Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tambunan, Usman Sumo Friend
Jakarta: UI-Press, 1998
PGB 0131
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Elvi
"Sintesis senyawa dimer dari eugenol dan isoeugenol dengan larutan hydrogen peroksida yang dikatalis oleh enzim peroksidase (EC 1.11.1.7) dari tumbuhan Horseradish, telah dilakukan dan menghasilkan senyawa bersifat optis aktif. Enzim peroksidase adalah enzim kelompok oksidoreduktase yang dapat mentransfer atom H dari senyawa fenolik sehingga menghasilkan radikal fenoksi. Dua radikal fenoksi yang bergabung melalui reaksi kopling oksidatif, menghasilkan senyawa dimer. Senyawa yang terbentuk diidentifikasikan dengan instrument UV-Vis, FTIR, GC-MS dan Polarimeter Pada radikal fenolik eugenol, terjadi kopling pada posisi orto-orto membentuk senyawa atropisomer, (Ra)-(+)-dihidrodieugenol dengan sudut putar spesifik 93,750 dan titik leleh 105,30 C. Sedangkan pada radikal fenoksi isoeugenol terbentuk kopling pada posisi 8-5- yang membentuk senyawa neolignan Licarin A yang bersifat optis aktif dengan sudut putar spesifik -156,250C dan titik leleh 1250 C Kedua senyawa hasil sintesis dan substrat asalnya, dibandingkan aktifitas antioksidannya dengan menggunakan metode radical scavenger DPPH sehingga diketahui IC50 masing-masing sebesar eugenol : dehidrodieugenol = 6,00 ppm : 2,44 ppm sedangkan isoeugenol : licarin A = 6,22 ppm : 9,30 ppm.

Synthetizing of dimeric compound which is made from eugenol and isoeugenol and hydrogen peroxide liquid catalyzed by peroxidase ( EC 1.11.1.7 ) from Horseradish plant, has been conducted and it produces an optically active compound. Peroxidase is an enzyme in oksidoreductase group that can move H atoms from phenolic to form radical phenoxi. A unification of two radical phenoxis through an oxidative coupling reaction, forms a dimeric compound. In the eugenol radical phenolic, coupling conducted at the position of orto-orto to form a dimeric, meanwhile in the isoeugenol radical phenoxi, coupling reaction conducted in the position of 8 - 5- to form a neolignan compound. The compound that produced from eugenol and isoeugenol is identified by using instruments of UV - Vis, FTIR, GC - MS and Polarymeter. Atropisomer compound that formed from base material of eugenol origin is identified as (Ra)-(+)-dihidridieugenol with optical distortion angle, α = 0.300 and melting temperature point at 105.30 C. While an optically active compound originated from isoeugenol is identified as ( 7S, 8S) - (-) licorin A which has optical distortion angle, α = -0.50 and meling point 1250 C. Both synthetic compound products and the base material origin, are assayed their antioxidant activities by using radical scavenger DPPH method to determine their IC50 value. The results are as follows respectively, Euginol : dihidrodieugenol = 6.00 ppm : 2.24 ppm, and isoeugenol : licorine A = 6.22 ppm : 9.30 ppm."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
T29041
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dayn Albab Hanif Ibnu Umar
"Di laboratorium fisika lanjutan, keterbatasan alat optik yang terjangkau dan efektif menghambat kemampuan mahasiswa untuk melakukan eksperimen secara langsung. Polarimeter komersial, meskipun akurat, sering kali mahal dan memiliki jalur optik yang tidak terlihat, sehingga kurang cocok untuk pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan alat eksperimen yang interaktif dan mudah diakses untuk mempelajari fenomena optis aktif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun sistem eksperimen modular berbiaya rendah untuk mengamati pengaruh zat optis-aktif terhadap rotasi cahaya terpolarisasi linier. Proyek ini ditujukan sebagai alat pembelajaran yang dapat memperlihatkan prinsip optik secara visual dan menggantikan alat lama atau mahal di laboratorium akademik. Sistem ini menggabungkan laser RGB sebagai sumber cahaya, polarisator, beam splitter, motor stepper, sensor cahaya (BH1750), dan unit kendali berbasis mikrokontroler. Kalibrasi dan pengujian dilakukan untuk memastikan ketepatan sudut, pendeteksian intensitas cahaya, dan kesesuaian dengan Hukum Malus. Eksperimen dilakukan dengan variasi konsentrasi dan jenis zat (glukosa, fruktosa, asam askorbat) pada beberapa panjang gelombang. Sudut rotasi meningkat secara linier seiring peningkatan konsentrasi, sesuai dengan prediksi teori. Beam splitter menunjukkan kinerja hampir ideal sebesar 99,6%. Stepper motor menunjukkan backlash minimal dan presisi tinggi setelah kalibrasi. Setiap zat uji memiliki koefisien aktivitas optis yang berbeda, dengan glukosa tertinggi, diikuti asam askorbat, dan fruktosa. Modul yang dikembangkan berhasil menunjukkan efek rotasi optik dari zat kiral dan menjadi alternatif pembelajaran yang interaktif dan hemat biaya dalam pengajaran fisika optik.

In advanced physics laboratories, the lack of affordable effective optical equipment limits students' ability to conduct hands-on experiments. Commercial polarimeters, while accurate, are often too expensive and non-transparent in their optical pathways, making them less suitable for educational purposes. There is a growing need for accessible and interactive experimental tools to study optical activity. This study addresses the development of a low-cost, modular experimental system for observing the effect of optically active substances on the rotation of linearly polarized light. The project aims to create an educational tool that can visually demonstrate optical principles and replace outdated or costly equipment in academic labs. The system integrates RGB lasers as light sources, polarizers, beam splitters, stepper motors, light sensors (BH1750), and a microcontroller-based control unit. Calibration and testing were conducted to ensure accurate angle control, light intensity detection, and adherence to Malus's Law. The experiment measured polarization rotation across varying concentrations and substances (glucose, fructose, ascorbic acid) under different wavelengths. The rotation angle increased linearly with concentration, consistent with theoretical predictions. Beam splitter performance reached 99.6% of ideal distribution. Stepper motors showed minimal backlash and high precision after calibration. Each tested substance exhibited different optical activity coefficients, with glucose showing the highest, followed by ascorbic acid, and fructose. The developed module successfully demonstrates the optical rotation effect of chiral substances and provides an interactive and cost-efficient alternative for teaching optical physics."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library