"Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja PLN ULP Malili, Kabupaten Luwu Timur, yang bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan excess power dari PLTA Balambano 110 MW milik PT Vale Indonesia. Pada tahun 2024, daya 4,5 MW yang diberikan baru terpakai sebesar 1,18 MW, dengan nilai BPP Pembangkitan Rp607,49 per kWh yang akan masuk sebagai pendapatan daerah. Optimasi ini menjadi penting seiring dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah. Penelitian ini membandingkan dua skenario distribusi daya melalui GI Malili dan GH Balambano, dengan analisis keandalan jaringan meliputi SAIDI, SAIFI, dan ENS, pendekatan simulasi teknis menggunakan ETAP 19.0.1 untuk mengamati tegangan jatuh dan Losses, serta analisis ekonomi secara kuantitatif dari biaya pembangkitan, penjualan kWh, Losses, dan ENS.
Hasil simulasi menunjukkan Skenario B (GH Balambano) mengalami Losses sebesar 77,6 kW serta tegangan jatuh ujung sebesar 1,67% - 2,31% yang lebih tinggi dibanding Skenario A (GI Malili) dengan Losses 52,4 kW dan tegangan jatuh ujung 1,67% - 2,31%. Nilai - nilai tersebut masih dalam batas standar SPLN No.1:1995 dan SPLN No.72:1987. Namun, secara ekonomi, skenario B menghasilkan efisiensi biaya pembangkitan sebesar 36,65% atau setara dengan Rp5.652.135.559 per tahun dari sisi, dan keuntungan bersih sekitar Rp9.631.479.903,91 per tahun. Meskipun aspek teknis lebih unggul pada Skenario A, namun Skenario B lebih direkomendasikan karena keunggulan nilai ekonominya secara keseluruhan.
his study was conducted in the working area of PLN ULP Malili, East Luwu Regency, with the aim of analyzing the utilization of excess power from the 110 MW Balambano Hydroelectric Power Plant owned by PT Vale Indonesia. In 2024, only 1,18 MW of the 4,5 MW power supplied was utilized, with a generation cost of Rp607,49 per kWh, which will be recorded as local government revenue. This optimization is crucial given the government's budget efficiency policies. This study compares two power distribution scenarios through the Malili GI and Balambano GH, with network reliability analysis including SAIDI, SAIFI, and ENS, technical simulation using ETAP 19.0.1 to observe voltage drop and losses, and quantitative economic analysis of generation costs, kWh sales, losses, and ENS.Simulation results show that Scenario B (GH Balambano) has losses of 77.6 kW and end voltage drops of 1,67% – 2,31%, which are higher than Scenario A (GI Malili) with losses of 52,4 kW and end voltage drops of 1,67% – 2,31%. These values are still within the standards of SPLN No. 1:1995 and SPLN No. 72:1987. However, economically, Scenario B achieves a generation cost efficiency of 36,65% or equivalent to Rp5.652.135.559 per year, and a net profit of approximately Rp9.631.479.903,91 per year. Although Scenario A is technically superior, Scenario B is more recommended due to its overall economic advantages."