Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ade Rafianto
"Penelitian ini dilakukan analisa geospasial, tekno ekonomi terhadap potensi pengembangan produksi hydrogen hijau di Indonesia. dengan bahan sumber daya energi terbarukan khususnya dari energi matahari dan energi angin. Melalui pemodelan geospasial dengan memanfaatkan teknologi geographic information system (GIS), potensi teknis dari sumber daya alam di suatu wilayah dapat diidentifikasi secara visual. Area yang memadai untuk dikembangkan sebagai lokasi pembangkit energi terbarukan yang akan diintegrasikan dengan fasilitas produksi hydrogen hijau dapat diestimasi dari sisi kuantitas, lebih lanjut identifikasi ini dapat membantu dalam menilai kelayakan ekonomis terhadap pengembangan jenis sumber energi. Analisa terkait aspek teknis dilakukan melalui perhitungan estimasi energi yang dapat dihasilkan dari tenaga surya dan tenaga angin. Sedangkan analisa ekonomi dilakukan melalui estimasi nilai Levelized Cost of Energy (LCOE) dan Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) maupun perbandingan berdasarkan data penelitian yang telah ada. Penelitian berbasis pemodelan spasial dan tekno-ekonomis dinilai mampu memberi pandangan umum terkait potensi produksi hydrogen hijau dari energi terbarukan serta biaya produksinya dalam skala nasional, serta diharapkan dapat menjadi salah satu metodologi standar untuk diterapkan dalam memproyeksi pengembangan proyek produksi hydrogen hijau di masa mendatang. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pembangkit energi terbarukan berbasiskan energi matahari dan energi angin cukup potensial untuk dikembangkan secara nasional, dengan catatan pemilihan lokasi dilakukan dengan seksama untuk menghindari konflik terkait tata guna lahan. Meskipun demikian secara umum biaya produksi hydrogen saat ini dinilai masih cukup tinggi dibandingkan komoditas energi lainnya akibat faktor biaya produksi energi terbarukan serta biaya teknologi electrolysis yang relatif cukup tinggi, dibandingkan energi fosil. Pada akhirnya pengembangan industry hydrogen hijau secara nasional patut didukung dengan mempersiapkan infrastruktur penunjang baik berupa infrastruktur fisik maupun kebijakan yang berpihak terhadap industry terkait di sektor hulu maupun hilir.

This thesis presents a geospatial techno-economic analysis on the potential of low-cost and large-scale green hydrogen production in Indonesia. In this study, the potential of the hydrogen production using power feedstock sources from solar energy, wind power energy will be analysed. Utilizing geographic information system (GIS), a technical potential and economic assessment of hydrogen production can be visually depicted. The geospatial model visualizes the suitable areas potential for green hydrogen production sourcing from solar irradiation and wind energy system. The technical aspect of hydrogen potential is determined by the yield of the solar or wind system, based on currents knowledge of technologies. While the economic assessment is determined by the levelized cost of energy and hydrogen, LCOE and LCOH using cost input data. The research based on spatial modelling gives a general overview of the production price and potential-of green hydrogen generation from intermittent renewables sources on a national level. geospatial techno-economic analysis proves to be a suitable method to visualize the future hydrogen production development Our rough estimation shows that large-scale PV, wind farm integrated with hydrogen production potential could be potentially developed throughout the country. However, the economic scale may not be sufficient due to higher price of renewables electricity than current fossil fuel based of energy and high electrolyzer cost technology. Consequently, in order to support developing national green hydrogen strategies will require an integrated planning supported by dedicated infrastructure as well as right policy framework."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putriska Razani
"Indonesia, sebagai negara penghasil karbon terbesar di Asia Tenggara, menghadapi tantangan mendesak dalam menekan emisi gas rumah kaca yang terus meningkat, yang utamanya disebabkan oleh ketergantungan pada batu bara. Dengan proyeksi lonjakan permintaan energi, yang sebagian besar dipenuhi oleh batu bara, kontribusi negara ini terhadap emisi global diperkirakan akan meningkat. Di tengah meningkatnya suhu global dan krisis terkait iklim, transisi ke energi terbarukan menjadi suatu keharusan. Namun, meskipun potensi sumber energi terbarukan, termasuk Hidrogen Hijau, sangat besar, hambatan-hambatan signifikan menghalangi adopsi yang luas. Studi ini mengeksplorasi strategi untuk Pertamina NRE dalam mengarungi kompleksitas pengembangan bisnis Hidrogen Hijau di Indonesia. Melalui penelitian yang komprehensif, tujuannya adalah menawarkan rekomendasi untuk mempercepat pengembangan Hidrogen Hijau, sehingga memajukan komitmen Indonesia untuk mencapai Emisi Bersih Netto pada tahun 2060. Tantangan-tantangan kunci seperti ambiguitas regulasi, biaya produksi tinggi, dan keterbatasan infrastruktur diidentifikasi. Mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan pendekatan yang multifaset, termasuk kebijakan yang ditargetkan, inovasi teknologi, dan investasi dalam infrastruktur. Dengan menelaah lanskap strategis dan memodelkan kompleksitas pengembangan Hidrogen Hijau, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang dapat dijalankan bagi Pertamina NRE. Strategi yang efektif sangat penting tidak hanya untuk mengoptimalkan produksi dan profitabilitas tetapi juga untuk memajukan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tujuan Net Zero Emission.

Indonesia, as the largest carbon emitter in Southeast Asia, faces a pressing challenge in curbing its escalating greenhouse gas emissions, primarily fueled by coal reliance. With a projected surge in energy demand, predominantly met by coal, the nation's contribution to global emissions is set to rise. Amidst rising global temperatures and climate-related crises, transitioning to renewable energy becomes imperative. However, despite the potential of renewable energy sources, including Green Hydrogen, significant hurdles hinder its widespread adoption. This study explores strategies for Pertamina NRE in navigating the complexities of developing the Green Hydrogen business in Indonesia. Through comprehensive research, the aim is to offer recommendations to accelerate Green Hydrogen development, thereby advancing Indonesia's commitment to achieving Net Zero Emission by 2060. Key challenges such as regulatory ambiguity, high production costs, and infrastructure limitations are identified. Addressing these challenges requires a multifaceted approach, including targeted policies, technological innovations, and investment in infrastructure. By examining the strategic landscape and modeling the complexities of Green Hydrogen development, this research seeks to provide actionable insights for Pertamina NRE. Effective strategies are crucial not only for optimizing production and profitability but also for fostering sustainable growth and contributing significantly to Indonesia's Net Zero Emission goals."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wildan Baina Iedai El Islami
"Pengembangan terhadap energi hidrogen tengah tumbuh pesat belakangan ini karena sumber energi hijau menjadi jauh lebih penting di berbagai industri dan mampu menggantikan natural gas dimasa mendatang. Negara - negara di berbagai belahan dunia telah mulai mengembangkan energi hidrogen secara masif seperti Jepang, Korea, Italia, Spanyol, Arab Saudi, Cina, Turki dan Maroko dengan metoda elektrolisis dari sumber energi terbarukan dengan biaya produksi yang cukup kompetitif. Biaya produksi hidrogen yang telah dikembangkan dengan metoda elektrolisis ini di Turki USD 3,1 $/kgH2, Korea Selatan USD 7,72 $/kgH2, Italy 6,9 €/kgH2, Arab Saudi 43,1 $/kgH2 dan Maroko 4,99 $/kgH2. Oleh karena itu, diperlukan penelitian pengembangan produksi green hydrogen di Indonesia dengan metoda elektrolisis dari floating solar photovoltaic di Waduk Cirata. Metoda penelitian dimulai dengan pemilihan teknologi green hydrogen plant dengan membandingkan spesifikasi elektroliser yang tersedia dipasaran melalui skema “scoring”. Selanjutnya dilakukan analisa keekonomian melalui tiga skema excess power yaitu 20%, 30% dan 40% dari energi listrik yang tersedia pada floating solar photovoltaic. Analisa keekonomian dilakukan dengan menghitung nilai Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR) dan Payback Period. Teknologi yang dipilih berdasarkan hasil scoring adalah PEM Electroliser dengan nilai scoring 8,32. Analisa keekonomian pengembangan green hydrogen plant yang paling optimum adalah skema excess power 40% dengan nilai NPV sebesar USD 74.152.302, IRR 18,92% dan Payback Period selama 4,76 tahun (4 tahun 10 bulan).

The development of hydrogen energy is growing rapidly in recent years as green energy sources have become much more important in various industries and can replace natural gas in the future. Countries in various parts of the world have started to develop hydrogen energy massively such as Japan, Korea, Italy, Spain, Saudi Arabia, China, Turkey and Morocco by using electrolysis method to produce hydrogen from renewable energy sources with competitive production costs. The cost of producing hydrogen which has been developed by the electrolysis method in Turkey USD 3.1 $/kgH2, South Korea USD 7.72 $/kgH2, Italy 6.9 €/kgH2, Saudi Arabia 43.1 $/kgH2 and Morocco 4.99 $/ kgH2. Therefore, it is necessary to research the development of green hydrogen production in Indonesia using the electrolysis method from floating solar photovoltaic in the Cirata Reservoir. The research method was carried out by selecting green hydrogen plant technology by comparing the specifications of the electrolyzer available in the market through a "scoring" scheme. Furthermore, an economic analysis is carried out through three excess power schemes, namely 20%, 30% and 40% of the electrical energy available in floating solar photovoltaic. Economic analysis is done by calculating the value of Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR) and Payback Period. The technology chosen based on the scoring results is PEM Electroliser with a scoring value of 8.32. The most optimum economic analysis of green hydrogen plant development is the 40% excess power scheme with an NPV value of USD 74,152,302, IRR 18.92% and a Payback Period of 4.76 years (4 years 10 months)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Athaya Hanun Anggiaksa
"Indonesia menghadapi tantangan besar dalam krisis energi akibat menurunnya cadangan bahan bakar fosil dan peningkatan signifikan emisi karbon dioksida (CO₂). Sebagai bentuk komitmen terhadap Paris Agreement, Indonesia menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 41% pada tahun 2030. Salah satu solusi inovatif untuk mendukung pencapaian target tersebut adalah pengembangan hidrogen hijau yang dihasilkan melalui proses elektrolisis air dengan memanfaatkan energi terbarukan yang bebas emisi. Penelitian ini mengkaji potensi penerapan Green Hydrogen Plant di PLTS Likupang, yang memanfaatkan energi dari Solar Photovoltaic (Solar PV) untuk memproduksi hidrogen hijau menggunakan teknologi Proton Exchange Membrane (PEM) elektrolisis. Teknologi ini dipilih karena keunggulannya dalam efisiensi dan kemurnian hidrogen yang dihasilkan. Analisis mencakup evaluasi kelayakan teknis dan ekonomis menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PBP), Profitability Index (PI), serta analisis risiko melalui metode Monte Carlo. Dengan kapasitas produksi mencapai 481.576,32 kg hidrogen hijau per tahun, Green Hydrogen Plant ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi CO₂, sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia dan mendorong keberlanjutan energi di Asia Tenggara.

Indonesia faces significant challenges in the energy crisis due to declining fossil fuel reserves and a substantial increase in carbon dioxide (CO₂) emissions. As part of its commitment to the Paris Agreement, Indonesia targets a 41% reduction in greenhouse gas emissions by 2030. One innovative solution to support this goal is the development of green hydrogen produced through water electrolysis utilizing emission-free renewable energy. This study examines the potential implementation of a Green Hydrogen Plant at the Likupang Solar Power Plant, leveraging energy from Solar Photovoltaics (Solar PV) to produce green hydrogen using Proton Exchange Membrane (PEM) electrolysis technology. This technology was selected for its superior efficiency and hydrogen purity. The analysis includes a technical and economic feasibility evaluations using methods such as Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PBP), Profitability Index (PI), and risk analysis through the Monte Carlo method. With a production capacity of 481.576,32 kg of green hydrogen per year, this Green Hydrogen Plant is projected to reduce CO₂ emissions, supporting Indonesia's clean energy transition and promoting energy sustainability in Southeast Asia."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vijaya Fitriyasa
"Meningkatnya permintaan energi Indonesia dan ketergantungan pada bahan bakar fosil telah menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca, dengan sektor transportasi berkontribusi sekitar 25% dari total. Untuk mendukung target nasional mengurangi emisi hingga 41% pada tahun 2030 dan mencapai Emisi Net-Zero pada tahun 2060, studi ini mengeksplorasi Green Hydrogensebagai solusi energi berkelanjutan. Dengan menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multi-kriteria yang mengintegrasikan AHP dan TOPSIS, empat teknologi elektrolisis air—AWE, PEM, AEM, dan SOEC—dievaluasi berdasarkan faktor teknis, ekonomi, lingkungan, dan sosial. Hasilnya mengidentifikasi Alkaline Water Electrolysis (AWE) sebagai pilihan yang paling cocok karena biayanya yang rendah, kematangan yang tinggi, kesederhanaan operasional, dan risiko lingkungan yang rendah. Temuan ini menawarkan wawasan praktis bagi para pemangku kepentingan untuk memandu pemilihan teknologi dan keputusan kebijakan dalam transisi Green Hydrogen Indonesia.

Indonesia’s growing energy demand and reliance on fossil fuels have led to rising greenhouse gas emissions, with the transportation sector contributing around 25% of the total. To support national targets of reducing emissions by up to 41% by 2030 and achieving Net-Zero Emissions by 2060, this study explores green hydrogen as a sustainable energy solution. Using a multi-criteria decision-making approach that integrates AHP and TOPSIS, four water electrolysis technologies—AWE, PEM, AEM, and SOEC—are evaluated based on technical, economic, environmental, and social factors. The results identify Alkaline Water Electrolysis (AWE) as the most suitable option due to its low costs, high maturity, operational simplicity, and low environmental risk. These findings offer practical insights for stakeholders to guide technology selection and policy decisions in Indonesia’s green hydrogen transition."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indra Wijaya
"Penelitian mengkaji kelayakan teknis dan ekonomi produksi hidrogen hijau di Waduk Wonorejo dengan mempertimbangkan ketersediaan air menggunakan pendekatan water- energy-food nexus. PLTS terapung berkapasitas 88 MW, dirancang menutupi 20% area Waduk, menghasilkan 141 GWh/tahun, digunakan pada seluruh skema yang dianalisis. Analisa ketersediaan air berdasarkan wawancara serta data operasi dari PLTA Wonorejo dan Perum Jasa Tirta I sedangkan kebutuhan air untuk produksi hidrogen berdasarkan kebutuhan blending gas alam di Jawa Timur. Efisiensi konversi air sungai menjadi air demineral menggunakan metode wawancara dengan PLTGU Sengkang, PLTU Pulang Pisau dan PLTU Tenayan. Hasil perhitungan air demineral digunakan sebagai acuan untuk menghitung kapasitas electrolyzer. Perangkat lunak HOMER Pro digunakan untuk melakukan simulasi terhadap sistem yang ada dengan kebutuhan energi untuk produksi hidrogen. Skema A (baterai/non-baterai), debit air tersedia 100% (0,093 m3/detik) memproduksi 246 ribu ton H2/tahun, membutuhkan electrolyzer berkapasitas 1.536 MW memiliki LCOH 6,29-6,46 $/kgH2 dengan mengorbankan sebuah aliran sungai. Skema B (baterai/non-baterai), debit air tersedia 50% (0,047 m3/detik) memproduksi 123 ribu ton H2/tahun, membutuhkan electrolyzer berkapasitas 768 MW memiliki LCOH 6,42-6,60 $/kgH2 dengan berkompromi secara rentan terhadap pengguna air lainnya. Skema C (baterai/non-baterai) menggunakan debit air berdasarkan kebutuhan hidrogen di Jawa Timur (0,0044 m3/detik), memproduksi 11 ribu ton H2/tahun, membutuhkan electrolyzer berkapasitas 72 MW memiliki LCOH 8,88-9,19 $/kgH2 dengan penetrasi minimal sehingga berdampak minimal.

This study assesses the technical and economic feasibility of green hydrogen production at the Wonorejo Reservoir by considering water availability using a water-energy-food nexus approach. A floating solar PV system with a capacity of 88 MW, designed to cover 20% of the reservoir’s surface, generates 141 GWh/year and is used across all analyzed scenarios. Water availability is assessed through interviews and operational data from the Wonorejo Hydropower Plant and Perum Jasa Tirta I, as well as natural gas demand data from East Java. The efficiency of converting river water into demineralized water is based on interviews with PLTGU Sengkang, PLTU Pulang Pisau, and PLTU Tenayan. The resulting demineralized water calculation serves as a basis for estimating the required electrolyzer capacity. HOMER Pro software is used to simulate the existing system according to the energy demand for hydrogen production. Scenario A (with/without battery), using 100% available water discharge (0.093 m3/s), produces 246 thousand tons of H2 per year, requires a 1,536 MW electrolyzer, and yields an LCOH of $6.29–6.46/kg H2, at the cost of depleting a natural river flow. Scenario B (with/without battery), using 50% of the available water discharge (0.047 m3/s), produces 123 thousand tons of H2 per year, requires a 768 MW electrolyzer, and yields an LCOH of $6.42–6.60/kg H2, posing a vulnerable compromise with other water users. Scenario C (with/without battery), based on hydrogen demand in East Java (0.0044 m3/s), produces 11 thousand tons of H2 per year, requires a 72 MW electrolyzer, and yields an LCOH of $8.88–9.19/kg H2, with minimal penetration and minimal environmental impact."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diva Shafia Irawan
"Penelitian ini mengeksplorasi kelayakan investasi proyek hidrogen hijau dari listrik panas bumi menggunakan sistem elektrolisis. Analisis ini mempertimbangkan dampak berbagai faktor terhadap metrik ekonomi utama, termasuk Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Temuan kami menunjukkan bahwa kapasitas produksi dan biaya listrik merupakan faktor penting, dengan produksi yang lebih tinggi menghasilkan nilai NPV, IRR, dan PP yang lebih positif. Oleh karena itu, disarankan untuk menemukan elektroliser alternatif yang mampu melebihi 100 kg produksi hidrogen harian. Biaya transportasi juga merupakan pertimbangan penting lainnya, karena skenario tanpa biaya transportasi menunjukkan NPV yang lebih tinggi dibandingkan dengan skenario yang menyertakan biaya transportasi. Makalah ini memberikan wawasan berharga bagi investor dan pemangku kepentingan yang mempertimbangkan proyek produksi hidrogen ramah lingkungan. Hal ini menekankan pentingnya mengoptimalkan kapasitas produksi, meminimalkan konsumsi listrik, dan mengelola biaya transportasi untuk meningkatkan kelayakan finansial. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi dampak lingkungan dan sosial dari produksi hidrogen hijau serta pertimbangan finansial.

This research explores the investment feasibility of green hydrogen projects from geothermal electricity using an electrolysis system. The analysis considers the impact of various factors on key economic metrics, including Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), and Payback Period (PP). Our findings reveal that production capacity and electricity cost is a crucial factor, with higher production leading to more positive NPV, IRR, and PP values. Consequently, the finding of alternative electrolyzers capable of exceeding 100 kg of daily hydrogen production is recommended. Transportation cost is another key consideration, as scenarios without transportation costs exhibit a higher NPV compared to those with transportation costs included. This paper provides valuable insights for investors and stakeholders considering green hydrogen production projects. It emphasizes the importance of optimizing production capacity, minimizing electricity consumption, and managing transportation costs for improved financial viability. Further research is recommended to explore the environmental and social impact of green hydrogen production alongside the financial considerations."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library