengan mengevaluasi masalah terkait obat. Stenosis mitral, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium dan insufisiensi trikuspid dengan komplikasi aki serta peningkatan transaminase merupakan salah satu kasus penyakit di RSUD Tarakan Jakarta. Metode analisis pemantauan terapi obat menggunakan kombinasi PCNE dan Hepler-Strand. Berdasarkan hasil analisis, masalah terkait obat yang diidentifikasi yaitu interaksi obat, efek samping, dan dosis obat berlebih. Masalah terkait obat yang muncul dapat direkomendasikan penyelesaian berupa pemberian obat yang sesuai, pemantauan efek terapi obat melalui hasil laboratorium dan gejala yang ditimbulkan, pemberian jeda konsumsi obat, dan penyesuaian dosis sesuai tatalaksana dan kondisi pasien.
In the Regulation of the Minister of Health Number 72 of 2016 concerning Technical Standards for Pharmaceutical Services in Hospitals, Drug Therapy Monitoring is an activity that includes ensuring effective, safe and rational medication therapy for patients and prevention of unwanted drug reaction performed by pharmacists in hospitals. This activity is carried out for the treatment of disease cases that require special attention by evaluating drug-related problems. Mitral stenosis, congestive heart failure, atrial fibrillation and tricuspid insufficiency with battery complications and increased transaminases are one of the cases of disease in Tarakan Hospital, Jakarta. The analytical method for monitoring drug therapy uses a combination of PCNE and Hepler-Strand. Based on the results of the analysis, drug-related problems were identified, namely drug interactions, side effects, and drug overdosage. Drug-related problems that arise can be recommended for solutions in the form of administering appropriate drugs, monitoring the effects of drug therapy through laboratory results and the symptoms caused, giving pauses in drug consumption, and adjusting doses according to the management and condition of the patient."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library