Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
New York, NY: Springer, 2013
617.522 5 CLE
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yayan Andrian
"Cleft orofacialatau celah orofasial di Indonesia termasuk kelainan bawaan sejak lahir yang sering terjadi. Tujuan rencana perawatan pada pasien cleft orofacial adalah memperbaiki fungsi penelanan, bicara, pertumbuhan dan penampilan wajah, rahang dan oklusi gigi, serta gangguan pendengaran. Perawatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan prosedur labioplasty dan palatoplasty. Hambatan pertumbuhan rahang pada pasien-pasien pasca labioplasty dan palatoplastytelah banyak dibahas dalam beberapa literatur. Beberapa teknik untuk mengevaluasi anatomi regio maksilofasial seperti model cetakan dan foto sefalometri. Namun terdapat beberapa kekurangan dari kedua teknik ini. Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan dimensi pada sisi cleft dan sisi normal pasien celah bibir dan langit-langitkarenadapat memberikan gambaran tiga dimensi yang tidak terdistorsi dengan resolusi sangat baik yang memungkinkan visualisasi bentuk struktur anatomis dan ukuran aslinya.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh labioplasty dan palatoplasty terhadap dimensi lengkung maksila dalam arah transversal dan anteroposterior di sisi cleft dan sisi normal pada pasien celahbibir dan langit-langit unilateral.Pada penelitian ini dilakukan studi observasi crossectional melalui analisis radiografi CBCT pasien-pasien celah bibir dan langit-langit yang telah dilakukan labioplasty dan labioplasty dalam arah transversal dan anteroposterior.Uji parametrik independen t-test menunjukkan terdapat perbedaan bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) pada dimensi transversal regio kaninus dan regio molar kedua sisi cleft dan sisi normal. Selain itu, Hasil uji non parametrik Mann-WhitneyU menunjukkan terdapat perbedaan bermakna secara statistik dengan nilai p=0,003 (p < 0,05) antara dimensi anteroposterior sisi cleft dan sisi normal. Sehingga seluruh hipotesis penelitian diterimaDari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh labioplasty dan palatoplasty terhadap dimensi lengkung maksila dalam arah transversal dan anteroposterior di sisi cleft dan sisi normalpada pasien celah bibir dan langit-langit

Orofacial cleft is congenitaldisorder that usually occurs since newborn. Aims of treatment of orofacial cleft are to improve swallowing, speech, hearing, aesthetic, and occlusion function. Initial treatment for these patients are labioplasty and palatoplasty. Maxillary growth disruption after labioplasty and palatoplasty hadbeen reviewed in many literatures. There are several technique to evaluate maxillofacial region anatomy such as dental cast and cephalometry radiograph. However, there are several disadvantages of these techniques. Cone Beam Computed Tomography (CBCT)can be used to evaluate dimensional changes both in cleft side and normal side in cleft patient because it can give undistorted 3D imaging with a high resolution. The aim of this study wasto analyze effect of labioplasty and palatoplasty to dimensional changes of maxilla in transversal and anteroposterior direction in cleft and normal side of patient with cleft lip and palate.This crossectional study was done by analyzing the CBCT radiograph of patient with cleft lip and palate after labioplasty and palatoplasty in transversal and anteroposterior direction.Independent parametric t-test showed there wasa significant difference statistically p = 0,000 (p<0,05) in transversal dimension of canine and second molar region in cleft and normal side. Mann-WhitneyU non parametric test showed there wasa significant difference statistically p = 0,003 (p<0,05) in anteroposterior dimension both in cleft and normal side.As conclussion there wasan effect of labioplasty and palatoplasty to dimensional changes of maxilla in transversal and anteroposterior direction in cleft and normal side of patient with cleft lip and palate."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Safira Anindya
"Celah bibir dengan atau tanpa celah langit-langit merupakan salah satu kelainan kongenital yang memengaruhi regio orofasial. Kelainan ini merupakan cacat lahir orofasial yang paling sering terjadi dengan prevalensi 1:700. Pada beberapa pasien dengan celah bibir dan langit-langit komplit, dapat ditemukan suatu jembatan jaringan lunak yang dapat menghubungkan tepi medial dan lateral dari celah bibir atau nostril, bibir dengan prosesus alveolaris, ataupun menghubungkan prosesus alveolaris yang terpisah, yang biasa disebut dengan soft tissue band. Mekanisme terbentuknya band ini belum diketahui secara pasti. Terdapat tiga tipe soft tissue band, tipe 1 yaitu band yang menghubungkan bibir dengan bibir (band Simonart); tipe 2 band yang menghubungkan bibir dengan alveolar (band oblique); dan tipe 3 band yang menghubungkan antar prosesus alveolar (band alveolar). Penelitian mengenai soft tissue band pada kasus celah bibir dan langit-langit di Indonesia masih sangat sedikit, sehingga penelitian deskriptif retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi soft tissue band pada pasien celah bibir dan langit-langit berdasarkan tipe celah di RSAB Harapan Kita periode Januari 2010 Desember 2012. Analisis dilakukan pada 296 rekam medik. Dari 296 pasien celah bibir dan langit langit di RSAB Harapan Kita tahun 2010-2012, ditemukan 30 kasus soft tissue band (10,1%). Pada tahun 2010 terdapat 6 kasus, tahun 2011 terdapat 10 kasus, dan tahun 2012 terdapat 14 kasus. Soft tissue band lebih sering ditemukan pada pasien dengan celah unilateral (10,3%) dibanding pasien dengan celah bilateral (9,5%). Sebanyak 9 kasus soft tissue band ditemukan pada celah bibir dan langit langit unilateral sisi kiri. Berdasarkan tipenya, soft tissue band paling banyak ditemukan pada tipe Simonart (bibir ke-bibir) yaitu 18 kasus (60%), tipe oblique(bibir ke-alveolus ditemukan 10 kasus 33,3%, dan tipe band alveolar alveolus ke-alveolus) ditemukan 2 kasus 6,7%. Berdasarkan variasinya, sebanyak 21 kasus soft tissue band tertutup oleh kulit 70% dan 9 kasus hanya berupa jaringan mukosa atau yang disebut varian subklinis 30%."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library