Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pelawi, Grace Mathilda
"ABSTRAK
Skripsi ini berusaha menunjukkan bagaimana masalah dislokasi timbul sebagai akibat dari ke-half-breed-an tokoh-tokohnya dan bagaimana mitos Indian berfungsi sebagai jalan keluar dalam memecahkan masalah dislokasi tersebut di dalam novel-novel Ceremony dan The Woman Who Owned The Shadows. Di dalam Ceremony, Tayo, tokoh utamanya, digambarkan sebagai half-breed yang amat menderita akibat kuatnya tekanan dari masyarakat Indian maupun masyarakat kulit putih. Kuatnya tekanan ini mengakibatkan is tidak mempunyai `tempat berpijak' dan menderita masalah dislokasi. Masalah dislokasi adalah kondisi pars tokoh Indian yang mengalami kesulitan dalam menempatkan `pikiran' mereka (yang berwujud imajinasi ataupun mimpi) ke dalam konteks waktu dan tempat yang sesuai dengan kehidupannya di dunia nyata akibat adanya perbenturan budaya dengan masyarakat kulit putih/dunia Barat (sebagai konsekuensi dari kondisi mereka yang half-breed). Tokoh Tayo...

"
1996
S14077
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arin Hasanudin
"Masyarakat perkotaan berisiko mengalami kecelakaan yang menyebabkan fraktur.  Peningkatan jumlah kendaraan  bermotor  dan  padatnya  populasi serta pola aktivitas masyarakat perkotaan yang serba terburu-buru menyebabkan fraktur seperti fraktur hip.  Salah satu upaya manajemen fraktur yaitu Total Hip Replacement (THR) yakni pergantian tulang  sendi  yang patah dengan protesis. Karya ilmiah ini disusun berdasarkan asuhan keperawatan yang dilakukan mahasiswa selama 3 minggu di lantai 4 Gedung A RS Ciptomangunkusumo Jakarta.
Tulisan ini difokuskan pada pasien fraktur femur post Total Hip Replacement. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, abservasi klien, catatan individu, rekam medik dan dokumentasi proses keperawatan yang dilakukan selama 4 hari (8-11 Mei 2019). Data yang telah dikumpul dianalisis untuk  melihat masalah keperawatan yang dialami klien serta meninjau keefektian intervensi edukasi pencegahan dislokasi yaitu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien terkait hal apa yang perlu diperhatikan dan dihindari agar tidak terjadi dislokasi dan melakukan latihan kekuatan otot seperti : angkle pump, quad sets, glut sets, heel sets, dan short arc quad.
Hasil yang didapatkan klien mampu melakukan latihan kekuatan otot dan mempercepat mobilisasi serta klien tidak terjadi dislokasi hip replacement. Latihan  kekuatan otot sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya dislokasi pada pasien post THR dan meningkatkan kekuatan otot dalam melakukan mobilisasi klien serta meminimalkan komplikasi dari fraktur. Dalam memberikan asuhan keperawatan pasien post THR perawat memberikan asuhan keperawatan dengan berulang kali dan menggunakan leflet agar klien mudah mengingat dan melakukannya kembali dan sebaiknya edukasi dilakukan saat pasien preoperasi dan post operasi THR.

Urban communities are at risk of having an accident that causes a fracture. Increasing the number of motorized vehicles and the density of the population and the pattern of activities of urban communities that are in a hurry cause fractures such as hip fractures. One attempt at fracture management is Total Hip Replacement (THR), which is a broken joint replacement with a prosthesis. This scientific work was prepared based on nursing care carried out by students for 3 weeks on the 4th floor of Building A, Ciptomangunkusumo Hospital, Jakarta.
This paper focuses on femur fracture patients post Total Hip Replacement. As for the data collection techniques used include interviews, client attendance, individual records, medical records and documentation of the nursing process carried out for 4 days (8-11 May 2019). Data that has been collected is analyzed to see the nursing problems experienced by the client and review the effectiveness of dislocation prevention education interventions, namely providing health education to clients regarding what needs to be considered and avoided so as not to dislocate and do muscle strength training such as angkle pump, quad sets, glut sets, heel sets, and quad short arc.
The results obtained by the client are able to do muscle strength training and accelerate mobilization and the client does not have a hip replacement dislocation. Muscle strength training is very useful for preventing dislocation in post THR patients and increasing muscle strength in mobilizing clients and minimizing complications from fractures. In providing nursing care for post-THR patients nurses provide nursing care repeatedly and use leaflets so that clients are easy to remember and do it again and education should be done when the patient is preoperative and post-THR surgery.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Anggoro Jati
"Pendahuluan
Dislokasi pasca tindakan total hip replacement primer merupakan komplikasi pascaoperatif yang serius dan dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian dislokasi pascaoperatif pada pasien yang menjalani prosedur THR di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta, selama periode tahun 2018 hingga 2024.
Metode
Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan desain kasus-kontrol. Dari 999 pasien THR primer di RSCM dan RSUP Fatmawati, terdapat 72 kasus dislokasi. Penelitian ini melibatkan 46 pasien dislokasi serta 65 pasien yang tidak dislokasi. Data pasien diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan metode statistik univariat, bivariat, dan multivariat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian dislokasi. Posisi komponen prostetik dinilai melalui radiografi konvensional anteroposterior panggul.
Hasil
Dari total 111 pasien, sebanyak 46 pasien mengalami dislokasi pascaoperatif (kelompok kasus), sedangkan 65 pasien tidak mengalami dislokasi (kelompok kontrol). Faktor-faktor risiko yang terbukti bermakna secara statistik antara lain: usia >60 tahun, jenis kelamin perempuan, indeks massa tubuh >25, diagnosis trauma, malposisi komponen asetabular, ukuran kepala femur <32 mm, teknik fiksasi cemented, durasi operasi >120 menit, pembedahan posterior, restorasi offset femoral tidak adekuat, posisi menyilangkan kaki atau fleksi panggul >90 derajat, serta riwayat operasi pinggul sebelumnya. Dari seluruh faktor tersebut, malposisi komponen asetabular merupakan faktor dominan yang paling berpengaruh.
Kesimpulan
Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian dislokasi pasca tindakan THR primer. Malposisi komponen asetabular ditemukan sebagai faktor paling dominan dan perlu menjadi perhatian utama dalam perencanaan operasi serta manajemen pascaoperatif.

Introduction
Dislocation following primary total hip replacement (THR) is a serious postoperative complication that can significantly impact a patient's quality of life. This study aims to identify the risk factors associated with postoperative dislocation among patients who underwent THR at Dr. Cipto Mangunkusumo National Referral Hospital (RSCM) and Fatmawati Central General Hospital (RSUP Fatmawati) in Jakarta between 2018 and 2024.
Methods
This study was a retrospective study with a case-control design. Of the 999 primary THR patients at RSCM and RSUP Fatmawati, there were 72 cases of dislocation. This study involved 46 dislocated patients and 65 non-dislocated patients. Patient data were obtained from medical records and analyzed using univariate, bivariate, and multivariate statistical methods to identify factors contributing to the occurrence of dislocation. The position of the prosthetic components was assessed using conventional anteroposterior radiography of the pelvis.
Results
Of the 111 patients included, 46 experienced postoperative dislocation (case group), while 65 did not (control group). Statistically significant risk factors included age >60 years, female sex, body mass index >25, traumatic diagnosis, malposition of the acetabular component, femoral head size <32 mm, cemented fixation technique, operative duration >120 minutes, posterior surgical approach, inadequate restoration of femoral offset, crossing legs or hip flexion >90 degrees, and a history of prior hip surgery. Among these, malposition of the acetabular component emerged as the most dominant factor.
Conclusion
This study identified multiple risk factors for dislocation following primary THR. Malposition of the acetabular component was the most influential factor and should be a primary consideration in surgical planning and postoperative care.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Kartika Sari
"Latar Belakang. Tatalaksana optimal diperlukan pada kasus instabilitas patella karena puncak insidensinya terjadi pada remaja usia 11 hingga 14 tahun dengan angka rekurensi yang tinggi, serta risiko instabilitas dan deformitas yang menetap. Terdapat perbedaan tatalaksana antara dislokasi patella rekuren dengan habitualis sehubungan dengan etiologi multipel yang mendasari, namun hingga saat ini belum ditemukan adanya rekomendasi tatalaksana yang memberikan luaran terbaik.
Metode. Studi ini menggunakan desain systematic review berdasarkan metode Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) yang dilakukan pada bulan Agustus - September 2023. Penelusuran literatur dilakukan menggunakan sumber yang dipublikasi melalui online journal dan online database (PubMed, EMBASE, Scopus, Ebsco, dan Proquest) dengan tidak membatasi waktu, namun terbatas pada artikel berbahasa Inggris.
Hasil. Pencarian literatur menghasilkan 385 artikel, dengan 5 artikel memenuhi kriteria inklusi penelitian. Sebanyak 44 pasien anak (50 lutut) yang dilakukan operasi diikutsertakan dalam penelitian ini. Hampir seluruh studi yang di inklusi melaporkan tercapainya ROM lutut yang normal pasca operasi. Secara keseluruhan, ditunjukkan adanya perbaikan dari rerata skor fungsional lutut (Skor Kujala dan Lysholm) pasca operasi pada seluruh subjek studi. Dalam hal rekurensi, salah satu studi melaporkan kejadian rekurensi pada 1 (2%) pasien, sedangkan dalam hal komplikasi, nyeri pasca operasi menjadi komplikasi yang paling banyak ditemukan, yakni pada 10 (20%) lutut. Analisis statistik kemudian dilakukan pada luaran studi luaran klinis, rekurensi, dan komplikasi dimana hasil menunjukkan perbedaan yang signifikan antar studi (p <0.001) pada luaran klinis dan komplikasi. Analisis kemudian dilanjutkan dengan analisis post- hoc untuk mencari perbedaan paling signifikan antar studi. Secara keseluruhan, didapatkan perbaikan pada hasil luaran fungsional pasca operasi. Hasil analisis statistik pada luaran fungsional dan komplikasi menunjukkan perbedaan yang signifikan antar studi. Hal ini dapat diakibatkan perbedaan komorbiditas pada populasi antar studi.
Kesimpulan. Studi-studi yang diinklusi merupakan studi kohort dan bersifat tidak homogen sehingga belum bisa disimpulkan teknik mana yang paling baik. Metode paling efektif masih terus dikembangkan dengan melakukan modifikasi serta kombinasi dari teknik-teknik yang sudah ada.

Introduction. Optimal management is needed in cases of patellar instability because the peak incidence occurs in adolescents aged 11 to 14 years with a high recurrence rate, as well as a risk of persistent instability and deformity. There are differences in management between recurrent and habitual patellar dislocations due to the multiple underlying etiologies, but to date there has been no recommendation for treatment that provides the best outcomes.
Method. This was a systematic review conducted based on the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) method and carried out from August to September 2023. The literature search was carried out using sources published through online journals and databases (PubMed, EMBASE, Scopus, Ebsco, and Proquest) with no time limits, but limited to English language articles.
Result. The literature search yielded 385 articles, with 5 articles meeting the study inclusion criteria. A total of 44 pediatric patients (50 knees) who underwent surgery were included in this study. Almost all of the included studies reported achieving normal knee ROM after surgery. Overall, there was an improvement in the mean knee functional scores (Kujala and Lysholm Scores) after surgery in all study subjects. In terms of recurrence, one study reported recurrence in 1 (2%) patients, while in terms of complications, postoperative pain was the most commoncomplication,namelyin10 (20%) knees. Statistical analysis was then performed on the study outcomes of functional outcomes, recurrence, and complications where the results showed significant differences between studies (p < 0.001) on functional outcomes and complications. The analysis was then continued with post-hoc analysis to determine the most significant differences between studies. Overall, there was an improvement in postoperative functional outcomes. The results of statistical analysis on functional outcomes, and complications showed significant differences between studies. This result could be caused by the differences in comorbidities in the population between studies.
Conclusion. The included studies were cohort studies and not homogeneous so it could not be concluded which technique was best. The most effective methods are still being developed by modifying and combining existing techniques.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library