Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mulyono
"Daerah Aliran Sungai I nk I Jlo HnIn yang bersumber dan Pegwmngan Serayn Selatan path
tahun-tahun belakangan mi terutama pada musim penghujan dirnana curah hujannya cukup linggi,
suing mengalami banjir.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam tulisan mi
aclalah hagaimana huhmgan antara hentnk medan, penggunaari tanah clan ounih hujan terhaclap
banjir di Daerah Aliran Sungai Luk Ulo Hulu path tanggal 11 Oktober 1992?
Yang dimaksud dengan banjir adalah air tergenang yang melebihi debit rata rata, tidak
dibudidayakan dan menipakan bencana yang merugikan penduduk path wilayah yang relatif luas
serta te1genang secara tempnrer atnu pertodik.
Analisa dilakukan dengan metode korelasi peta daii variabel-vaiiabel bentuk medan, curah
hujan dan penggunaan tanah terhadap wilayah banjir. Hasil dan analisa menunjukkan bahwa
penyebab teijadmya banjir di Daerah Aliran Sungai Luk Ulo Hulu tanggal 11 Oktober 1992 adalah:
1. Ranjir terjadi di I emhah Tlepnk pada ketinggian 25 meter di atas permnkaan laut clan path
kerniringan 0 - 2 %, yang melanda desa-desa Logandu, Kalibening, Wonotirto, Kebakaian,
Karangrejo, Karangsambung, Langse dan kaligending. Dimana wilayah mi mempunyai bentuk
medan yang datan yang nierupakan cekungan yang dikelilingi oleli perbukitan. Dilihat daii jaringan
sllngainya wilayah hanjir terdapat path pertemuan alur sungai antarn Sungai I .uk I un, Simgai
Cacaban, Sungai Gebang dan Sungai Wetarang. Disarnping itu badan dan alur Sungai Luk Ulo path
wilayah iiii berkelok-kelok.
2. Berdasarkan kondisi penggunaan tanahnya, path tahun 197 ididominasi oleh jenis penggunaan
tanah hutan, sedang pada tahun 1992 didoniinasi oleh jenis penggimaan tanab sawab. Dengan
deniikian telah tei:jadi perubahan tutupan -vegetasi - dari . tutupan vegetasi lebat menjadi tutupan
vegetasi yang kurang/tidak lebat, yang berarti kualitas penggunaan tanahnya semakin menurun
sehubungan dengan teijadinya banjir. Dengan kondisi penggunaan tanah yang seperti mi jika terjadi
cnrah hujan dengan intensitas tinggi air hujan akan langsung mengalir ke tempat-tempat yang Iehih
rendah karena thya intersepsi dan infiltrasinya sudah menurun, melalui badan-badan sungai dan
akan segera terkumpul path wilayah banjir tersebut di atas.
3. Banjir yang teijadi pada tanggal 11 Oktober 1992, disebabkan pula oleh curah hujan path saat itu
dengaii curah hujan hanan rata-rata path sehirab wilayah penelitian sehesar 97)25 mm atan intensitas
curah hujannya sebesar 19,08 mm/jam, dimana intensitas curah hujan rata-rata pada bulan Oktober
sebesar 4,71 mm/jam.
Dengan demikian kesimpulan yang ditatik dan tulisan mi adalah:
I. Ranjir yang terjadi di I enihah l'lepok path Daerah Aliran Sungai I .uk I Jin I-tutu tanggal 11
Oktober 1992, benlangsung selama kurang lebih 10 jam dengan luas 672,82 Ha.
2. Banjir di Lembah Tiepok terjadi path ketinggian 25 meter di atas permukaan laut dan path
keniiiingan 0-2 %, dimana wilayah mi mempunyai bentuk medan datar yang merupakan cekungan
yang dikelilingi oleh perbukitan. Sedangkan kcrndisi penggimaan tanah path wilayah penelitian mi
didominasi oleh jenis penggunaan tanah sawah dan berikutnya kebun carnpuran. Path Rilayah.
penelitian ml dengan kondisi fisik seperti di atas, jika teijadi curah hujan dengan intensitas tinggi
seperti path tanggal 11 Oktober 1992, maka air hujan akan mudah mengalir ke tempat-tempat yang
lehih rendah clan air segera terkumpiil terjadilah hanjir di I emhah Tiepok."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1997
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kuala Lumpur: Persatuan Sejarah Malaysia, 1980
913.926 PER l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Benyamin Lufpi
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
T4093
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofia Magdalena Ersan
"PT Perfect Victory Engraving Manufacture merupakan industri elektroplating (lapis Iistrik) yang membuat produk berupa silinder untuk ?rom gravur-e?, dimana di dalamnya terdapat beberapa proses pelapisan yaitu pelapisan nikel, pelapisan tembaga dan pelapisan krom.
Karakteristik air limbah yang dihasilkan secara kualitas, umurnnya ditandai dengan pH yang rendah, boinl suspendid solid tinggi, BOD dan COD tinggi, serta kandungan logam berat seperti nikel, tembaga, dan krom. Konsentrasi dari konstituen pencemzu' umumnya berada di atas ambang batas. Dilakukan proses pengolahan secara fisik-kirnia berdasaxkan rasio BOD/ COD.
Alternatif pengelolaan Iimbah yang mungkin dilakukan adalah dengan modifikasi disain dan operasi pada proses produksi untuk meminimisasi rnasalah yang tirnbul dari limbah yang dihasillcan clan pembuatan unit pengolah limbah secara batch (individual treatment system) dengan proses dasar reduksi-presipitasi. Kemungkinan minimisasi ljmbah di1al
Adapun sistem batch yang dilaksanakan terdiri dari unit bak pengumpul (merangkap bak penangkap minyak dan lemak), tangki batch, sludge filter Serta tangki dosing. Bahan kimia yang digunakan yaitu HzSO4, FeSO4 heknis, Ca(OI-I); heknis dan polimer. Pengolahan sistem batch ini dapat diterapkan karena : kuantiins air limbah yang dihasilkan kecil, adanya keterbatasan lahan, serta murah dan mudah dalam konstruksi, operasional maupun pemeliharaannya. Pembangunan unit pengolah limbah ini dapat diberapkan setelah dilakukan evaluasi anbara unit pengolah Iimbah baru dengan unit pengolah limbah eksisting."
1996
S34632
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Situmorang, Sitor, 1923-2014
Jakarta: Komunitas Bambu, 2004
808.81 SIT l
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Aslim Djohar
"ABSTRAK
Tujuan penelitian ini (1) mendiskripsikan saluran pernapasan kentang mulai dari petani produsen ke konsumen. (2) mendiskripsikan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran. (3) menganalisis efisiensi pemasaran.
Penelitian ini merupakan studi kasus di Kecamatan Lembah Gunaand Kabupaten Solok Sumatera Barat. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah Multistage Sampling dan Snow Ball Sampling. Sampel keseluruhan berjumlah 53 orang petani kentang 3 orang pedagang pengumpul, 10 orang tengkulak dan 30 orang pedagang pengecer. Data-data yang dapat dianalisis dengan regresi linier berganda dan dibantu dengan analisis diskriptif yang disajikan dalam bentuk tabulasi, analisis integrasi pasar dan elastisitas transmisi harga.
Hasil penelitian menunjukkan ada 3 saluran pemasaran yang dominan (I) saluran pendek dari produsen -4 pengecer -4konsumen (21%) saluran menengah dari produsen --4 tengkulak --4 pedagang pengumpul --4 pengecer konsumen (19%) (2) Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan pedagang adalah: Pembelian, penjualan, pengangkutan, permodalan. Standarisasi hanya dilakukan oleh tengkulak dan pedagang pengumpul, penyampaian informasi pasar hanya dilakukan oleh pedagang pengumpul.. Ternyata pemasaran belum efisien, sesuai dengan hasil analisis bahwa :
a. Distribusi margin belum merata antar lembaga pemasaran
b. Koefisien kerelasi integrasi pasar adalah 0,62 yang berarti bahwa keadaan pasar bukan dalam persaingan sempurna, koefisien korelasi < 1 berarti pasar pada persaingan sempurna (Zulkifli.A, 1982 h.169)
c. Koefisien elastisitas transmisi harga sebesar 0,672 ( 1) yang berarti bahwa bentuk pasar tidak bersaing sempurna. Koefisien elastisitas transmisi harga > 1 pasar tidak dalam persaingan sempurna (Zulkiffi A., 1982 h.169)
Berdasarkan hasil analisis perlu adanya penyampaian informasi. pasar yang cepat dan tepat kepada produsen dan konsumen. Perlu juga dipikirkan untuk membangun tempat penyimpanan yang memenuhi standar serta industri pengolahan untuk dapat menampung kelebihan produksi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daan Dimara
"Studi ini bertujuan untuk mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi dan mendorong peladang di daerah Kurulu lembah Baliem melakukan kegiatan perladangan di lereng gunung. Proses konversi hutan di daerah lereng gunung untuk perladangan sudah berlangsung dari tahun 1954 dan makin meningkat pada tahun 1970-an. Proses konversi hutan yang ditransformasikan menjadi lahan perladangan untuk menghasil-
kan bahan makanan yang dapat dikonsumsikan keluarga peladang itu sendiri mulai beralih ke perladangan ekonomi subsistens arau ekonomi pasar. Kegiatan perladangan di daerah lereng gunung berlangsung dari tahun ke tahun yang mempercepat proses penggundulan hutan.
Sejak masyarakat Dani kontak dengan masyarakat dari dunia Iuar yang lebih maju, secara tidak langsung mereka terseret ke dalam suatu era baru dengan proses akulturasi yang cepat dapat memberikan dampak positif mau pun dampak negatif terhadap kehidupan sosial dan lingkungan fisiknya.
Dampak positif terhadap kehidupan sosial akibat proses akulturasi adalah mulai mengenal alat-alat perladangan baru dan hasil ladang mereka dapat ditukarkan dengan uang. Dengan demikian secara berangsur-angsur dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dampak negatif terhadap lingkungan fisik akibat penggunaan alat-alat perladangan baru ini adalah secara berlebih-lebihan merombak hutan di daerah lereng gunung yang ditransformasikan menjadi ladang yang hasilnya di jual ke pasar. Sistem manajemen tradisional yang tadinya dipergunakan secara ketat untuk mengatur penggunaan hutan dan daerah perladangan makin mengendor dengan hadirnya petugas pemerintah dan penyebar agama Kristen sebagai pemimpin formal menggeser pemimpin tradisional di daerah ini.
Penggundulan hutan di daerah lereng gunung merupakan masalah ekologi marmsia yang perlu dicari jalan pemecahannya tanpa menimbulkan masalah baru terhadap masyarakat di daerah ini yang menggantungkan hidup mereka pada kegiatan
perladangan ubi jalar. Program-program penghijauan kembali daerah gundul di lereng gunung yang dilakukan pemerintah daerah belum berhasil karena ada faktor-faktor penghambat baik yang berasal dari pihak pemerintah, pelaksana program maupun yang berasal dari masyarakat setempat.
Untuk keberhasilan program penghijauan kembali daerah gundul di lereng gunung dapat disusun suatu program terpadu yang melibatkan semua sektor yang ada kaitannya dengan program pembangunan masyarakat pedesaan. Dengan demikian
program ini bertujuan untuk menghijaukan kembali daerah lereng gunung yang sudah gundul, tetapi di sisi lain dapat memberikan peningkatan hidup kepada masyarakat Dani di daerah mereka."
Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1985
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sterling, Thomas
Amsterdam: Time-Life Books, 1975
574.981 STE a
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Elvi Misjihadiah
"Homegarden Ecology : The Structure, Pattern of Homegarden and Correlation Between Economic - Social Factors of People Community Around Lembah Harau Nature Reserve West Sumatra and Plant Diversity. A research has been done on the structure and pattern of homegarden and correlation between economic - social factors of people community and plant diversity. The research was conducted in two villages around the Lembah Harau Nature Reserve (LHNR), Harau subdistrict, the regencies of Lima Puluh Kota, West Sumatra. The villages are Desa Harau, located in the north side of LHNR, and Desa Tarantang Lubuk Limpato, located in south side and the west side of LHNR. The data were collected from October 2000 up to January 2001.
The research was non experimental with a Stratified Random Sampling Method. Data of plant density, frequency, and dominance were used to calculate Important value index, Shannon diversity index (H), Jaccard similarity index (ISJ), and Shannon equitability index (E). The community economic - social factors data, as independent variables, and the plant diversity, as a dependent variable, were analyzed using the multiple regression analysis to produce the regression equality model.
This research found 270 species of plants from 76 family. The plants were grouped into 11 categories. There were 33 species of fruit plants, 23 species of industrial plants, 29 species of vegetable plants, 60 species of traditionally medicinal plants, 3 species of food plants, 21 species of flavor plants, 62 species of ornamental plants, 5 species of plants for spiritual events, 8 species of traditional cosmetic plants, 55 species of weeds, and the remaining 47 species grouped into miscellaneous plants. The patterns of homegarden usage were different in two villages. In Desa Tarantang Lubuk Limpato the tree level was dominated by industrial plants and the belta level was dominated by fruit plants.
On the other hand, in Desa Harau the tree level was dominated by fruit plants and the belta level was dominated by industrial plants. Artocarpus dadah, Artocarpus elasticus, Ficus ampelas, Ficus annulata, Ficus auranticea, Ficus benjamina, Ficus glandulifera, Ficus parietalis, Ficus caulocarpa, and Ficus aurata from Moraceae family were grown and spread surround the homegarden and their bennefit are still unknown by the local society. The pattern of plant stratification showed the stratification pattern was similar to a forest. Based on the formation of canopy coat, there were five strata, i.e. stratum A (>20m), stratum B (15-20m), stratum C (10-15m), stratum D (5-10m), dan stratum E (0-5m).
The diversity of plant species at homegarden for tree level were strongly correlated with size of homegarden and income of respondent (R2=0,601)_ At belta level, besides of size of homegarden and income of respondent, long period of resident also had a strong correlation (R2=0,721) with the diversity of plant. At seedling level and ground cover there were weak correlations of the plant diversity with size of house (R2=0,073).
Plant species which dominated homegarden was probably caused by the change of homegarden function. Increase of economic condition of people may cause decreasing in plant diversity at homegarden, especially indiginous plant species."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2001
T4569
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>