Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 213 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Maria Indra Rukmi
"Seperti yang diketahui pada abad XIX kegiatan penyalinan naskah Melayu tumbuh subur. Di antara tempat penyalinan yang pernah ada, Jakarta atau Batavia dulu tercatat sebagai kota yang banyak melahirkan penyalin naskah. Bukan tidak beralasan bila di kota tersebut kreativitas para penyalin atau pengarang dapat berkembang. Pada waktu itu Algemeene Secretarie (selanjutnya disingkat AS), yaitu kantor pemerintah Belanda yang didirikan pada tahun 1819, memprakarsai penyalinan naskah Melayu. Para juru tulis yang bekerja di tempat tersebut dapat diketahui namanya dari halaman awal naskah atau tertera pada kolofon; sebagai oontoh untuk ini terlihat dalam Hikayat Putri Johar Manikam, LOr.3315. Demikian bunyinya: "Ini Hikayat Putri Johar Manikam oleh yang menulis juru tulis Melayu di Kantor Sekretari Gupernemen, Muhamad CingSaidullah".
Adanya skriptorium Melayu di Batavia pada abad XIX telah dibicarakan oleh Voorhoeve (1964:255--258). Badan pemerintah Belanda itu mengusahakan penyalinan naskah untuk kebutuhan para pejabat Belanda yang mempelajari bahasa Melayu. Voorhoeve menggunakan kata skriptorium untuk tempat penyalinan naskah Melayu; kata tersebut semula mengacu ke ruangan tempat menulis buku-buku dan dokumen-dokumen, khususnya di biara-biara pada abad pertengahan (Folsom, 1990:110). Agaknya kesamaan kegiatan dalam hal penyalinan itulah yang menyebabkan istilah ini juga dipakai untuk tempat penyalinan naskah Melayu di Batavia.
Selain AS, para kolektor pribadi, yaitu mereka yang memiliki naskah dan mungkin menyewakannya, juga merupakan pemrakarsa penyalinan. Tujuan penyalinan di sini, untuk melayani kebutuhan para pembaca yang ingin menikmati bacaan yang bersifat hiburan. Beberapa naskah berikut ini memberikan informasi tentang adanya persewaan itu. Sebagai contoh, sesudah teks Hikayat Syahrul Indra VIII, PH. HL.600 (C.St.146B) berakhir, ada catatan tambahan yang menyebutkan bahwa pemiliknya bernama Muhamad Hamzah Abdullah Baju, seorang pembantu distrik yang tinggal di kampung Muka Jembatan. Naskahnya disewakan 10 sen semalam.
Bahwa khalayak pembaca terdiri dari penduduk pribumi, keturunan Cina, maupun keturunan Indo, tercermin dari sebutan Saudara, Tuan, Baba, Datuk, dan Nyonya yang ditujukan kepada pembaca naskahnya oleh pemilik naskah Hikayat Cindabaya, PN.ML.604 (Br. 206)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Atry Suryati
"Penulis pertama (Atry) menemukan naskah Wawacan Pandita Sawang sekitar tahun 2011. Sekitar tahun 2014 pada saat akan mengexjakan sklipsi Any bercerita kepada saya bahwa dia akan membahas sebuah naskah yang menjadi koleksi keluarganya. Kami adalah tetangga beda-desa, jarak rumah saya kc rumah Atry hanya beljarak sekitar 5-10 menit. Atry tinggal di Desa Sukajadi sementara saya tinggal di’Desa Cikoneng, yang memisahkan desa kami hanyalah sungai berbatu yang mengalir dari ujung Ciwidey sampai Citarum. Tahun 2023 ini menjadi kesempatan untuk kami kembali berkolaborasi membahas koleksi naskah Soreang ini. Any mengajak saya menggarap kembali naskah yang berasal dari wilayah kami ini. Untuk menyempurnakan dan mengisi rumpang penelitian sebelumnya. Harapannya semoga peneliti lain di daerah kami sekitar Soreang, Ciwidey, Pasixj ambufmulai menggarap apa yang menjadi kekayaan daxi wilayah ini. Objek kajian pada buku ini adalah Naskah Pandita Sawang yang ditemukan di Desa Sqkajadi, Ke'c. Sbréang. Naskah ini memiliki ukuran kertas 14,5 x 19 cm terdin' dari 25"lembaf atau 50 halaman dimfisi. Naskah ditulis dengan aksara Pegon; tcrdiri dad 197 pupuh, yang terdiri dari pupuh Asmarandana, Sinom, Dangdanggula, dan Kinanti. Kami berharap dengan ditenbitkannya buku Wawacan Pandita Sawang menjadi langkah awal untuk pembaca mulai masuk dan mengenal tentang naskah yang berasal dari daerah Sofeang. Semoga buku ‘Alih Bahasa Wawacan Pandita Sawang (Koleksi Soreang)’ ini menjadi warisan leluhur yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh generasi sekarang."
Jakarta: Perpusnas Press, 2023
K 091 ATR w
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Dody Suhirno
"Naskah Syair Silindung Delima ini oleh kurator dicatat dengan nomor panggil W 251 dan W 252 sesuai dengan nama kolektornya, informasi tentang judul ditemukan dalam haaman luar teks yaitu Silindung Delima pada Naskah W 252 dan Indra Laksana pada Naskah W251. Teks disalin dengan aksara Arab dan bahasa Melayu dan disajikan dalam bentuk Syair. Syair Silindung Delima menceritakan tentang seorang raja dari sebuah negeri bernama Bandar Pirus. Ia mempunyai kerajaan yang sangat besar, banyak sekali Negara yang takhluk di bawah kekuasaannya. Raja yang berasal dari Bandar Pirus itu bernama Dewai Afari yang memiliki dua orang anak. Naskah ini juga memberikan nasehat-nasehat kepada pembacanya, yaitu semua orang yang bernafas pasti akan mati. Selain itu, janganlah kita takut untuk memerangi kejahatan, karena kejahatan memang pantas untuk dibasmi dimuka bumi ini."
Jakarta: Perpusnas Press, 2023
K 091 DOD r
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Ritongah, Ali Sakti
Jakarta: Perpusnas Press, 2023
K 091 RIT a
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Tokyo: Yayasan Naskah Nusantara bekerja sama dengan Tokyo University Of Foreign Studies , 2004
016.915 951 KAT
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Deroche, Franqois
London: Al-Furqan Heritage Foundation, 2006
091 DER i
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Chijs, J.A. Van Der
Batavia : W. Bruining, 1879
011.31 CHI n
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>