Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ferina Ihsani Ekawati
"Palm Oil Mill Effluent (POME) merupakan produk samping dari kegiatan pengolahan kelapa sawit yang berpotensi mencemari lingkungan jika dibuang secara langsung karena tingginya nilai Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), dan Total Suspended Solid (TSS). Walau demikian, POME mengandung kandungan organik yang mendukung habitat bakteri anaerobik penghasil hidrogen. Fermentasi gelap merupakan salah satu pendekatan dalam pengolahan POME di mana dalam prosesnya mampu menghasilkan biohidrogen selain mengatasi masalah limbah. Biohidrogen merupakan sumber energi hijau dan berkelanjutan karena tidak melepaskan produk samping yang berbahaya bagi lingkungan. Pada penelitian ini dilakukan studi pengaruh konsentrasi karbon:nitrogen:fosfor (C:N:P) dalam meningkatkan produksi biohidrogen menggunakan bakteri Enterobacter aerogenes. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi produktivitas bakteri dan hasil total hidrogen adalah sumber nutrien C:N:P dan konsentrasinya. Media yang digunakan adalah POME steril dengan pH 7, fruktosa sebagai sumber karbon, NH4Cl sebagai sumber nitrogen, KH2PO4 sebagai sumber fosfor, dan 5% inokulum bakteri Enterobacter aerogenes dengan inkubasi (24-96 jam, anaerobik, tanpa agitasi, suhu 37oC).  Konsentrasi C:N:P optimum diperoleh pada konsentrasi 5000:500:50 ppm dengan persentase H2 sebesar 1,91%, 12,27%, 18,16%, and 21,33% pada waktu inkubasi 24, 48, 72, dan 96 jam. Terdapat penyisihan nilai COD, BOD, dan TSS terbesar pada POME hasil degradasi bakteri Enterobacter aerogenes, pada variasi konsentrasi C:N:P optimum dengan persentase masing-masing yaitu 89,92%, 84,97%, dan 86,12% pada waktu inkubasi 96 jam.

Palm Oil Mill Effluent (POME) contains organic substances that support the habitat of hydrogen-producing anaerobic bacteria and a by-product of palm oil processing with potential environmental pollution if disposed directly due to its high Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), and Total Suspended Solid (TSS) value. Dark fermentation is one of the approaches in POME processing to produce biohydrogen in addition to overcome waste problem. Biohydrogen is a green and sustainable energy source because does not release harmful by-products for environment. In this research, the effect of carbon:nitrogen:phosphorus (C:N:P) concentrations in order to increase biohydrogen production by using the bacterium Enterobacter aerogenes was conducted. One of the main factors affecting bacterial productivity and total hydrogen yield is the source of C:N:P nutrients and concentrations. The media used were sterilized POME with pH 7, fructose as a carbon source, NH4Cl as a nitrogen source, KH2PO4 as a phosphorus source, and 5% of Enterobacter aerogenes inoculum with incubation (24-96 hours, anaerobic, without agitation, temperature of 37oC). The optimum concentration of C:N:P was obtained at a concentration of 5000:500:50 ppm with the proportion of H2 of 1.91%, 12.27%, 18.16% and 21.33% at incubation times of 24, 48, 72 and 96 hours. The highest removal of COD, BOD, and TSS in POME degradation of Enterobacter aerogenes bacteria, with respective percentage of 89,92%, 84,97%, and 86,12% on the 96th hours of incubation time."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nandanawa Aqilah
"Hidrogen merupakan salah satu sumber energi alternatif yang menjanjikan sebab terdapat potensi proses produksi tanpa emisi. Skema produksi hidrogen dapat melalui proses termokimia, biokimia, ataupun elektrokimia. Metode termokimia memiliki konversi yang tinggi namun menghasilkan emisi yang cukup besar. Di sisi lain, proses biokimia tidak menghasilkan emisi yang tinggi akan tetapi biaya yang tinggi dan konversi yang rendah. Penelitian ini menganalisis aspek teknis, lingkungan, dan ekonomi dengan mengevaluasi yield gas hidrogen, emisi CO2, dan levelized cost of hydrogen (LCOH). Perhitungan emisi mencakup scope 1 & 2. Percobaan dark fermentation dilakukan pada suhu 85°C menggunakan bakteri thermotoga neapolitana dengan variasi konsentrasi inokulum (0,3-0,7 g/L) pada perangkat lunak SuperPro Designer. Variasi metode pretreatment juga dilakukan antara metode steam explosion dan hidrolisis asam. Percobaan gasifikasi dilakukan pada perangkat lunak Aspen Plus V11 dengan variasi rasio uap-biomassa (0,8-1,2) dan variasi suhu (750-950°C). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa dalam konfigurasi proses dengan hasil hidrogen tertinggi, hasil yield gasifikasi lebih tinggi (0,71 m3/kg jerami padi) dibandingkan proses dark fermentation (0,067 m3/kg jerami padi). Sedangkan dalam hal emisi yang dihasilkan dark fermentation unggul secara signifikan yaitu hanya sebesar 501 kg CO2eq, dimana gasifikasi menghasilkan 1480 ton CO2eq. Secara harga pokok produksi metode gasifikasi memiliki harga yang lebih rendah sekitar 0,7 USD/m3 dibandingkan dark fermentation yang mencapai 2,98 USD/m3. Jadi, dalam segi yield dan LCOH metode gasifikasi lebih unggul daripada dark fermentation. Namun, dark fermentation lebih baik dari segi emisi dibandingkan gasifikasi.

Hydrogen represents a promising alternative energy carrier due to its potential for emission-free production. Various production pathways are available, including thermochemical, biochemical, and electrochemical processes. Thermochemical methods generally offer high conversion efficiencies but are accompanied by substantial greenhouse gas emissions. In contrast, biochemical processes such as dark fermentation tend to generate lower emissions but are hindered by low conversion rates and high production costs. This study presents a comparative assessment of the technical, environmental, and economic aspects of hydrogen production via dark fermentation and gasification. Emission calculations cover scopes 1 & 2. The analysis focuses on hydrogen yield, carbon dioxide equivalent (CO₂eq) emissions, and levelized cost of hydrogen (LCOH). Dark fermentation was simulated at 85°C using Thermotoga neapolitana with varying inoculum concentrations (0.3–0.7 g/L) and different pretreatment methods, namely steam explosion and acid hydrolysis, using SuperPro Designer. Gasification was modeled in Aspen Plus V11 with variations in steam-to-biomass ratio (0.8–1.2) and operating temperature (750–950°C). Results indicate that gasification yielded significantly more hydrogen (0.71 m³/kg rice straw) compared to dark fermentation (0.067 m³/kg rice straw). However, dark fermentation resulted in considerably lower emissions (501 kg CO₂eq) relative to gasification (1480 tons CO₂eq). From an economic perspective, gasification also achieved a lower LCOH at approximately 0.7 USD/m³, compared to 2.98 USD/m³ for dark fermentation. Overall, while gasification demonstrates superior yield and economic performance, dark fermentation offers notable environmental benefits"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library