Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 31 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan, 2003
577.7 IND k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Tivy, Joy
New York: Oliver and Boyd, 1981
574.522 TIV h
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Twesten, Gary
Belleville: Illinois Record Printing, 1989
574.509 TWE w
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Junwinanto
"Untuk mengetahui perbandingan struktur komunitas fitoplankton di perairan Situ Rawa Besar (luas 17 ha) dan Situ Rawa Kaiong (luas 8,23 ha) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah dilakukan penelitian bersifat deskriptif analitik pada buian Mei-Juni 1998. Pengambilan sampel di setiap stasiun dilakukan secara horizontal dan vertikai, diikuti pengukuran kuaiitas air yaitu: suhu, kecerahan, pH, DO, dan BOD5. Hasil penelitian diperoleh 73 marga fitoplankton di Situ Rawa Besar terdiri dari Cyanophyta (11 marga), Chrysophyta (19 marga), Chlorophyta (39 marga), Dinophyta (1 marga), dan Euglenophyta (3 marga). Di Situ Rawa Kaiong diperoleh 33 marga terdiri dari Cyanophyta (6 marga), Chrysophyta (13 marga), Chlorophyta (11 marga), Dinophyta (1 marga), #■ Charophyta (1 marga), dan Euglenophyta (1 marga). Jumlah individu fitoplankton di Situ Rawa Besar dan Situ Rawa Kaiong yaitu: 45.419 ind/l dan 187.916 ind/l, indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan di Situ Rawa Besar dan Situ Rawa Kaiong yaitu: 1,60; 0,37 dan 0,55; 0,16 serta indeks kesamaan kedua situ sebesar 43,4%. Hasil pengukuran kuaiitas air di Situ Rawa Besar meliputi suhu, kecerahan, pH, DO, dan BOD5 masing-masing berkisar 29--33''C; 14-27 cm; 6-8; 1,3-6 ppm dan 2,6-4,47 ppm. Hasil pengukuran kuaiitas air di Situ Rawa Kaiong meliputi suhu, kecerahan, pH, DO, dan BOD5 masing-masing 29-34°C; 16,5-29 cm; 6-10; 1-8 ppm, 4,17-6,98 ppm. Hasil penelitian dapat disimpulkan jumlah marga di Situ Rawa Besar lebih besar dibandingkan Situ Rawa Kaiong, tetapi kepadatannya lebih kecil dibandingkan dengan Situ Rawa Kaiong. Marga yang mendominasi kedua situ dari Divisi cyanophyta yaliu Microcystis. Indaks kaanakaragaman tartinggi dan terandah tardapat di Situ Rawa Basar (1,60) dan Situ Rawa Kalong (0,55). Kaanakaragaman di kadua situ barbada nyata. Indaks kamarataan tartinggi dan tarandah tardapat di Situ Rawa Basar (0,37) dan Situ Rawa Kalong (0,16). Indaks kasamaan di kadua situ sadang (43,4%)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1998
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Myers, Wayne L.
New York: John Wiley & Sons, 1980
574.5 MYE s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Nana Sudiana
"Ekosistem Hutan Mangrove Segara Anakan terdiri dari berbagai komponen sumber daya alam berupa bentang alam, flora, fauna, dan masyarakat setempat, komponen itu satu dengan lainnya berinteraksi membentuk satu kesatuan ekosistem. Saat ini, ekosistem hutan mangrove tersebut mengalami tekanan dari berbagai aktivitas masyarakat di sekitar hutan mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari berupa pengambilan sumber daya hutan mangrove seperti flora dan fauna.
Untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan tersebut maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Ekoturisme merupakan salah satu alternatif program yang dapat diterapkan. Permasalahannya adalah apakah ekosistem hutan mangrove Segara Anakan memiliki sumberdaya dan lingkungan untuk pengembangan ekoturisme?
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi obyek dan daya tarik ekoturisme, persepsi dan tingkat partisipasi masyarakat setempat, aksesibilitas dan sarana prasarana, lembaga pengelolaan, faktor internal dan eksternal, dan merumuskan strategi pengembangan ekoturisme di ekosistem hutan mangrove Segara Anakan.
Metode yang digunakan adalah adalah metode kualitatif dan desknptif dengan jenis studi kasus. Analisis pengembangan menggunakan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT). Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi, dan wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Hasil-hasil dari penelitian adalah:
1. Pengembangan ekoturisme di ekosistem hutan mangrove Segara Anakan telah sesuai dengan arahan pembangunan nasional yang diimplementasikan dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000-2004. Pada kebijaksanaan tingkat daerah pengembangan kegiatan ekoturisme telah sesuai dengan kebijaksanaan daerah yang dijabarkan dalam Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Segara Anakan Kabupaten Cilacap tahun 1999/2000-2009/2010.
2.Ekosistem hutan mangrove Segara Anakan memitiki potensi sumber daya alam berupa bentang alam, flora, fauna dan kegiatan sosial ekonomi sebagai obyek dan daya tarik ekoturisme.
3.Kegiatan ekoturisme yang dapat dilakukan di ekosistem hutan mangrove Segara Anakan meliputi memancing, menikmati bentang alam, pengamatan burung, pengamatan vegetasi hutan mangrove.
4.Sebagian besar responden (97%) menyatakan setuju terhadap rencana pengembangan ekosistem hutan mangrove bagi kegiatan ekoturisme. Peran serta yang diinginkan secara berurutan adalah kegiatan usaha makanan dan minuman, menyewakan perahu, pemandu wisata, usaha penginapan dan menjadi pegawai kantor pengelola;
5.Sarana dan prasarana pengelolaan serta pelayanan pengunjung yang dibutuhkan untuk pengembangan ekoturisme saat ini belum memadai;
6.Segara Anakan memiliki tingkat aksesibilitas yang baik melalui jalur penyeberangan yang menghubungkan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
7.Lembaga pengelolaan untuk pengembangan ekoturisme di Ekosistem Hutan Mangrove Segara Anakan belum tersedia.
8. Faktor internal dan Eksternal pengembangan ekoturisme di ekosistem hutan mangrove Segara Anakan adalah:
?Kekuatan terdiri dari : keanekaragaman jenis dan kelimpahan ikan, keindahan bentang alam, keanekaragaman jenis dan perilaku fauna, struktur vegetasi dan keanekaragaman jenis flora, dan tanggapan positif masyarakat setempat.
?Kelemahan terdiri dari : lembaga pengelola belum ada, fasilitas pengelolaan dan pelayanan pengunjung belum ada, dan tingkat pendidikan sebagian besar masyarakat setempat masih rendah.
?Peluang terdiri dari : arah kebijaksanaan di tingkat nasional dan daerah sudah ada, Segara Anakan sebagai koridor pariwisata di antara obyek wisata di Jawa Barat dan Jawa Tengah, sarana transportasi ke lokasi memadai.
?Ancaman terdiri dari : tingginya tingkat sedimentasi di perairan Segara Anakan, tekanan masyarakat di luar terhadap hutan mangrove.
9. Strategi yang diusulkan untuk pengembangan ekoturisme meliputi penanganan sedimentasi, pengembangan peran serta masyarakat setempat, pengembangan obyek dan daya tank ekoturisme, pengembangan sarana dan prasarana ekoturisme, dan pengembangan lembaga pengelolaan.
Saran-saran dari penelitian ini adalah:
1.Keberhasilan pengembangan ekoturisme di ekosistem hutan mangrove Segara Anakan sangat ditentukan oleh keutuhan dan keaslian hutan mangrove di lokasi Segara Anakan. Oleh karena itu program perlindungan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove harus dilakukan terus-menerus, yaitu program penanganan sedimentasi dan program pengembangan peran serta masyarakat;
2.Program penanganan sedimentasi disarankan melalui dua pendekatan yaitu menurunkan tingkat erosi di daerah hulu Sungai Citanduy dan mengurangi proses sedimentasi di perairan Segara Anakan. Untuk merealisasikannya perlu kerjasama yang kuat antara Pemda Jawa Banat dan Jawa Tengah;
3.Program peran serta masyarakat setempat dalam ekoturisme disarankan melalui dua pendekatan yaitu pengembangan peran serta secara aktif berupa pelibatan masyarakat setempat pada setiap tahapan kegiatan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan pembangunan, pengelolaan dan evaluasinya. Pengembangan peran serta secara pasif dilakukan melalui program pendidikan dan latihan, pembinaan, dan pendampingan pada aspek pelestarian hutan mangrove dan bidang-bidang usaha makanan dan minuman, penginapan, pemandu, dan jasa wisata lainnya.
4. Penelitian ini ditekankan pada masalah potensi kawasan sebagai obyek dan daya tarik ekoturisme. Untuk menyempurnakan kajian pengembangan dari aspek pemasaran dan promosinya maka perlu adanya penelitian lanjutan mengenai potensi pasar terhadap upaya pengembangan ekoturisme di ekosistem hutan mangrove Segara Anakan.
Daftar Kepustakaan: 56 (1971.2000)

Study of Ecotourism Development in A Mangrove Forest Ecosystem (A Case Study of the Segara Anakan Mangrove Forest Ecosystem, Cilacap, Central Java).The Segara Anakan mangrove forest ecosystem consists of several natural resources components, i.e. flora, fauna, local people, land, terrestrial and water landscape, which interacted with one another as one ecosystem. Recently, it has been exploited by people surrounding the ecosystem to fulfill their basic needs.
Increasing local people's income is an alternative solution to prevent mangrove forest ecosystem degradation. This could be achieved by the application of ecotourism concepts. The problem faced is whether The Segara Anakan mangrove forest ecosystem has the resources and environment necessary for the development of ecotourism.
The purpose of this study was to identify tourism potential and natural resource attractions, perceptions and level of participation of the local people, accessibility and facilities, management institutions, internal and external factors, and the formulation of ecotourism development strategy for the Segara Anakan mangrove forest.
Qualitative and descriptive methods were used in the research which was a case study. Analysis used a SWOT approach.. Data were collected using three techniques: literature review, observation or fieldwork, and in depth interviews with local people.
The study showed that:
1.Segara Anakan ecotourism development is consistent with the State Development Policy that was included in the National Development Program (PROPENAS) for 2000-2004, At the local government policy level it is supported by The Segara Anakan Spatial Plan for 199912000-2009/2010.
2.The Segara Anakan mangrove forest ecosystem has environment and natural resources, including, landscape, flora, fauna and socio-economic activities as object potential attraction.
3.Ecotourism activities that would be carried out in the Segara Anakan mangrove forest ecosystem include fishing, enjoyment of the landscape, bird watching, and mangrove forest vegetation observation.
4.Most of the people interviewed (97%) agreed with planning for Segara Anakan mangrove forest ecosystem development for tourism. Therefore they want to participate; by opening drink and food shops, restaurants, fishing and working as recreation guides, renting boats, cottage, and working as management staff.
5.Management and visitors facilities that are needed for ecotourism development have not yet been provided in the location.
6.Segara Anakan has a high level of accessibility due to its location on the route between West Java and Central Java.
7.Management Institutions that are needed for ecotourism development have not yet been provided in the location.
8.The internal and external factors of the ecotourism development in the Segara Anakan mangrove forest ecosystem are :
? Strengths include: species diversity and abundance of fish, landscape beauty, species diversity and behavioral of fauna, vegetation structure and species diversity of flora, and positive response from the local people.
 Weaknesses include: lack of management institution, unavailability of management and visitors facilities, and the low education level of the local people.
 Opportunities include: the availability of policy direction at the National and regional level, the location of Segara Anakan on the route between tourism destinations in West Java and Central Java, and the availability of local transportation facilities.
 Threats include: The high level of sedimentation in the Segara Anakan waters, and external community pressure on the mangrove forest.
9. The strategies proposed for the development of ecotourism include sedimentation management, development of local people?s participation, development of natural resources and other attractions, development of ecotourism facilities, and development of management institutions.
Recommendations of the research include:
1. The success of ecotourism development in the Segara Anakan mangrove forest ecosystem will strongly depend on the integrity, uniqueness and condition of mangrove forest ecosystem in Segara Anakan. Therefore, its protection and preservation has to be done continuously through sedimentation management program and development of indigenous people participation program.
2.The proposed approach for sedimentation management includes reduction of erosion levels in the upland area of The Citanduy River Basin and reduction of sedimentation process in the Segara Anakan waters. The implementation should be conducted through strong collaboration with local Governments of West Java and Central Java.
3.The proposed approach for the development of local peoples participation includes the development of active participation of local people in every step of the activity from planning, to implementation, management and evaluation step. Development of passive participation will take place education and training, coaching and assistance in mangrove forest conservation and also in the area of food and drinks, accommodation, guiding and other tourism services.
4.The study focuses on the identification of problems related to ecotourism attraction. A complete study of the whole area of ecotourism has to include marketing and promotion aspects; therefore a study of the potential of the market for ecotourism development in the Segara Anakan mangrove forest ecosystem is also required.
References: 56 (1971-2000).
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T8593
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Widaningsih
"Pertambahan penduduk dari hari ke hari selalu meningkat, mengakibatkan kebutuhan pangan semakin meningkat pula. Peningkatan produksi pangan memerlukan lahan pertanian, sedangkan lahan pertanian dari hari ke hari luasnya cenderung berkurang.
Oleh karena itu satu-satunya usaha peningkatan produksi pertanian agar dapat mengimbangi pertambahan penduduk adalah melalui intensifikasi pertanian, khususnya melalui peningkatan mutu intensifikasi. Dalam peningkatan produksi pertanian, perlindungan tanaman mempunyai peranan yang penting dan menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari usaha tersebut. Pestisida merupakan bahan-bahan kimia atau alami yang digunakan untuk mengendalikan populasi organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama dengan cara membunuh organisme (hama, penyakit, gulma dan sebagainya).
Penggunaan pestisida meningkat dengan pesat, terutama di negara-negara berkembang, dimana pestisida dianggap sebagai suatu cara mudah untuk meningkatkan produksi dan seringkali secara aktif dipromosikan dan disubsidi. Namun kerugian dan bahaya penggunaan pestisida lambat laun sangat dirasakan oleh manusia diantaranya : hama menjadi resisten terhadap pestisida, yang kemudian memaksa penggunaan pestisida dalam dosis yang lebih tinggi, sehingga akhimya perlu diciptakan pestisida baru dengan biaya semakin mahal. Pestisida bukan hanya membunuh organisme yang menyebabkan kerusakan pada tanaman, namun juga membunuh organisme yang berguna seperti musuh alami hama. Populasi hama dan serangan hama sekunder bisa meningkat setelah penggunaan pestisida (resudensi).
Pestisida yang dipakai di lahan pertanian, hanya sebagian kecil mengenai organisme yang seharusnya dikendalikan, sebagian besar pestisida itu masuk ke dalam udara, tanah, atau air yang bisa membahayakan kehidupan organisme lain. Pestisida yang tidak mudah terurai, akan terserap dalam rantai makanan dan sangat membahayakan serangga, hewan pemakan serangga, burung pemangsa, dan pada akhirnya manusia (bioakumulasi).
Menyadari kian besarnya bahaya penggunaan pestisida, maka pemerintah mengintroduksikan konsep pengendalian berdasarkan pendekatan prinsip ekologis (lingkungan) dan ekonomi serta sosial yaitu Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Introduksi PHT dilakukan melalui penyuluhan rutin dan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu.
Penggunaan pestisida yang tidak selektif dapat menurunkan populasi musuh alami hama, serangga berguna dan makhluk bukan sasaran. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan keragaman spesies (diversitas spesies) dalam ekosistem pertanian tersebut yang mempengaruhi kestabilan ekosistem dan berarti pula telah terjadi penurunan kualitas lingkungan.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah pemakaian pestisida yang tidak selektif dapat mempengaruhi keragaman spesies serangga di ekosistem sawah?
2. Apakah pemakaian pestisida mempengaruhi populasi serangga hama ?
3. Apakah pemakaian pestisida mempengaruhi populasi serangga musuh alaminya (predator dan parasitoid telur)?
4. Apakah pemakaian pestisida dapat menimbulkan residu pada lahan pertanian dan gabah?
5. Apakah penggunaan pestisida dengan sistem Konvensional/Non PHT pada lahan sawah, efisien dibandingkan dengan sistem PHT?
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menelaah pengaruh pemakaian pestisida pada keragaman spesies/jenis serangga ekosistem sawah.
2. Menelaah pengaruh pemakaian pestisida pada populasi serangga hama.
3. Menelaah pengaruh pemakaian pestisida pada populasi serangga musuh alami (predator dan parasitoid telur).
4. Menelaah ada tidaknya residu pestisida pada lahan pertanian dan gabah.
5. Menelaah efsiensi yang diperoleh jika tidak menggunakan pestisida (sistem PHT).
Hipotesis penelitian ini adalah :
1. Pemakaian pestisida menurunkan keragaman spesies/jenis serangga di ekosistem sawah.
2. Pemakaian pestisida menurunkan populasi serangga hama.
3. Pemakaian pestisida menurunkan populasi serangga musuh alami (predator dan parasitoid telur).
4. Terdapat residu pestisida di lahan pertanian dan pada gabah.
5. Pemakaian pestisida, pada sistem Non PHT/Konvensional tidak efisien dibandingkan sistem PHT.
Metode penelitian eksperimen (Demonstrasi plot) di Desa Telagasari, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Menggunakan tiga petak lahan masing-masing berukuran 500 m2. Design penelitian One Way Anova, yaitu menguji antara petak Kontrol dengan petak PHT dan petak Non PHT. Parameter yang diamati : populasi dan jenis serangga hama; populasi dan jenis musuh alami (predator). Pengambilan sampel dilakukan pada sub-petak (petak contoh permanen) yang ditetapkan berdasarkan Diagonal System, dan pada masing-masing petak perlakuan terdapat 5 sub petak. Data dianalisis menggunakan SPSS (Statistical Produts and Service Solutions) yaitu Uji F atau Analisis Varian (ANOVA).
Hasil Penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Keragaman spesies serangga yang diperoleh pada petak PHT nilai rata-rata sebesar 1.554;1.864 lebih besar dari petak Non PHT (1.127:1.592) dan petak Kontrol (1.380;1.894), pada pertumbuhan fase vegetatif signifikan, dan pada fase generatif tanaman padi, tidak signifikan.
2. Populasi serangga hama ulat daun dan wereng coklat pada fase vegetatif, antara Kontrol (392), PHT (280) dan Non PHT (373) tidak signifikan, sedangkan populasi predator antara Kontrol (583), PHT (470) dan Non PHT (193) signifikan. Populasi serangga hama wereng coklat dan walang sangit (fase generatif sistem PHT (320) dan Non PHT (333) tidak signifikan antar perlakuan, sedangkan populasi predator antara Kontrol (376), PHT (342) dan Non PHT (188) signifikan.
3. Hasil analisis residu pada sampel lahan dan gabah menunjukkan bahwa pestisida yang digunakan selama penelitian di petak Non PHT/Konvensional tidak terdeteksi (tidak meninggalkan residu) demikian juga pada gabah.
4. Jumlah kelompok telur penggerek padi putih tertinggi dijumpai pada petak Kontrol 3 kelompok, diikuti petak PHT 1.66 kelompok dan masing-masing kelompok telur diparasit oleh parasitoid Telenomus sp. (yang persentase tingkat parasitasinya bervariasi), sedangkan terendah pada petak Non PHT yaitu 1.33 kelompok dan tidak terdapat parasitoid Telenomus sp.
5. Hasil gabah Kering Panen per Rumpun pada petak Kontrol dan petak PHT hampir sama (55.150 gramfrumpun), sedangkan pada petak Non PHT lebih rendah yaitu 51.49 gramlrumpun (tidak signifikan).
6. Jumlah malai per rumpun ketiga petak perlakuan hampir sama, pada petak Kontrol (17.99 malai per rumpun), petak PHT (18.14 malai per rumpun) dan Non PHT/Konvensional (18.14 malai per rumpun) dan tidak signifikan.
7. Pelaksanaan sistem PHT lebih efisien dibandingkan dengan sistem Konvensional, terutama terlihat dari penurunan jumlah dan frekuensi penggunaan pestisida. Pemakaian pestisida selama musim tanam menambah input akibat adanya biaya pengendalian OPT sebesar Rp. 628.0001Ha (Enam ratus dua puluh delapan ribu rupiah per hektar), belum termasuk ongkos pengamatan, sedangkan biaya produksi keseluruhan tanpa menggunakan pestisida sebesar Rp. 2.893.0001Ha (Dua juta delapan ratus sembilan puluh tiga ribu rupiah per hektar), jadi penerapan sistem PHT meningkatkan efisiensi sebesar 21.7% dari input.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Keragaman spesies serangga pada ekosistem sawah dengan penerapan sistem PHT, berkisar antara 0.908 sampai 3.122, lebih besar dibandingkan dengan sistem Non PHT yang berkisar antara 0.592 sampai 2.166. Pemakaian pestisida signifikan menurunkan keragaman spesies serangga di ekosistem sawah.
2. Penggunaan pestisida tidak signifikan menurunkan jumiah populasi serangga hama. Jumlah populasi serangga dengan penerapan sistem PHT sebesar 600 per 100 rumpun, sedangkan dengan sistem Non PHT sebesar 706 per 100 rumpun.
3. Penggunaan pestisida signifikan menurunkan jumlah populasi predator di ekosistem sawah. Jumlah populasi predator pada penerapan sistem PHT sebesar 812 per 100 rumpun dan dengan sistem Non PHT sebesar 381 per 100 rumpun. Penggunaan pestisida Spontan 400 WSC dan Furadan 3 G menyebabkan populasi parasitoid Telenomus sp. yang menetas dari telur penggerek batang padi putih (T. innotata) menurun.
4. Pestisida yang digunakan selama penelitian (2 minggu setelah tanam, pertengahan masa tanam dan 2 minggu menjelang panen) belum meninggalkan residu di tanah dan di gabah, namun demikian bukan berarti tidak berpotensi untuk menimbulkan residu. Hasil analisis tanah ditemukan residu pestisida yang tidak digunakan selama penelitian yaltu : 0.0002 ppm Lindane; 0.0002 ppm HEE dan 0.9859 ppm PCP (pada lahan PHT) serta, 0.0021 ppm Lindane; 0.0001 ppm HEE dan 0.1899 ppm PCP (pada lahan Non PHT).
5. Penerapan sistem PHT lebih efisien 21.7% dibandingkan sistem Non PHT/Konvensional yang menggunakan pestisida,dengan tidak memperhatikan Ambang Pengendalian dan keberadaan serangga musuh alami.
The total population is rising from day to day; it's also caused the need of food increasingly. The raise of food production needs a wide agriculture field, while it tends to decrease from day to day.
Therefore, the only effort of agriculture production increase in order to balance the increase population is to intensify the agriculture production, and the plant protection has very important role and to be unseperated part of such efforts. Pesticide is chemical substance or the nature used to control the disturbing organism population of plant (OPT), especially by exterminating the organism (pest, plant disease, weed, etc).
The use of pesticide is rapidly increasing, especially in the developing countries where the pesticide is considered as the easy ways to raise the production and it' frequently and actively promoted and subsidized. But, the loss and danger of pesticide utility is gradually experienced mostly by the people, among other things, the insects would be resistance against the pesticide, and they're forced to use it in the higher dosages. Finally, it's created new pesticide with the higher cost. Pesticide is not only exterminating the organism that caused the damages on the plants, but also exterminating the useful organisms such as natural enemies of insects. The insects? population and secondary insects attack can be increasing after the pesticide kills its natural enemies (resurgence).
The pesticide used in the agriculture field is only a small part about the organisme that should be controlled, and the most part of pesticide mixed in to the air, soil, or water that can be endanger other living organisms. The pesticide that is not easily mixed up, will absorbd in the food chains and it's very dangerous for the insects, insect eater of animal, bird attacker, and human in the end (bioaccumulation).
To realize the great deal of danger of pesticide utility, the Government introduces the control system based on the ecological, economical and social principle approach, namely Integrated Pest Management (IPM).
The introduction of IPM is implemented by giving the intensive information and Integrated Pest Management Field School. The unselected pesticide utility can decrease the natural enemies? population of insects, useful insects, an non-target insects. This case can cause the decrease of species diversity in the agriculture ecosystem that influences the ecosystem stability and it also means that it has decreased the environmental quality.
The problem in this investigation, as follows:
1. Can the unselected pesticide utility influence the species diversity of insects in the rice field ecosystem?
2. Does the pesticide utility influence the population of insects?
3. Does the pesticide utility influence the population of insects as its natural enemy (predators and parasitoids)?
4. Can the pesticide utility cause residual on the rice field and unhusked grains?
5. Will the pesticide utility with conventional system or non-IPM system on the rice field, be efficient than IPM system?
This investigation is intended to:
1. To study the influence of pesticide utility on the diversity of insect species on rice field ecosystem.
2. To study the influence of pesticide utility on the insect population.
3. To study the influence of pesticide utility on the insect population as natural anemy.
4. To study either existed or not of pesticide residual in the rice field and unhusked grains.
5. The pesticide utility, on non-IPM system/conventional system is not efficient than IPM system.
Investigation method experiments in Telagasari District, Telagasari -Subdistrict, Karawang Regency, West Java. By using the three plots of land and each of them has a size 500 m2. The investigation design of One Way Anova, is to examine among the control plot, 1PM plot and non IPM plot. The observed parameters are population and short of insects? species; population and short of natural enemy (predators). The sample catchment is implemented on the subplot (permanent sample plot) stated based on the Diagonal System, and each plot of treatment consists of 5 sub-plots. Analysis data is using SPSS (Statistical product and Service Solution), namely F test or Variant Analysis (Anova).
The result of investigation as follows:
1. The diversity of insect species obtained in IPM plot has average value as much as 1.554; 1.864 higher than Non IPM plot (1.127; 1.592) and Control plot (1.380; 1.894), on growth of significant vegetative phase is significant but generative phase is not significant.
2. Insects population of leave caterpillar and Nilaparvata lugens on the vegetative phase among the control (392), IPM (280) and non IPM (373) are not significant, while the predator?s population among the control (583), IPM (470) and non IPM (193) are significant. Insect population of N. lugens and Leptocorisa acuta on the generative phase among the IPM system (320) and non IPM system (333) are not significant, while the predator population among the control (376), IPM system (342) and non IPM system (188) are significant.
3. The residual analysis result on the soil sample and unhusked grains indicated that pesticide utilized during investigation in the non IPM system is not detected (not leaving residual).
4. Total egg group of Tryporiza inotata is highly found in the control plot (3 group), followed by the 1PM plot (1.66 group) and each of them were parisitating by Telenomus sp parasitoid (whose parasitation level percentage is varied), while the lowest nonlPM plot is 1.33 group and is not found parasitoid Telenomus sp.
5. Harvest of dry unhusked grain each cluster in the control plot and the IPM plot are almost the same (55.150 gram/cluster), while non IPM plot is lower, namely 51.490 gram/cluster (it's not significant).
6. Number of malai each cluster in three plots is almost the same. on the control plot (17.99 malai/cluster) is lower than 1PM plot (18.14 malai/cluster) and non IPM plot (18.14 malai/cluster) and it's not significant.
7. Implementation IPM system is more efficient than conventional/non IPM system, especially seen from the decrease of amount anf frequency of pesticide utility during the planting seasons will increase input resulted from plants-disturbing organism control cost as much as Rp. 628.000,00/Ha (six hundred and twenty eight thousand rupiah per hectare), and it's not included the cost of workers, hire of spray equipment, while the whole production cost without using the pesticide as much as Rp. 2.893.000,00/Ha (two million eight hundred and ninety three thousand rupiah per hectare), so the IPM system is increasing efficiently as much as 21.7 % from input.
The conclusion obtained from this investigation as follows:
1. The diversity of insect species on rice field ecosystem by using IPM system, approximately 0.908 up to 3.122 is higher than the non IPM system (0.592 upto 2.166). The pesticide utility is decreasing significant for diversity of insect species in the rice field ecosystem.
2. The pesticide utility is decreasing not significant for the amount of insect population. Total insect population with the IPM system application as much as 600 per 100 clusters, while using the non IPM system as much as 381 per 100 clusters.
3. The pesticide utility is decreasing significant for the amount of predator population, on the IPM system application as much as 812 per 100 clusters and the nonIPM system as much as 381 per 100 clusters.
4. The pesticide utility of Sponan 400 WSC and Furadan 3 G causes the population of parasitoid Telenomus sp.hatched from eggs of Tryporiza inotata, is decreasing. The pesticide utilized during the investigation is not left the residual in the soil and in the unhusked grains, but its not mean not potential residues. Soil analysis result is found unused residual pesticide during the investigation, namely 0.0002 ppm Lindane; 0.0002 ppm HEE and 0.9895 ppm PCP (on IPM plot) and 0.0021 ppm Lindane; 0.0001 ppm HEE and 0.1899 ppm PCP (on nonIPM plot).
5. The IPM system application is more efficient as much as 21.7 % than the non IPM/conventional system that used the pesticide, without paying attention to control balance and the insects existence as the natural enemies.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T9975
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marta Amnan
"ABSTRAK
Sungai Donan merupakan salah satu sungai di Kawasan Industri Cilacap, Jawa Tengah, yang digunakan untuk tempat pembuangan limbah. Beberapa industri besar yang terdapat di kawasan tersebut adalah kilang minyak Pertamina dengan kapasitas lebih dari 300.000 barel/hari, unit pengantongan pupuk PT Pupuk Sriwijaya, Pabrik Semen Nusantara, bengkel kapal, pabrik minyak kelapa dll.
Beberapa dasawarsa yang lalu Sungai Donan merupakan perairan yang kaya dengan komunitas biotik dan merupakan daerah penangkapan ikan dan udang yang cukup potensial. Seiring dengan perkembangan industri di wilayah tersebut kualitas dan kuantitas produksi perairan di daerah tersebut semakin manurial.
Logam berat banyak terdapat dalam limbah industri seperti industri penyulingan minyak bumi, pertambangan, pupuk, semen, pembakaran batu bara, kosmetika dan obat-obatan.
Merkuri (Hg) dan timah hitam (Pb) merupakan jenis logam berat yang paling berbahaya, karena dalam jumlah yang relatif rendah sekalipun sudah dapat mengganggu kesehatan manusia.
Dalam perairan, logam berat walaupun kadarnya relatif rendah, dapat diabsorbsi dan terakumulasi secara biologi oleh hewan air, dan akan masuk dalam sistem rantai makanan.
Keracunan logam berat yang bersifat kronis pada hewan air, menimbulkan gangguan meliputi : faktor-faktor genetik, pola pemijahan, alih energi, tingkah laku, kemampuan untuk berorientasi, menghindar dari musuh, migasi dan persaingan menurun. Gejala keracunan logam berat pada manusia, baik secara skut maupun kronis dapat mengakibatkan gangguan pada : (I) sistem syaraf. (2) kerusakan sistem pemafasan, fungsi hati, dan ginjal; (3) pendarahan; (4) gangguan pertumbuhan sel yang bersifat karsinogenik maupun teratogenik (5) gangguan terhadap pertumbuhan tulang; (6) gangguan terhadap fungsi mitochondria dan fungsi normal enzimatis; dan (7) kerusakan pada kulit.
Kadar logam berat dalam lingkungan perairan dapat dipantau dengan menganalisis contoh sedimen, air, dan organisme yang hidup di perairan tersebut Analisis terhadap organisme perairan dapat dilakukan karena logam berat dapat terasa mulai di-dalam organisme tersebut. Organisme perairan yang sering digunakan sebagai bioindikator pencemaran diantaranya adalah hewan-hewan moluska bentik, infauna maul= epifauna
Polymesoda sp merupakan salah satu jenis kerang yang banyak terdapat di perairan Sungai Donan, Cilacap. Bagi penduduk di sekitarnya, kerang jenis ini dimanfaatkan sebagai sumber gizi keluarga maupun untuk dipasarkan, karena itu jenis kerang ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup penting.
Kerang umumnya hidup dengan cara membenamkan diri di dalam dasar perairan (infauna). Cara hidup kerang yang bersifat menetap merupakan salah satu alasan yang menjadikan sering digunakan sebagai indikator dalam mendeteksi kasus pencemaran logam berat dalam linglamgan perairan.
Bertitik tolak dan hal tersebut, maka penelitian bertujuan untuk
a. Mengetahui besarnya kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp yang terdapat di Sungai Donan, Cilacap.
b. Mengetahui hubungan antara kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp dengan besar kandungan logam berat Hg dan Pb dalam air Sungai Donan, Cilacap.
c. Mengetahui hubungan antara kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp dengan besar kandungan logarn berat Hg dan Pb dalam sedimen Sungai Donan, Cilacap.
d. Mengetahui hubungan antara panjang tubuh Polymesoda sp dengan kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengambilan contoh dilakukan dengan metoda sistematik pada 5 (lima) titik pengamatan yaitu : (i) di belakang Kilarng Minyak Pertamina UP IV Cilacap; (ii) pada pertemuan antara Sungai Wuwu Cilik dengan Sungai Donan; (iii) di belakang PT. Cenjaco Cold Storage; (iv) di belakang bengkel kapal; (v) di sekitar muara Sungai Donan.
Pengambilan contoh dilakukan sebanyak tiga kali dengan selang waktu dua minggu. Parameter utama yang diamati meliputi kandungan logam berat Hg dan Pb dalam air, sedimen dan dalam tubuh Polymesoda sp. Sedangkan parameter lain yang diamati adalah kualitas fisika-kimia perairan yang meliputi suhu, salinitas, pH air, pH sedimen dan kandungan oksigen terlarut.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
a. Terdapat kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh Polymesada sp di Sungai Donan, Cilacap.
b. Semakin tinggi kandungan logam berat Hg dan Pb dalam air Sungai Donan semakin tinggi kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh Palymesoda sp.
c. Semakin tinggi kandungan logam berat Hg dan Pb dalam sedimen Sungai Donan semakin tinggi pula kandungan logam berat dalam tubuh Polymesoda sp.
d. Terdapat hubungan antara panjang tubuh dengan banyaknya kandungan logam berat Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a. Pengamatan terhadap parameter fisika kimia perairan Sungai Donan menunjukkan bahwa suhu air berkisar antara 21° - 31°C (rata rata 30,3°C); kandungan oksigen terlarut berkisar antara 4,9 - 6,2 ppm (rata-rata 5,58 ppm); pH air berkisar antara 6,25 - 7,62 (rata-rata 6,8); pH sedimen berkisar antara 5,8 - 6,9 (rata-rata 6,5); dan salinitas berkisar antara 15 - 28 per mil (rata-rata 20,2 per mil). Berdasarkan data parameter fisika kimia dapat disimpulkan bahwa perairan Sungai Donan termasuk perairan masih baik.
b. Kandungan logam berat Hg dalam air berkisar antara 0,004 - 0.025 ppm (rata-rata 0,01 ppm). Nilai tersebut sudah berada di atas nilai baku mutu-air golongan C (baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air adalah 0,002 ppm). Kandungan logam berat Hg dalam sedimen berkisar antara 2,276 - 14,446 ppm (rata rata 7,504 ppm). Kandungan Pb dalam air tidak terdeteksi oleh alat AAS. Sedangkan kandungan Pb dalam sedimen berkisar antara 14,914 - 35,446 ppm (rata-rata 21,252 ppm). Bila dibandingkan antara kandungan logam berat Hg dan Pb dalam air dengan Hg dan Pb dalam sedimen menunjukkan bahwa Hg dan Pb dalam sedimen jauh lebih tinggi.
c. Kandungan logam berat Hg dalam tubuh Polymesoda sp berkisar antara 2,258 - 5,770 ppm (rata-rata 4,190 ppm); sedangkan kandungan Pb dalam tubuh Polymesoda sp berkisar antara 3,030 - 9,524 ppm (rata-rata 5,609 ppm). Batas maksimum kandungan logam berat Hg dan Pb dalam makanan hasil laut yang boleh dikonsumsi menurut Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan adalah 0,5 ppm untuk Hg dan 2,0 ppm tmtuk Pb. Dengan demikian jumlah kandungan Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp sudah melebihi batas yang diizinkan.
d. Hubungan antara kandungan Hg dan Pb dalam air dengan Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp menunjukkan bahwa :
- Semakin tinggi kandungan Hg dalam air semakin tinggi pula kandungan Hg dalam tubuh Polymesoda sp.
- Hubungan antara Pb dalam air dengan Pb dalam tubuh Polymesoda sp tidak dapat dikorelasikan.
e. Hubungan antara kandungan Hg dan Pb dalam sedimen dengan Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan Hg dan Pb dalam sedimen akan semakin tinggi kandungan Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp.
f. Hubungan antara kandungan Hg dan Pb dalam tubuh Polymesoda sp dengan panjang tubuh menunjukkan bahwa semakin panjang tubuh Polymesoda sp akan semakin tinggi kandungan Hg dan Pb yang terakumulasi pada tubuh Polymesoda sp
g. Pencemaran Sungai Donan oleh logam berat Hg dan Pb mempunyai potensi yang cukup besar untuk dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan masyarakat terutama masyarakat nelayan setempat. Untuk mengetahui lebih mendalam tentang dampak pencemaran logam berat Hg dan Pb terhadap kesehatan masyarakat setempat perlu studi lebih mendalam.
Daftar Kepustakaan : 65 (1957 - 1994)

ABSTRACT
Evaluation of Hg and Pb Concentrations in the Polymesoda Sp Shell (A Case Study of the Donan River Ecosystem, Cilacap Industrial Zone)The Donan River is a river as a disposal waste in Cilacap industrial zone, Central Java. Big industries exist in that area are Pertamina refinery (capacity more than 300,000 barrellday), PT Pupuk Sriwijaya Fertilizer package unit, Nusantara Cement Manufacture, ships repair, palm oil processing, and so on. Long time ago, the water of Donan River is rich with biotic community and a potential area for fisheries. Nowadays, the quality and quantity of the water of Donan River is decreasing.
Industrial waste from refinery, mines, fertilizer, cement, coal burning, cosmetics and medicine contain of heavy metals. Mercury (Hg) and lead (Pb) are most dangerous heavy metal, because it small concentration of heavy metal can cause problem of human health.
In the waters, although concentration of heavy metal is small, it can be adsorbed and accumulated by biological process of water organisms and continues to enter the food chain system.
Chronis poisoning of heavy metals on aquatic organism causing problem on genetics, reproductive pattern, energy transfer, behavior, orientation capability, protection from the enemy, migration and decreasing of the competition. The symptoms of the heavy metal poisoning on human being cause problems on : (1) nervous system; (2) respiratory system, liver function, and kidney, (3) blooding; (4) cell growth (carcinogenic, teratogenic); (5) growth of bone; (6) mitochondria function and normal function of enzymatic; and (7) dermal.
Heavy metal concentration in the water can be detected with analysis of sediment, water and aquatic organisms from that area Analysis on aquatic organisms can be conducted because the heavy metals accumulate in the body of aquatic organisms. Aquatic organisms can be used as bioindicator of pollution such as benthic mollusca both infanna or epifauna benthic.
Polymesoda sp is one of the shell that is found in the water of Donan River, Cilacap. People who live surrounding Donan River consume this species as family nutrient resources and earn money from selling it. Therefore the species becomes an important economic natural resources for the people.
Generally, the shell lives and immerse in the bottom of the water (infauna). The permanent life style of the shell is one of the reason that the shell can be used as bioindicator in the water pollution due to heavy metal.
Objectives of the research :
a. To know concentration of the heavy metal Hg and Pb in the body of Polymesoda sp in the Donan River, Cilacap.
b. To know relationship between concentration of Hg and Pb in the body of Polymesoda sp and the concentration of Hg and Pb in the water of Donan River, Cilacap.
c. To know relationship between concentration of Hg and Ph in the body of Polyraesoda sp and the concentration of Hg and Pb in the sediment of Donan River, Cilacap.
d. To know relationship between length of the body of Polymesoda sp and the concentration of Hg and Pb in the body.
The methodology for this research was survey method The sampling was conducted by systematic sampling on 5 observations point i.e. : (i) behind the refinery of Pertamina ZIP N; (ii) in the fusion of Donan River and Wuwu Cilik River, (iii) behind PT Conjaco Cold Storage; (iv) behind ship repair, and (v) mouth ofDonan River.
The sampling conducted 3 times with interval 2 weeks_ Main parameter that observed were concentration of the heavy metal Hg and Pb in the water, in the sediment and body of Palymesoda sp. Another parameter was quality of the water of Donan River i.e. : temperature, salinity, pH of water, pH of sediment, and dilute oksigen (DO).
The hypothesis to be tested in the research are :
a. Concentration of heavy metal (Hg and Pb) in the body of Polymesoda sp from the Donan River, Cilacap.
b. The higher concentration of heavy metal (Hg and Pb) in the water of Donan River, cause the higher concentration of heavy metal Hg and Pb in the body of Polymesoda.
c. The higher concentration of heavy metal (Hg and Pb) in the sediment, cause the higher concentration of heavy metal Hg and Pb in the body of Polymesoda sp.
d. Relationship between body length and concentration of the heavy metal (Hg and Pb) in the body of Polymesoda sp.
Conclusion of the research
a. Physical and chemical observation to the water of Donan River indicate that the temperature range of the water is 29° - 31°C (mean 30.3°C); the dilute oksigen is 4.9 - 6.2 ppm (mean 5.58 ppm); the pH of water is 6.25 - 7.62 (mean 6.6); the pH of sediment is 5.8 - 6.9 (mean 6.5); and the salinity is 15 - 28 permit (mean 20.2 permil). Based on the physical and chemical data of the waters it is concluded that the water of Donan River is not polluted by organic materials.
b. The range of concentration of the heavy metal Hg in the water is 0.004 - 0.025 ppm (mean 0.01 ppm). The value indicates that the mean concentration of Hg in the water of Donan River is higher than the threshold limit values (TLV) according to Regulation of the Government Republic of Indonesia Number 20 Year 1990 concerning of the Water Pollution Management (TLV for Hg is 0.002 ppm). The range of Hg concentration in the sediment is 2.276 - 14.446 ppm (mean 7.504 ppm). Concentration of Pb in the water can not detect by AAS instrument. The range of Pb concentration in the sediment is 14.914 - 35.446 ppm (mean 21.252 ppm). The comparison between the concentration of heavy metal Hg and Pb in the sediment and the concentration of heavy metal Hg and Pb in the water, indicates that the concentration of Hg and Pb in the sediment in higher than concentration of Hg and Pb in the water.
c. The range of Hg concentration in the body of Polymesoda sp is 2.258 - 9.770 ppm (mean 4.190 ppm) and the range of Pb concentration is 3.030 - 9.524 ppm (mean 5.609 ppm). According to Directorate General of Food and Drug Control, maximum limit concentration of Hg and Pb in the food from the sea product is 0.5 ppm for Hg and 2.0 ppm for Pb. Therefore, the concentration of Hg and Pb in the body of Polymesoda sp are higher than TLV.
d. Relationship between concentration of Hg and Pb in the waters and Hg and Pb in the body of Polymesoda sp indicate that :
- The higher concentration of Hg in the water, the higher concentration of Hg in the body of Polymesoda s-p.
- There is no relationship between concentration of Pb in the water and concentration of Pb in the body of Polymesoda .sp.
e. Relationship between concentration of Hg and Pb in the sediment and concentration of Hg and Pb in the body of Polymesoda sp. indicates that the higher concentration of Hg and Pb in the sediment cause the higher concentration of Hg and Pb in the body of Polyrnesoda sp.
f. Relationship between concentration Hg and Pb in the body of Polymesoda sp. and body length indicates that the longer the body of Polymesoda sp, the higher concentration Hg and Pb accumulated in the body of Polyrnesoda sp.
g. Pollution of heavy metal Hg and Pb in the Donan River as a pottential problem on public health especially on local fisherman. To know about effect of heavy metal pollution to public health is needed other study. In order to Minamata case not occur in the fisherman surrounding Donan River, continue monitoring to the concentration of heavy metal in Donan River is needed. Beside that the control of disposal waste water from the industrial zones have to conducted and followed by law enforcement.
Number of References : 65 (1957 - 1994)"
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lewoleba, Gregorius Goran
"Interaksi antara manusia dengan lingkungan pada hakekatnya berkembang sebagai perwujudan tanggapan aktif manusia terhadap tantangan yang dihadapi dalam suatu ekosistem. Dengan pegetahuan kebudayaan yang dimilikinya, manusia berusaha melihat, memahami, memilah-milahkan gejala untuk kemudian merencanakan tindakan dan menentukan sikap dalam beradaptasi terhadap lingkungannya dengan mengembangkan strategi yang dianggap effektif.
Upaya pemenuhan kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidupnya senantiasa ditempuh dengan berbagai macam cara antara lain melalui kegiatan pertanian. Aktivitas manusia dalam bidang pertanian tidak lain merupakan pencerminan interaksi antara lingkungan dengan kemampuan manusia untuk mengubah dan mentransfer energi yang diperlukan dalam hidupnya. Meskipun demikian, hal ini tergantung dari kondisi ekosistem yang memberi peluang bagi usaha manusia untuk mempertahankan hidupnya, di samping pemahaman penduduk tentang lingkungannya.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan mengambil 120 Kepala Keluarga (KK) sebagai responden yang dipilih secara random pada 3 buah desa yang ditentukan secara purposive. Metodologi yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terpimpin, wawancara mendalam dan studi kepustakaan, serta pengamatan terlibat.
Dengan memperhatikan latar belakang lingkungan dan masyarakatnyat maka timbul pertanyaan bagaimana penduduk setempat bertahan hidup di lingkungan yang mempunyai kondisi fisik yang "kurang menguntungkan", apabila dilihat dari mata pencaharian mereka, khususnya dalam bercocok tanam. Lebih lanjut hal itu menunjukan bahwa betapapun "kerasnya" kondisi lingkungan penduduk setempat ternyata masyarakat dapat mengelola sumberdaya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai perwujudan adaptasi aktif mereka. Oleh karena itu timbul pertanyaan lebih lanjut bagaimana masyarakat petani memahami lingkungannya ? Bagaimana mereka sampai pada keputusan beradaptasi terhadap lingkungannya dan bertahan hidup dalam kondisi fisik yang kurang mengunungkan, dengan mengembangkan pencaharian utama bercocok tanam ?
Secara umum penelitian ini dimaksud untuk memperoleh pengertian bagaimana ekosistem dan kebudayaan mempengaruhi pilihan strategi adaptasi penduduk di lingkungan savana. Lebih lanjut penelitian ini secara khusus bertujuan :
1) Untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknologi terhadap kemampuan adaptasi masyarakat petani.
2) Untuk mengetahui pengaruh tingkat sosial petani terhadap kemampuan beradaptasi.
3) Untuk mengetahui pengaruh tingkat kebutuhan hidup masyarakat petani terhadap kemampuan beradaptasi.
4) Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan masyarakat petani terhadap kemampuan beradaptasi.
5) Untuk mengetahui pengaruh orientasi pasar masyarakat terhadap kemampuan beradaptasi
6) Untuk mengetahui pengaruh orientasi kerja masyarakat petani terhadap kemampuan beradaptasi.
7) Untuk mengetahui strategi adaptasi yang paling relevan agar dapat meningkatkan taraf hidup dengan tetap menjaga keseimbangan dan stabilitas ekosistem savana.
8) Untuk mengetahui pengaruh lingkungan dalam menentukan strategi adaptasi.
Sebagai implikasi dari keadaan lingkungan alam yang kurang menguntungkan, maka masyarakat petani di Kecamatan Amarasi menentukan strategi tindakan untuk beradaptasi dengan lingkungannya melalui kegiatan usaha tani terpadu di atas lahan kering. Bentuk kegiatan (dalam pengertian luas) yang dominan adalah perladangan berpindah dengan sistem tebas bakar dan penggembalaan ternak dengan sistem lepas liar.
Sebagai akibat dari bentuk kegiatan pertanian seperti tersebut di atas, maka semakin memperbesar areal lahan kritis dalam ekosistem savana yang pada gilirannya menjadi faktor menyebab proses perusakan lingkungan.
Akan tetapi berdasarkan hasil pengalaman yang diwarisi secara turun temurun dari para pendahulunya, masyarakat petani di Kecamatan Amarasi dapat bertahan hidup dalam ekosistem savana yang demikian itu. Hal ini disebabkan karena masyarakat petani memiliki "kearifan lingkungan" untuk menetapkan strategi beradaptasi, baik adaptasi secara ekonomis maupun adaptasi secara ekologis.
Adaptasi ekologis yang cukup efektif dan masih relevan dilakukan oleh masyarakat petani di Kecamatan Amarasi adalah sistem lamtoronisasi.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa kemampuan masyarakat petani beradaptasi terhadap ekosistem savana dipengaruhi oleh cultural core (inti kebudayaan) yang meliputi aspek sosial budaya, sosial ekonomi dan penguasaan teknologi yang dijabarkan ke dalam beberapa variabel yaitu orientasi kerja, kebutuhan hidup dan orientasi pasar. Sedangkan variabel yang tidak mempunyai hubungan pengaruh dengan kemampuan beradaptasi dari masyarakat petani adalah status sosial, tingkat pendidikan dan tingkat penguasaan teknologi.

Interaction among humans with their environment is basically progressing as a manifestation of active responses against challenges met in any ecosystem. With their cultural knowledge, humans try to see, understand and identify symptoms, plan their actions and determines attitudes in adapting to the environment by developing strategies, which are supposed to be effective.
Efforts to fulfill human necessities in order to survive are always achieved through various ways such as through agriculture represent reflection of interactions between environmental condition and human ability to modify natural resources and transferring them into energy they need yet; this depends on the ecosystem condition that gives opportunity for humans to survive, beside people is understanding about their environment.
This research is carried out in the Sub-District of Amarasi, District of Kupang, East Nusa Tenggara; using 120 heads of household (K<) as respondents, purposively selected by random sampling from villages.
Methodological approach used is descriptive qualitative, where data collection was conducted with the help of guided interviews and depth interview, supported by Library Studies, and participant observation.
Taking the background of environment into consideration, there is question as to how the local inhabitants in the ecosystem could survive in the ecosystem that has physical condition, which is less profitable seen from their way of living, especially in cultivation. It was also indicated how hard the local ecosystem condition might be. In reality the inhabitants are able to manage the available resources to fulfill their necessities as a manifestation of their active adaptation. Further questions are how the peasant community perceives their ecosystem and how they arrive on a decision to adapt to their ecosystem and survive in a natural condition, which is less profitable, by developing cultivation as the main economic activity. This research is meant to study how ecosystem and cultural affects community strategic adaptation alternative in a savanna ecosystem.
Further, this research is especially supposed
1) To know the influence of technology application on the adaptation ability of the peasant community.
2) To know the influence of life necessities standard of the peasant community on their adaptation ability.
3) To know the influence of education level of the peasant community on their adaptation ability.
4) To know the influence of social status of the peasant community on their adaptation ability.
5) To know the influence of market orientation of the peasant community on their adaptation ability.
6) To know the influence of work orientation of the peasant community on their adaptation ability.
7) To know the strategic adaptation which is most relevant in order to obtain living standard increase by keeping the harmony and stability of the savanna ecosystem.
8) To know the influence of environment in deciding strategic adaptation.
As implication of the condition of the natural ecosystem, which is less profitable, the peasant community in the Sub-District of Amarasi determine their strategic adaptation to their environment by way of integrated cultivation activity on the dry fields. The dominant cultivation activities (in broad meaning) are slash and burn shifting cultivation system and natural animal (wildlife) pastoral system.
As result from such kind of activities, critical areas are extending, causing environmental deteriorations.
But, based on experiences, which are inherited form, their ancestors, from generation to generation the peasant community in the Sub-District of Amarasi has been able to survive in the savanna ecosystem. This is due to the fact that the peasant community have "environmental wisdom" to determine strategic adaptation, either economic or ecologic. Ecologic adaptation, which is still effective and relevant that performed by the peasant community in .the Sub-District of Amarasi is "Lamtoro cultivation system". In this research it was found that the peasant community's ability in adapting themselves to the savanna ecosystem is being affected by their cultural core that cover their cultural, social, and economic aspects, and their technological mastery that are formulated in some variables i.e. work orientation, life necessities and market orientation. Whereas variables that have no influences on the adaptation ability of the peasant community are social status, educational level and technological mastery.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>