Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kurniawati Negara
"Penelitian ini berangkat dari permasalahan keterbatasan informasi dan data menyangkut peranan sektor kehutanan yang lebih bersifat sektoral dan hanya mencakup sub sektor kehutanan primer saja, dan tidak mencakup sub sektor industri pengolahan kayu sehingga belum memberikan gambaran yang jelas tentang peran sektor kehutanan secara riil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Oleh karena itu penulis ingin menganalisis peranan sektor kehutanan dalam penciptaan output, nilai tambah bruto dan penyerapan tenaga kerja, keterkaitannya dengan sektor ekonomi lain, dampak pengganda serta posisi sektor kehutanan dalam jangka waktu 1995-2008, serta melihat perubahan struktur perekonomian (economic landscape) yang terjadi dalam kurun waktu 1995 - 2008. Model yang digunakan adalah model input output dengan memanfaatkan tabel Input Output Nasional tahun 1995, 2000 dan 2008 (updating) yang disusun BPS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi sektor kehutanan dalam penciptaan output, nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja nasional relatif kecil dan trennya menurun dalam jangka waktu 1995-2008, dengan sub sektor industri kayu memberikan sumbangan lebih besar daripada sub sektor kehutanan primer. Berdasarkan indeks keterkaitan ke depan dan ke belakang, sektor kehutanan bukan merupakan sektor unggulan dengan besaran indeks yang cenderung menurun, namun sub sektor kehutanan memiliki kemampuan dalam mendorong sektor-sektor hilirnya yang menggunakan output produksi sub sektor kehutanan primer, sementara sub sektor industri kayu memiliki kemampuan untuk menarik sektor hulunya dengan menggunakan outputnya sebagai input produksi.
Dari hasil analisis pengganda dan analisis dampak, diperoleh kesimpulan bahwa sektor kehutanan termasuk dalam sektor yang memilik dampak pengganda yang besar terhadap perekonomian nasional, hal ini berarti bahwa untuk setiap kenaikan permintaan akhir sektor kehutanan sebesar Rp 1 juta akan menyebabkan kenaikan pada output, pendapatan dan penyerapan tenaga kerja terhadap perekonomian secara keseluruhan. Berdasarkan analisis Multiplier Product Matrix (MPM) diketahui dalam jangka waktu 1995 - 2008 economic landscape Indonesia telah bergeser dari sektor primer yang berbasis sumber daya alam menuju sektor sekunder (industri) dan sektor tersier (perdagangan dan jasa).

Development of the forestry sector played important role in Indonesia economy, but limited information and data on the role of the forestry sector, which is have a sectoral character and not yet include linkages with other economic sectors. The research was conducted to identify the role of forestry sector in output creation, the linkages of forestry sector with other economic sectors, and also identify the output, income and labour multiplier of forestry sector in production process involving other sectors. The model used is the National Input Output tables 1995, 2000 and 2008 (update) made by the Central Bureau of Statistics (BPS).
The results showed that the contribution of the forestry sector in the output creation, value added and employment is relatively small and the trend decline in the period 1995-2008, with sub-sector, timber industry contributes more than primary forestry sub-sectors. Based on the index of forward linkage and backward linkages, the forestry sector is not the dominant sector with mass index tended to decrease, but forestry subsector has the ability to encourage intermediate sectors that use the output of primary production forestry subsector while the sub-sector, timber industry has the ability to attract top sector using the output as an input to production.
Accounting multiplier analysis finds out that, the forestry sector, including in the sector have a major multiplier impact on the national economy, this means that for every increase in demand for the end of the forestry sector amounted to Rp. 1 million will cause an increase in output, incomes and employment to the economy as a whole. Based on the analysis Multiplier Product Matrix (MPM) is known in the 1995-2008 period of Indonesia's economic landscape has shifted from resource-based primary sector to secondary sector (industry) and tertiary sector (trade and services)."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T28059
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhil Hardiansyah
"Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara partisipasi rantai nilai global (GVC) dan ketimpangan upah di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam), dengan menekankan pada dua bentuk utama partisipasi, yaitu keterkaitan ke belakang (backward linkages) dan keterkaitan ke depan (forward linkages). Studi ini menggunakan data panel dari tahun 1995 hingga 2019 dan metode regresi Fixed Effect (FE) untuk menguji pengaruh keterlibatan dalam GVC terhadap ketimpangan pendapatan, yang diukur melalui indeks gini disposable dan gini market. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi negara-negara ASEAN-5 dalam GVC secara agregat berkontribusi secara signifikan dalam menurunkan ketimpangan pendapatan. Temuan lebih lanjut mengungkapkan bahwa keterkaitan ke belakang, yang merefleksikan pemanfaatan input impor dalam proses produksi ekspor, dapat mengurangi ketimpangan pendapatan sehingga peningkatannya berpotensi memperbaiki distribusi pendapatan di kawasan tersebut. Sementara itu, keterkaitan ke depan, yang mengindikasikan peran negara sebagai pemasok input bagi produksi negara lain, juga secara signifikan dapat menurunkan ketimpangan pendapatan, meskipun pada awalnya diduga berpotensi meningkatkan disparitas. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa partisipasi aktif dalam GVC, dalam berbagai bentuknya, dapat menjadi instrumen efektif untuk menekan ketimpangan pendapatan di negara-negara berkembang, khususnya di negara-negara ASEAN-5.

This study explores the relationship between global value chain (GVC) participation and income inequality in the ASEAN-5 countries (Indonesia, Malaysia, the Philippines, Thailand, and Vietnam), with a focus on two main forms of participation, backward linkages and forward linkages. Using panel data from 1995 to 2019 and applying the Fixed Effect (FE) regression method, this research examines the impact of GVC participation on income inequality, as measured by the gini disposable and gini market indices. The results indicate that increased aggregate participation in GVCs across the ASEAN-5 countries significantly contributes to reducing income inequality. Further findings reveal that backward participation, which reflects the use of imported inputs in export production, can help reduce income inequality. Thus, increasing backward linkages has the potential to improve income distribution in the region. Meanwhile, forward participation, which reflects a country’s role as a supplier of inputs for other countries’ production, is also found to significantly reduce income inequality, despite initial expectations that it might increase disparities. Overall, this study shows that active participation in GVCs—in both backward and forward forms—can be an effective instrument to reduce income inequality in developing countries, especially in the ASEAN-5."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library