Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Daffa Bryant Putraprasetyo
"The safe transportation of carbon dioxide (CO2) through pipelines is vital for carbon capture and storage (CCS) to reduce greenhouse gas emissions. This study models CO2 dispersion and conducts a safety analysis for onshore pipeline leaks in Indonesia, focusing on gaseous and supercritical CO2, which a release depends on factors such as the size of the leak, release pressure, and environmental conditions. Key findings reveal that supercritical CO2 leaks exhibit greater dispersion due to higher momentum and expansion, with full-bore ruptures affecting areas over 2,000 meters. Leak proximity to the pipeline inlet increases mass release, while stability classes and wind speeds significantly influence dispersion. Integral models provide realistic hazard predictions, contrasting Gaussian models' conservatism. Even minor leaks can exceed hazardous CO2 levels (5000 ppm) over hundreds of meters, emphasizing the urgency of robust mitigation strategies to address thermal, mechanical, and toxic risks.

Pengangkutan karbon dioksida (CO2) yang aman melalui jaringan pipa sangat penting untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Studi ini memodelkan dispersi CO2 dan melakukan analisis keamanan untuk kebocoran pipa darat di Indonesia, dengan fokus pada CO2 gas dan superkritis, yang pelepasannya bergantung pada faktor-faktor seperti ukuran kebocoran, tekanan pelepasan, dan kondisi lingkungan. Temuan utama mengungkapkan bahwa kebocoran CO2 superkritis menunjukkan dispersi yang lebih besar karena momentum dan ekspansi yang lebih tinggi, dengan pecahnya lubang penuh yang mempengaruhi area lebih dari 2.000 meter. Kedekatan kebocoran dengan saluran masuk pipa meningkatkan pelepasan massa, sementara kelas stabilitas dan kecepatan angin secara signifikan memengaruhi dispersi. Model integral memberikan prediksi bahaya yang realistis, kontras dengan konservatisme model Gaussian. Bahkan kebocoran kecil dapat melebihi tingkat CO2 yang berbahaya (5000 ppm) selama ratusan meter, yang menekankan urgensi strategi mitigasi yang kuat untuk mengatasi risiko termal, mekanis, dan toksik."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Daffa Bryant Putraprasetyo
"The safe transportation of carbon dioxide (CO2) through pipelines is vital for carbon capture and storage (CCS) to reduce greenhouse gas emissions. This study models CO2 dispersion and conducts a safety analysis for onshore pipeline leaks in Indonesia, focusing on gaseous and supercritical CO2, which a release depends on factors such as the size of the leak, release pressure, and environmental conditions. Key findings reveal that supercritical CO2 leaks exhibit greater dispersion due to higher momentum and expansion, with full-bore ruptures affecting areas over 2,000 meters. Leak proximity to the pipeline inlet increases mass release, while stability classes and wind speeds significantly influence dispersion. Integral models provide realistic hazard predictions, contrasting Gaussian models' conservatism. Even minor leaks can exceed hazardous CO2 levels (5000 ppm) over hundreds of meters, emphasizing the urgency of robust mitigation strategies to address thermal, mechanical, and toxic risks.

Pengangkutan karbon dioksida (CO2) yang aman melalui jaringan pipa sangat penting untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Studi ini memodelkan dispersi CO2 dan melakukan analisis keamanan untuk kebocoran pipa darat di Indonesia, dengan fokus pada CO2 gas dan superkritis, yang pelepasannya bergantung pada faktor-faktor seperti ukuran kebocoran, tekanan pelepasan, dan kondisi lingkungan. Temuan utama mengungkapkan bahwa kebocoran CO2 superkritis menunjukkan dispersi yang lebih besar karena momentum dan ekspansi yang lebih tinggi, dengan pecahnya lubang penuh yang mempengaruhi area lebih dari 2.000 meter. Kedekatan kebocoran dengan saluran masuk pipa meningkatkan pelepasan massa, sementara kelas stabilitas dan kecepatan angin secara signifikan memengaruhi dispersi. Model integral memberikan prediksi bahaya yang realistis, kontras dengan konservatisme model Gaussian. Bahkan kebocoran kecil dapat melebihi tingkat CO2 yang berbahaya (5000 ppm) selama ratusan meter, yang menekankan urgensi strategi mitigasi yang kuat untuk mengatasi risiko termal, mekanis, dan toksik."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Dwi Puspitasari
"Tujuan yaitu untuk mengetahui pola spasial pencemaran udara yang diakibatkan oleh PLTU dan PLTGU Muara Karang. Analisis yang digunakan adalah analisis keruangan hasil perhitungan Model Dispersi Gaussian untuk mengetahui semburan emisi PLTGU dan PLTU masing-masing parameter yaitu debu, NO2 dan SO2 pada enam hari pada bulan Juni dan Desember, selanjutnya hasil perhitungan tersebut ditampilkan dalam bentuk peta untuk mengetahui pola spasial pencemaran udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pencemaran udara dari sumber PLTU dan PLTGU Muara Karang menunjukkan jangkauan dan nilai konsentrasi tiap parameter, berbeda-beda sesuai arah anginnya. Dalam kondisi atmosfer stabil, jangkauan emisi dari kedua sumber pencemar tersebut lebih jauh dibandingkan dalam kondisi atmosfer tidak stabil. Hasil analisis yaitu konsentrasi pencemar menurun sesuai dengan jaraknya. Kecamatan Taman Sari, Sawah Besar, Kemayoran, dan Tambora memiliki resiko paling tinggi terkena dampak pencemaran udara dari sumber PLTU dan PLTGU Muara Karang.

The objective of the study are to determines the spatial patterns of air pollution caused by Muara Karang Power Plant and Combined Cycle Power Plant. The analysis which used is spatial analysis of the calculated Gaussian Dispersion Model to find out bursts emissions of Combined Cycle Power Plant and power plant of each parameter that is dust, NO2 and SO2 on six days in June and December, then the calculation results are displayed in the form of a map to determine the spatial pattern of air pollution. The results showed that the pattern of air pollution from Muara Karang Power Plant and Combined Cycle Power Plant shows the range and concentration values of each parameter, varies according to wind direction. In stable atmospheric conditions, the range of pollutant emissions from both sources are more distant than in the unstable atmospheric conditions. The results of the analysis that pollutant concentration will be change in the air. Taman Sari, Sawah Besar, Kemayoran, and Tambora has a highest risk area affected by air pollution from Muara Karang Power Plant and Combined Cycle Power Plant."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S78
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library