Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Data kasus DBD yang dilengkapi informasi spasial dan temporal merupakan contoh data panel spasial yang dapat dianalisis menggunakan pemodelan panel spasial. Regresi panel spasial merupakan model regresi yang digunakan untuk menganalisis autokorelasi spasial pada data. Geographically Weighted Panel Regression (GWPR) merupakan metode regresi yang dapat menangkap pengaruh heterogenitas spasial dalam data. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model regresi panel spasial dan GWPR untuk memodelkan jumlah kasus DBD dan variabel-variabel yang memengaruhinya di tingkat kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat pada tahun 2021–2023. Hasil model regresi panel spasial lag menunjukkan bahwa variabel jumlah rumah sakit dan persentase rumah tangga yang menggunakan layanan sanitasi yang dikelola secara aman signifikan dalam menjelaskan jumlah kasus DBD. Sementara itu, model GWPR dengan fungsi kernel adaptive bisquare menunjukkan adanya variasi pengaruh variabel yang berbeda-beda secara lokal. Variabel kepadatan penduduk, jumlah rumah sakit, jumlah puskesmas, presentase rumah tangga yang menggunakan layanan sanitasi yang dikelola secara aman, presentase rumah tangga yang memiliki akses ke sumber sanitasi yang layak, presentase penduduk miskin, dan rata-rata jumlah murid per SD bernilai signifikan di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus, transmitted through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. DHF case data containing spatial and temporal information is a form of spatial panel data that can be analyzed using spatial panel modeling. Spatial panel regression is a regression approach used to assess spatial autocorrelation in the data. Geographically Weighted Panel Regression (GWPR) is a local regression method capable of capturing spatial heterogeneity effects. This study aims to develop spatial panel regression and GWPR models to estimate the number of DHF cases and their associated factors at the regency/city level in West Java Province from 2021 to 2023. The results of the spatial panel lag regression model show that the number of hospitals and the percentage of households using safely managed sanitation services are statistically significant in explaining DHF cases. In contrast, the GWPR model with an adaptive bisquare kernel reveals variations in the local influence of variables. Significant variables in several regions include population density, number of hospitals, number of health centers, percentage of households with safely managed sanitation services, access to improved sanitation, poverty rate, and average number of elementary school students.
"Penelitian ini mengekplorasi hubungan antara dua aspek penting bagi pembangunan ekonomi, yaitu tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (TPAKP) and upah riil di Indonesia. Level TPAK di Indonesia terus mengalami peningkatan, tetapi upah rill justru menurun. Penelitian ini berasumsi bahwa keadaan ini terjadi karena mayoritas pekerja perempuan di Indonesia bekerja di industri yang rendah level produktivitasnya, sehingga membuat garis pasokan pekerja pada kurva ketersediaan tenaga kerja dan upah riil bergeser ke kanan, ke titik upah yang lebih rendah. Penelitian ini dilaksanakan dengan teknik penelitian kuantitatif pada 30 provinsi di Indonesia periode 2002-2018, menggunakan regresi GLS dengan efek random. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari BPS-RI. Hasil analisis menemukan bahwa peningkatan level TPAKP di Indonesia membawa efek negatif pada tingkat upah riil per jam. Dengan kata lain, peningkatan jumlah tenaga kerja perempuan di Indonesia menyebabkan penurunan level upah riil per jam, baik untuk upah pekerja perempuan maupun laki-laki. Penemuan ini merupakan indikasi bahwa peningkatan partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja sebaiknya diikuti dengan pekerjaan yang berkualitas bagi mereka. Oleh karena itu, kebijakan terkait peningkatan kesempatan kerja bagi perempuan di industri yang lebih produktif merupakan hal yang penting, termasuk kebijakan guna mengurangi hambatan-hambatan kerja bagi perempuan.
This research explores the relationship between two essential aspects for economic development which are female labour force participation (FLFP) and the real wage in Indonesia. While the level of FLFP in Indonesia keeps increasing over time, the real wage decreases. This paper argues that this happens because most females work in less productive industries that makes the labour supply line shifts to the right and drives the wage to a lower level. Conducting in quantitative research for 30 provinces in Indonesia from 2002 until 2018, this paper uses Random-effects GLS Regression for panel data analysis. The data for this research is secondary data from BPS-Statistics Indonesia. This paper finds that the raising trend of FLFP in Indonesia has a negative effect on the hourly real wage. In other word, the raising of female labour supply in Indonesia generally worsens the hourly wage, both for female and male wage. This finding is an early warning that the high level of female participation in labour market should be followed by qualified job for them. Policies related to increasing job opportunity for women in more productive industries is vital, including dealing with some constraints that influence their time in the labour market.
"