Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
New York: Verlag Chemie GMBH, Weinhein/Bergstr, 1965
543 MET
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Furqon Dwi Cahyo
"Sukrosafosforilase (SPase) merupakan suatu enzim yang dapat mengkatalisis reaksi pemindahan gugus glukosil dari molekul donor ke suatu molekul aseptor (glukosilasi). Glukosilasi telah banyak dimanfaatkan, terutama untuk meningkatkan stabilitas dan karakteristik suatu senyawa bioaktif. Pada penilitian ini dilakukan isolasi SPase dari bakteri Escherichia coli BL-21 STARTM rekombinan yang membawa gen penyandi sukrosafosforilase asal Leuconostoc mesenteroides MBFWRS-3(1). Uji konfirmasi berat molekul enzim telah berhasil dilakukan dengan SDS PAGE dan ditunjukan bahwa berat molekul SPase rekombinan berkisar antara 45?66 kDa, hal tersebut sesuai dengan studi sebelumnya. Aktivitas enzim diketahui dengan metode spektrofotometri dan didapatkan bahwa aktivitas relatif SPase rekombinan sebesar 98,5%. Esei aktivitas transglikosilasi SPase rekombinan terhadap substrat asam kojat telah berhasil dilakukan. Berdasarkan pengamatan KLT Densitometer, didapatkan bahwa produk transglikosilasi hasil esei aktivitas transglikosilasi SPase rekombinan dan SPase standar terhadap asam kojat memiliki kemiripan.

Sucrose Phosphorylase (SPase) is an enzyme that catalyzes glucosyl transfer reaction from donor molecules to acceptor molecules (glucosylation). Glucosylation has been used for many things, especially to increase chemical stability and improving characteristic of several bioactive compounds. In this study SPase has isolated from Escherichia coli BL-21 STARTM recombinants that carried gene of SPase expression from Leuconostoc mesenteroides MBFWRS-3(1). Confirmation of molecular weight has done by SDS PAGE and showed that the molecular weight of SPase was in range 66?45 kDa, as reported in other existed SPase studies. The activity enzyme obtained by using the spectrophotometric method, and performed relative activity 98.5 %. Transglucosylation activity assay of SPase recombinant has done to kojic acid. Based on TLC Densitometry analyzes, transglucosylation product of SPase recombinant was similarly to transglucosylation product of SPase standart.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2012
S42823
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mulyadi
"Latar belakang: Eksisi dini eskar luka bakar yang diikuti dengan autograft merupakan terapi utama pada luka bakar. Meskipun efektif, debridement dengan pembedahan secara teknis sulit dan mempunyai komplikasi. Debridement secara enzimatik menggunakan bromelain dapat mempreservasi epitelisasi dan tidak merusak jaringan sehat. Tujuan penelitian ini adalah menilai efek enzim bromelain produksi perusahaan lokal dikombinasi dengan hidrogel pada luka bakar dalam tikus.
Metode penelitian: Tikus dibagi atas 3 kelompok yaitu kelompok 1 (luka bakar tanpa intervensi), kelompok 2 (luka bakar yang diberi gel), kelompok 3 (luka bakar yang diberi gel bromelain 10%). Kemudian masing-masing kelompok dibagi atas kelompok berdasarkan waktu 0,2,4,8,12,24 jam Reduksi eskar luka bakar difoto kemudian diukur menggunakan imageJ v 1.48®. Jaringan luka dibiopsi setelah binatang diterminasi dan diperiksa zone lisis, tipe dan derajat inflamasi.
Hasil penelitian: Reduksi eskar luka bakar sedikit meningkat pada grup 1 dan 2 pada jam ke- 4 dan 24 (rata-rata 1.05% dan 2.2% pada jam ke-4, 3.52% and 4.13% pada jam ke-24). Gel bromelain sangat aktif merusak eskar luka bakar pada 4 jam pertama dan mencapai puncak pada jam ke-8 dan 12. Secara statistik terdapat perbedaan reduksi eskar dan zona lisis antara gel bromelain dan kontrol (p=0.000). Tipe inflamasi yang dominan pada semua grup adalah tipe campuran dan derajat inflamasi adalah sedang dan berat.
Kesimpulan: Penetrasi gel bromelain 10% untuk mendegradasi eskar luka bakar optimal pada jam ke-8 dan ke 12, efektif untuk debridement eskar luka bakar dan tidak merusak jaringan sehat sekitarnya. Persentase PMN hampir sama pada semua grup dan secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0.47).

Background: Early excision burn eschar followed by autografting is a cornerstone of modern burn therapy. While effective, surgical debridement of the burned tissue is technically difficult and may cause considerable complications. Enzymatic debridement using bromelain can preserve the spontaneous epithelialisation potential and reduce the added injury to the traumatised tissue. The aim of the study was to assess the implication of bromelain enzyme that produce by local company combined with hydrogel on full-thickness skin burns of rats.
Methods: Rats were divided in 3 group consist of group 1 (burn wound without intervention), group 2 (burn wound was treated with hydrogel), grup 3 (burn wound was treated with bromelain gel 10%). Each group was divided into subgroups time 0, 2, 4, 8, 12, 24 hours after intervention. The reduction of eschar surface area were measured by photographic documentation of the burns with ImageJ v1.48®. Histopathology preparations were made after terminated to measured lytic zone thickness, type and degree inflammation.
Results: Burn eschar surface area reduction slightly increased in group 1 and 2 at 4 and 24 hours (mean 1.05% and 2.2% at 4 hours, 3.52% and 4.13% at 24 hours). Bromelain gel were most actively breaking down burn eschar during the first 4 hours. Peak of burn eschar reduction and lytic zone in the hours between 8 and 12 hours. There are statistically significant difference byrn eschar reduction and lytic zone between bromelain gel and control (p=0.000). The type of inflammation was a mixed inflammation type dominated and the degree of inflammation was moderate and severe in all group.
Conclusion: Penetration of bromelain gel 10% optimally at 8 and 12 hours to degradation of the burn eschar and effective debride the burn eschar and has no apparent digestive effect on non-burned viable dermis and normal skin. Percentage PMNs almost similar in all groups and there is no statistically different between group of intervention and the control (p=0.47).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mulyadi
"Latar belakang: Eksisi dini eskar luka bakar yang diikuti dengan autograft merupakan terapi utama pada luka bakar. Meskipun efektif, debridement dengan pembedahan secara teknis sulit dan mempunyai komplikasi. Debridement secara enzimatik menggunakan bromelain dapat mempreservasi epitelisasi dan tidak merusak jaringan sehat. Tujuan penelitian ini adalah menilai efek enzim bromelain produksi perusahaan lokal dikombinasi dengan hidrogel pada luka bakar dalam tikus.
Metode penelitian: Tikus dibagi atas 3 kelompok yaitu kelompok 1 (luka bakar tanpa intervensi), kelompok 2 (luka bakar yang diberi gel), kelompok 3 (luka bakar yang diberi gel bromelain 10%). Kemudian masing-masing kelompok dibagi atas kelompok berdasarkan waktu 0,2,4,8,12,24 jam Reduksi eskar luka bakar difoto kemudian diukur menggunakan imageJ v 1.48®. Jaringan luka dibiopsi setelah binatang diterminasi dan diperiksa zone lisis, tipe dan derajat inflamasi.
Hasil penelitian: Reduksi eskar luka bakar sedikit meningkat pada grup 1 dan 2 pada jam ke- 4 dan 24 (rata-rata 1.05% dan 2.2% pada jam ke-4, 3.52% and 4.13% pada jam ke-24). Gel bromelain sangat aktif merusak eskar luka bakar pada 4 jam pertama dan mencapai puncak pada jam ke-8 dan 12. Secara statistik terdapat perbedaan reduksi eskar dan zona lisis antara gel bromelain dan kontrol (p=0.000). Tipe inflamasi yang dominan pada semua grup adalah tipe campuran dan derajat inflamasi adalah sedang dan berat.
Kesimpulan: Penetrasi gel bromelain 10% untuk mendegradasi eskar luka bakar optimal pada jam ke-8 dan ke 12, efektif untuk debridement eskar luka bakar dan tidak merusak jaringan sehat sekitarnya. Persentase PMN hampir sama pada semua grup dan secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0.47).

Background: Early excision burn eschar followed by autografting is a cornerstone of modern burn therapy. While effective, surgical debridement of the burned tissue is technically difficult and may cause considerable complications. Enzymatic debridement using bromelain can preserve the spontaneous epithelialisation potential and reduce the added injury to the traumatised tissue. The aim of the study was to assess the implication of bromelain enzyme that produce by local company combined with hydrogel on full-thickness skin burns of rats.
Methods: Rats were divided in 3 group consist of group 1 (burn wound without intervention), group 2 (burn wound was treated with hydrogel), grup 3 (burn wound was treated with bromelain gel 10%). Each group was divided into subgroups time 0, 2, 4, 8, 12, 24 hours after intervention. The reduction of eschar surface area were measured by photographic documentation of the burns with ImageJ v1.48®. Histopathology preparations were made after terminated to measured lytic zone thickness, type and degree inflammation.
Results: Burn eschar surface area reduction slightly increased in group 1 and 2 at 4 and 24 hours (mean 1.05% and 2.2% at 4 hours, 3.52% and 4.13% at 24 hours). Bromelain gel were most actively breaking down burn eschar during the first 4 hours. Peak of burn eschar reduction and lytic zone in the hours between 8 and 12 hours. There are statistically significant difference byrn eschar reduction and lytic zone between bromelain gel and control (p=0.000). The type of inflammation was a mixed inflammation type dominated and the degree of inflammation was moderate and severe in all group.
Conclusion: Penetration of bromelain gel 10% optimally at 8 and 12 hours to degradation of the burn eschar and effective debride the burn eschar and has no apparent digestive effect on non-burned viable dermis and normal skin. Percentage PMNs almost similar in all groups and there is no statistically different between group of intervention and the control (p=0.47).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ratu Su`ud Hanum
"Untuk memberikan nilai tambah terhadap tanaman kelapa dan kelapa sawit dapat dilakukan dengan mengubah minyak menjadi suatu produk oleokimia. Salah satu produk oleokimia ialah ester yang dapat diperoleh melalui reaksi transesterifikasi secara enzimatik menggunakan lipase Candida rugosa bebas, serta sukrosa sebagai pengganti alkohol. Hasil analisa FTIR menunjukkan bahwa ester sukrosa asam lemak terbentuk pada fasa tengah.
Pada penelitian ini, dilakukan uji aktivitas antimikroba dengan metode cakram untuk mengetahui kemampuan dari minyak kelapa dan minyak kelapa sawit dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan mikroba-mikroba yang masuk ke dalam tubuh. Fasa tengah yang berupa ester sukrosa asam lemak tidak menunjukkan adanya aktivitas antimikroba baik pada bakteri gram positif maupun negatif. Sedangkan fasa bawah yang diduga berupa sisa sukrosa dan gliserol menunjukkan adanya aktivitas antimikroba.

To increase the value of coconut and palm oil can be done by converting the oil into a product of oleochemicals. One of oleochemical products are esters that can be obtained through enzymatic transesterification reaction using Candida rugosa lipase and sucrose as a substitute for alcohol. FTIR analysis results indicate that sucrose fatty acids ester formed in the middle phase.
In this study, antimicrobial activity?s test is performed to determine the ability of coconut oil and palm oil in inhibiting and killing the growth of microbes that enter the body. Middle phase that contain sucrose fatty acid ester did not show any antimicrobial activity both on gram positive and negative bacteria. While the bottom phase containing sucrose and glycerol showed antimicrobial activity.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S64635
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library