Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 67 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Paulina Toding
"Malnutrisi sering pada karsinoma hepatoselular (KHS), diakibatkan oleh anoreksia, penurunan asupan serta keadaan katabolik. Serial kasus bertujuan memberikan terapi gizi guna proses penyembuhan dan memperbaiki kualitas hidup. Empat orang pasien berusia 42–67 tahun, dengan KHS, penurunan berat badan 14,3–29,6% selama dua bulan hingga satu tahun. Tiga orang pro reseksi dan satu orang mendapat terapi paliatif dengan kanker kaheksia. Pemberian nutrisi disesuaikan keadaan klinis. Kebutuhan kalori berdasarkan Harris-Benedict. Sebelum pembedahan kebutuhan kalori total tercapai Setelah pembedahan, toleransi asupan baik, nutrisi ditingkatkan bertahap. Saat pulang keadaan umum stabil, kapasitas fungsional membaik, luka operasi baik.

Malnutrition is common in hepatocellular carcinoma (HCC), caused by anorexia, decreased intake and catabolic state. The aim of this case series provide nutrition therapy to support the healing process and to improve quality of life. Patients were four people, age between 42–67 years, with HCC, weight loss 14,3–29,6 % for two months to one year. Three people with pro resection and one person had palliative therapy and cachexia cancer. Nutrition was given according to clinical state. Calorie requirement was based on Harris-Benedict. Total calorie needs was achieved prior to surgery, and good tolerance intake after surgery, nutrition enhanced gradually. Patients discharge from hospital with stable general condition, improved functional capacity, and good surgical wound healing.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Suryadarma Widjaja
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Telah banyak dilaporkan tentang malnutrisi dan faktor terjadinya pada pasien hemodialisis. Penyebab yang paling sering adalah asupan makanan terutamaenergi dan protein yang inadekuat. Ada anggapan yang menyatakan bahwa status klinis dan status nutrisi banyak berperon pada asupan tersebut. Penilaian asupan makanan pada pasien hemodialisis biasa dilakukan pada hari antara HD. Telah dilakukan suatu penelitian mengenai penilaian status nutrisi pada 32 responden pasien hemodialisis yang secara klinis stabil, dibagi atas kelompok HD selang 1, 2, dan 3 hari berturut-turut menjadi sebanyak 7, 14 dan 11 responden.
Hasil dan Kesimpulan : Antara ke-3 kelompok, asupan energi dan protein tidak berbeda bermakna dan terhadap nilai kecukupan berbeda bermakna, kecuali asupan energi kelompok HD selang 2 hari. Antara ke-3 kelompok, status nutrisi berdasarkan IMT dan status protein somatik berdasarkan LOLA tidak berbeda berrnakna dan terhadap nilai kecukupan pada IMT tidak berbeda bermakna, tetapi pada LOLA berbeda. Status protein viseral berdasarkan prot. tot., alb. dan trans. tidak berbeda antara ke-3 kelompok, terhadap nilai kecukupan nilai albumin tampak berbeda bermakna pada kelompok HD selang 2 dan 3 hari, sedangkan kelompok yang lain tampak tidak berbeda bermakna. Parameter status klinis kadar krea. dan ure. Masing-masing mempunyai korelasi dengan kemaknaan yang tertinggi (p < 0,001) terhadap asupan energi dan protein.
Hasil ini mernperlihatkan bahwa pasien hemodialisis yang secara klinis stabil menunjukkan pada parameter yang dinilai antara ke-3 kelompok, ada yang berbeda bermakna dan ada yang tidak. Hal ini juga diperoleh terhadap nilai kecukupan masing-masing parameter. Disamping itu didapati parameter krea. dan ure. berturut-turut mempunyai kolerasi yang dominan dengan parameter asupan energi dan protein. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tiara Saraswati
"[ABSTRAK
Serial kasus ini bertujuan untuk mempelajari dan menerapkan terapi nutrisi sebagai bagian dari terapi tuberkulosis (TB) paru. Komplikasi yang menyertai TB paru dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Seluruh pasien serial kasus ini dalam kondisi malnutrisi dan terdapat komplikasi yang menyertai masingmasing kasus berupa drug-induced hepatotoxicity, peritonitis TB, diabetes melitus tipe 2, dan pneumotoraks dengan dispepsia. Pemberian nutrisi disesuaikan dengan kondisi, penyakit penyerta, dan kebutuhan yang bersifat individual. Kebutuhan energi basal dihitung dengan persamaan Harris-Benedict dengan kebutuhan energi total setara dengan 35?40 kkal/kg BB. Makronutrien diberikan dalam komposisi seimbang dengan protein 15?20% kebutuhan energi (1,2?1,5 g/kg BB). Saran pemberian mikronutrien minimal mencapai angka kecukupan gizi. Pasien yang mendapat obat antituberkulosis berupa isoniazid disarankan mendapat suplementasi vitamin B6 dengan dosis tertentu untuk mencegah neuritis perifer. Outcome yang dinilai meliputi kondisi klinis, asupan, dan toleransi asupan. Pemberian terapi nutrisi sebagian besar pasien dimulai dari kebutuhan energi basal yang pada akhir masa perawatan dapat mencapai target kebutuhan energi total. Pemantauan jangka panjang pasca rawat inap, disarankan tidak hanya menilai outcome berdasarkan perubahan berat badan, namun dilakukan penilaian komposisi tubuh, terutama massa lemak, karena pada kasus TB terjadi abnormalitas metabolisme yang disebut anabolic block.

ABSTRACT
The aim of this case series was to study and apply nutrition therapy as integral part of pulmonary tuberculosis (TB) therapy. Pulmonary TB with complications was associated with increased of morbidity and mortality. Malnutrition was coexisted with several complications such as drug-induced hepatotoxicity, peritoneal TB, type 2 diabetes mellitus, and pneumothorax with dyspepsia. HarrisBenedict equation was used to calculate basal energy requirement with total energy requirement equivalent to 35?40 kcal/body weight. Balanced macronutrient composition was given with protein 15?20% energy requirement (1,2?1,5 g/body weight). Micronutrient recommendation was given to fulfill one fold recommended daily allowance. Patients with isoniazid therapy needed to get pyridoxine supplementation to prevent peripheral neuritis. Outcome measurements included clinical condition, amount of intake, and intake tolerance. Most patients were given initial nutrition therapy from basal energy requirement and has shown increment. At the end of hospitalization, all of patients could achieve total energy requirement. Due to abnormality of metabolism, usually termed as anabolic block, it was recommended not only to measure body weight as primary outcome, but also body composition., The aim of this case series was to study and apply nutrition therapy as integral part of pulmonary tuberculosis (TB) therapy. Pulmonary TB with complications was associated with increased of morbidity and mortality. Malnutrition was coexisted with several complications such as drug-induced hepatotoxicity, peritoneal TB, type 2 diabetes mellitus, and pneumothorax with dyspepsia. HarrisBenedict equation was used to calculate basal energy requirement with total energy requirement equivalent to 35–40 kcal/body weight. Balanced macronutrient composition was given with protein 15–20% energy requirement (1,2–1,5 g/body weight). Micronutrient recommendation was given to fulfill one fold recommended daily allowance. Patients with isoniazid therapy needed to get pyridoxine supplementation to prevent peripheral neuritis. Outcome measurements included clinical condition, amount of intake, and intake tolerance. Most patients were given initial nutrition therapy from basal energy requirement and has shown increment. At the end of hospitalization, all of patients could achieve total energy requirement. Due to abnormality of metabolism, usually termed as anabolic block, it was recommended not only to measure body weight as primary outcome, but also body composition.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Deka Nata Kustanto
"Meningkatnya prevalensi stunting anak balita mengindikasikan bahwa stunting menjadi masalah serius yang dihadapi oleh Indonesia karena berpotensi menurunkan kualitas SDM dan produktifitasnya di masa mendatang. Dengan menggunakan data IFLS tahun 2007 dan 2014, studi ini akan menelusuri status nutrisi anak-anak pada usia balita dan kemampuan kognitif mereka saat memasuki usia sekolah di tahun 2014. Diestimasi dengan menggunakan metode Ordinary Least Square OLS , hasil studi menemukan bahwa kemampuan kognitif anak-anak yang mengalami stunting pada usia di bawah lima tahun cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kemampuan kognitif anak-anak lainnya. Kondisi ini akan semakin memburuk jika mereka tetap berstatus stunting ketika memasuki usia sekolah. Tetapi, kondisi ini berbeda jika status nutrisi mereka membaik, maka kemampuan kognitif mereka juga cenderung akan meningkat. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa stunting adalah musuh besar bagi suatu negara karena akan menurunkan kualitas sumber daya manusia dan dalam jangka panjang dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini mengimplikan bahwa untuk membangun sumber daya manusia tidak hanya diperlukan perbaikan dari aspek pendidikan saja, tetapi juga status nutrisi sejak di dalam kandungan, karena stunting merupakan konsekuensi dari kondisi kehamilan ibu yang mengalami kekurangan nutrisi.
The increasing of stunting prevalence of preschool age children indicate that Indonesia facing serious problem because these condition could decreasing the quality of human capital and productivity in the future. Using longitudinal Indonesia Family Life Survey IFLS data 2007 and 2014, this study tracking nutritional status children at early age and cognitive ability when they reach school age in 2014. Estimate with ordinary least square, this study find out that the children who has stunting status in the early age or under five years old tend to get lower value in cognitive test than others. These condition getting worse if they still has stunting at school age. But, this could be different if the nutritional status getting better, the cognitive test tend to be increase too. These result conclude that stunting is a great enemy for the country, which is could to decrease the quality of human capital and for the long term, that also could decrease economy welfare. This imply that developing human capital not only need improvement in education aspect, but also nutritional status from the early age maternal pregnancy, because stunting are the consequences from the undernutrition maternal pregnancy."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muqodriyanto
"[ABSTRAK
Gaster merupakan organ pencernaan yang salah satu fungsinya sebagai penampung
makanan. Keganasan dapat terjadi di sepanjang saluran pencernaan termasuk gaster.
Operasi merupakan salah satu modalitas terapi yang dipakai sebagai terapi keganasan
gaster. Penderita keganasan gaster akan mengalami perubahan status gizi. Data mengenai
gambaran status gizi pasien yang menjalani operasi keganasan gaster belum ada di
RSCM.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif dengan mengumpulkan data rekam
medis pada pasien dengan diagnosis keganasan gaster yang menjalani operasi di Rumah
Sakit dr Cipto Mangunkusumo selama periode tahun 2009 sampai dengan 2012.
HASIL
Dari 30 pasien yang didiagnosis keganasan gaster , didapatkan data yang lengkap 19
(63,3 %). Penderita laki laki, usia tua dan jenis keganasan dominan pada penelitian ini
sesuai dengan penelitian Leonard A Laisang tahun 2008 dan kepustakaan.5,19
Terdapat peningkatan jumlah operasi pada kegansan gaster dari tahun 2009 sampai
dengan 2011 namun terjadi penurunan pada tahun 2012. Rerata waktu tunggu operasi
cukup lama sampai 14,15 hari sedangkan rerata lama rawat 28 hari. Kebanyakan pasien
berdomisili di jabodetabek dan sepertiganya dari luar jawa. Jenis operasi kebanyakan
adalah parsial gastrektomi baik dengan bypass atau tidak. Perbandingan rerata albumin
dan IMT saat masuk rumah sakit, sebelum operasi dan setelah operasi mengalami
penurunan. Sedangkan perbandingan rerata Total Limfosit Count saat masuk rumah
sakit dan sebelum operasi mengalami penurunan dan meningkat kembali setelah operasi.
Pada penelitian ini terdapat dua kali lipat pasien menderita malnutrisi dibandingkan
penelitian oeh Rofi dan Kalis.15,16
Kelengkapan data mengenai status nutrisi pada status rekam medis sangat diperlukan.
Hasil penelitian bersesuaian dengan kepustakaan dan penelitian sebelumnya.5,19 Lamanya
menunggu operasi dan lama rawat memerlukan perhatian khusus untuk menguranginya.

ABSTRACT
Gaster is a digestive organ that is one of its functions as a container for food. Malignancy
may occur along the digestive tract, including the stomach. Operation is one that is used
as a therapeutic modality therapy of gastric malignancy. Patients with gastric malignancy
will change the nutritional status. Data on the picture of the nutritional status of patients
who underwent surgery for gastric malignancy not yet available at RSCM.
METHOD
This research is a descriptive retrospective medical record by collecting data on patients
with a diagnosis of gastric malignancy who underwent surgery at the Hospital Dr. Cipto
Mangunkusumo during the period from 2009 to 2012.
THE RESULT
Of the 30 patients diagnosed with gastric malignancy, obtained complete data 19
(63.3%). Patients men, old age and type of malignancy dominant in this study is
consistent with research Leonard A Laisang 2008 and literature. 5.19
There are an increasing number of operations on gastric malignancy from 2009 to 2011
but decreased in 2012. The mean waiting time operation long enough to 14.15 days, while
the average length of 28 days. Most patients live in Jabodetabek and a third from outside
Java. This type of surgery is mostly partial gastrectomy with bypass or not. A comparison
of the albumin and BMI at admission, before surgery and after surgery decreased.
Meanwhile, the average ratio of Total Lymphocyte Count on admission and before
surgery decreased and increased again after the operation. In this study, there are two-fold
compared to patients suffering from malnutrition research by Rofi and Kalis.15,16
CONCLUSION
Completeness of data on nutritional status on the status of medical records is needed.
Results consistent with the literature study and research previously.5,19 The waiting list of
surgery and length of stay require special attention to reduce it.;BACKGROUND
Gaster is a digestive organ that is one of its functions as a container for food. Malignancy
may occur along the digestive tract, including the stomach. Operation is one that is used
as a therapeutic modality therapy of gastric malignancy. Patients with gastric malignancy
will change the nutritional status. Data on the picture of the nutritional status of patients
who underwent surgery for gastric malignancy not yet available at RSCM.
METHOD
This research is a descriptive retrospective medical record by collecting data on patients
with a diagnosis of gastric malignancy who underwent surgery at the Hospital Dr. Cipto
Mangunkusumo during the period from 2009 to 2012.
THE RESULT
Of the 30 patients diagnosed with gastric malignancy, obtained complete data 19
(63.3%). Patients men, old age and type of malignancy dominant in this study is
consistent with research Leonard A Laisang 2008 and literature. 5.19
There are an increasing number of operations on gastric malignancy from 2009 to 2011
but decreased in 2012. The mean waiting time operation long enough to 14.15 days, while
the average length of 28 days. Most patients live in Jabodetabek and a third from outside
Java. This type of surgery is mostly partial gastrectomy with bypass or not. A comparison
of the albumin and BMI at admission, before surgery and after surgery decreased.
Meanwhile, the average ratio of Total Lymphocyte Count on admission and before
surgery decreased and increased again after the operation. In this study, there are two-fold
compared to patients suffering from malnutrition research by Rofi and Kalis.15,16
CONCLUSION
Completeness of data on nutritional status on the status of medical records is needed.
Results consistent with the literature study and research previously.5,19 The waiting list of
surgery and length of stay require special attention to reduce it., BACKGROUND
Gaster is a digestive organ that is one of its functions as a container for food. Malignancy
may occur along the digestive tract, including the stomach. Operation is one that is used
as a therapeutic modality therapy of gastric malignancy. Patients with gastric malignancy
will change the nutritional status. Data on the picture of the nutritional status of patients
who underwent surgery for gastric malignancy not yet available at RSCM.
METHOD
This research is a descriptive retrospective medical record by collecting data on patients
with a diagnosis of gastric malignancy who underwent surgery at the Hospital Dr. Cipto
Mangunkusumo during the period from 2009 to 2012.
THE RESULT
Of the 30 patients diagnosed with gastric malignancy, obtained complete data 19
(63.3%). Patients men, old age and type of malignancy dominant in this study is
consistent with research Leonard A Laisang 2008 and literature. 5.19
There are an increasing number of operations on gastric malignancy from 2009 to 2011
but decreased in 2012. The mean waiting time operation long enough to 14.15 days, while
the average length of 28 days. Most patients live in Jabodetabek and a third from outside
Java. This type of surgery is mostly partial gastrectomy with bypass or not. A comparison
of the albumin and BMI at admission, before surgery and after surgery decreased.
Meanwhile, the average ratio of Total Lymphocyte Count on admission and before
surgery decreased and increased again after the operation. In this study, there are two-fold
compared to patients suffering from malnutrition research by Rofi and Kalis.15,16
CONCLUSION
Completeness of data on nutritional status on the status of medical records is needed.
Results consistent with the literature study and research previously.5,19 The waiting list of
surgery and length of stay require special attention to reduce it.]"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T58877
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimple Gobind Nagrani
"ABSTRAK
Latar belakang: Penyakit jantung bawaan (PJB) yang tersering adalah defek septum ventrikel (DSV), defek septrum atrium (DSA) dan duktus arteriousus paten (DAP). Keterlambatan koreksi defek dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang dan kualitas hidup.
Tujuan: Mengetahui perbedaan status gizi dan kualitas hidup pada anak PJB asianotik sebelum dan 6 bulan-2tahun setelah koreksi dan apakah terdapat hubungan dengan jenis PJB, status gizi awal, metode dan usia koreksi.
Metode: Penelitian kohort retrospektif pada 79 anak berusia 0-18 tahun dengan DSV, DSA, DAP, dan kombinasi ketiganya. Usia, jenis kelamin, jenis PJB, usia koreksi, metode koreksi, BB dan TB dinilai sebelum dan setelah koreksi.
Hasil: Subyek penelitian berusia 0-15 tahun dengan mayoritas 1-5 tahun, diagnosis terbanyak adalah DSV (58,2%), dan status nutrisi awal adalah gizi kurang (50,6%). Secara keseluruhan terdapat kenaikan persentil BB/U (p<0,001), TB/U (p=0,004), dan BB/TB (p<0,001) yang bermakna sebelum dan sesudah koreksi. Tidak ada perubahan status gizi yang bermakna sebelum dan sesudah koreksi (p=0,851). Tidak ada hubungan perubahan status gizi dengan status gizi awal (p=0,451), metode koreksi (p=0,454), dan usia tindakan (p=0,861). Terdapat hubungan antara perubahan status gizi dengan ukuran defek (p=0,035). Sebanyak 29,1% memiliki gangguan kualitas hidup, 45,4% memiliki gangguan aspek emosi. Tidak ada hubungan antara gangguan kualitas hidup dengan diagnosis, metode koreksi, dan ukuran defek.
Simpulan: Status gizi awal terbanyak anak dengan PJB asianotik adalah gizi kurang. Terdapat peningkatan persentil BB/U, TB/U, dan BB/TB yang bermakna 6 bulan-2 tahun setelah koreksi. Terdapat hubungan antara perubahan status gizi dengan ukuran defek. Sepertiga subyek memiliki gangguan kualitas hidup setelah koreksi. Hampir separuhnya memiliki gangguan aspek emosi.

ABSTRACT
Background: The most common congenital heart disease (CHD) is ventricular septal defect (DSV), atrial septal defect (ASD), and patent ductus arteriosus (DAP). Delayed correction is correlated with disturbance of growth, development and quality of life (QOL).
Aim: To determine the difference in nutritional status and QOL for acyanotic CHD before and after 6 months-2 years correction and its association with diagnosis, initial nutritional status, method and age of correction.
Method: A retrospective cohort study on 79 children aged 0-18 years old with DSV, ASD, DAP, and a combination of the 3. Age, gender, type of CHD, age and method of correction, weight and height before and after correction were evaluated.
Result: The subjects are aged 0-15 years with majority of 1-5 years, most common diagnosis is DSV (58.2%) and initial nutritional status is moderate malnutrition (50.6%). There is significant increase in weight/age (p<0.001), height/age (p=0,004) and weight/height (p<0.001) percentiles. There is no increment of nutritional status (p=0.851). There is no association between nutritional status and initial nutritional status before correction (p=0.451), method (p=0.454) and age (p=0.861) of correction. There is a statistically significant association between growth status and defect size (p=0.035). Twenty nine percent have decreased QOL, 45.4% on emotional aspect. Decreased QOL was not associated with diagnosis, method of correction and defect size.
Conclusion: The most common nutritional status in acyanotic CHD children is moderate malnutrition. There is a statistically significant increase in the percentiles 6 months-2years post correction. There is an association between changes in growth status and defect size. One third of patients have decreased QOL after correction and almost half on emotional aspect
"
2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Anggar Jito
"Latar belakang dan tujuan : Tuberkulosis saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia dan Indonesia menempati urutan kedua kasus TB paru di seluruh dunia. Faktor risiko terpenting terinfeksi TB adalah malnutrisi. Keadaan ini mempengaruhi perjalananpenyakit sehingga menentukan prognosis pengobatan dan meningkatkan angka mortalitas. Malnutrition screening tools MST sebagai alat penapisan risiko malnutrisi banyak dipergunakan pada rawat inap dandiharapkan dapat menilai hubungan status gizi pasien dengan bacterial load di tingkat pelayanan primer/rawat jalan.
Metode : penelitian mempergunakan desain potong lintang dengan 185 sampel yang diambil dengan cara stratified consecutive sampling di Puskesmas Rujukan mikroskopis PRM wilayah Kota bekasi pada penderita TB paru kasus baru yang belum mendapatkan terapi Obat anti tuberkulosis OAT.
Hasil : Karakteristik subjek TB paru kasus baru di puskesmas menurut usia dengan nilai tengah 37 tahun IQR 25-51, laki-laki 61,6, perokok 44,3, Kontak serumah 27,6, IMT gizi kurang 56,8, hipoalbumin 18,4, anemia 54,6 kavitas 27 dan keluhan sebagian besar subjek batuk 2-3mgg, demam dan mudah lelah. Terdapat perbedaan bermakna kadar albumin, IMT, skor risiko MST, dan gejala klinis batuk berdahak, batuk kering, sesak napas, nafsu makan turun, berat badan turun dan keringat malam. Skor MST p=2 dan nafsu makan turun mempunyai risiko untuk menderita TB dengan bacterial load 1 ,2 dan 3 . Skor MST dapat dipergunakan sebagai prognosis derajat keparahan penderita TB paru kasus baru di pelayanan kesehatan primer.

Background and aim: Currently tuberculosis still become global health problems and Indonesia is as the second number of tuberculosis globally. Most important risk factor of tuberculosis is malnutrition. This condition affects to pathogenesis of tuberculosis so it will be determining treatment prognosis and increasing mortality. Malnutrition Screening Tools MST often uses at hospitalized patients to decide malnutrition risk and hopefully it has correlation between nutritional status and bacterial load at primary health center outpatients.
Method: A cross sectional study was conducted among 185 samples new case without tuberculosis drug treatment and stratified consecutive sampling at microscopic reference community health center of Bekasi city.
Results: Data from total 185 participants with median age 37 years IQR 25 51, male 61,6, smokers 44,3, household contact 27,6, BMI underweight 56,8, Hipoalbumin 18,4, anemia 54,6, cavity 27 and most of clinical manifestations are prolong cough, fever and weak. There are correlation among variabels consist of albumin level, BMI, MST score, productive and dry cough, dyspnea, loss of appetite and weight and night sweat. MST score p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Sora Yullyana
"ABSTRAK
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak urutan ke-2 di dunia.
Selama beberapa dekade terakhir, tuberkulosis juga muncul pada populasi anak. Tahun 2017,
proporsi kasus tuberkulosis anak masih mengalami peningkatan menjadi 5.86 per 100.000
penduduk pada umur 0-4 tahun dan 5.89 per 100.000 penduduk pada usia 5-14 Tahun. Studi ini
bertujuan untuk mengetahui distribusi tuberkulosis anak di Kota Administrasi Jakarta Timur.
Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi adalah semua kasus tuberkulosis
anak yang ditemukan di pelayanan kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2017.
Kelompok kasus adalah seluruh anak berumur 0-14 tahun yang sudah didiagnosis tuberkulosis
positif berdasarkan sistem skoring tuberkulosis paru anak dan tercatat dalam register di
Puskesmas wilayah Jakarta Timur. Kelompok kontrol adalah anak 0-14 tahun yang tinggal di
wilayah Jakarta Timur dan tidak terdiagnosis tuberkulosis paru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kurang gizi kelompok kasus sebesar 29.17%
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis T-test menjelaskan bahwa
anak dengan gizi buruk memiliki risiko TB paru dibandingkan dengan anak dengan status gizi
normal (OR 3.54; 95% CI 1.56-8.04; p 0,002). Hasil analisis regresi logistik menjelaskan bahwa
anak dengan malnutrisi berisiko tuberkulosis paru 3.37 dibandingkan dengan anak dengan status
gizi normal setelah dikontrol oleh variabel kondisi atap, pencahayaan, riwayat imunisasi dasar,
dan riwayat kontak kasus tuberculosis (95% CI 1.10-10.25; p 0.034).
Kegiatan preventif dan promotif merupakan upaya dalam pencegahan dan pengendalian
tuberkulosis paru khususnya pada anak. Upaya preventif dapat dilakukan melalui Gerakan
Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Untuk memperkuat Gerakan TOSS
TB, Pemerintah bersama masyarakat dapat melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
(GERMAS).

ABSTRACT
Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the
world. Over the past few decades, tuberculosis has also emerged in the childhood
population. In 2017, the proportion of cases of childhood tuberculosis still increased by
5.86 per 100,000 population at 0-4 years old and 5.89 per 100,000 population at 5-14
years old. This study aims to determine the association nutritional status and
pulmonary tuberculosis of children in Health Center Area, East Jakarta Administrative
City in 2019.
This study used a case-control design. The population was all children 0-14 years old
who live in the East Jakarta Region in 2018 until March 2019. The case group was all
children 0-14 years old who had been diagnosed with positive tuberculosis based on the
scoring system of pediatric pulmonary tuberculosis and recorded in registers in the
Puskesmas in East Jakarta. The control group was children 0-14 years old who lived in
the east Jakarta region and without pulmonary TB.
The results showed that the proportion of malnutrition of case groups at 29.17% higher
compared to control groups. The results of the T-test analysis explained that children
with malnutrition had a risk of pulmonary tuberculosis compared to a children of
normal nutritional status (OR 3.54; 95% CI 1.56-8.04; p 0.002). The results of the
logistic regression analysis explained that children with malnutrition at risk of
pulmonary tuberculosis 3.37 compared to children with normal nutritional status after
being controlled by variable roof conditions, lighting, history of basic immunization,
and history of contact with tuberculosis cases (95% CI 1.10-10.25; p 0.034).
Preventive and promotive activities are efforts in the prevention and control of
pulmonary tuberculosis, especially in children. Preventive efforts can be made through
the Movement to Find Tuberculosis Treat to Treat (TOSS TB). To strengthen the TOSS
TB Movement, the Government and the community can carry out the Healthy Living
Society Movement (GERMAS)."
2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadillah Ayu Mahendra
"Permasalahan pangan dan malnutrisi pada usia anak masih banyak terjadi di Indonesia. Kedua masalah tersebut memiliki hubungan dimana ketika seseorang mengalami kekurangan pangan maka ia akan berpotensi mengalami masalah gizi. Penelitian ini akan melihat dampak jangka panjang dari bantuan pangan Raskin terhadap kesehatan anak. Anak yang diteliti dalam penelitian ini adalah anak usia 7-12 tahun dan berada pada rumah tangga miskin. Kesehatan anak akan diukur menggunakan pendekatan antropometri berupa nilai z. Status gizi anak yang digunakan dalam penelitian ini antara lain stunting yang berasal dari indikator height-for-age, underweight dari indikator weight-for-age, dan wasting dari indikator BMI-for-age. Penelitian ini menggunakan data IFLS 4 dan 5 dan metode regresi logit. Hasil penelitian ini menemukan bahwa anak yang mengonsumsi Raskin memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak mengonsumsi Raskin. Hubungan yang signifikan ditemukan pada status gizi stunting, sedangkan untuk status gizi underweight dan wasting tidak ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik.
Hunger and malnutrition problems on children are still common in Indonesia. Both of these problems have a relationship, when a person experiences food shortages then he will have a potential to experience nutritional problems. This research will look at the long-term impact of Raskin on children's health. The age of children, that are studied in this study, is 7 until 12 years old and also live in poor household. Children's health will be measured using an anthropometric approach in the form of z-score. The nutritional status of children that used in this study are stunting which is derived from the height-for-age indicator, underweight from the weight-for-age indicator, and wasting from the BMI-for-age indicator. This study uses IFLS 4 and 5 data and logit regression method. The results of this study found that children who consume Raskin has better nutritional status than children who do not consume Raskin. A significant relationship is found in stunting nutritional status, while for underweight and wasting status has no statistically significant relationship."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pakasi, Trevino Aristarkus
"Kelompok usia yang paling rentan terhadap masalah kurang pangan adalah kelompok balita karena mereka sangat memhutuhkan energi dan nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Dan dalam kondisi krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia anak-anak merupakan kelompok yang paling terkena dampaknya. Krisis ini berdampak luas pada setiap segi kehidupan masyarakat. Berkurangnya pendapatan menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat. Berkurangnya daya beli menyebabkan masyarakat tidak mampu menyediakan kebutuhan pangannya sehari-hari, sehingga nutrisi yang dikonsumsi tidak dapat mernenuhi kebutuhan fisiologis tubuh secara optimal. Tingginya harga bahan pangan dan rendahnya daya beli masyarakat mengakibatkan kebutuhan pangan individu, terutama anak, atau keluarga tidak dapat dipenuhi dengan baik.
Akibat lain pada masa krisis moneter ini adalah meningkatnya angka kesakitan akibat kurang gizi dan meningkatnya penyakit-penyakit menular. Banyak orang saat ini tidak bisa berobat ke dokter bila sakit sehingga banyak penyakit kronik tidak terobati. Anakanak biasanya akan mendapat pengaruh yang paling besar. Dalam "Status Anak-Anak Dunia 1998" (UNICEF, 1998), istilah malnutrisi dipakai untuk menunjukkan konsekuensi kombinasi masukan energi protein dan mikronutrien yang tidak adekuat serta seringnya infeksi.
Sebagaimana dibahas dalam World Development Report 1993 dan pada konferensi "Overcoming Global Hunger", paling sedikit ada tiga langkah yang dapat mengurangi malnutrisi dengan cepat dan murah:
· Mengatasi defisiensi mikronutrien;
· Memperluas jangkauan imunisasi;
· Mengatasi infeksi parasit yang menyebabkan anemia dan malnutrisi."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7   >>