"Indonesia telah mewajibkan penggunaan bahan bakar transportasi laut dengan kandungan biodiesel sebesar 40% (B40). Semetara itu, International Maritime Organization (IMO) juga mengharuskan penggunaan bahan bakar alternatif yang rendah karbon sebagai solusi utama dekarbonisasi di sektor maritim. Studi ini menjawab kedua tantangan tersebut dengan membuat bahan bakar biodiesel untuk mesin kapal (marine engine) berbasiskan nabati yang terbuat dari campuran solar-FAME-metanol dan solar-FAME-UCOME. Bahan bakar ini adalah solusi praktis karena selain kompatibel dengan marine engine, penggunaannya dapat dicampur langsung serta tidak memerlukan modifikasi mesin. Tujuan studi ini mengevaluasi stabilitas, sifat fisika - kimia, performa marine engine, dan karakteristik emisi hasil gas buang dari pembakaran bahan bakar campuran tersebut. Eksperimen karakteristik fisika - kimia bahan bakar dilakukan di laboratorium Lemigas berstandar ASTM. Uji statik menggunakan marine engine Yanmar 6CH-WDTE pada test bed ETC 7 dilakukan di laboratorium BRIN. Uji statik dilakukan untuk mengetahui performa marine engine dengan standar UNECE 85 dan emisi gas buang dengan standar ISO 8178. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua bahan bakar campuran telah memenuhi 19 parameter kualitas mutu B40 yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia terkecuali pada kandungan air (UCOME50, UCOME60) kandungan FAME (B35UCOME5), stabilitas oksidasi (UCOME40, UCOME50, UCOME60), dan angka setana (B40M15) yang melewati ambang batas kualitas mutu. Dari segi emisi, terbentuk tren positif yaitu semakin tinggi kadar UCOME/ FAME maka semakin rendah emisi yang ditimbulkan. Persentase tertinggi kandungan nabati (UCOME100) jika dibandingkan dengan B40 menghasilkan penurunan emisi CO (43,6%), NOx (17,2%), THC (18,2%), SO2 (27,4%) dan PM (58,7%) dan jika merujuk kepada persentase metanol terbesar (B40M15) terjadi reduksi emisi pada NOx, PM, HC, dan CO secara berurutan sebesar 22,1%, 57,7%, 8,2%, dan 28,2%. Akan tetapi hasil positif segi emisi tersebut tidak diikuti kinerja mesin yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan performa mesin dimana terdapat penurunan daya (6,5%) dan torsi (4,1%) dan kenaikan BSFC (9,24%) hasil pembakaran UCOME100 dibandingkan dengan B40 sebagai acuan. Tren serupa juga ditunjukkan oleh pembakaran B40M15 dengan penurunan daya (12,3%) dan torsi (13,2%) serta kenaikan BSFC (11,52%). Semakin besar persentase UCOME dan metanol dalam campuran biodiesel makin semakin besar pula penurunan performa marine engine dan semakin besar BSFC-nya. Tergerusnya kinerja mesin ini dapat dimitigasi melalui kalibrasi mesin, modifikasi ringan seperti penyetelan injektor atau peremajaan komponen, serta penggunaan aditif untuk meningkatkan efisiensi pembakaran. Dengan adanya mitigasi performa mesin tersebut diatas sebenarnya kita bisa mendapatkan performa mesin yang maksimal namun dengan emisi gas buang yang minimal.
Indonesia has mandated the use of marine transportation fuels containing 40% biodiesel (B40). Concurrently, the International Maritime Organization (IMO) requires the adoption of low-carbon alternative fuels as a principal strategy for decarbonization in the maritime sector. This study addresses both challenges by formulating biodiesel-based marine fuels derived from blends of diesel–FAME–methanol and diesel–FAME–UCOME. These fuel blends offer a practical solution since compatible with marine engines, can be directly blended, and do not necessitate modifications. The aim of this study is to evaluate stability, physicochemical properties, engine performance, and exhaust emission characteristics resulting from combustion of these blended fuels. Physicochemical analyses were conducted at ASTM-standardized laboratories of Lemigas. Static engine testing was performed using a Yanmar 6CH-WDTE marine engine installed on an ETC 7 test bed at the BRIN laboratory. These static tests aimed to assess engine performance under UNECE Regulation No.â¯85 and emissions under ISO 8178 standards. The findings reveal all fuel blends met 19 out of 23 mandatory quality parameters for B40 as stipulated by the Indonesian government, with exceptions noted in specific properties: water content (UCOME50, UCOME60), FAME content (B35UCOME5), oxidation stability (UCOME40, UCOME50, UCOME60), and cetane number (B40M15), all of which exceeded permissible thresholds. At the highest level of biogenic content, UCOME100 demonstrates substantial emission reductions compared to B40, achieving decreases of 43.6% in CO, 17.2% in NOâ, 18.2% in THC, 27.4% in SOâ, and 58.7% in PM. Similarly, under the highest methanol blending ratio (B40M15), notable reductions were also observed, with emissions of NOâ, PM, THC, and CO decreasing by 22.1%, 57.7%, 8.2%, and 28.2%, respectively. However, these emission benefits were accompanied by a decline in engine performance. For biodiesel–UCOME blends, reductions in power output (6.5%) and torque (4.1%) were observed, along with an increase in brake-specific fuel consumption (BSFC) by 9.24% relative to B40. A similar trend was found in biodiesel–methanol blends, with power reductions ranging from 12.3%, torque reductions of 13.2%, and BSFC increases of 11.52%. Higher proportions of UCOME and methanol in biodiesel blends led to greater reductions in marine engine performance and higher BSFC. This performance decline can be mitigated through calibration, minor mechanical adjustments (injector tuning or parts replacement), and application of additives. With appropriate mitigation strategies, optimal engine performance can still be achieved while significantly lowering exhaust emissions. "