Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ahmad Junaidi
"Penelitian ini akan menganalisis historisisme dalam cerpen “Lasmini: Ronggeng Lebakbarang” (LRL) karya Gati Andoko dengan menerapkan teori historisisme yang dipaparkan oleh Slavoj Žižek. Cerpen tersebut menceritakan seorang ronggeng bernama Lasmini yang menjadi anggota pasukan dokter Moestopo dengan menghadirkan tokoh-tokoh dan peristiwa historis berlatar kolonialisme Belanda. Metode yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif dan interpretatif. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa kehadiran para tokoh dan peristiwa historis dalam cerpen LRL tidak berperan sebagai alat legitimasi kebenaran sejarah umum (common sense). Sebaliknya, cerpen tersebut menghadirkan delegitimasi dan intervensi terhadap logos sejarah (historisisme) itu sendiri. Kehadiran karya sastra sebagai subjek dalam hal ini seolah-olah bertendensi pada narasi-narasi subversif. Sehingga, historisitas dalam cerpen tersebut hadir sebagai bentuk liberalitas dan resistensi terhadap historisisme."
Serang: Kantor Bahasa Banten, 2023
400 BEBASAN 10:2 (2023)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Andri Wicaksono
"Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan realitas sejarah sosial-politik Indonesia dalam novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer dengan perspektif New Historicism. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretif dengan paralel pembacaan antara karya sastra dengan teks sejarah dan desain analisis isi. Gambaran realitas sejarah sosial dan politik Indonesia (periode 1945 hingga 1966) dalam novel Larasati dengan perspektif New Historicism Greenblatt dianggap efektif untuk mengeksplorasi fenomena teks sastra. Novel ini secara langsung berkaitan dengan manifestasi politik Indonesia yang meliputi (1) struktur ideologi yang digunakan untuk memperkuat kekuatan berbasis negara, dan (2) praktik diskursif, bahasa politik yang mengacu pada konstruksi pengetahuan melalui bahasa yang memberi makna pada segi material dan praktik sosial-politik yang melingkupinya."
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018
810 JEN 7:1 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas J. Ata Ujan
"Saya mengira bahwa saya yang benar, tetapi bisa saja saya yang salah dan Anda yang benar. Karena itu dalam kasus apa pun, marilah kita mendiskusikannya, karena hanya dalam cara ini kita akan lebih mendekati pengertian yang benar, dibandingkan kalau setiap kita selalu beranggapan bahwa kitalah yang benar. Kalimat di atas adalah ucapan Karl R.Popper (1902 - ) sendiri yang pasti dengan tepat merumuskan sikap dasarnya dalam mencari kebenaran. Popper menuntut suatu keterbukaan (the attitude of reasonableness), yaitu kesediaan untuk saling mengisi dalam hal kebenaran. Dalam sikap inilah, menurutnya, kebenaran dan kesalahan tidak pernah menjadi monopoli pihak tertentu. Dengan ini pula Popper bermaksud mendobrak dogmatisme kebenaran manapun, bahkan juga kebenaran atau teori yang selama ini biasanya menjadi acuan dari hampir setiap cendekiawan. Sikap dasar ini muncul sebagai konsekuensi dari pandangannya bahwa sebuah teori tidak pernah merupakan kebenaran terakhir. Dalam kaitan ini Popper memperkenalkan teorinya yang dikenal dengan metode 'falsifikasi'; atau yang juga biasa disebut sebagai teori 'penyingkiran kesalahan' (error elimination). Dengan Popper memaksudkan bahwa suatu teori hanya menjadi ilmiah kalau teori tersebut selalu- terbuka untuk diuji dan kalau memang tidak bisa bertahan, teori tersebut harus disingkirkan dan digantikan dengan teori barn. Dengan cara ini sebuah teori dapat menjadi lebih kokoh dibandingkan dengan teori sebelumnya. Kemungkinan untuk diuji dan disingkirkan ini merupakan ciri dari ilmu dan karenannya menjadi 'garis demarkasi' antara ilmu dam bukan ilmu. Dalam latar belakang dan cahaya sikap ilmiah seperti inilah hendaknya kita menempatkan kritisisme Popper terhadap Marxisme. Harus diakui bahwa Karl Marx (1818 -- 1883) adalah salah satu tokoh filsafat sosial terkemuka. Perpaduan antara pandangan teoritis serta dimensi praktis teorinya (yang memperlihatkan empatinya terhadap mereka yang tertindas ) telah membuat Marxisme seakan menjadi primadona tanpa cela. Dan Popper sendiri juga mengakui sumbangan Marx dalam menjelaskam ketimpangan sosial ekonomis. Meskipun begitu Popper tetap merasa perlu untuk nenyerang Marx karena Marx dianggapnya telah menempatkan banyak orang melalui pendekatan 'historisisme' dalam rangka nenjelaskan dan menyelesaikan masalah kesenjangan sosial ekonomis. Inilah problem pokok yang digeluti oleh Popper dalam kritiknya terhadap Marxisme yang sekaligus menjadi tema sentral dalam skripsi ini. Dari manakah akar historisisme itu dan apakah yang dimaksudkan dengan historisisme? Jawaban atas pertanyaan ini akan membantu kita untuk lebih memahami keberatan Popper terhadap Marxisme yang dianggapnya mengadopsi paham historisisme. Dalam kaitan dengan ini dapat dipastikan bahwa metode 'dialektika' dari George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831) telah memainkan peranan penting dalam gaya berpikir Marx. Sementara itu perlu ditegaskan dari permulaan bahwa Popper telah menggunakan istilah 'historisisme dalam suatu pengertian yang khas dalam rangka mengembangkan kritiknya terhadap berbagai pemikiran besar, termasuk pemikiran Marx. Karena itu suatu penelitian yang agak lebih mendalam terhadap metode ini pasti perlu untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap dantepat. Alasan yang menjadi dasar penolakan Popper terhadap historisisme adalah bahwa teori tersebut memutlakkan sasaran yang hendak dicapai serta cara untuk mencapai sasaran tersebut. Hal yang sama juga menjadi alasan Popper untuk menyingkirkan teori Marx. Menurutnya, Marx telah jatuh ke dalam pandangan naif historisisne karena teorinya bahwa kapitalisme akan diganti oleh sosalisme melalui suatu revolusi sosial proletariat. Popper menyebut pandangan Marx ini sebagai suatu yang utopian. Akhirnya tanpa meremehkan kejelian Popper dalam mengungkapkan berbagai kekurangan dam kelemahan teori Marx, tentu saja kritiknya itu masih bisa diperdebatkan kebenarannya. Karena itu suatu catatan kritis terhadapnya pasti tetap perlu dan wajar."
Depok: Universitas Indonesia, 1987
S16005
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aldilah Ayu Putri
"ABSTRAK
Skripsi ini menyelidiki problem prediksi ilmu sosial yang hadir dalam kemunculan peristiwa-peristiwa Black Swan, yang mempersoalkan kekeliruan dan kegagalan prediksi atas peristiwa sosial-historis yang akan terjadi di masa depan. Dengan problem ini, saya memberikan afirmasi atas ketidakmungkinan pemerolehan hukum historis yang dinyatakan oleh Popper dalam kritiknya terhadap historisme. Fenomena Black Swan menunjukkan bahwa dunia sosial itu acak dan tidak terprediksi sehingga regularitas, generalisasi, dan abstraksi hukum sosial itu tidak mungkin untuk diperoleh. Sekaligus, ini melemahkan keajegan prediksi historis ilmu sosial yang merupakan akibat dari dogmatisasi metode, arogansi epistemik, dan penerimaan yang mutlak terhadapnya yang bisa jatuh pada bentuk utopianisme. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi-kualitatif yang bersifat eksploratif dan analisis konseptual. Skripsi ini adalah afirmasi terhadap inprediktabilitas historis ilmu sosial.

ABSTRAK
The problem of historical prediction of social science presents in the emerge of Black Swan events, which discuss about the mistake and failure of the prediction of future social historical events. By this problem, I give an affirmation to the impossibility to find the law of historical as Popper stated in his criticism of historicism. The Black Swan phenomena shows that social world is random and unpredictable thus generalization, regularity, and abstraction of law are impposible to be reached. Furthermore, it debilitates the absolutization of historical prediction of social science as an effect from the dogmatization of method, epistemical arrogance, and unconditional acceptance to historical prediction that may fall into a form of utopianism. The methods of this study is explorative qualitative description and conceptual analysis. This study is the affirmation of historical inpredictability of social science. "
2017
S68783
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Subjek penelitian ini adalah drama 9 Oktober 1940. Drama sejarah karya Remy Sylado terbitan Kepustakaan populer Gramedia , Jakarta 2005. Fokus penelitian ini berupa penerapan kajian new historisisme, yang mendekonstruksi sejarah sebagai fakta dan memanfaatkan karya sastra guna mengkonstruksi sejarah...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library