Ditemukan 23 dokumen yang sesuai dengan query
Lipnitsky, A.
Moscow: Peace Publishers, [date of publication not identified]
620.17 LIP m
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Belloli, Robert C.
New York: McGraw-Hill, 1974
547 BEL o
Buku Teks Universitas Indonesia Library
Gatot Budi Santoso
"Pengembangan perangkat lunak sistem waktu-nyata membutuhkan banyak tahapan mulai dari penganalisisan, perancangan, sampai implementasi. Tahapan penganalisisan dan perancangan adalah tahapan yang penting, karena disini akan dilakukan pemodelan perangkat lunak yang akan dibuat. Setelah melewati kedua tahapan ini baru dapat dilakukan proses penulisan program (implementasi) dan pengujian yang akan menentukan apakah rancangan sesuai kebutuhan atau tidak. Tahapan analisis dan perancangan acapkali membutuhkan waktu yang lama dan dengan dernikian akan menghabiskan biaya dan usaha yang besar.
Tesis ini mencoba melakukan pemodelan terhadap sistem proses pembuatan slab steel di PT. (Persero) Krakatau Steel dengan menggunakan metode penganalisisan dan perancangan Ward dan Mellor. Metode Ward dan Mellor adalah salah satu metode penganalisisan dan perancangan sistem waktu-nyata terstruktur yang baku. Untuk memvisualisasikan model yang telah dibuat dan mengetahui apakah hasil penganalisisan dan perancangan yang dilakukan sudah benar atau tidak, dibuat sebuah simulator proses pembuatan slab steel yang dibangun berdasarkan model di atas. Simulator ini dilengkapi dengan nilai-nilai parameter proses yang besarnya disesuaikan dengan nilai parameter proses sesungguhnya yang terdapat di pabrik slab steel PT. (Persero) Krakatau Steel. Simulator diterapkan pada beberapa komputer yang saling terhubung untuk menggambarkan bagian-bagian proses yang ada di pabrik. Simulator juga dilengkapi dengan tampilan grafis teranimasi."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Alfian Muthalib
"Fairchild dalam The Melting Pot Mistake menyatakan bahwa hidup di Amerika adalah hidup dalam suatu suasana norma-norma dan nilai-nilai yang tidak nyata. Norma-norma dan nilai-nilai itu ada dalam karakteristik diri seseorang dan menentukannya. Ini berarti hidup akrab tanpat dipaksa dengan orang-orang Amerika sehari-harinya. bagi mereka yang dilahirkan di Amerika dan berasal dari keturunan Amerika, maka hidup adalah normal dan spontan. Fairchild kemudian mengajukan suatu pertanyaan yaitu " What is it for the foreign immigrant?"."
2002
JSAM-VIII-JanDes2002-25
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Muhammad Rahim Albadrul
"Penelitian ini membahas tentang nilai risiko yang ada di Unit Dapur Peleburan Departemen Cor Divisi Tempa & Cor PT. Pindad Persero Bandung tahun 2016. Desain penelitian ini menggunakan teknik survey dengan metode sekuensial eksplanatori (bertahap). Penilaian risiko dilakukan dengan analisis berdasarkan nilai konsekuensi, pajanan dan kemungkinan dengan menggunakan metode penilaian semi-kuantitatif W.T Fine untuk mengetahui level risiko yang ada dalam proses/tahap produksi yang mengacu pada standar AS/NZS 4360:2004. Hasil penelitian menyatakan bahwa level risiko yang ada di Unit Dapur Peleburan Departemen Cor Divisi Tempa & Cor PT. Pindad Persero Bandung meliputi priority 1, substantial dan priority 3.
This study discusses the value of the existing risks in the Kitchen Melting Unit Department Of Casting Division Casting & Forging PT. Pindad Persero Bandung in 2016. The design of this study using survey techniques with explanatory sequential method (two-phased). The risk assessment carried out by the analysis based on the value of the consequences, exposure and likelihood of using a semi-quantitative assessment methods W.T Fine to determine the level of risk in the process / production stage refers to AS / NZS 4360: 2004 standard. The study states that the level of risk that exist in the Kitchen Melting Unit Department Of Casting Division Casting & Forging PT. Pindad Persero Bandung include Priority 1, Substantial, and Priority 3."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2016
S64006
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
"Phase trnasformation temperature of shape memory alloy - Tini produced by arc - melting technique. The observation of phase trnasformation temperature of Tini alloys produced by arc - melting technique was carried out by alloying Ti - 53%w Ni. Tini alloys were tempered at 900oC and then followed by quenching at 20oC and 5oC and finally were aged at 400oC for 1,4 and 16 hours. The Ti-53%. Ni alloyed is applied to obtain as shape memory alloys base on Tini . The Tini sample was analyzed by optical microscope, X - ray diffraction and simultaneous symmetrical thermoanalyzer (STA) . The result show that the martensitic phase has a structure of BCT (bODY CENTER TETRAGONAL) formed at room temperarure. The phase transformation temperature from martensitic - austensitic phase was taken place at (162+5)oC"
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
"The objective of this research was to reduce coconut sugar melting by enhancing glass transition temperature (Tg). Silicone dioxide (SiO2) and magnesium carbonate (MgCO3) were added before the coconut sugar was formed. Concentrations of SiO2 and MgCO3 were 0.5 %, 1.0 %, and 1.5 % respectively. Analysis was conducted for solidification temperature, moisture content, water activity, and glass transition temperature of coconut sugar. In this research, the glass transition temperature or coconut sugar was measured with differential thermal analyzer (DTA). The result showed that the addition of SiO and MgCO3 was not influenced toward moisture content of coconut sugar, but water activity was decreased. The solidification temperature and glass transition temperature were increased. The best coconut sugar was produced by addition of 1.5 % SiO3 with solidification temperature 72.67 °C, water activity 0.5, and glass transition temperature 70.45 °C "
580 AGR 19 (1-4) 2006
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Liu, Yang
"This SpringerBrief presents a recent advancement in modeling and measurement of the effect of surface wettability on the defrost process. Carefully controlled laboratory measurements of the defrosting of cooled surfaces are used to reveal the effect of surface wetting properties on the extent and speed of frost removal by melting or slumping. The experiments are accompanied by visualization of frost removal at several defrosting conditions. Analysis breaks the defrost process into three stages according to the behavior of the meltwater. Surface wetting factors are included, and become significant when sufficient meltwater accumulates between the saturated frost layer and the surface. The book is aimed at researchers, practicing engineers and graduate students."
Switzerland: Springer Cham, 2019
e20502889
eBooks Universitas Indonesia Library
Rita Arbianti
"Surfaktan berbahan baku oleokimia memiliki beberapa keunggulan, diantaranya bersifat terbarukan (renewable resources) dan secara alami mudah terdegradasi. Surfaktan ini dapat dibuat dengan mengunakan bahan baku minyak kelapa murni dan melalui proses sebagai berikut: reaksi transesterifikasi untuk mengkonversi minyak menjadi metil ester; pemisahan metil laurat dari metil ester; reaksi hidrogenasi metil laurat menggunakan katalis Ni; reaksi sulfatasi dengan menambahkan H2SO4 ; serta netralisasi dengan NaOH. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan kondisi optimum yang meliputi suhu reaksi, laju alir gas hidrogen, dan persen berat katalis pada reaksi hidrogenasi metil laurat menggunakan katalis Ni untuk menghasilkan senyawa yang akan diproses lebih lanjut menjadi urfaktan yang selanjutnya disebut sebagai SLS (Sodium Lauril Sulfat) analog (SLS a). Pengujian terhadap produk hasil hidrogenasi dilakukan dengan mengukur kemampuan dalam menurunkan tegangan permukaan air serta menstabilkan emulsi minyak dalam air. Hasil penelitian menunjukkan kondisi operasi optimum reaksi hidrogenasi metil laurat terjadi pada suhu 270oC, lajualir gas H21 ml/s, dan 30% berat katalis. Kemampuan SLS analog yang dihasilkan mampu menurunkan tegangan permukaan air hingga mencapai 44.5 mN/m dengan penambahan 25% berat surfaktan. Berdasarkan hasil uji stabilitas emulsi minyak dalam air, surfaktan yang dihasilkan mampu menstabilkan emulsi selama 1.235 detik.
One major advantage of oleochemical surfactant is its renewable and degradable properties regarding environmental issue. This surfactant is made using coconut oil as raw material, the process are as follows: trans-esterification reaction to converse virgin coconut oil to methyl ester, followed by methyl laurate separation from methyl ester based on melting point difference, methyl laurate hydrogenation by using nickel catalyst, sulfatation reaction, adding H2SO4, and neutralization by using NaOH. The goals of this research are to obtain the optimum reaction condition in aspects of several variables, such as temperature, hydrogen gas flow rate, and percent weig ht of catalyst in the hydrogenation reaction to produce substance as based material for an analogue SLS surfactant. This research shows that the optimum operating conditions are 270oC of temperature, 1mL/s of H2gas flow rate, and 30% wt of catalyst. Testing of these surfactants are done by measuring their ability to reduce the surface tension of water and stabilize the oil in water emulsion. Its results show that adding 25 wt% of surfactants has surface tension of 44.5 mN/m. Based on the stabilizing emulsion test, surfactants can stabilize emulsion for 1.235 seconds."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
JUTE-22-3-Sep2008-229
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Kevin Lionard
"Titanium dan paduannya menjadi salah satu material pilihan untuk manufaktur beragam objek, terutama pada implan karena sifat mekanik, biokompatibilitas, dan ketahanan korosinya. Titanium dan paduannya dapat difabrikasi menggunakan beragam metode seperti Selective Laser Melting yang memakan waktu singkat dan waste-nya yang sedikit namun kekurangannya adalah getas. Salah satu cara meningkatkan ketangguhan dan keuletannya adalah dengan perlakuan panas. Hasil penelitian ini menunjukkan efek perlakuan panas pada suhu 900 C selama 2 jam menghasilkan mikrostruktur dominan berfasa α-Ti kolumnar yang memiliki nilai kekerasan 656 HV, sedangkan HT pada suhu 900 C selama 1 jam dilanjut di 550 C selama 2 jam menghasilkan mikrostruktur dan hasil XRD yang mengindikasikan campuran α dan β-Ti dengan kenaikan kekerasan menjadi 665 HV. Perlakuan panas yang lebih lama yaitu pada 900 C selama 2 jam dan 550 C selama 2 jam dan 900 C selama 2 jam dilanjut dengan 550 C selama 3 jam menunjukkan mikrostruktur dominan berfasa α-Ti ekuiaksial, dengan nilai kekerasannya menurun menjadi 622 HV dan 593 HV.
Titanium and its alloy have become a material of choice for manufacturing various objects, particularly implants, due to their mechanical properties, biocompatibility, and corrosion resistance. Titanium and its alloys can be fabricated using various methods such as Selective Laser Melting, which is time-efficient and produces minimal waste, though its drawback is brittleness. The closest approach to enhancing the toughness and ductility of the SLM product is through post- processing by heat treatment. This study shows that heat treatment process which is done at 900°C for 2 hours holding resulting in a microstructure dominated by columnar α-Ti phase with a hardness value of 656 HV. Another heat treatment process is performed at 900° for 1 hour holding followed by 550°C for 2 hours holding, resulting in a microstructure and XRD which indicates a mixture of α and β-Ti with an increase in hardness to 665 HV. A longer heat treatment process is conducted at 900°C for 2 hours holding followed by 550°C for 3 hours holding, which shows a domination of equiaxed α-Ti phase in its microstructure, with a decrease in hardness to 622 HV and 593 HV."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library