Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
Riana Listanti
"Kacang koro sangat potensial sebagai pendukung ketahanan pangan dan diversifikasi pangan. Permasalahan dalam upaya diversifikasi olahan koro adalah pada proses pengupasan biji koro yang masih menggunakan cara manual sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Tujuan dalam penelitian ini adalah merancang bangun prototipe mesin penyosoh kacang koro sehingga kacang koro dapat disosoh lebih cepat daripada menggunakan cara manual dan dapat lebih efisien dalam proses produksinya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mesin penyosoh yang dibuat dapat berfungsi dan bekerja dengan baik tanpa ada kerusakan selama pengujian. Mesin penyosoh kacang koro yang dibuat memiliki dimensi P= 45 cm, L= 40 cm, T= 80 cm. Kapasitas Prototipe Mesin Penyosoh adalah 218,25kg/jam dengan menggunakan pulley poros putaran penyosoh 6 inchi dan 185,17 kg/jam menggunakan pulley poros putaran penyosoh 12 inchi. Sedangkan proses pengupasan secara manual menggunakan tangan diperoleh 7,30 kg/jam. Kacang Koro utuh tersosoh rata-rata 33% dari bobot sampel kacang koro yang disosoh dengan menggunakan pulley 6 inchi dan 49% dengan menggunakan 12 inchi. rendemen sosoh prototipe mesin penyosoh rata-rata dengan menggunaan pulley poros penyosoh 6 inchi diperoleh 68,37% dan 72,67% dengan menggunakan pulley poros penyosoh 12 inchi % pada proses penyosohan kacang koro.
Koro (Canavalia ensiformis) is very potential to support food security and diversification. The problem in diversification of processed Koro is in the process of stripping koro seeds that still use manual way so it takes a long time. The purpose of this research is to design a prototype polished machine so that koro can be polished faster than using the manual method and it can be more efficient in their production process. Result of the research showed that as a functional and sructural design it is can be operate with dimensions are length 45 cm, width 40 cm, high 80 cm. Prototype capacity of the machine is 218.25kg/h by using a 6 inches pulley shaft rotation of polishing and 185.17 kg / h using a 12 inches pulley shaft rotation of polishing. Comparing to manual stripping process using hand only gained 7.30 kg / hour. The average of polished koro is 33% of the weight of koro sample which polished by using a 6 inches pulley and 49% by using 12 inches. The average of the polish rendement of Prototype polishing machine with 6 inches pulley shaft gained 68.37% and 72.67% by using a 12 inches% pulley shaft in the polishing koro."
Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman. Fakultas Pertanian, 2016
630 AGRIN 20:2 (2016)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Liswaty
"Penelitian mengenai perkumpulan Tri Koro Dharmo ini dilakukan dari tahun 1986 hingga tahun 1987. Tujuannya untuk mengetahui peranan para pemuda dari berbagai sekolah menengah yang ada di Jakarta dalam mendirikan dan mengembangkan perkumpulan Tri Koro Dharmo. Pengumpulan data dilakukan melalui kepustakaan berupa surat kabar, majalah, buku dan juga melalui wawancara dengan seseorang yang dapat dijadikan sebagai nara sumber. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Tri Koro Dharma merupakan sebuah perkumpulan yang bersifat kesukuan, walaupun semula salah satu pendiri perkumpulan ini telah mempunyai cita-cita yang lebih luas lagi yaitu berazaskan kebangsaan. Ini dapat dilihat dari kegiatan perkumpulan maupun kepengurusannya yang selalu didominasi oleh salah satu suku yaitu Jawa. Untuk menghilangkan sifat kesukuan tersebut, maka diadakan kongres yang berlangsung pada tahun 1918 dengan mengambil keputusan nama perkumpulan dirubah menjadi Jong Java."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S12250
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
"Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi ,sampai saat ini kecukupan kalori dan protein masyarakat Indonesia masih rendah . Untuk itu diperlukan penggalian sumber protein dan karbohidrat alternatif, seperti ubi kayu dan koro-koroan yang tumbuh dengan baik di lahan marginal...."
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Fitriani
"Prevalensi lansia KEP dipanti lebih tinggi daripada lansia di non panti, dan prevalensi tersebut mencapai 32.97% pada panti sosial milik pemerintah di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauhmana pengaruh kenaikan berat badan melalui pemberian biskuit tempe kurma dan biskuit mocaf koro kurma pada lansia KEP di Panti Sosial TresnaWerdha (PSTW) Budi Mulia 1,2, 3 dan 4 DKI Jakarta. Desain penelitian adalah quasi eksperimental dengan teknik pengukuran single blind. Responden dalam penelitian ini berjumlah 42 lansia terdiri dari 21 kelompok perlakuan I yang diberi biskuit tempe kurma dan 21 lansia kelompok perlakuan II yang diberikan biskuit mocaf koro kurma dengan kriteria inklusi yaitu berusia 60 tahun ke atas, memiliki indeks massa tubuh < 18,5 kg/m², dan ≥6 bulan sebagai penghuni panti. Dilakukan pengukuran antropometri sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan berat badan sebelum dan sesudah intervensi selama 1 bulan pada kelompok perlakuan I sebesar 0.68 kg (p<0.05). Terdapat peningkatan dan perubahan yang signifikan rata-rata asupan zat gizi makro setelah intervensi pada 2 kelompok perlakuan. Kenaikan berat badan tertinggi terjadi pada klasifikasi IMT 16.00-16.99 dengan peningkatan rata-rata 0.83 kg.
The prevalence of PEM elderly in nursing homes higher than in non-nursing homes, and the prevalence reached 32.97% on a government-owned social houses in Jakarta. This study aims to assess how much the weight gain effect through the provision of dates-tempeh biscuits and also dates cassava modified and canavalia ensiformis biscuits .PEM in the elderly Social Institution Tresna Werdha (PSTW) Budi Mulia 1,2, 3 and 4 of Jakarta.The study design was quasi-experimental with single-blind measurement techniques. The respondents amounted to 42 elderly that consist of 21 in treatment group I whom were given dates-tempeh biscuits and 21 elderly in treatment group II that were given cassava modified and canavalia ensiformis mixed with dates biscuits, with inclusion criteria are 60 years and over, have a body mass index < 18.5 kg / m² and ≥ 6 months as nursing residents. Anthropometric measurements were taken before and after the intervention. The results show an increase in body weight before and after the intervention for 1 month in the treatment group I was 0.68 kg (P <0.05).There is growth and significant changes, averages macro nutrient intake after the intervention in the treatment groups. The highest weight gain occurread in the classification of PEM 16-00-16-99 with average increase 0.83 kg."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T42495
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library