Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Thariq Triezaputera
"Permintaan batubara yang meningkat membuat negara produsen batubara dituntut untuk memproduksi lebih banyak. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam produksi batubara ialah keselamatan dan efisiensi, namun dalam kegiatannya sering ditemukan masalah atau kendala. Masalah yang sering dihadapi yaitu masalah kestabilan lereng. Lereng dengan keadaan tidak stabil dapat berpotensi longsor. Longsor pada lereng dapat mengakibatkan tidak tercapainya target produksi yang direncanakan, serta membahayakan keselamatan pekerja. Musim penghujan berpengaruh pada kestabilan lereng, karena curah hujan tinggi dapat memicu terjadi longsor. Kondisi daerah penelitian sebelumnya telah mengalami longsor, kemudian dilakukan perlakuan geoteknik berupa pemadatan pada lereng. Setelah pemadatan, belum dilakukan suatu kajian kestabilan lereng di area tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kestabilan lereng, hubungan ketinggian muka air tanah (MAT), dan saran rekomendasi desain lereng stabil di daerah penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan tahap pengumpulan data meliputi pengambilan sampel tanah, pengukuran geometri,  karakterisasi geoteknik, dan pengumpulan data sekunder. Data tersebut kemudian digunakan sebagai parameter dalam analisis kestabilan lereng menggunakan bantuan software Geostudio 2021. Metode yang digunakan yaitu analisis kesetimbangan batas dengan metode Morgenstern-Price, Bishop, dan Janbu. Hasil analisa kestabilan lereng menggunakan metode Morgenstern-Price dan Bishop menunjukkan kondisi stabil pada lereng A, B, dan C (FK>1,3). Hasil perhitungan menggunakan metode Janbu menunjukan kondisi stabil hanya pada lereng A, sedangkan lereng B dan C dalam keadaan kritis (1,3

The increasing demand for coal has forced coal-producing countries to produce more. One of the things that need to be considered in coal production is safety and efficiency, but in its activities problems or obstacles are often found. The problem that is often encountered is the problem of slope stability. Slopes with unstable conditions have the potential for landslides. Landslides on slopes can result in not achieving planned production targets, as well as endangering worker safety. The rainy season affects the stability of the slopes, because high rainfall can trigger landslides. The condition of the study area had previously experienced landslides, then geotechnical treatment was carried out in the form of compaction on the slopes. After compaction, a slope stability study has not been carried out in the area. This study aims to analyze the stability of the slopes, the relationship between the groundwater level, and recommendations for stable slope designs in the study area. This research was conducted with data collection stages including soil sampling, geometry measurements, geotechnical characterization, and secondary data collection. The data is then used as a parameter in the analysis of slope stability using the Geostudio 2021 software. The method used is boundary equilibrium analysis using the Morgenstern – Price, Bishop, and Janbu method. The results of the analysis of slope stability using the Morgenstern-Price and Bishop methods show stable conditions on slopes A, B and C (FoS> 1.3). The results of calculations using the Janbu method show stable conditions only on slope A, while slopes B and C are in critical condition (1.3"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simatupang, Feby Lidya
"Metode yang digunakan dalam analisis stabilitas lereng semakin berkembang menyebabkan terdapat lebih dari satu metode yang dapat digunakan dalam menganalisis stabilitas lereng. Saat ini, Limit Equilibrium Method (LEM) dan Finite Element Method (FEM) menjadi metode analisis stabilitas lereng yang paling umum digunakan. Hal tersebut mendasari pertanyaan apakah terdapat perbedaan dari metode tersebut dan bagaimana pengaruh dari hasil analisis stabilitas lereng menggunakan metode tersebut pada permodelan longsor translasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan perbandingan hasil faktor keamanan dan gambar pola kelongsoran dari penggunaan FEM dengan software MIDAS GTS NX dan LEM dengan software GeoStudio. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat sensitivitas kedua metode tersebut terhadap pengaruh dari variasi parameter tanah permodelan longsor translasi. Penelitian perbandingan hasil faktor kemanan terhadap kedua metode dilakukan dengan mensimulasikan metode LEM dan FEM yang terdapat pada kedua software. Hasil perbandingan metode FEM dan LEM untuk permodelan lereng translasi memiliki hasil yang berbeda. LEM memberikan hasil faktor keamanan yang lebih kecil daripada FEM dan nilainya lebih dekat dengan perhitungan manual. Software MIDAS GTS NX menunjukan sensitivitas yang lebih tinggi daripada software GeoStudio. Dari penelitian ini, untuk analisis stabilitas lereng translasi direkomendasikan untuk menggunakan GeoStudio metode Janbu atau metode Morgenstern-Price untuk hasil faktor keamanan yang lebih optimal.

The method used in the analysis to increase growth causes there to be more than one that can be used in the slope. Currently, Limit Equilibrium Method (LEM) and Finite Element Method (FEM) are the most commonly used slope analysis methods. In that case, are there any differences between these differences and what is the effect of the results of the question analysis using the method on translational landslide modeling. The purpose of this study was to compare the results of the safety factor and slide pattern images from the use of FEM with MIDAS GTS NX software and LEM with GeoStudio software. In addition, this study aims to examine the sensitivity of the two methods to the effect of variations in soil parameters in translational landslide modeling. Comparative research on the results of the safety factor against the second method was carried out by simulating the LEM and FEM methods contained in the second software. The results of the comparison of FEM and LEM methods for translational slope modeling have different results. LEM gives a smaller safety result than FEM and its value is closer to manual calculation. The MIDAS GTS NX software shows higher sensitivity than the GeoStudio software. From this research, for slope safety analysis, it is recommended to use GeoStudio Janbu’s method or Morgenstern-Price’s method for optimal safety factor results."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marlina Tjendra
"Gunung Papandayan, terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan salah satu gunung berapi aktif yang memiliki potensi bencana, terutama di area Kawah Tapal Kuda. Kawasan ini dipengaruhi oleh aktivitas hidrotermal dan keberadaan batuan teralterasi yang dapat mempengaruhi kestabilan lereng. Penelitian dilakukan di 14 titik untuk data RMR serta 6 lereng (3 segar dan 3 teralterasi) yang menjadi jalur utama pendakian dan jalur motor, dengan tujuan untuk memetakan kualitas masa batuan dan menganalisis kestabilan lereng serta mengidentifikasi potensi keruntuhan di area tersebut guna memberikan rekomendasi untuk lereng yang berpotensi mengalami keruntuhan. Metode Rock Mass Rating (RMR) digunakan untuk mengklasifikasikan massa batuan, sedangkan analisis kinematik diterapkan untuk memahami interaksi antara bidang diskontinuitas dan lereng. Untuk menilai tingkat keamanan lereng, digunakan metode kesetimbangan batas yang menghitung Faktor Keamanan (FK). Selain itu, pemodelan geoteknik dilakukan untuk memvisualisasikan rekomendasi untuk lereng yang memiliki nilai FK < 1.25. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa area penelitian terbagi menjadi tiga kelas RMR yaitu sangat baik, baik, dan sedang. Setelah dilakukan analisis kinematik didapatkan bahwa keenam lereng berpotensi mengalami tipe longsoran guling (toppling failure), dengan kemungkinan mengalami tipe longsoran guling mulai dari 10-75%. Hasil dari analisis kestabilan lereng yang dilakukan dengan metode kesetimbangan batas didapatkan bahwa lereng-lereng yang menjadi objek penelitian termasuk ke dalam kategori stabil dengan nilai FK yg bervariasi mulai dari 1.587 hingga 3.5, kecuali lereng alterasi 1 yang memiliki nilai FK 0.979 dengan kategori tidak stabil. Nilai FK yang kecil ini disebabkan oleh karakteristik geologi seperti karakteristik petrografi yang mana pada sayatan tipis sampel ini terlihat mineral-mineral dengan ukuran butir afanitik dan bentuk mineral anheral yang mendominasi dengan kandungan mineral lempung yang cukup tinggi yaitu 38% serta dari sisi properti massa batuan batuan di lereng ini memiliki nilai kohesi terendah yaitu 0.127 yang mengurangi gaya penahan dari lereng alterasi 1. Kemudian setelah dilakukan pemodelan kembali dengan memasang blok batuan berupa bolt pada bagian atas lereng dengan jarak antar bolt adalah 2 meter menghasilkan nilai FK sebesar 1.909 dengan kategori stabil.

Mount Papandayan, located in Garut Regency, West Java, is one of Indonesia’s active volcanoes and poses significant hazard potential, particularly in the Kawah Tapal Kuda area. This region is influenced by intense hydrothermal activity and the presence of altered rocks, which can greatly affect slope stability. The study was conducted at 14 locations for Rock Mass Rating (RMR) data collection and on 6 slope sections (3 composed of fresh rock and 3 of altered rock) situated along the main hiking and motorbike access routes. The objective was to map the rock mass quality, analyze slope stability, and identify potential failure zones in order to provide engineering recommendations for potentially unstable slopes. The RMR classification system was employed to evaluate the quality of the rock mass. Meanwhile, kinematic analysis was used to understand the interaction between discontinuity planes and slope geometry. To assess slope safety, the Limit Equilibrium Method (LEM) was applied to calculate the Factor of Safety (FoS). Additionally, geotechnical modeling was carried out to simulate the implementation of stabilization measures for slopes with FoS values lower than 1.25. The results revealed that the rock masses within the study area fall into three RMR classes: very good, good, and fair. Kinematic analysis showed that all six slope sections are potentially susceptible to toppling failure, with probabilities ranging from 10% to 75%. The LEM-based slope stability analysis further indicated that most slopes are categorized as stable, with FoS values ranging from 1.587 to 3.5, except for one altered slope (Altered Slope 1) which had a FoS of 0.979, classifying it as unstable. The low FoS value on Altered Slope 1 is attributed to both geological characteristics and rock mass properties. Petrographic analysis of the thin section sample revealed the dominance of aphanitic grain-sized, anhedral minerals, and a high clay mineral content of approximately 38%. Furthermore, this slope section had the lowest cohesion value among all slopes, at only 0.127 MPa, which significantly reduced its shear resistance. Following this, remedial modeling was carried out by installing rock bolts at the top portion of the slope, spaced 2 meters apart. This stabilization effort successfully increased the FoS to 1.909, reclassifying the slope as stable."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library