Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
Sahai, Bhagwant, 1929-
New Delhi: Abhinav Publications, 1975
732.4 SAH i
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
"The world today is as furiously religious as it ever was.' This quote from Peter Berger now appears to be undisputed in the contemporary social and cultural sciences. A look around the globe reveals that modernization does not necessarily lead to a decline of religion, neither in society nor in the minds of individuals. Moreover, the multifaceted and divergent responses to modernization processes have significantly contributed to a critical reflection on the notion of a singular modernity, and as a result it has been suggested to speak of multiple, vernacular, alternative, or "other" modernities. Southeast Asia in particular presents a rich field of inquiry into the dynamics of these "modernities" that have produced and shaped a wide variety of religious phenomena. With case studies from Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, and Vietnam, these contributions reveal contemporary religious practices in Southeast Asia as thoroughly modern manifestations of uncertainties, moral disquiet and unequal rewards in the contemporary moment"
New York: Berghahn Books, 2011
133.909 59 ENG
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Jakarta: Fakultas sastra-Universitas Indonesia, [1978]-1979
899.29 UNI k
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Endang Sri Hardiati Soekatno
"
ABSTRAKDi Bali sekarang ini, pura adalah tempat peribadatan bagi umat Hindu. Pura-pura yang jumlahnya ribuan tersebut (Swellengrebel 1984:12; Rata 1991:1) dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan kelompok-kelompok masyarakat pemujanya (penyungsung). Jenis yang terbanyak adalah yang tergabung dalam Kahyangan Tiga, yaitu jenis pura yang wajib adanya bagi di semua desa adat. Seperti namanya, pura Kahyangan Tiga ini terdiri dari tiga pura, yaitu pura puseh, pura bale agung, dan pura dalem. Pura puseh adalah pura yang dipergunakan untuk pemujaan terhadap dewa-dewa pelindung desa, sedang pura bale agung adalah tempat di mana cakal bakal desa dipuja sebagai nenek-moyang bersama seluruh warga desa. Adapun pura dalem adalah tempat Dewi Maut, yaitu Dewi Durga, dihormati karena Dewi itulah yang berkuasa atas kematian. Letak pura dalem tidak jauh dari kuburan (Bahasa Bali : sema) yang sekaligus menjadi tempat pembakaran mayat. Biasanya pura puseh dan pura bale agung disatukan menjadi pura desa, dan menjadi tempat para nenek-moyang yang telah menjadi pelindung desa itu dipuja (Soekmono 1974: 311)."
1993
D317
UI - Disertasi Membership Universitas Indonesia Library
Areispine Dymussaga S. Miraviori
"Skripsi ini membahas novel karya Calvin Michael Sidjaja yang berjudul Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati yang mengisahkan posisi tuhan dan manusia di alam semesta yang saling bertumpang tindih dalam empat lapis dunia dalam alam semesta. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitis untuk menganalisis dunia-dunia yang serba 'tidak jelas' yang dibangun dalam Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori unsur-unsur teks yang dikemukakan Prof. Panuti Sudjiman dan kritik sastra obektif dari M. H. Abrams. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pesan yang ingin disampaikan oleh Calvin Michael Sidjaja dari dunia yang tidak pasti dalam Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati dan menanggapi dunia yang dibangun tersebut.
This thesis discusses the novel Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati written by Calvin Michael Sidjaja which tells about juxtaposition of gods and human in four-layered world in universe. This research uses descriptive-analytic method to analyzes the vague-worlds in Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati. This research also uses story text elements theory proposed by Professor Panuti Sudjiman and objective critical theory by M. H. Abrams. This research purposes to reveals the message which Calvin Michael Sidjaja tries to tell from the uncertainly worlds in Jukstaposisi: Cerita tuhan Mati and to gives some feedback from the worlds inside."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2012
S42136
UI - Skripsi Open Universitas Indonesia Library
Jean Ovinary
"Film Jiang Ziya: Legend of Deification《姜子牙》merupakan film animasi Cina yang rilis pada tahun 2020 yang diadaptasi dari novel sastra Cina klasik Investiture of the Gods (Fengshen Yanyi 封神演義). Film ini menceritakan mengenai Jiang Ziya yang merupakan murid utama dewa Guru Agung di Istana Jingxu yang diberikan tugas untuk membinasakan Rubah Ekor Sembilan yang telah mengacaukan dunia. Namun, Jiang Ziya gagal dalam menjalankan tugasnya, lalu ia diusir dari Istana Jingxu oleh Guru Agung. Jiang Ziya tidak tinggal diam, ia pun mencari kebenaran dari alasan mengapa ia gagal dalam menjalankan tugasnya dan mengetahui bahwa kekacauan dunia dan alasan Rubah Ekor Sembilan mengacaukan dunia adalah merupakan perbuatan Guru Agung. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan penokohan Jiang Ziya dan Rubah Ekor Sembilan dengan Guru Agung yang mewakili peran rakyat dalam melawan kepada penguasa yang lalim. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa melalui tokoh Jiang Ziya dan Rubah Ekor Sembilan dengan Guru Agung menyimbolkan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan. Hal tersebut didukung oleh terdapatnya paham kolektivitisme yang ada pada masyarakat Cina.
Jiang Ziya: Legend of Deification《姜子牙》is a Chinese animated film released in 2020 and an adaptation of the classic Chinese literary novel Investiture of the Gods (Fengshen Yanyi 封神演義). This film tells a story about Jiang Ziya, the prominent disciple of the Revered Master of Jingxu Palace, assigned to defeat the Nine-Tailed Fox that has brought chaos to the world. However, Jiang Ziya failed to carry out his duties and was expelled from Jingxu Palace by the Revered Master. Jiang Ziya did not stay silent as he sought the truth of his failure, and realized that the world's chaos and the reason the Nine-Tailed Fox wreaked havoc in the world were the work of the Revered Master. This study aims to describe the characterization of Jiang Ziya, the Nine-Tailed Fox, and the Revered Master, and how it represents the people fighting for their rights against tyrannical rulers. This study used a descriptive-qualitative method. The results indicated that the character Jiang Ziya and the Nine-Tailed Fox against the Revered Master symbolize the people's resistance against the authority. This is supported by collectivism in Chinese society."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library