Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Oky Yudha Saputram
Abstrak :
Pada beberapa tahun belakangan ini, pasar akan semakin menuntut internet berkecepatan tinggi, yang menuntut teknologi broadband. Peluang bisnis internet di Jakarta terutama di sekitar jalur busway Transjakarta merupakan jalur potensial dimana disana terdapat banyak gedung-gedung perkantoran, pusat-pusat hiburan, kafe-kafe, mal-mal dan kampus-kampus. Dengan jaringan kabel serat optik berkapasitas sangat besar yang dimiliki iForte sepanjang koridor jalur busway Transjakarta maka peluang yang ada disini dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga dapat menyampaikan internet berkecepatan tinggi kepada para pengguna. Iforte menawarkan internet broadband berkecepatan tinggi, minimum hingga 2 Mbps sampai hingga 10 Mbps dengan konektivitas WiFi. Para pengguna dapat merasakannya langsung dari laptop maupun perangkat mobile lainnya seperti telepon genggam, PDA dan lain-lain yang telah mempunyai fungsi WiFi. Iforte sendiri telah memiliki pasar untuk pelanggan korporasi yang cukup banyak di wilayah Jakarta, dengan adanya proyek ini maka jumlah pelanggan korporasi iForte diharapkan akan bertambah begitupula dengan pasar yang dihadapi lambat laun kedepannya akan memasuki bisnis retail karena cakupan area iForte pun akan semakin meluas dengan adanya teknologi WiFi ini. Demi tercapainya harapan, iForte memerlukan sebuah perencanaan jaringan broadband WiFi agar dapat menangkap peluang yang ada pada pasar sekarang ini. Pemahaman akan perencanaan jaringan yang baik akan mampu menggelarnya dengan baik pula. Untuk penggelaran ini dibutuhkan perancangan model bisnis sebagai wadah untuk pengimplementasiannya. Berdasarkan hasil perancangan model bisnis, ada 4 alternatif model bisnis WiFi yang dapat digunakan. Untuk jalur Transjakarta koridor 1,6, dan 9 model bisnis yang paling tepat diterapkan adalah model bisnis kedua yaitu untuk korporat akses. Dilakukan juga penghitungan analisis kelayakan investasinya dengan tiga skenario yaitu pesimis, moderat dan optimis.
In recent years, the market will increasingly demand high-speed internet, which requires broadband technology. Internet business opportunities in Jakarta especially around Transjakarta busway lane represents a potential point where there are many office buildings, entertainment centers, cafes, shopping malls and campuses. With a very large capacity fiber optic cable network owned by iForte along the corridor Transjakarta busway lane, the opportunities that are here can be put to good use so that they can deliver high speed internet to its users. Iforte offers a high-speed broadband internet, a minimum up to 2 Mbps to up to 10 Mbps with WiFi connectivity. The user can feel it directly from a laptop or other mobile devices like mobile phones, PDAs and others who already have WiFi functionality. Iforte itself has a market for a rather large corporate customers in Greater Jakarta, with this project then the number of corporate customers iForte will grow nor may the market facing in the future slowly will be entering the retail business because iForte?s coverage also will widen with the presence of this WiFi technology. To achieve the expectations, iForte require a broadband WiFi network planning for there to capture the opportunities in the market today. A good understanding of network planning will result a good deployment. Therefore it requires a scheme of business model as its implementation. According to the result of design business model, there are four alternatives business model that could be implemented. The second business model (corporat access) is the right choice for Transjakarta?s lane line 1,6 and 9. Also performed calculations of investment feasibility analysis with three scenarios are pessimistic, moderate and optimistic.
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T28362
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Bray, John
Abstrak :
This book provides a fascinating account of the origins and development of the technology that has transformed telecommunications and broadcasting and created the Internet. It depicts this remarkable human achievement by identifying the key innovators whose ideas created today's world of communications, from the Victorian scientists and mathematicians to the present day engineers.
London: Institution of Engineering and Technology, 2009
e20452597
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Jarot Widyatmoko
Abstrak :
Era hyper kompetisi bisnis telekomunikasi dan informasi membawa dampak yang signifikan bagi TELKOM yang ditandai dengan pertumbuhan negatif pendapatan dari sambungan lokal dan sambungan langsung jarak jauh domestik. Kurva pertumbuhan kedua coba diciptakan melalui penyediaan layanan akses internet baik dial up (TELKOMnet Instan) maupun broadband ADSL (Speedy) menggunakan jaringan kabel telpon yang ada. Konvergensi akses broadband, IP serta konten hiburan melahirkan satu teknologi baru yaitu IPTV. IPTV dapat disalurkan menggunakan jaringan ADSL. Jumlah pesawat TV di Indonesia diperkirakan sebesar 30 juta pada tahun 2005, dan hanya 1,3% yang berlangganan layanan TV berbayar. Kondisi tersebut merupakan sebuah potensi pasar yang besar bagi TELKOM untuk menyediakan layanan IPTV. Mengingat bahwa jaringan akses ADSL yang tersedia semula dirancang untuk menyediakan layanan akses broadband internet dengan kualitas best effort sedangkan IPTV adalah layanan yang membutuhkan kualitas yang terkendali (controlled QoS), maka perlu dikembangkan suatu analisa kesiapan penyediaan layanan IPTV berbasis ADSL dengan tanpa mengurangi fungsi semula yaitu sebagai jaringan akses broadband internet (Speedy). Berdasarkan hasil analisa kesiapan penyediaan layanan IPTV diperoleh satu kesimpulan bahwa perangkat IP-DSLAM dan BRAS yang telah diinstalasi saat ini, mendukung untuk layanan IPTV. Sejumlah 38,15% dari total kapasitas sebesar 2.249.030 jaringan akses tembaga yang ada di Divre 2 yang mendukung layanan IPTV. Untuk mendukung penyediaan layanan IPTV dan Speedy maka harus dilakukan peningkatan kapasitas jaringan metro akses regional, minimal menjadi 5,19 Gbps dan maksimal menjadi 14,33 Gbps untuk layanan Speedy ; ditambah dengan satu STM-1 jika layanan IPTV menggunakan teknik kompresi MPEG-4/AVC atau dua STM-1 jika menggunakan teknik kompresi MPEG-2. Disamping itu harus dibangun PE router tersendiri untuk layanan IPTV dan mengalihkan routing yang ada dari jalur akses BRAS Manajemen Lebar Pita PE router IP backbone GB menjadi BRAS PE router IPTV IP backbone GB.
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
T23208
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library