"Penelitian ini menganalisis dampak pembentukan Holding BUMN Pariwisata di Indonesia terhadap kinerja keuangan pre dan post holding, serta mengidentifikasi tantangan dan solusi sinergitas untuk mengoptimalkan kinerja pasca pembentukan holding. Studi kasus ini menggunakan metode campuran dengan menganalisis laporan keuangan triwulanan atas 6 (enam) anggota holding periode 2018–2023 dan wawancara mendalam dengan 6 Direktur Keuangan maupun pemangku kepentingan dari Pemerintah. Uji statistik deskriptif dan Wilcoxon Signed-Rank Test digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan kinerja keuangan pre dan post holding, sementara analisis kualitatif mengeksplorasi penyebab pencapaian kinerja keuangan tersebut, tantangan utama dan solusi sinergitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan atas kinerja keuangan pre dan post holding namun belum secara konsisten meningkatkan kinerja keuangan seluruh anggota dimana terdapat kecenderungan penurunan pada indikator profitabilitas (ROE, NPM, ROA, EBITDA Margin), likuiditas (Cash Rasio, Quick Rasio, Current Rasio), aset management (Total Aset Turnover dan Fixed Aset Turnover), dan stabilitas keuangan (Altman Z Score), sementara leverage (DER) menunjukkan kenaikan. Temuan ini sejalan dengan studi internasional yang menunjukkan intervensi pemerintah dapat menurunkan kinerja BUMN. Anggota Holding BUMN Pariwisata masih menghadapi beberapa tantangan utama yakni keterbatasan alat produksi, keterbatasan permodalan, tantangan untuk pengembangan pariwisata Indonesia yang luas dan komprehensif, transformasi bisnis tanpa diimbangi kesiapan usaha, beban keuangan di masa depan, tantangan eksternal yang berisiko, gap kapasitas SDM, dan penugasan Pemerintah yang memberatkan keuangan. Solusi sinergitas bagi setiap tantangan yang dihadapi antara lain investasi berupa partnership atau equity injection, perbaikan fundamental keuangan melalui group financing, sinergitas dengan intergroup transaction, intergorup marketing, perbaikan tata kelola, bundling package tourism, inisiasi tourism fund, dan lainnya.
This study examines the impact of establishing a SOE Tourism Holding in Indonesia on financial performance, both pre and post the establishment of the holding. Furthermore, it identifies challenges and proposes synergy solutions to enhance performance after the holding's establishment. This case study employs a mixed-method approach, analysing quarterly financial reports from six holding members over the period of 2018 to 2023, alongside in-depth interviews with six CFO and a government representative. Descriptive statistical tests and the Wilcoxon Signed-Rank Test were employed to assess differences in financial performance pre- and post-holding. Moreover, qualitative analysis examined the factors contributing to financial performance, key challenges, and potential synergy solutions. The study's results demonstrate that the establishment of a holding has not uniformly enhanced the financial performance of all members. Comparative analysis of financial performance pre and post the establishment of the holding reveals differences and a decline in profitability indicators (ROE, NPM, ROA, EBITDA Margin), liquidity indicators (Cash Ratio, Quick Ratio, Current Ratio), asset management efficiency (Total Asset Turnover and Fixed Asset Turnover), and financial stability (Altman Z Score), while leverage (DER) showed an increase. The findings align with international previous studies indicating that government intervention may diminish SOE performance. The SOE Tourism Holding has several constraints, including limited production capabilities, insufficient capital, obstacles in the development of extensive and comprehensive Indonesian tourism, business transformation not aligned with business readiness, impending financial burdens, external risks, gaps in human resource capacity, and government mandates that impose financial strain. Solutions for each challenge include partnerships or equity injections, enhancing financial fundamentals through group financing, synergy in inter-group transactions and marketing, improving governance, creating tourism bundling packages, initiating tourism funds, among others. "
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025