Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
Shofiyah Izdihar Binauf
"Persepsi kinesiophobia merupakan ketakutan berlebihan dan tidak rasional terhadap gerakan disebabkan oleh penghindaran rasa sakit yang berakhir memperburuk prognosis pada lansia dengan nyeri punggung bawah kronik non-spesifik (NSCLBP). Ketakutan untuk bergerak ini dapat menghambat proses penyembuhan dan memperburuk disabilitas fungsional. Latihan core stability yang spesifik telah terbukti efektif dalam menangani keluhan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh latihan core stability dalam mengurangi persepsi kinesiophobia pada lansia dengan NSCLBP. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 24 subjek lansia perempuan dengan NSCLBP berusia 55-74 tahun dibagi secara acak ke dalam dua kelompok. Kelompok intervensi menerima latihan core stability dengan rancangan khusus bagi lansia selama 12 sesi (30-45 menit/set) disertai edukasi leaflet. Sedangkan, kelompok kontrol hanya menerima edukasi leaflet satu kali. Evaluasi dilakukan menggunakan TAMPA Scale for Kinesiophobia (TSK), Visual Analog Scale (VAS), Sahrmann Core Stability Test (SCST), dan Oswestry Disability Index (ODI) dengan analisis data menggunakan paired t-test, independent t-test, dan uji PROCESS macro. Hasil menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada kelompok intervensi terhadap TSK (p=0,000), VAS (p=0,000), dan ODI (p=0,000), serta peningkatan SCST (p=0.006). Perbandingan antar kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan, kecuali pada VAS (p=0,096). Analisis peran mediator tidak menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik terhadap efek tidak langsung dalam pengurangi persepsi kinesiophobia. Kesimpulannya, latihan core stability efektif dalam mengurangi persepsi kinesiophobia pada lansia dengan NSCLBP. Intervensi ini direkomendasikan sebagai pendekatan fisioterapi yang komprehensif, mencakup aspek fisik dan psikologis dalam proses rehabilitasi lansia.
Kinesiophobia is an excessive and irrational fear of movement caused by pain avoidance, which can worsen the prognosis in elderly individuals with non-specific chronic low back pain (NSCLBP). This fear of movement may hinder the healing process and increase functional disability. Specific core stability exercises have been shown to be effective in improving this condition. This study aimed to analyse the effect of core stability exercises on reducing the perception of kinesiophobia among elderly with NSCLBP. This research used a quasi-experimental design with a quantitative approach. 24 female elderly subjects with NSCLBP aged 55 - 74 years were randomly assigned into two groups. The intervention group received a specifically designed core stability exercises for older adults over 12 sessions (30-45 minutes/set) along with leaflet-based education, while the control group received only a single session of leaflet education. Outcome measure using the TAMPA Scale for Kinesiophobia (TSK), Visual Analog Scale (VAS), Sahrmann Core Stability Test (SCST), and Oswestry Disability Index (ODI). Data were analyzed using paired t-test, independent t-test, and PROCESS macro for mediator. The results revealed a significant reduction in TSK (p=0.000), VAS (p=0.000), and ODI (p=0.000) in the intervention group, along with improvement in SCST (p=0.006). Between-group comparisons showed significant difference in all variables, except for VAS (p=0.096). The role of mediators analysis showed no statistically significant results for the indirect effect in reducing the perception of kinesiophobia. In conclusion, core stability exercises are effective in reducing the perception of kinesiophobia in elderly indivuduals with NSCLBP. This intervention is recommended as a comprehensive physiotherapeutics approach that addresses both physical and psychological aspects of rehabilitation in older people."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Kayla Ghassani Arrayyan
"Non-specific chronic low back pain (NSCLBP) sering dialami lansia dan berdampak pada kualitas hidup serta meningkatkan kinesiofobia. Salah satu intervensi untuk mengatasi masalah ini adalah core stability exercise. Penelitian ini menggunakan desain kuasi- eksperimental dengan 24 partisipan lansia perempuan berusia 55–74 tahun yang dibagi menjadi dua kelompok: intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi mendapat core stability exercise selama 12 sesi dan edukasi leaflet, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima leaflet sekali. Pengukuran menggunakan Tampa Scale of Kinesiophobia (TSK) dan SF-36, dianalisis dengan uji T berpasangan dan independen. Hasil menunjukkan kelompok intervensi menunjukkan penurunan signifikan skor TSK (p<0,01) dan peningkatan signifikan pada komponen fisik kualitas hidup (PCS) (p<0,05). Komponen mental (MCS) meningkat namun tidak signifikan (p=0,367). Kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan. Maka dapat dikinklusiksn bahwa core stability exercise efektif mengurangi kinesiofobia dan meningkatkan kualitas hidup fisik lansia dengan NSCLBP. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai bagian dari fisioterapi lansia.
Non-specific chronic low back pain (NSCLBP) is common among older adults and contributes to reduced quality of life and increased kinesiophobia. One recommended intervention to address this issue is core stability exercise. This study employed a quasi- experimental design involving 24 elderly female participants aged 55–74 years, divided into intervention and control groups. The intervention group received 12 sessions of core stability exercise along with an educational leaflet, while the control group only received the leaflet once. Outcomes were measured using the Tampa Scale for Kinesiophobia (TSK) and the SF-36 quality of life questionnaire. Data were analyzed using paired and independent t-tests. The results shows the intervention group showed a significant reduction in TSK scores (p<0.01) and a significant improvement in the physical component of quality of life (PCS) (p<0.05). The mental component (MCS) also improved but was not statistically significant (p=0.367). No significant changes were observed in the control group. It can be concluded that core stability exercise is effective in reducing kinesiophobia and improving the physical aspect of quality of life among elderly individuals with NSCLBP. This intervention is recommended as part of geriatric physiotherapy practice."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Ratna Dewi
"Praktik klinik lanjut selama praktek residensi keperawatan pada sistem neurologi dimaksudkan untuk mampu memberikan asuhan keperawatan, menerapkan Evidance Based Nursing (EBN) serta mampu berperan sebagai innovator di ruang perawatan. Peran pemberi asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan mode adaptasi Roy pada pasien dengan Guilain Bare Syndrome dan 30 pasien lainnya dengan berbagai gangguan sistem persyarafan. Perilaku maladaptive paling banyak adalah model adaptasi fisiologis, yaitu penurunan kapasitas adaptif intracranial. Intervensi keperawatan berupa manajemen peningkatan tekanan intracranial. Penerapan EBN latihan core stability pada keseimbangan duduk pada pasien stroke menunjukkan pasien dapat memeprtahankan keseimbangan duduk. Program inovasi keperawatan berupa penerapan manajemen ERAS pada pasien pasca kraniotomi diruang ICU, HCU dan rawat inap.
Advance clinical practice during the nursing residency practice in the neurological system is intended to be able to provide nursing care, implement Evidance Based Nursing (EBN) and able to act as an innovator in the treatment room. The role of nursing caregiver was perfomed using Roy’s adaption mode in patients with Guillain-Barre Syndrome and 30 other patients with various nervous system disorders. The most maladaptive behavior is a physiological adaption model, namely a decrease in intracranial adaptive capacity. Nursing intervention in the form of management of increased intracranial pressure. The application of EBN core stability exercises to sitting balance in stroke patients shows the patient can maintain a sitting balance. Nursing innovation program in the form of application of ERAS management to post-craniotomy patients in ICU,HCU and inpatient rooms."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Dhea Syalsabilla Maharani
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh core stability exercise terhadap penurunan nilai oswestry disability index (ODI) pada pekerja kantoran dengan non specific low back pain. Gangguan ini disebabkan oleh durasi duduk yang lama dan postur duduk yang salah. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desai pre-ekperimental. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 16 orang pekerja kantoran yang mengalami keluhan non specific low back pain. Intervensi dilakukan selama 12 sesi dengan frekuensi tiga kali seminggu. Menggunakan parameter ODI yang dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai ODI menurun dari 27,25% sebelum intervensi menjadi 11% setelah dilakukan intervensi, dengan nilai p<0,001, menunjukkan perbedaan signifikan. Penurunan ini menunjukkan peningkatan kemampuan fungsional dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan bukti bahwa core stability exercise efektif dalam mengurangi nyeri dan disabilitas, serta meningkatkan kualitas hidup pekerja kantoran yang mengalami masalah low back pain. Hasil ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk intervensi fisioterapi dalam manajemen non specific low back pain di lingkungan kerja, serta meningkatkan kesadaran trentang pentingnya kenyamanan dan aktivitas fisik dalam mengurangi risiko low back pain.
This study aims to analyze the effect of core stability exercise on reducing the oswestry disability index (ODI) value in office workers with non-specific low back pain. This disorder is caused by long sitting duration and incorrect sitting posture. The method used is quantitative with pre-experimental design. The sample in this study were 16 office workers who experienced non-specific low back pain complaints. The intervention was carried out for 12 sessions with a frequency of three times a week. Using ODI parameters carried out before and after the intervention. The results showed that the average ODI value decreased from 27.25% before the intervention to 11% after the intervention, with a p value <0.001, indicating a significant difference. This decrease indicates an increase in functional ability in daily activities. This study provides evidence that core stability exercise is effective in reducing pain and disability, as well as improving the quality of life of office workers who experience low back pain problems. These results are expected to be a reference for physiotherapy interventions in the management of non-specific low back pain in the work environment, as well as increasing awareness of the importance of comfort and physical activity in reducing the risk of low back pain."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Sembiring, Nindy Ifanka Br
"ABSTRAK vi Nama : Nindy Ifanka Br Sembiring Program Studi : D4-Fisioterapi Judul : Perbandingan Latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise Terhadap Risiko Jatuh pada Lansia Menggunakan Parameter Berg Balance Scale (BBS) Pembimbing : Safrin Arifin,S.,ST.,S.K.M.,M.Sc Jatuh merupakan kesehatan serius pada lansia yang menyebabkan cedera dan penurunan kualitas hidup, mendorong kebutuhan intervensi pencegahan efektif seperti latihan fisik. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan efektivitas latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise pada risiko jatuh pada lansia menggunakan Berg Balance Scale, serta membandingkan dengan kelompok kontrol. Mengimplementasikan metode quasi-experiment melalui pendekatan nonequivalent control group design, penelitian ini melibatkan 27 lansia berusia 60-75 tahun dengan risiko jatuh ringan-berat (skor BBS 21- 40) yang berpartisipasi di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. Subjek dibagi menjadi tiga kelompok (masing-masing 9 subjek) ; kelompok Leg Strengthening, Core Stability Exercise, dan Kontrol yang menerima latihan pernapasan diafragma sebagai intervensi minimal. Pemberian intervensi sebanyak 3 kali dalam 1 minggu dalam durasi 4 minggu. Risiko jatuh dengan BBS diukur sebelum (PRE) dan sesudah (POST) periode intervensi. Analisis data menggunakan non-parametrik seperti Wilcoxon Signed-Rank Test (Untuk perubahan dalam kelompok) dan Mann-Whitney U Test (untuk perubahan dalam kelompok) sebab ketidaknormalan pada distribusi data. Hasil analisis menunjukan bahwa baik latihan Leg Strengthening maupun Core Stability Exercise secara signifikan meningkatkan skor Berg Balance Scale pada lansia dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0,000 untuk perbandingan antara kelompok kontrol dan Leg Strengthening; p=0,000 untuk perbandingan kelompok kontrol dengan Core Stability Exercise). Peningkatan skor BBS ini mengindikasikan perbaikan keseimbangan dan penurunan risiko jatuh pada kedua kelompok intervensi. Sementara itu, tidak terdapat perubahan secara signifikan pada kelompok kontrol terhadap skor BBS (p=0,919), Namun Perbandingan efektivitas antara latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise mendapati nilai Signifikan p=0,173, Nilai p>0,05 ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statis dalam efektivitas kedua jenis latihan tersebut dalam meningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia berdasarkan skor BBS.Meninjau dari temuan, mengindikasikan bahwa latihan Leg Strengthening dan Core Stability Exercise sama-sama efektif secara signifikan dalam upaya peningkatkan keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia dibandingkan kelompok kontrol. Tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menyatakan salah satu latihan secara statistik lebih efektif dibandingkan yang lain dalam konteks penelitian ini. Kedua latihan ini memberikan manfaat yang setara untuk pencegahan risiko jatuh pada lansia.
The risk of falls in the elderly are a significant public healthproblem,often caused by decreased muscle strength and impaired balance. Physical exercises such as Leg Strengthening and Core Stability Exercise habe been identified as preventive approachesto reduce this risk. However, further reseatch is needed to compare the relative effectiveness of these two types of exercises.This study aimed to analyze and compare the effectiveness of leg strengthening and Core Stability Exercise in reducing the risk of falls in the elderly using the Berg Balance Scale parameter, and to compare the effect of both exercises with a control group receiving minimal intervetion. This research employed a quasi-experiment method with a nonequivalent control group design. The study subjects were elderly individuals aged 60-75 years with mild to severe fall risk (BBS secores 21-40), who pasrticipated at Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. A total of 27 subjects were divided into three group (9 elderly individuals each) : the Leg Strengthening group, the Core Stability Exercise group, and the control group who underwent diaphragmatic breathing exercises. The intervention was conducted 3 times a weeks. Fall risk measurement using BBS was performed before (PRE) and after (POST)the intervention period. Data were analyzed using SPSS version 27 software, including Shapiro- wilk normality test and Levene’s homogeneity test, followed by non-parametric tests suchas the Mann-Whitney U Test for between-group comparisons and Wilcoxon Signed-Rank Test for Within-group comparisons. The analysis results showed that both Leg Strengthening and Core Stability Exercise significantly improved Berg Balance Scale scores in the elderly compared to the control group (p=0,000 for the comparison between Control and Leg Strengthening groups; p=0,000 for the comparison between Control and Core Stability Exercise groups). This increase in BBS scores indicates improved balance and reduced fall risk in both intervention groups. However, the comparison of effectiveness between Leg Strengthening and Core Stability Exercise showed a significance value of p =0,173. This p-value>0,05 indicates that there was no statistically significant difference in the effectiveness ogf the two types of exercises in improving balance and reducing fall risk in the elderly based on BBS scores. Based on the findings, it is concluded that both Leg Stengthening and Core Stability Exercise are equally and significantlt effective in improving balance and reducing fall risk in the elderly compared to the group that did not receive specitic balance training. Insuffcient evidence was found to state that one exercise was statistically more effective that the other in ther context of this study, Both exercises provide equivalent benefits for the prevention of fall risk in the elderly."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Ratna Dewi
"Praktik klinik lanjut selama praktek residensi keperawatan pada sistem neurologi dimaksudkan untuk mampu memberikan asuhan keperawatan, menerapkan Evidance Based Nursing (EBN) serta mampu berperan sebagai innovator di ruang perawatan. Peran pemberi asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan mode adaptasi Roy pada pasien dengan Guilain Bare Syndrome dan 30 pasien lainnya dengan berbagai gangguan sistem persyarafan. Perilaku maladaptive paling banyak adalah model adaptasi fisiologis, yaitu penurunan kapasitas adaptif intracranial. Intervensi keperawatan berupa manajemen peningkatan tekanan intracranial. Penerapan EBN latihan core stability pada keseimbangan duduk pada pasien stroke menunjukkan pasien dapat memeprtahankan keseimbangan duduk. Program inovasi keperawatan berupa penerapan manajemen ERAS pada pasien pasca kraniotomi diruang ICU, HCU dan rawat inap.
Advance clinical practice during the nursing residency practice in the neurological system is intended to be able to provide nursing care, implement Evidance Based Nursing (EBN) and able to act as an innovator in the treatment room. The role of nursing caregiver was perfomed using Roy’s adaption mode in patients with Guillain-Barre Syndrome and 30 other patients with various nervous system disorders. The most maladaptive behavior is a physiological adaption model, namely a decrease in intracranial adaptive capacity. Nursing intervention in the form of management of increased intracranial pressure. The application of EBN core stability exercises to sitting balance in stroke patients shows the patient can maintain a sitting balance. Nursing innovation program in the form of application of ERAS management to post-craniotomy patients in ICU,HCU and inpatient rooms."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library