Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
Fathia Seivita Zahirani
"Penambangan bawah tanah merupakan kegiatan eksplorasi yang memanfaatkan endapan mineral terperangkap di bawah permukaan tanah. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan mineral tambang yang ekonomis. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran dan penelitian untuk memahami proses mineralisasi, khususnya proses terjadinya alterasi. Penelitian ini menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) untuk mengetahui bagaimana proses mineralisasi terjadi pada alterasi hornfels dan alterasi prograde skarn yang bersifat konduktif di tambang bawah tanah Big Gossan, footwall west, pada tiga level berbeda (level 2800, 2860, dan 2900 m) dengan panjang lintasan 9 meter di setiap lintasan dan total 9 titik pengukuran. Analisis yang dilakukan meliputi analisis amplitudo, spectrum density, dan bandwidth agar zona alterasi dapat teridentifikasi berdasarkan besar energi yang terserap (loss factor) akibat perbedaan konstanta dielektrik maupun konduktivitas. Hasil analisis data GPR menggunakan 3 parameter tersebut menunjukkan bahwa GPR mampu mengidentifikasi batas kontak alterasi terakhir serta mengestimasi jarak antar setiap alterasi. Perubahan amplitudo dan pola karakteristik sinyal pada kurva spektrum densitas yang rendah dan nilai bandwidth yang cenderung bernilai kecil serta bervariasi menunjukkan adanya perbedaan alterasi antara alterasi hornfels dan alterasi prograde skarn. Selanjutnya, model 3-dimensi dikembangkan berdasarkan hasil GPR yang menunjukkan kemiripan struktur dengan model data geologi drive mapping.
Underground mining is an exploration activity that utilizes mineral deposits trapped beneath the Earth’s surface. This process is expected to yield economically viable mineral resources. Therefore, comprehensive study and research are essential to understand the mineralization process, particularly the occurrence of alteration. This study employs the Ground Penetrating Radar (GPR) method to investigate how mineralization occurs within conductive hornfels and prograde skarn alterations in the Big Gossan underground mine, specifically in the footwall west area, across three different levels (2800, 2860, and 290 m ). Each survey line spans 9 meters, totaling 9 measurement points. The analysis includes amplitude response, spectrum density, and bandwidth to identify alteration zones based on energy loss (loss factor) due to dielectric constants and conductivity variations. The GPR data analysis using these three parameters demonstrates the capability of GPR to delineate the final alteration boundaries and estimate the distance between alteration zones. Changes in amplitude and the signal characteristics, such as low spectral density and narrow, variable bandwidths, indicate differences between hornfels and prograde skarn alterations. Furthermore, a 3D model developed from the GPR data reveals structural similarities with the geological model derived from drive mapping observations."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Suryadi
"Risiko kredit adalah salah satu risiko yang dihadapi KPEI sebagai central counterparty di pasar modal Indonesia. Risiko kredit tersebut muncul karena adanya penyelesaian hak dan kewajiban Anggota Kliring (AK) ke KPEI, sehubungan dengan transaksi yang dilakukan di BEI. Salah satu rekomendasi dari BIS dan IOSCO, KPEI harus dapat mengelola risiko kredit terkait adanya kemungkinan kegagalan anggotanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menghitung risiko kredit (expected loss) AK menggunakan Factor Model yang diimplementasikan KPEI sebelum Juni 2012 dan Risk-Based Model yang diimplementasikan setelahnya dan kemudian membandingkannya. Juga dilakukan perhitungan risiko tambahan (unexpected loss) AK dengan menggunakan metode stress testing. Data yang digunakan adalah data penyelesaian hak dan kewajiban seluruh AK tanggal transaksi 25, 28 dan 29 Mei 2012 yang belum diselesaikan pada tanggal 30 Mei 2012. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran risiko (expected loss) dalam kondisi pasar normal dengan metode Risk-Based Model memberikan nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan metode Factor Model. Sedangkan untuk risiko dalam kondisi pasar stress (unexpected loss), 73% dari 113 AK yang diteliti mengalami tambahan risiko kredit terhadap KPEI.
Credit risk is one of the risks faced KPEI as a central counterparty in Indonesia's capital market. Credit risk arises due to the completion of the rights and obligations of the Clearing Member (CM) to KPEI. One of the BIS and IOSCO?s recommendations, KPEI should be able to manage credit risk related to a possible failure of its members. This study aims to measure and calculate the CM's credit risk (expected loss) using Factor Model implemented before June 2012 and the Risk-Based Model implemented afterwards and then compare them. Also performed the calculation of the additional risk (unexpected loss) using stress testing. The data used is the completion of the rights and obligations of data throughout the transaction date AK 25, 28 and May 29, 2012 that have not been settled on May 30, 2012. This study shows that the measurement of risk (expected loss) under normal market conditions by the of Risk-Based Model method gives a smaller value than Factor Model method. As for the risk in the stress market conditions (unexpected loss), 73% of 113 CMs have studied additional credit risk to KPEI."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2012
T32233
UI - Tesis Open Universitas Indonesia Library