Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Syifa Aulia Kholilullah
"Anak-anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sering mengalami tantangan dalam komunikasi serta interaksi sosial, juga perilaku serta minat yang terbatas dan berulang. Hal tersebut dapat menyebabkan munculnya perilaku maladaptif pada anak ASD, yang tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga menjadi faktor stres bagi orang tua dalam pengasuhan. Stres pengasuhan yang tinggi dapat memengaruhi kesejahteraan orang tua serta kemampuan mereka dalam mendukung perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara perilaku maladaptif pada anak dengan ASD dan tingkat stres pengasuhan yang dialami orang tua. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dengan 50 orang tua yang diperoleh melalui teknik random sampling pada 11 Sekolah Luar Biasa di Bogor. Alat ukut yang digunakan berupa Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan Parental Stress Scale (PSS). Hasil analisis menggunakan uji Spearman menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara perilaku maladaptif pada anak ASD dengan tingkat stres pengasuhan orang tua (p=0,028; r=0,311). Penelitian ini dapat menjadi implikasi bagi terapi okupasi terkait dengan perilaku maladaptif dan stres pengasuhan.

Children with Autism Spectrum Disorder (ASD) often experience challenges in communication and social interaction, as well as restricted and repetitive behaviors and interests. This can lead to the emergence of maladaptive behavior in children with ASD, which not only affects the child but also becomes a stress factor for parents in parenting. High parenting stress can affect the well-being of parents and their ability to support child development. This study aims to identify the relationship between maladaptive behavior in children with ASD and the level of parenting stress experienced by parents. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach, with 50 parents obtained through random sampling techniques at 11 Special Schools in Bogor. The measurement tools used were the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) and the Parental Stress Scale (PSS). The results of the analysis using the Spearman test showed that there was a significant correlation between maladaptive behavior in children with ASD and the level of parenting stress (p = 0,028; r = 0,311). This study can have implications for occupational therapy related to maladaptive behavior and parenting stress."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwinanda Aidina Fitrani
"ABSTRAK
Latar belakang. Gangguan tidur merupakan gangguan penyerta pada anak gangguan spektrum autisme (GSA), yang memiliki prevalens tinggi serta dapat mengakibatkan perilaku negatif terhadap lingkungannya atau perilaku maladaptif eksternalisasi. Gangguan tidur pada anak GSA perlu dideteksi secara dini, karena bila tidak akan menyebabkan keterlambatan terapi dan menyebabkan anak makin berperilaku negatif serta menyebabkan stres pada keluarga.
Tujuan. Mengetahui pola gangguan tidur dan gambaran perilaku maladaptif eksternalisasi pada anak GSA, serta mengetahui perbedaan rerata nilai indeks perilaku maladaptif eksternalisasi (v-scale), pada anak GSA dengan gangguan tidur dan tanpa gangguan tidur.
Metode. Penelitian potong lintang analitik di klinik dan tempat terapi anak berkebutuhan khusus di Jakarta pada bulan Juni-Agustus 2014. Skrining gangguan tidur dengan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) dan penilaian perilaku maladaptif eksternallisasi dengan kuesioner Vineland-II dilakukan terhadap 40 anak GSA yang dipilih secara konsekutif. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok gangguan tidur (20 anak) dan kelompok tanpa gangguan tidur (20 anak).
Hasil. Rentang usia dalam penelitian ini adalah 3-18 tahun dengan median usia 3,5 tahun. Proporsi terbanyak gangguan tidur pada anak GSA terdapat pada kelompok usia 3-5 tahun (15 dari 20 subjek). Pola gangguan tidur terbanyak pada anak GSA adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur (17 dari 20 subjek) diikuti oleh gangguan somnolen berlebihan (8 dari 20 subjek). Nilai median v-scale perilaku maladaptif eksternalisasi pada anak GSA adalah 18 (rentang 12-22), dan terdapat kecenderungan peningkatan nilai median v-scale perilaku maladaptif eksternalisasi seiring dengan peningkatan usia pada kedua kelompok. Nilai rerata v-scale perilaku maladaptif eksternalisasi pada kelompok GSA dengan gangguan tidur lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa gangguan tidur (18,8 dan 17,6 secara berurutan, mean difference 1,2; p 0,35 (p ≥ 0,05)).
Simpulan. Proporsi terbanyak gangguan tidur pada anak GSA terdapat pada kelompok usia 3-5 tahun. Pola gangguan tidur terbanyak pada anak GSA adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur diikuti oleh gangguan somnolen berlebihan. Anak GSA dengan gangguan tidur memiliki nilai rerata indeks perilaku maladaptif eksternalisasi yang lebih tinggi dibandingkan tanpa gangguan tidur, namun tidak bermakna secara klinis dan statistik.

ABSTRACT
Background. Sleep disorders is a comorbidity in Autism Spectrum Disorders (ASD), which has high prevalence and can cause negative behavior toward his surrounding or externalizing maladaptive behavior. Sleep disorders in ASD needs to be early detected, otherwise it will delay the treatment and children will behave more negative and cause the stress in family.
Objectives. To identify sleep patterns and externalizing maladaptive behavior in children with ASD, and to identify the mean difference of index score of externalizing maladaptive behavior of (v-scale) in ASD children with or without sleep disorders.
Methods. This study was analytical cross-sectional performed in the clinic and a therapy for children with special needs in Jakarta, in Juni-August 2014. Sleep disorders were screened using Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) questionnaire and externalizing maladaptive behavior was assessed using Vineland-II questioinnaire in 40 ASD children consecutively. They were divided into two groups, one group of sleep disorders (20 children) and other without sleep disorders (20 children).
Results. Age range in this study was 3-18 years old, with median age of 3.5 years old. The majority of sleep disorders in ASD was in age range 3-5 years (15 of 20 subjetcs). The most frequent sleep disorders in ASD were difficulty in initiating and maintaning sleep (17 of 20 subjetcs), followed by disorder of excessive somnolence (8 of 20 subjetcs). The v-scale median score in ASD was 18 (range 12-22), and there was tendency of increased v-scale median score along with increased age. The mean of v-scale in externalizing maladaptive behavior in ASD with sleep disorders group was higher than without sleep disorders group (18.8 and 17.6 respectively, mean difference 1,2; p 0.35 ((p ≥ 0,05)).
Conclusion. The majority of sleep disorders in ASD was in age range 3-5 years. The most frequent sleep disorders in ASD were difficulty in initiating and maintaning sleep, followed by disorder of excessive somnolence. Autism spectrum disorders children with sleep disorders has higher index externalizing maladaptive behavior mean than without sleep disorders, but was not meaningful clinically and statistically."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Marwati
"ABSTRAK
Studi ini membahas tentang pengembangan potensi kenyamanan visual individu dengan gangguan spektrum autisme pada sebuah ruang tenang yang bertujuan untuk meringankan perilaku dan emosi maladaptif. Perilaku dan emosi yang maladaptif memiliki keterkaitan yang erat dengan gangguan proses sensorik yang umumnya dimiliki oleh individu dengan gangguan spektrum autisme. Dengan pengoptimalan kenyamanan visual sensorik pada sebuah ruang tenang, diharapkan perilaku dan emosi maladaptif yang sedang dialami seseorang bisa berangsur berkurang. Studi ini dilakukan dengan tinjauan literatur, dan studi kasus pada sekolah yang menyediakan layanan pendidikan khusus, yaitu Sekolah Mandiga, dan layanan pendidikan inklusi, yaitu Lazuardi Cordova GIS (Global Islamic School). Delapan subyek penelitian dengan rentang usia anak-anak hingga dewasa muda terlibat dalam penelitian ini dengan empat subyek pada masing-masing lokasi. Analisis kondisi eksisting ruang tenang dilakukan dengan didukung oleh pengamatan langsung dan simulasi software pencahayaan DIALux evo 8.1. Untuk melakukan pengamatan terhadap perilaku dan emosi subyek penelitian dalam ruang tenang eksisting, dilakukan penilaian yang berdasarkan pada 12 perilaku dan emosi aktif pada instrumen Aberrant Behavior Checklist-Irritability (ABC-I). Penilaian dilakukan pada perilaku dan emosi subyek saat sebelum dan setelah masuk ke dalam ruang tenang dalam setiap rentang waktu 5 menit hingga subyek sudah tenang dan diperbolehkan keluar. Dengan ruang tenang yang memiliki penyebaran intensitas cahaya yang merata, empat subyek penelitian pada Sekolah Khusus menunjukkan penurunan perilaku dan emosi maladaptif sejak lima menit pertama. Sementara itu, subyek pada Sekolah Inklusi, dengan ruang tenang yang memiliki variasi penyebaran intensitas cahaya, menunjukkan perubahan yang beragam. Dua dari empat subyek mengalami kenaikan tingkat masalah perilaku dan emosi, satu subyek tidak menunjukkan perubahan, dan satu lainnya mengalami penurunan masalah. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa subyek penelitian cenderung memilih area yang dekat dengan pandangan keluar dan menjauhi cahaya dengan intensitas berlebih. Usulan intervensi desain ruang tenang yang diusulkan dikembangkan dari tiga pertimbangan utama, yaitu (1) memberikan kenyamanan visual sesuai kebutuhan sensorik individu dengan gangguan spektrum autisme, (2) memenuhi kebutuhan ruang sebagai ruang yang dapat memberikan efek tenang, dan (3) mengantisipasi terjadinya perilaku dan emosi yang membahayakan diri. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan lebih lanjut mengenai ruang bagi individu dengan gangguan spektrum autisme sehingga tercipta lingkungan inklusif dan berkelanjutan.

ABSTRACT
This study discusses the potential of optimizing the visual comfort of individuals with autism spectrum disorder (ASD) in a quiet room. This study aims to propose an architectural intervention that may relieve maladaptive behavior and emotions in autistic users. Maladaptive behavior and emotions have a close relationship with sensory processing disorder that are generally owned by individuals with autism spectrum disorder. It is expected that maladaptive behavior and emotion that are being experienced by a person can gradually diminish by optimizing visual sensory comfort in a quiet room. This study was supported by literature review and case studies in two schools that provide special education services, namely Sekolah Mandiga, and inclusive education services, namely Lazuardi Cordova GIS (Global Islamic School). Eight respondents, ranged in the age of children to young adults were involved in this study, with four respondents on each school. Analysis of the existing condition of the quiet room is supported by observation and simulation through the lighting software DIALux evo 8.1. To observe the behavior and emotion of respondents in the existing quiet room, an assessment based on 12 active behaviors and emotion on the Aberrant Behavior Checklist- Irritability (ABC-I) instrument. Assessments were carried out on the respondents behavior and emotion at the time before and after entering the quiet room for every 5 minutes until the respondent was calm and allowed to leave the room. Four respondents at the Special School, which had quiet room with evenly distributed light, showed a decrease in maladaptive behavior and emotion since the first five minutes of entering the quiet room. Meanwhile, in a quiet room that had variations of light intensity, respondents at the Inclusion School showed various changes. Two out of four respondents experienced an increase in the level of maladaptive behavior and emotion, a respondent showed an unchanged level, while the other experienced a decrease. The result also showed that the respondents exhibit the tendency to choose an area that is close to the outside view and far from the excess light. The proposed quiet room design intervention is a development based on three main considerations, which are (1) providing visual comfort according to the sensory needs of autistic individuals, (2) meeting the room requirements as a space that provide a quiet effect, and (3) anticipating the occurrence of behavior and emotion that may harm. It is hoped that this research may become a reference in the further development of spaces that are dedicated for autistic individuals to make an inclusive and sustainable environment for individual with autism spectrum disorder."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library