Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nazianda
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2009
S5120
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Lukman Shiddiq Alfarisi, Author
"ABSTRAK
Persaingan di dunia pemasaran pada saat ini sangat ketat sekali, sehingga dengan adanya persaingan yamng sangat ketat ini para produsen saling berlomba-lomba untuk mengkomunikasikan produk yang mereka tawarkan kepasar dengan cara yang sebaik mungkin. Adapun salah satu cara untuk dapat menyampaian komunikasi komunikasi tersebut agar lebih cepat dikenal oleh konsumen adalah dengan cara menjadikan selebriti sebagai salah satu alat komunikasi untuk menyampaikan pesan di dalam iklan. Tetapi akibat dari itu semua adalah sangat banyaknya produsan yang membuat strategi seperti itu yang akhimya membuat cara ini menjadi tidak efektif. Konsumen pada umumnya hanya menyukai saja terhadap iklan yang telah mereka lihat tetapi tidak mempengaruhi kepercayaan dan minat beli mereka terhadap produk dan merek yang mereka iklankan, sehingga terkadang yang diingat oleh konsumen sebahagian besar hanya selebriti yang menjadi endorser dalam iklan sedangkan pesan yang ingin disampaikan terkadang tidak diingat lagi oleh konsumen ditambah juga kurangnya minat beli dari konsumen. Disamping itu juga banyak produsen yang menggunakan selebriti untuk mendorong produk yang mereka jual tanpa melihat secara lebih jauh lagi tentang kesesuaian antara produk yang akan diiklankan dengan selebriti yang mengkomunikasikan produk di dalam iklan, sehingga akibatnya konsumen merasa bahwa selebriti yang mengkomunikasikan pesan dari produk yang diiklankan tidak mempunyai kompetensi dan pengalaman terhadap produk yang diiklankan.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh dari penggunaan selebriti di dalam iklan untuk produk yang berkategori Low Involvement Product terhadap tingkat kesukaan, kepercayaan terhadap iklan serta intensitas pembelian yang pada penelitian ini mengambil contoh produk Lux, Frestea, Jamu Tolak Angin, Hemaviton Action.
Komunikasi yang efektif akan mendorong awareness dari konsumen sampai dengan melakukan pembelian. Akan tetapi komunikasi belum tentu efektif karena masih adanya faktor-faktor yang mempengaruhi dampak yang diberikan endorser kepada konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata untuk setiap produk konsumen
cenderung menyukai iklan yang terdapat selebriti di dalamnya khususnya Lux dan Frestea dalam penelitian ini, walaupun pada dasamya yang mempengaruhi konsumen untuk membeli adalah dari tingkat kepercayaan mereka sendiri terhadap produk yang diiklankan. Tetapi lain halnya dengan iklan jamu tolak angin dan Hemaviton yang kebanyakan responden tidak menyukai iklan tersebut akibat adanya pencitraan yang tidak sesuai terhadap produk. Hal tersebut akan berakibat pada tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk serta akan mengurangi intensitas dari pembelian. Khusus untuk iklan produk Hemaviton Action yang menyebabkan pencitraan tidak berhasil kemungkinan faktor penyebab terbesamya adalah karena banyaknya endorser yang terlibat dalam komunikasi tersebut sehingga menimbulkan kebingungan secara tidak langsung bagi konsumen.
"
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vanya Amalia Putri
"Tesis ini berangkat dari fenomena anak yang menjadi model endorse di Instagram semakin banyak terjadi di era digital seperti sekarang. Dengan popularitas yang dimiliki, banyak artis di Indonesia juga menggunakan media sosial mereka, khususnya Instagram sebagai medium pemasaran. Ironisnya, mereka menggunakan anak mereka untuk menjadi model endorse. Saat ini, tidak hanya artis yang mengubah Instagram, namun juga masyarakat biasa yang berubah menjadi influencer dan menjadikan anak mereka sebagai model endorse. Tanpa disadari, anak telah mengalami eksploitasi. Dalam hal ini, anak-anak telah berubah menjadi komoditas. Namun, eksploitasi yang terjadi telah termistifikasi (tersamarkan) oleh berbagai pihak. Tesis ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dengan menggunakan paradigma kritis, tesis ini menggunakan konsep mistifikasi dan komodifikasi yang dari Vincent Mosco (2009) sebagai alat bedah. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa orang tua sebagai keluarga utama bagi anak-anak telah mengeksploitasi anak-anak tersebut. Terdapat 3 jenis eksploitasi yang didapat, yaitu eksploitasi ekonomi, eksploitasi tubuh, dan eksploitasi pendidikan. Endorsement anak kemudian menjadi suatu hal yang biasa sehingga eksploitasi tersebut tersamarkan. Selain itu, orang tua cenderung menjadikan minat dan bakat sebagai pembenaran. Anak yang bekerja dengan alasan untuk mengembangkan minat dan bakat juga dilindungi oleh undang-undang. Oleh sebab itu, pemerintah juga memiliki peranan dalam mengaburkan eksploitasi yang terjadi.

This thesis is based on the phenomenon of the children who works as the endorse model in Instagram. This case has been increased in this digital era. With all of their popularity, many celebrities in Indonesia also use their social media, especially instagram, to be the medium. Nowadays, it is not only celebrities who has changed their Instagram account to be the endorsement account. Unfortunately, they use their children to be the endorse model. Influencers that are basically civil society has appeared. They also use their children as endorse model. Because of that, their children are being exploited. On that matter, their children has become a commodity. But, the exploitation has been mystified. This thesis uses qualitative approach in analyzing the phenomenon. This thesis uses the mystification and commodification concept by Vincent Mosco (2009). Based on the interview and observation, the results indicated that their parents has exploited the children. There are 3 types of exploitation that are found, economics exploitation, body exploitation, and educational exploitation. Nowadays, child Endorsement is an ordinary activity so that the exploitation has been mystified. Moreover, the parents tend to justify their action as the matter of their children's interest and talent. The children who work as the matter of their interest and talent are also protected by the regulations. Therefore, the government has a role on the mystification itself."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhasna Muthiah
"ABSTRAK<>br>
Penggunaan media sosial Instagram yang semakin masif mendorong interaktivitas yang tinggi antarpenggunanya. Interaktivitas ini dilihat sebagai kesempatan oleh pemasar untuk memasarkan produknya melalui sistem endorsement. Namun ternyata, penggunaan Instagram sebagai media pemasaran tidak selamanya berdampak positif. Tulisan ini berfokus pada anak yang dikomodifikasi sebagai model endorse di Instagram orangtuanya yang merupakan selebritis. Komodifikasi terjadi di bawah pengawasan orang tua dan didukung oleh pemberitaan media serta anggapan wajar mengenai anak yang bekerja. Selain itu, budaya konsumerisme terhadap produk anak juga mendorong terjadinya komodifikasi terhadap anak. Isu lain atas unggahan konten Instagram orangtua yang menampilkan foto anak adalah pelanggaran privasi anak. Orangtua membagikan konten yang menampilkan anaknya tanpa persetujuan dari sang anak ke ranah publik.

ABSTRACT<>br>
The massive use of Instagram stimulates high interactivity between its users. The interactivity is seen as big opportunity by marketers to promote their product by endorsement system. However, the use of Instagram to be one of the marketing tools does not always have positive impact. This paper focus on commodification that happened to children endorser on Instagram whose parents is a celebrity. The commodification happened in the right of the parents and supported by the media publication about reasonable presumption on working children. Moreover, consumerism culture on children rsquo s product also supporting the commodification of these children. Another issue that can happen because of the children content on parent rsquo s social media is invasion of the child privacy. Parents, however share the content about their children to the public without the children rsquo s consent."
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ladesi Henita
"Endorser atas jasanya mempromosikan produk dan jasa endorse (endorsement) milik pemberi kerja dibayar menggunakan uang, barang, ataupun jasa. Penghasilan tersebut berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan merupakan penghasilan yang harus dipotong pajak. Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa pajak yang dikenakan berbeda dengan pajak promosi yang selama ini dilakukan di media konvensional, sehingga timbul persepsi bahwa perbedaan media tempat kegiatan promosi itu dilakukan menyebabkan perbedaan pajak yang harus dibayarkan oleh endorser. Skripsi ini membahas tiga permasalahan utama. Pertama mengenai apakah peraturan perpajakan di Indonesia telah mengakomodir penghasilan dari kegiatan promosi yang dilakukan di media sosial Kedua, bagaimana pemotongan dan penghitungan terhadap penghasilan dari kegiatan promosi di media sosial Dan ketiga, kewajiban apa yang dimiliki para pihak yang terlibat dalam kegiatan promosi di media sosial dalam pemotongan dan penghitungan pajak terhadap penghasilan dari kegiatan promosi di media sosial. Penelitian ini dilakukan dengan metode yuridis normatif, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peraturan perpajakan di Indonesia dalam mengatur pemotongan penghasilan dari kegiatan promosi di media sosial, bagaimana pemotongan dan penghitungan pajak tersebut dilakukan, serta mengetahui kewajiban atau peran apa yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan promosi yang dilakukan di media sosial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya pengaturan perpajakan di Indonesia tidak membedakan penghasilan dari media, kegiatan promosi yang dilakukan di media sosial dalam peraturan perpajakan di Indonesia tidak dibedakan dengan kegiatan promosi yang dilakukan di media konvensional. Pemotongan dan penghitungan pajak atas penghasilan dari kegiatan promosi di media sosial pengaturannya telah diakomodir oleh Undang-Undang Pajak Penghasilan.


Endorser for his services of promoting employer`s product and services being paid by money, goods, or services. The income, based on the Undang-Undang Pajak Penghasilan must be tax deducted.


The society considers that the tax imposed on income from promotion activities in conventional media is different from the tax imposed on income from promotion activities on social media, giving rise to a preception that the difference in media in which promotion activities are carried out causes a difference in tax that must be pay by Endorser. This thesis is discusses three main problems. First, about whether the tax regulations in Indonesia have accommodated income from promotion activities that is carried out in social media Second, how is the deduction and calculation of income from promotion activities in social media And third, what obligation they have to witholding taxes of income from promotion activities on social media. This research is conducted with a normative juridical method, the purpose of this study was to find out how tax regulations in Indonesia regulating the income deductions from promotion activities on social media, and know what the obligations or roles are carried out by the people who invlolved in promotion activities that is carried out on social media. The results of this study is indicate that the taxation arrangements in Indonesia do not differentiate the income from media. The promotion activities that is carried out on social media by the tax regulations in Indonesia are not differentiated from promotion activities that is carried out in conventional media. Witholding and calculating income tax from promotion activities on social media has been accomodated by the Undang-Undang Pajak Penghasilan.
"
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadhifa Safira Rares
"ABSTRAK
Musik adalah suatu hal yang sangat dicari oleh orang-orang. Banyak musisi yang mencari penghasilan melalui karyanya dalam membuat sebuah lagu. Di jaman yang canggih ini, musik tertutama Pop adalah aliran musik yang paling laris dikalangan para remaja jaman sekarang. Dengan adanya globalisasi, musik dari negara mana saja bisa didengarkan dengan mudah. Korean Pop adalah salah satunya aliran musik pop yang sedang popular dikalangan anak jaman sekarang. Banyak sekali perusahaan yang berkerja sama dengan artis artis pop di Korea untuk meningkatkan daya beli produk mereka. Artis K-pop termasuk kalangan artis yang dipercaya mempunyai banyak penggemar. Dengan adanya banyak peluang yang bisa diambil terkait dengan maraknya K-pop jaman sekarang, banyak perusahaan iklan di Indonesia yang menggunakan artis K-pop sebagai Brand Ambassador untuk menaikkan daya jual produk mereka. Penelitian ini akan menulusuri tentang dampak atau efek Korean Pop terhadap Periklanan di Indonesia. Dalam hal cara perusahaan menjual barang atau jasanya dengan cara menggunakan artis K-pop sebagai Key Opinion Leader.

ABSTRACT
Music is something that is an essential for people. Many musicians are looking for income through his/her work in making a song. In this sophisticated era, Pop music is the most popular music genre among young adults. With globalization, music can be heard or known all around the world. Korean Pop is one of the pop music genre that is popular. Lots of companies are working with pop artists in Korea to increase the selling point of their products. K-pop artists are the artists who are believed to have a lot of fans, especially in Indonesia. With the opportunities given by the fans, advertisers tend to hire a K-pop artist as their Key Opinion Leaders. Advertising is one of the strategy for companies to sell their product and make profits. This research will explore the impact or effect of Korean Pop on Advertising in Indonesia. In terms of how companies sell goods or services by using K-pop artists as KOL."
2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library