Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Stefanus Imanuel Setiawan
"Tuberkulosis TB merupakan salah satu penyakit pembunuh yang kerap menjadi masalah besar di dunia dan diperburuk oleh masalah efek samping obat yang berdampak pada terhentinya pengobatan pasien TB. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji hubungan antara efek samping OAT dengan keberlanjutan pengobatan TB. Studi ini dilakukan dengan desain penelitian analitik menggunakan studi cross-sectional dengan melibatkan 172 data rekam medis penderita TB paru dewasa yang diobati dan mendapatkan efek samping di RSCM selama tahun 2014.
Pada penelitian ini didapatkan 73,8 pasien mendapatkan efek samping minor dan 26,2 mengalami efek samping minor. Jenis efek samping minor yang muncul didominasi oleh gangguan gastrointestinal 34 dan jenis efek samping mayor didominasi hepatitis yang diinduksi oleh obat 60 . Penelitian ini menunjukkan terdapatnya hubungan yang bermakna antara variabel jenis efek samping dengan keberlanjutan terapi OR, 9,33; 95 CI, 4,20-20,72.

Tuberculosis TB is one of top infectious diseases killer and remains as a major health problem worldwide. Moreover, the TB treatment adverse effects are able to escalate the treatment default. This study aimed to evaluate the correlation between anti TB drug adverse reactions and treatment default. A cross sectional study was performed with a total of 172 medical record data of adult pulmonary TB patients who were treated with first line anti TB drugs in Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital during 2014 and experienced adverse reaction.
127 patients 73.8 were experiencing minor adverse reaction and 45 patients 26.2 were experiencing mayor adverse reaction. The adverse reaction was dominated by gastrointestinal disorders 34 and drug induced hepatitis 60. There was a significant correlation between adverse reactions of anti TB drug and the treatment default cases OR, 9.33 95 CI, 4.20 20.72 p.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S70355
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fachri Latif
"Tingkat kepatuhan pengobatan antiretroviral di Indonesia sangat rendah,
yaitu 40 - 70%, yang masih di bawah target nasional dengan tingkat
kepatuhan 95%. Berbeda dengan rata-rata nasional, Puskesmas
Jumpandang Baru justru memiliki tingkat kepatuhan pengobatan antiretroviral
pasien HIV/AIDS di atas 95%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan
antiretroviral orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jenis penelitian bersifat observasional
analitik dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian
adalah 121 ODHA yang aktif menjalani pengobatan antiretroviral di
Puskesmas Jumpandang Baru yang dipilih dengan menggunakan teknik
exhaustive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 121 sampel.
Penelitian dilakukan pada 22 April hingga 28 Juni 2014 di klinik Voluntary
Counseling and Test Puskesmas Jumpandang Baru Makassar. Analisis data
menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik. Hasil uji kai kuadrat menunjukkan
ada hubungan antara pengetahuan, persepsi, riwayat efek
samping obat, dukungan keluarga dan teman, serta interaksi antara pasien
dengan petugas layanan antiretroviral terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral
ODHA. Analisis regresi logistik menunjukan bahwa pengetahuan
yang baik, persepsi positif terhadap pengobatan, serta efek samping obat
yang tidak dirasakan adalah faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
pengobatan antiretroviral. Penelitian ini menunjukkan ODHA yang tidak
merasakan efek samping obat memiliki kecenderungan terbesar untuk
patuh terhadap pengobatan antiretroviral dengan OR sebesar 13,452.
The rate of adherence to antiretroviral treatment in Indonesia is very low, at
40 - 70%, which is still below our national target (95%). Different phenomena
happens at Jumpandang Baru Primary Health Care, whose level of antiretroviral
treatment adherence above 95%. This study aimed to analyze
factors that influence the adherence to antiretroviral treatment of people li-
Efek Samping Obat terhadap Kepatuhan Pengobatan
Antiretroviral Orang dengan HIV/AIDS
Drug Side Effects on Adherence to Antiretroviral Treatment among People
Living with HIV/AIDS
Fachri Latif, Ida Leida Maria, Muhammad Syafar
ving with HIV/AIDS (PLWH). This study used observational analytic with
cross-sectional approach. The population, 121 PLWH are people who actively
undergoing antiretroviral treatment in Jumpandang Baru Primary
Health Care. By exhaustive sampling technique, the sample size of the
study was counted 121 people. The research was conducted on April 22 until
June 28 2014 at Voluntary Counseling and Test Clinic of Jumpandang
Baru Primary Health Care, Makassar. Data was analyzed using chi square
and logistic regression test. Chi square test showed the relationship between
knowledge, perception, drug side effects, family and friends support,
and well interaction between PLWH with antiretroviral providers to antiretroviral
treatment adherence among PLWH. The logistic regression analysis
indicated that high level of knowledge, positive perceived to treatment,
and no drug?s side effects were the related factors influenced antiretroviral
adherence. This result showed that PLWH who do not feel the drug side effects
has the greatest propensity to adherence to antiretroviral treatment
with an OR of 13.452."
2015
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dita Mitani Nur Alfaini
"Interaksi obat atau Drugs-Drugs Interaction (DDIs) merupakan kondisi terjadinya interaksi antara beberapa obat yang dikonsumsi bersamaan dan mengakibatkan adanya perubahan efek samping obat. Salah satu penyebab interaksi obat yaitu penggunaan obat dalam jumlah banyak dan tidak sesuai dengan kondisi pasien atau biasa disebut dengan polifarmasi. Pasien yang menerima lebih dari satu obat yang berpotensi mengalami DDIs menjadi perhatian tenaga kesehatan terutama bagi penulis resep untuk meningkatkan efektivitas terapi dan menghindari terjadinya efek obat yang tidak diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko efek samping dan interaksi obat pada resep polifarmasi di Apotek Roxy Depok. Metode penelitian yang dilakukan yaitu observasional deskriptif dengan rancangan cross-sectional yang dilakukan dalam sekali waktu. Sampel pada penelitian menggunakan data resep polifarmasi rawat jalan di Apotek Roxy Depok pada bulan November 2022. Pengambilan sampel menggunakan Teknik convenience sampling dan diperoleh sampel sebanyak 2 resep obat yang kemudian diidentifikasi terkait potensi efek samping dan interaksi obat pada masing-masing obat dalam resep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 jenis potensi interaksi obat dalam 2 resep polifarmasi pasen rawat jalan di apotek Roxy Depok yang dilihat berdasarkan mekanisme dan tingkatannya. Berdasarkan mekansime, mayoritas potensi interaksi obat yang ditemukan pada resep polifarmasi di apotek Roxy Depok adalah interaksi farmakodinamik (50%), sementara berdasarkan tingkatannya mayoritas adalah interaksi moderate (75%). Kesimpulan yang diperoleh yaitu terdapat potensi efek samping pada masing-masing obat dalam 2 resep polifarmasi pasien rawat jalan di Apotek Roxy Depok dengan level yang variatif.

Drug interactions or Drugs-Drugs Interactions (DDIs) are conditions where interactions occur between several drugs taken simultaneously and result in changes in drug side effects. One of the causes of drug interactions is the use of drugs in large quantities that are not appropriate to the patient's condition or what is usually called polypharmacy. Patients who receive more than one drug that has the potential to experience DDIs are a concern for health workers, especially for prescribers, to increase the effectiveness of therapy and avoid unexpected drug effects. This study aims to determine the risk of side effects and drug interactions in polypharmacy prescriptions at the Roxy Depok Pharmacy. The research method used was descriptive observational with a cross-sectional design carried out at one time. The sample in the study used outpatient polypharmacy prescription data at the Roxy Depok Pharmacy in November 2022. Sampling used a convenience sampling technique and a sample of 2 drug prescriptions was obtained which was then identified regarding potential side effects and drug interactions for each drug in the prescription. The results of the study showed that there were 4 types of potential drug interactions in 2 outpatient polypharmacy prescriptions at the Roxy Depok pharmacy, which were seen based on the mechanism and level. Based on the mechanism, the majority of potential drug interactions found in polypharmacy prescriptions at the Roxy Depok pharmacy are pharmacodynamic interactions (50%), while based on the level the majority are moderate interactions (75%). The conclusion obtained was that there were potential side effects for each drug in the 2 outpatient polypharmacy prescriptions at the Roxy Depok Pharmacy with varying levels."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Firly Nur Fadlila
"Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adalah lembaga yang memiliki tanggung jawab untuk menjamin bahwa seluruh obat yang beredar di masyarakat memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu pada masa pasca pemasaran. Salah satu bentuk upaya pemantauan keamanan adalah dengan cara Monitoring Efek Samping Obat (MESO). Kegiatan MESO di Puskesmas Kecamatan Ciracas sebelumnya dilakukan secara manual dengan menuliskan kejadian ESO pada buku secara tertulis. Pemantauan MESO selanjutnya dilakukan secara elektronik menggunakan sistem pelaporan e-MESO BPOM yang dilakukan dengan cara mengunggah template microsoft excel pada laman e-meso.pom.go.id. Pengisian data MESO yang ditemukan disesuaikan dengan formulir pelaporan ESO dengan media google form. Kejadian ESO yang ditemukan pada bulan April 2023 adalah nihil sehingga dilakukan pelaporan dengan nihil kejadian.

Indonesian Food and Drug Authority is an institution that has the responsibility to ensure that all drugs circulating in the community meet the requirements for safety, efficacy, and quality in the post-marketing period. One form of safety monitoring efforts is by adverse drug reaction monitoring (ADR Monitoring). ADR monitoring activities at the Ciracas Public Health Center were previously carried out manually by writing down ADR events in a written book. ADR monitoring is then carried out electronically using the BPOM e-MESO reporting system which is carried out by uploading Microsoft Excel templates on the e-meso.pom.go.id page. The MESO data that has been found filled out to microsoft excel is adjusted to the ARD report form using google form. The ADR events found in April 2023 are nil so zero incidents are reported."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Hidayati
"Keluarga sangat berperan dalam membantu mengatasi efek samping pengobatan TB paru pada anggota keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pelaksanaan tugas perawatan kesehatan keluarga dengan anggota keluarga yang mengalami efek samping obat TB di wilayah Puskesmas Pabuaran Tumpeng. Jenis penelitian ini adalah deskriptif univariat,dengan pendekatan survey pada 29 keluarga penderita TB paru, menggunakan teknik total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi karakteristik keluarga terdiri dari: umur rata-rata responden 41.62 tahun (dewasa tengah), dan mayoritas berumur 40 tahun (dewasa awal); 86,2% responden berjenis kelamin perempuan; 69% responden berasal dari suku Sunda; 79,3% responden berpendidikan rendah; 86,2% responden tidak bekerja; dan 96,6% responden mempunyai penghasilan yang rendah.
Hasil penelitian mengenai tugas perawatan kesehatan keluarga yaitu: kemampuan keluarga dalam mengenal efek samping obat anti TB kurang baik (58,6%); kemampuan keluarga dalam pengambilan keputusan baik (62,07%); kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga kurang baik (55,17%); kemampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan kurang baik (51,72%); dan kemampuan keluarga dalam memanfaatkan Puskesmas baik (68,97%).

Family have an important role to help overcome the side effects of pulmonary TB drug that happen to the family members. The purpose of this study was to determine the description of the implementation of the health care task families with family members who experience the side effects of TB drugs in the health centers Tumpeng Pabuaran. This research is descriptive univariate, with survey approach to the 29 families of patients with pulmonary tuberculosis, using total sampling technique.
This study suggests that the distribution of respondent characteristics comprises: the average respondent age 41.62 years (midle adult), majority of respondents aged 40 years (adult onset) , 86.2% of respondents were female, 69% of respondents were from the Sundanese, 79.3% lower educated respondents, 86.2% of respondents does not work, and 96.6% of respondents have a low income.
Results of research on family health care tasks to family members who had pulmonary TB drug side effects are: the ability of families to know the side effects of TB drugs is less well (58.6%), the ability of families to make decisions is good (62.07%), the ability of families to care for family members is not good (55.17%), family’s ability to modivy the environment is less well (68.97%), family's ability to utilize health services is good (68,97%).
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
S52506
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Inas Fadhilah Hanif
"Efek samping dari obat golongan proton pump inhibitor (PPI) pada gastrointestinal diantaranya diare dan konstipasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase besarnya efek samping pada gastrointestinal berupa diare dan konstipasi serta melihat adanya hubungan antara efek samping pada gastrointestinal dengan jenis kelamin, usia, dosis PPI, dan lama pemberian PPI pada pasien rawat inap di RSPAD Gatot Soebroto periode Februari ? April 2016. Penelitian ini adalah studi deskriptif analitik. Pengambilan data dilakukan secara prospektif terhadap data sekunder dari resep, dan rekam medis pasien serta data primer melalui wawancara pasien menggunakan kuisioener yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengambilan data dilakukan dari bulan Februari sampai April 2016 secara total sampling. Analisis kausalitas efek samping pada gastrointestinal dilakukan dengan menggunakan algoritma Naranjo. Sampel adalah pasien dengan usia ≥ 17 tahun yang menerima proton pump inhibitor dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menandatangani Informed Consent. Pasien yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 58 pasien. Sebanyak 19 pasien (32,75%) mengalami efek samping berupa konstipasi dimana 16 pasien (27,58%) dengan kategori mungkin (probable), dan 3 pasien (5,17%) dengan kategori cukup mungkin (possible). Tidak ada pasien yang mengalami efek samping diare. Hasil analisis statistik dengan uji chi-square dan uji mutlak Fisher menunjukkan tidak ada hubungan antara efek samping pada gastrointestinal dengan jenis kelamin, usia, dosis PPI, dan lama pemberian PPI.

Prevalances of crohn?s disease and ulcerative colitis in the world are still increasing. These two diseases are categorized as inflammatory bowel disease (IBD). Even there has been some theurapetic option for patient with these diseases, but surgery still the only option to treat fibrotic strictures. Tetrandrine was chosen as drug in this research because of its antifibrotic effect. This research was conducted to develop and evaluate calcium pectinate beads exploiting pH sensitive property for colon-targeted delivery of tetrandrine. Beads were prepared by ionotropic gelation method followed by enteric coating with HPMCP HP-55 or CAP. Uncoated beads were evaluated for particle size, shape, morphology, swellability, process efficiency and encapsulation efficiency. From evaluation, beads with concentration of calcium chloride 5% (formula 1) was chosen as formula for coating. First formula were more spherical in shape, not too sticky, and smaller in size when compared with beads using calcium chloride concentration 10% (formula 2) and 15% (formula 3). Encapsulation efficiency of the three formula, 65.67 ± 0.39%, 68.03 ± 0.12%, 56.28 ± 0.2% respectively. After coating process, beads were used in in vitro drug release and targeted test. The studies showed that coated calcium pectinate beads were sufficient to resist tetrandrine released in acidic medium, but was unsuccessfully in targeting colon."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2016
S63759
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ervina Wijayanti
"Praktek Kerja Profesi Apoteker di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat memiliki tujuan yaitu untuk memahami peranan, tugas dan tanggung jawab apoteker dalam praktek pelayanan kefarmasian di puskesmas sesuai dengan ketentuan perundangan dan etika farmasi yang berlaku; memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap perilaku serta wawasan dan pengalaman nyata untuk melakukan praktik profesi dan pekerjaan kefarmasian di pukesmas; serta untuk melihat dan mempelajari strategi dan pengembangan praktik profesi Apoteker di Puskesmas; memiliki gambaran nyata tentang permasaahan praktik dan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas; serta mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain yang bertugas di Puskesmas. Dalam pelaksanaan praktek kerja profesi apoteker ini, terdapat tugas khusus yang berjudul 'Penyusunan Standar Prosedur Operasional Monitoring Efek Samping Obat di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat'. Tugas Khusus ini memiliki tujuan untuk menciptakan ukuran standar tahapan monitoring efek samping obat, membantu Apoteker dan Tenaga Kesehatan lain agar dapat berperan aktif dalam aktifitas pemantauan dan pelaporan efek samping obat serta menurunkan resiko kejadian efek samping obat yang merugikan pasien di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Internship at Kebon Jeruk Community Health Center West Jakarta has purposes, namely to understand the role, duties and responsibilities of pharmacists in Community Health Center pharmaceutical care activities accordance with statutory provisions and ethics to earn knowledge, skills, professional behaviors and the real experiences to carry out pharmacist practices in the Community Health Center to learn about the strategy to develop pharmaceutical care activities in Community Health Center, be able to interact with other healthcare professional profession, and also have a real picture about problem solving activities inside Community Health Center. Given special assignment entitled 'Preparation of Standard Operational Procedures for Drugs Side Effects Monitoring at Kebon Jeruk Community Health Center, West Jakarta'. The purpose of this special assignment are to creating standard size stage monitoring of drug side effects, helping Pharmacists and another Health Worker in order to play an active role in monitoring activities and reporting drug side effects as well as decrease risk incidence of side effects of drugs that harm patients in Kebon Jeruk Community Health Center, West Jakarta."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sekti Prameswari Susilo
"Pelayanan kefarmasian memiliki tujuan yaitu mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Masalah terkait Efek Samping Obat (ESO) tidak dapat diremehkan karena dapat menimbulkan berbagai dampak dalam penggunaan obat baik dari sisi ekonomi, psikologi dan keberhasilan terapi. Monitoring ESO merupakan salah satu pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut memerlukan suatu informasi atau data terkait efek samping obat yang dicurigai sebagai penyebab terjadinya reaksi yang tidak diinginkan. Data efek samping obat dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam mengidentifikasi efek samping obat. Obat-obat yang diresepkan oleh dokter di Puskesmas Kebon Jeruk merupakan obat yang tercantum dalam Formularium Puskesmas Kebon Jeruk dan sebagian besar merupakan jenis sediaan obat oral. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk mengetahui efek samping obat oral yang terdapat dalam Formularium Puskesmas Kebon Jeruk. Kegiatan ini dilakukan dengan menyiapkan daftar obat oral yang terdapat pada Formularium Puskesmas Kebon Jeruk. Kemudian memasukkan setiap nama generik obat oral pada software Micromedex untuk mengetahui efek samping dari obat tersebut dan dilakukan analisis terhadap efek samping obat-obat dalam Formularium Puskesmas tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sebanyak 88 nama generik obat oral yang terdapat di Formularium Puskesmas Kebon Jeruk memiliki efek samping masing-masing yang dibedakan antara efek samping yang umum terjadi dan efek samping yang serius.

Pharmaceutical services have the goal of identifying, preventing, and solving drug problems and health-related problems. Problems related to drug side effects (ESO) cannot be underestimated because they can have various impacts on the use of drugs both from an economic, psychological, and therapeutic perspective. ESO monitoring is one of the clinical pharmacy services. This activity requires information or data related to the side effects of drugs that are suspected of causing unwanted reactions. Drug side effect data can be used as a reference in identifying drug side effects. Medicines prescribed by doctors at the Kebon Jeruk Health Center are drugs listed in the Kebon Jeruk Health Center Formulary and most of them are oral drug preparations. Therefore, the purpose of this activity is to find out the side effects of oral drugs contained in the Kebon Jeruk Health Center Formulary. This activity is carried out by preparing a list of oral drugs contained in the Kebon Jeruk Health Center Formulary. Then enter each generic name of the oral drug in the Micromedex software to find out the side effects of the drug and do an analysis of the side effects of the drugs in the Puskesmas Formulary. Based on the results of the research that has been done, it can be concluded that as many as 88 generic names of oral drugs contained in the Kebon Jeruk Health Center Formulary have their own side effects which are distinguished between common side effects and serious side effects."
Depok: 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Triasti Khusfiani
"Pendahuluan: PGK merupakan penyakit yang sering memiliki beberapa komorbid sehingga perlu menggunakan berbagai terapi kombinasi obat. Oleh sebab itu, polifarmasi sering dilakukan dan salah satu konsekuensinya adalah terjadinya potensi interaksi obat (PIO). PIO dianggap sebagai masalah pengobatan yang dapat dicegah, namun dalam praktik klinis dapat mengakibatkan efek samping obat (ESO) atau reaksi obat yang merugikan. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi klinis dan keberhasilan pengobatan serta keamanan penggunaan obat pada pasien PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan pasien PGK dan pengaruhnya terhadap potensi interaksi dan efek samping obat yang dicurigai akibat interaksi obat.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dan pengambilan data dilakukan secara potong lintang pada pasien PGK rawat jalan stadium 3-5 pre-dialisis di rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam periode Januari 2019 sampai dengan Desember 2020. Data diambil dari electronic health record dan pusat rekam medis RSCM. Rujukan potensi interaksi obat menggunakan software Micromedex.
Hasil: Terdapat 106 pasien yang memenuhi persyaratan dan diambil menjadi subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pasien PGK rawat jalan stadium 3- 5 pre-dialisis di RSCM tahun 2019-2020, terdapat 111 jenis obat yang diresepkan dan obat yang paling sering diresepkan adalah bisoprolol (36,5%). Proporsi pasien yang mendapatkan pengobatan dengan potensi interaksi obat adalah 76% (81 pasien), sedangkan proporsi pasien yang mengalami ESO yang dicurigai akibat interaksi obat adalah 28% (23 pasien) dari 81 pasien dengan PIO. ESO tersebut berupa hiperglikemi (17 pasien), hipertensi (1 pasien), hiperkalemi (1 pasien) dan hipotensi (1 pasien). Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel perancu yaitu, jumlah obat > 10, komorbid jantung dan DM dengan ESO yang dicurigai akibat interaksi obat (p<0.05). Hasil multivariat mendapatkan hanya komorbid jantung (gagal jantung dan penyakit jantung koroner) yang memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan ESO yang dicurigai akibat interaksi obat (p = 0,03).
Kesimpulan: Pada penelitian ini, sebanyak 76% pasien mendapatkan pengobatan dengan PIO. Sedangkan 28% pasien dari 81 pasien dengan PIO mengalami ESO yang dicurigai akibat interaksi obat. ESO yang paling banyak dialami adalah hiperglikemi. Komorbid jantung merupakan faktor risiko terjadinya ESO yang dicurigai akibat interaksi obat.

Introduction: CKD often has several comorbidities so it is necessary to use various drug combination therapies. Therefore, it can lead to polypharmacy and one of its consequences is the occurrence of potential drug-drug interactions (DDI). DDI is considered a problem that can be prevented, but in clinical practice it can result in adverse drug reactions (ADR). This will certainly affect the clinical and treatment success as well as the safety of the drug use in CKD patients. This study was aimed to determine the prescribing pattern and its effect on potential DDI and ADR that are suspected due to DDI.
Methods: This was a non-experimental cross-sectional study, conducted on CKD outpatients stage 3-5 pre-dialysis at Cipto Mangunkusumo Hospital in the period January 2019 to December 2020. Data were taken from electronic health records and the hospital’s medical record. The Micromedex software was used as a reference for potential drug interactions.
Results: There were 106 patients who met the requirements and were taken as research subjects. The results showed that in CKD out-patients stage 3-5 pre-dialysis at RSCM in 2019-2020, there were 111 types of drugs prescribed and the most frequently prescribed drug was bisoprolol (36.5%). The proportion of patients who received treatment with a potential DDI was 76% (81 patients), while the proportion of patients who experienced ADR suspected due to DDI was 28% (23 patients) from 81 patients with suspected DDI. The ADRs were hyperglycemia (17 patients), hypertension (1 patient), hyperkalemia (1 patient) and hypotension (1 patient). There was a statistically significant association between the confounding variables, namely, number of drugs, cardiovascular disease and DM with ADR suspected due to DDI (p<0.05). Multivariate analysis found that only cardiovascular disease (congestive heart failure and coronary artery disease) had a statistically significant relationship with ADR suspected due to DDI (p = 0.03).
Conclusion: In this study, 76% of patients received treatment with potential DDI. Meanwhile, 23% from 81 patients patients with DDI experienced ADR suspected due to drug interactions. The most often occuring ADR is hyperglycemia. It was found that cardivascular comorbidity is a risk factor for having an ADR suspected cause by DDI.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andini Nadya Putri
"Tanggung jawab seorang apoteker dalam pelayanan klinis salah satunya adalah memastikan bahwa terapi yang diperoleh pasien sudah optimal. Apoteker harus dapat mengidentifikasi adanya permasalahan terkait obat serta memberikan solusi dan mencegah terjadinya hal yang tidak diharapkan tersebut. Masalah terkait obat yang mungkin terjadi di antaranya interaksi obat dan efek samping obat. Interaksi obat dapat disebabkan karena pengobatan polifarmasi atau penggunaan beberapa macam obat (lima atau lebih) secara bersamaan setiap hari. Untuk mencegah masalah terkait obat yang mungkin terjadi, dilakukan pengkajian analisis efek samping dan interaksi obat terhadap resep polifarmasi. Metode yang digunakan dalam tugas khusus ini adalah deskriptif retrospektif menggunakan resep yang dilayani oleh Apotek Roxy Depok pada bulan April 2023. Sampel resep yang memenuhi kriteria selanjutnya dianalisis efek samping obat dan interaksinya menggunakan pangkalan data seperti MedScape dan drugs.com interaction checker. Hasil dari pengkajian tiga resep polifarmasi yang diperoleh, ditemukan potensi efek samping yang didominasi dengan efek samping umum pada gangguan gastrointestinal termasuk nyeri perut, diare, konstipasi dan muntah, serta gangguan lain seperti sakit kepala, kelelahan berlebihan, edema, dan mialgia. Berdasakan analisis interaksi obat, ditemukan potensi interaksi major sebesar 5,55%, interaksi moderate 77,78% dan interaksi minor 16.67%.

One of the pharmacist's responsibilities in clinical services is to ensure that therapy received by the patient is optimal. Pharmacists must be able to identify drug-related problems and provide solutions to prevent adverse events. Potential drug-related problems include drug interactions and drug adverse effects. Drug interactions can occur due to polypharmacy or the use of multiple medications (five or more) simultaneously on a daily basis. To prevent potential drug-related problems, an analysis of adverse effects and drug interactions for polypharmacy prescriptions was conducted. This study employed a descriptive retrospective methodology using prescriptions filled at Roxy Depok Pharmacy in April 2023. Eligible prescriptions were further analyzed for drug side effects and interactions using databases such as MedScape and drugs.com interaction checkers. The analysis of three polypharmacy prescriptions revealed potential side effects predominantly involving common gastrointestinal adverse events, including abdominal pain, diarrhea, constipation, and vomiting, as well as other effects such as headache, excessive fatigue, edema, and myalgia. Drug interaction analysis identified major interactions at 5.55%, moderate interactions at 77.78%, and minor interactions at 16.67%.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>