Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anne Saputra
"Latar Belakang: Akses vaskular (AVF) adalah jalur kehidupan bagi pasien hemodialis jangka panjang dan merupakan pilihan utama. Nyatanya kegagalan maturasi AVF yang tinggi merupakan masalah bagi pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Penilaian faktor prediktor kegagalan maturasi yang mudah digunakan memberi informasi prediksi dalam menentukan prognosa. Sistem penilaian ini mencoba menerjemahkan faktor inflow, outflow dan conduit (IOC) menjadi angka yang membantu menilai secara kuantitatif hasil akhir resiko maturasi. Penelitian ini bertujuan untukmenggabungkan penilaian IOC untuk memprediksi outcome, dan mengembangkan sistem skoring IOC-Score pada prediksi maturasi AVF .
Metode: Didapatkan 177 pasien AVF brachiocephalica dengan studi kohort retrospektif pada pasien PGTA sepanjang tahun 2020-2021 yang memenuhi kriteria iklusi. Penilaian karakteristik pasien dan AVF memberi gambaran demografi, dan analisa regresi logistik mendapatkan kemaknaan statistik pada faktor prediktor yang signifikan.
Hasil: Delapan signifikan faktor komponen IOC: diameter arteri ³3.85mm, diameter vena ³2.45mm. Peak Systolic Velocity (PSV) arteri ³ 72.35, Volume Flow (VF) arteri ³ 72.35, VF vena ³291.9, Intima Media Thickness (IMT) <0.29, stenosis draining vein dan stenosis vena central (masing-masing 1poin). Skor IOC (maksimal 8 poin) signifikan memprediksi keberhasilan maturasi AVF (p<0.001). Skor IOC di dapatkan titik potong ³4.5 menghasilkan risk rasio 62.85 (Interval kepercayaan/CI 95%: 23.31-169.48; p<0.001) dan probabilitas 96.8% untuk skor maksimal.
Kesimpulan: Inflow, Outflow dan Conduit meningkatkan prediksi outcome pada maturasi AVF, dinyatakan dalam skor prognostic IOC yang akurat, mudah, applikatif dan terpercaya.

Background: Vascular access (AVF) as a “lifeline” on long term hemodialysis is still the primary choice. Fact there is still high rate of failure of arteriovenous fistula procedure is one of the obstacles in treatment of chronic kidney disease. Easy-to-use scoring inform physician to predict and help to decide the management. Scoring system attempts to translate inflow, outflow dan conduit (IOC) into a score, thereby allows quantification of maturation. Purpose of this study is to combine IOC factors to predict the outcome, and develop easy-to-use risk scoring system predict fistula maturation; IOC-Score.
Methods: Total 177 consecutive brachiocephalic fistulae were identified cohort retrospectively on 2020-2021. Numerous patient-and fistula-related demographics were noted. Cox regression analysis was used to identify significant factors predictive of fistula maturation, and significant variables weighted according to their hazard ratio..
Results: Eight significant factor IOC component: arterial diameter ³3.85mm, vein diameter ³2.45mm, arterial Peak Systolic Velocity (PSV) ³ 72.35, arterial Volume Flow (VF)³ 72.35, vein VF³291.9, Intima Media Thickness (IMT)<0.29, stenosis draining vein and central vein stenosis (each 1poin). The IOC-Score (maximum 8 points) significantly predict fistula maturation (p<0.001). Cut of point IOC-Score ³4.5 with risk ratio 62.85 (Confidence Interval/CI 95%: 23.31-169.48; p<0.001) dan probability 96.8% for maximum score.
Conclusion: Combination Inflow, Outflow dan Conduit improves the prognostic of outcome on fistula maturation, formulated in IOC-Score which is accurate, simple, applicable and reliable.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anne Saputra
"Latar Belakang: Akses vaskular (AVF) adalah jalur kehidupan bagi pasien hemodialis jangka panjang dan merupakan pilihan utama. Nyatanya kegagalan maturasi AVF yang tinggi merupakan masalah bagi pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Penilaian faktor prediktor kegagalan maturasi yang mudah digunakan memberi informasi prediksi dalam menentukan prognosa.  Sistem penilaian ini mencoba menerjemahkan faktor inflow, outflow dan conduit (IOC) menjadi angka yang membantu menilai secara kuantitatif hasil akhir resiko maturasi. Penelitian ini bertujuan untukmenggabungkan penilaian IOC untuk memprediksi outcome, dan mengembangkan sistem skoring IOC-Score pada prediksi maturasi AVF.
Metode: Didapatkan 177 pasien AVF brachiocephalica dengan studi kohort retrospektif pada pasien PGTA sepanjang tahun 2020-2021 yang memenuhi kriteria iklusi. Penilaian karakteristik pasien dan AVF memberi gambaran demografi, dan analisa regresi logistik mendapatkan kemaknaan statistik pada faktor prediktor yang signifikan.
Hasil: Delapan signifikan faktor komponen IOC: diameter arteri ³3.85mm, diameter vena ³2.45mm. Peak Systolic Velocity (PSV) arteri ³ 72.35, Volume Flow (VF) arteri ³ 72.35, VF vena ³291.9, Intima Media Thickness (IMT) <0.29, stenosis draining vein dan stenosis vena central (masing-masing 1poin). Skor IOC (maksimal 8 poin) signifikan memprediksi keberhasilan maturasi AVF (p<0.001). Skor IOC di dapatkan titik potong ³4.5 menghasilkan risk rasio 62.85 (Interval kepercayaan/CI 95%: 23.31-169.48; p<0.001) dan probabilitas 96.8% untuk skor maksimal.  
Kesimpulan: Inflow, Outflow dan Conduit meningkatkan prediksi outcome pada maturasi AVF, dinyatakan dalam skor prognostic IOC yang akurat, mudah, applikatif dan terpercaya. 

Background: Vascular access (AVF) as  a “lifeline” on long term hemodialysis is still the primary choice. Fact there is still high rate of failure of arteriovenous fistula procedure is one of the obstacles in treatment of chronic kidney disease. Easy-to-use scoring inform physician to predict and help to decide the management. Scoring system attempts to translate inflow, outflow dan conduit (IOC) into a score, thereby allows quantification of maturation. Purpose of this study is to combine IOC factors to predict the outcome, and develop easy-to-use risk scoring system predict fistula maturation; IOC-Score.
Methods: Total 177 consecutive brachiocephalic fistulae were identified cohort retrospectively on 2020-2021. Numerous patient-and fistula-related demographics were noted. Cox regression analysis was used to identify significant factors predictive of fistula maturation, and significant variables weighted according to their hazard ratio.
Results: Eight significant factor IOC component: arterial diameter ³3.85mm, vein diameter  ³2.45mm, arterial Peak Systolic Velocity (PSV) ³ 72.35, arterial Volume Flow (VF)³ 72.35, vein VF³291.9, Intima Media Thickness (IMT)<0.29, stenosis draining vein and central vein stenosis (each 1poin). The IOC-Score (maximum 8 points) significantly predict fistula maturation (p<0.001). Cut of point IOC-Score ³4.5 with risk ratio 62.85 (Confidence Interval/CI 95%: 23.31-169.48; p<0.001) dan probability 96.8% for maximum score.  
Conclusion: Combination Inflow, Outflow and conduit improves the prognostic of  outcome on fistula maturation, formulated in IOC-Score which is accurate, simple, applicable and reliable. 
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rizal Irawan
"

Latar belakang: Bovine jugular vein (BJV) conduit telah menggantikan fungsi homograft untuk prosedur operasi rekonstruksi right ventricle outflow tract (RVOT). Penelitan ini bertujuan melihat kesintasan jangka panjang pasien yang dilakukan rekonstruksi RVOT menggunakan BJV conduit. Metode: Total 58 BJV conduit yang dimplantasi di satu pusat jantung pada tahun 2010 hingga 2016. Karakteristik pasien serta evaluasi ekokardiografi didapatkan dari rekam medis. Peneliti melakukan analisa kesintasan terhadap luaran kardiovaskular yang terjadi. Luaran kardiovaskular berupa stenosis, regurgitasi, endokarditis serta operasi ulang. Hasil: Kesintasan selama tujuh tahun, pasien usia dibawah 24 bulan dan diatas 24 bulan terhadap luaran kardiovaskular sebesar 74,1% dan 87,1%. Usia subjek dibawah 24 bulan meningkatkan risiko terjadinya luaran kardiovaskular sebesar 1,18 kali. Kesintasan selama tujuh tahun terhadap luaran kardiovaskular untuk BJV conduit ukuran 12-14 mm dan 16-22 mm adalah 77%, dan 87%. Penggunaan ukuran 12-14 mm BJV conduit, meningkatkan kejadian luaran kardiovaskular sebanyak 1,13 kali. Kesimpulan: Usia dibawah 24 bulan dan penggunaan ukuran BJV conduit 12-14 mm yang meningkatkan risiko terjadinya luaran kardiovaskular, maka perlu dipertimbangkan operasi paliatif pada pasien agar dapat menggunakan BJV conduit yang lebih besar dikemudian hari.


Backgrounds: Bovine jugular Vein (BJV) conduit have replaced homograft function for right ventricle outflow tract (RVOT) reconstruction. This study purpose was to study long-term survival patient who undergo RVOT reconstruction with BJV conduit. Method: A total of 58 BJV conduit implanted in one heart center in 2010 until 2016. We gathered subject characteristic and echocardiography findings from medical record. We performed survival analysis based on cardiovascular events as the outcome which were stenosis, regurgitation, infective endocarditis, and re-operation. Result: The seven-year cardiovascular events were: patients less than 24 mo (74,1%), more than 24 mo (87,1%), BJV 12-14 mm in diameter (77%), 16-22 mm (87%). Age less than 24 mo and BJV conduit 12-14 mm in diameter increase risk of cardiovascular events 1,18 times and 1,13 times. Conclusion: Age less than 24 mo and BJV conduit 12-14 mm in diameter increasing risk of cardiovascular events. Thus, palliative surgery needs to be considered, allowing the use of conduit with a larger diameter. 

"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T57660
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Martinus
"ABSTRAK
Latar belakang: Cidera saraf perifer sebagai keluaran dari post operatif hingga saat ini belum ditangani dengan maksimal. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan potensi dari sekretom pada regenerasi cidera saraf perifer.
Metode: Cidera saraf perifer buatan dilakukan pada tikus dengan melakukan diseksi pada saraf sciatic. Evaluasi perbaikan motorik dilakukan mengunakan Sciatic Functional Index (SFI) pada minggu ke enam (SFI 1), minggu ke sembilan (SFI 2), dan minggu ke dua belas (SFI 3). Rasio berat basah antara otot gastrocnemius kanan dan kiri dibandingkan serta dilakukan histomorphometry saraf sciatic pada tiap kelompok.
Hasil: Kelompok III menunjukan SFI 1 yang lebih baik dibandingkan kelompok I (p=0.017). Kelompok I dan III menunjukan perbedaan SF2 yang signifikan dibandingkan dengan kelompok II dan IV (p<0.001). Rasio tertinggi dari otot gastrocnemius ditemukan pada kelompok I dan III, yang bernilai 0.65 ± 0.059 dan 0.67 ± 0.179 (p<0.001). Pada histomorphometry, akson termyelinisasi paling banyak ditemukan pada kelompok I dan III, yang bernilai p<0.001.
Kesimpulan: Sekretom sel punca mesenkimal korda umbilikalis dapat digunakan sebagai terapi baru untuk menggantikan autograf pada penanganan kerusakan saraf perifer.

ABSTRACT
Background: Currently, the post-surgical outcome of peripheral nerve injury has not been optimal. The purpose of this research is to determine the potency of secretome in peripheral nerve injury regeneration.
Method: The mice had artificially-induced peripheral nerve injury, which was created by dissecting the sciatic nerve. Sciatic Functional Index (SFI) was used to evaluate the motoric recovery on week six (SFI 1), week nine (SFI 2), and week twelve (SFI 3). The mice was sacrificed on week twelve. The wet mass ratios of the right and left gastrocnemius muscle were compared, then the sciatic nerve histomorphometry evaluation was performed on each group.
Results: Group III showed a better SFI 1 result than Group I (p=0.017). Group I and III showed significantly better SFI 2 than group II and IV (p<0.001). The highest ratio of gastrocnemius muscle was found in group I and III, which were 0.65 ± 0.059 and 0.67 ± 0.179 (p<0.001). On histomorphometry, the highest number of myelinated axons were found in group I and III, which were p<0.001.
Conclusion: Umbilical cord mesenchymal stem cell secretome can be used as a new therapy to replace the autograft in peripheral nerve defect management."
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T59191
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library