Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Supardi Sudiro, Author
"ABSTRAK
Program pensiun manfaat pasti merupakan salah satu program yang digunakan Dana Pensiun dalam pengelolaan program pensiun. Program tersebut memberikan manfaat pensiun yang besar manfaatnya dapat diketahui sesuai rumusan tertentu. Dengan telah ditentukannya rumusan manfaat pensiun maka setiap pensiunan dapat mengetahui besar manfaat pensiun yang akan diterima pada saat pensiun serta manfaat yang akan diberikan kepada Pihak Yang Berhak.
Dalam penetapan rumusan manfaat pensiun, baik pemberi kerja, pengelola Dana Pensiun maupun para pensiunan pada dasarnya mengharapkan manfaat pensiun yang diberikan dapat menjadi penghasilan yang layak untuk biaya hidup para pensiunan selama menjalani masa pensiun serta berlaku sama untuk seluruh pesetia atau tidak diskriminatif. Hal ini penting karena pemberian manfaat pensiun merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi bagi karyawan dalam bekerja.
Dalam perkembangannya, dengan adanya kenaikan'-biaya hidup serta perangkat peraturan dari Pemerintah mengenai minimum besar manfaat pensiun, maka manfaat pensiun yang telah dirumuskan sebenarnya masih dapat ditinjau untuk dinaikkan atau disesuaikan dengan menggtmakan pola kenaikan tertentu sehingga dapat membantu peningkatan kesejahteraan pensiunan serta tetap sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Terdapat banyak cara untuk menetapkan pola kenaikan manfaat pensiun dan penetapan suatu pola kenaikan sebaiknya dilatarbelakangi kesesuaian rumusan manfaat pensiun yang ditetapkan dengan situasi dan kenyataan yang ada. Pada penulisan karya akhir ini, penulis ingin melakukan pengkajian pada tiga alternatif pola kenaikan manfaat pensiun yaitu peningkatan asumsi kenaikan PhDP per tahun, peningkatan asumsi kenaikan manfaat pensiun per tahun, serta kenaikan manfaat pensiun kepada Pihak Yang Berhak.
Ketiga altematif pola kenaikan memberikan dampak yang berbeda terhadap posisi pendanaan dari Dana Pensiun. Hal ini karena setiap pola kenaikan memberikan dampak kenaikan pada kewajiban aktuaria dan kewajiban solvabilitas serta iuran normal yang berbeda pula. Yang menjadi permasalahan pada karya akhir ini adalah menentukan pola kenaikan manfaat pensiun yang sesuai dengan kemampuan keuangan pemberi kerja dengan memperhatikan posisi pendanaan Dana Pensiun.
Sebagai contoh penerapan dan analisis dari pola kenaikan yang dibahas pada karya akhir ini, penulis menggunakan data dari Dana Pensiun ABC. Metode analisis yang digunakan adalah membandingkan setiap kenaikan kewajiban aktuaria, dan kewajiban solvabilitas sebagai akibat adanya kenaikan manfaat pensiun dari ketiga pola kenaikan. Selanjutnya membandingkan dampak dari setiap pola kenaikan terhadap posisi pendanaan Dana Pensiun ABC serta kenaikan kewajiban dari Pemberi Keija ABC dari sisi pendanaan. Hasil analisis juga akan digunakan untuk menentukan pola kenaikan yang sesuai kemampuan keuangan pemberi keija berdasarkan pada anggaran yang disediakan PT. ABC untuk pendanaan Dana Pensiun ABC. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa memberikan kenaikan manfaat pensiun kepada Pihak Yang Berhak memberikan dampak kenaikan kewajiban aktuaria dan iuran normal yang relatif paling kecil.
Saran-saran bagi Dana Pensiun ABC untuk melakukan kenaikan manfaat pensiun, dengan memilih pola kenaikan yang sesuai dengan kemarnpuan keuangan Pemberi Kerja ABC disajikan dalarn karya akhir ini.
"
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Astuti
"ABSTRAK
Karya akhir ini mempunyai tujuan untuk menganalisis pemilihan investasi (capital budgeting) mesin produksi yang paling layak untuk dilakukan. Investasi yang dianalisis adalah berupa pembelian mesin produksi produk Face Powder atau produk Face Cleanser baru oleh PT Kosmetika X. Kedua produk ini merupakan pengcmbangan varian dari produk existing yang saat ini menjadi backbone penjualan PT Kosmetika X. Investasi ini diperlukan oleh PT Kosmetika X untuk menambah pangsa pasamya selama ini. Dengan asumsi bahwa kapasitas mesin produksi existing sudah penuh, maka untuk memproduksi produk baru ini diperlukan tambahan investasi mesin baru. Namun, PT Kosmetika X harus membuat prioritas mesin manakah yang harus dibeli terlebih dahulu karena keterbatasan dana yang ada.
Studi karya akhir ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur Net Present Value, IRR, dan Payback Period. Sedangkan langkah-langkah penelitian yang dilakukan secara garis besar adalah mencarifree cash flow dengan adanya mesin baru ini. Free cash flow yang dimaksud adalah berasal dari pendapatan karena penjualan dikurangi dengan COGS, ditambahkan net working capital dan net capital expenditure. Setelah free cash flow teridentifikasi, kemudian dicari discount rate-nya. Discount rate yang dipakai adalah cost of equity karena seluruh pendanaan yang dibutuhkan adalah berasal dari equity.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam studi karya akhir ini antara lain yaitu: jangka wak'iu perhitungan selama 5 tahun dengan pertimbangan umur efektif mesin, jangka waktu pembayaran AR adalah selama 30 hari dan AP selama 45 hari. Selain itu, mengingat karakteristik fungsi produk baru ini serupa dengan produk existing, maka akan ada pangsa pasar produk existing yang terserap. Dengan demikian diasumsikan kapasitas mesin yang digunakan untuk memproduksi produk existing ada yang tidak terpakai sehingga sebagian permintaan produk baru yang berasal dari penyerapan produk existing dapat diproduksi pada mesin yang sudah ada. Penentuan jumlah permintaan dari hasil serapan produk existing dilakukan dengan pembobotan. Setelah free cash flow diidentifikasi, analisis NPV, IRR, dan Payback Period dilakukan. NPV dan IRR tertinggi serta Payback period investasi tercepat adalah yang dipilih.
Hasil yang diperoleh dalam studi karya akhir ini adalah bahwa NPY dan IRR untuk produk Face Powder lebih tinggi dan Payback period lebih ccpat dibandingkan dengan produk Face Cleanser. IRR dan payback yang diperokh lebih besar dibandingkan dengan benchmark yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen. Nilai NPV dan IRR yang sangat besar diperoleh karena PT Kosmetika X adalah perusahaan manufacturing yang menjual produknya kepada sister company-nya yaitu PT Kosmetika Y yang merupakan perusahaan marketing untuk didistribusi melalui sister company yang lain yaitu PT Kosmetika Z. Dalam hal ini tidak ada biaya transportasi, distribusi, dan promosi yang harus dikeluarkan oleh PT Kosmetika X.
"
2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ridwan Widjianto, Author
"ABSTRAK
Krisis moneter yang melanda Indonesia dan negara-negara di Asia mulai pertengahan 1997 menyebabkan turunnya nilai tukar (depresiasi) Rupiah terhadap Dollar A.S. (USD). Krisis moneter ini sangat dasyat dampaknya kepada Indonesia dimana Rupiah mengalami depresiasi sampai 4 kali lipat, dari Rp. 2.500 per-USD menjadi sekitar Rp. 10.000 per USD. (Maret 2001).
Turunnya nilai tukar Rupiah menyebabkan pembayaran tagihan listrik dari PT. PLN kepada produsen listrik swasta menjadi terhambat dan berhenti, karena tagihan dalam mata uang Dollar A.S. sedangkan pemasukkan PT. PLN dalam Rupiah. Hal ini dialami PT. Energi Panas Bumi (PT. EPB) yang memproduksi uap panas bumi untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) milik PT. PLN, dan penjualan listrik dari PLTPB PT. EPB kepada PT. PLN.
Dalam membangun fasilitas sumur panas bumi dan PLTPB, PT. EPB meminjam uang kepada kreditornya sindikasi Bank sebesar USD 250,000,000 yang harus dilunasi selama 10 tahun. Dengan terhambatnya pembayaran tagihan dari PT. PLN, maka PT. EPB mengalami masalah pembayaran hutang dengan kreditornya.
Karya Akhir ini membahas alternatif restrukturisasi hutang PT. EPB kepada kreditornya. Alternatif yang direkomendasikan adalah kombinasi hair cut dan penjadwalan hutang dengan tujuan memberikan waktu kepada PT. EPB untuk melunasi hutang-hutangnya dan menjaga kepentingan kreditor agar uang yang sudah dikeluarkan bisa kembali termasuk bunganya.
Metode yang digunakan adalah pendekatan restrukturisasi hutang yang pernah dilakukan di negara-negara Amerika dan Eropa dengan penyesuaian kondisi industry energi panas bumi di Indonesia.
Hal penting yang dicatat adalah itikad baik dari pihak PT. EPB dan sindikasi perbankan dalam restrukturisasi hutang. Pihak kreditor bahkan berusaha untuk meneruskan proyek panas bumi ini dengan tidak mempailitkan PT. EPB, walaupun menerinia konsekuensi pembayaran hutang yang terlambat.
Area studi ini hanya mencakup restrukturisasi hutang PT. EPB dengan kreditornya dan tanpa melibatkan restrukturisasi PT. EPB dengan PT. PLN sebagai konsumennya. Studi restrukturisasi hutang lebih lanjut akan lebih lengkap dan menyeluruh, jika dilakukan secara integral antara ketiga pihak.
"
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Juliana, Pearly Martinelly, Author (edit)
"ABSTRAK
Sistem pengukuran kinerja bisnis suatu perusabaan digunakan untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan kinerja bisnis perusahaan dalam kurun waktu yang ditetapkan. Hasil dari pengukuran tersebut menjadi acuan untuk pegambilan keputusan yang tepat dan penentuan langkah-langkah strategis yang barns dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan yang terjadi. Salah satu metoda yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja bisnis tersebut adalab dengan menggunakan Balanced Scorecard.
Balanced Scorecard merupakan suatu alat untuk mengukur performance management suatu perusahaan atas keberbasilan strategi yang dirumuskan untuk pencapaian visi dan misi perusahaan. Dengan Balanced Scorecard visi, misi, dan strategi perusahaan tersebut diterjemahkan dalam sasaran dan pengukuran yang lebib nyata, yaitu dengan menjabarkan strategi bisnis unit ke dalam tindakan operasional perusahaan sebari-hari. Kerangka kerja Balanced Scorecard ditekankan pada pengukuran faktor keuangan dan nonkeuangan,
karena pengukuran hanya pada aspek keuangan saja dirasakan tidak cukup, perlu dipertimbangkan aspek nonkeuangan yang bersifat jangka panjang. Hal lainnya adalah bahwa kinerja keuangan dibasilkan oleh kinerja nonkeuangan. Sehingga dalam menilai kinerja bisnis tidak hanya mengukur basil akhir (outcome measures) yaitu pada aspek keuangan, tetapi juga menilai driver (penentu) basil akhir tersebut yang terdapat pada aspek nonkeuangan.
Pengukuran dalam Balanced Scorecard terbagi dalam empat prespektif, yaitu prespektif finansial (financial) untuk aspek keuangan, dan prespektif pelanggan (customer), proses bisnis internal (internal business process), serta proses pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth) untuk aspek nonkeuangan. Prespektif finansial mengukur dalam ukuran ekonomis hasil dari tindak:an yang telah dilakukan. Prespektif pelanggan mengukur performance usaha dari segmen yang ditargetkan. Prespektif proses bisnis internal mengidentifikasikan proses internal yang kritikal yang harus dikontrol oleh perusahaan. Sedangkan prespektif pembelajaran dan pertumbuhan mengidentifikasikan infrastruktur yang harus dibangun perusahaan untuk menciptakan peningkatan dan pertumbuhan.
Penggabungan tolok ukur keuangan dan nonkeuangan tersebut menjadikan Balanced Scorecard sebagai sistem pengukuran kinerja bisnis yang terintegrasi dan seimbang. Setiap sasaran yang dirumuskan dalam prespektif nonkeuangan harus mempunyai hubungan sebab akibat dengan prespektif keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung, karena pada hakekatnya perusahaan bertujuan menciptakan kekayaan atau laba.
Pada akhimya dengan menggunakan Balanced Scorecard, perusahaan dapat mengevaluasi aktivitasnya agar dapat beroperasi secara optimal dan dapat memotivasi perbaikan berkesinambungan terhadap bidang-bidang kritikal perusahaan seperti sumber daya, pelanggan, aktivitas, dan biaya. Dengan Balanced Scorecard, perusahaan dapat mengetahui apakah yang telah dilakukan sesuai dengan tujuan dan seberapa jauh pencapaian atau penyimpangan yang telah dilakukan. Hal ini berguna untuk mengetahui dan mendeteksi sejak dini terjadinya gejala inefisiensi di dalam Perusahaan, terjadinya kerugian, karyawan yang tidak berkualitas, ataupun hal-hal lain yang merugikan Perusahaan.
PT Berlian Laju Tanker Tbk (Perseroan) merupakan salah satu penyedia jasa angkutan laut khususnya muatan cair terkemuka di kawasan Asia yang berusaha untuk terus berkembang dan meningkatkan pangsa pasar di Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Saat ini perseroan mengoperasikan lebih dari 40 kapal tanker milik dan sewa, serta memiliki lebih dari 1.000 awak kapal yang terlatih, berpengalaman, dan bersertifikasi intemasional.
Kegiatan usaha Perseroan dikategorikan sebagai berikut:
1. Penyewaan kapal (ship chartering), dimana Perseroan menyewakan kapalnya kepada pihak ketiga.
2. Penyewaan ruang muatan kapal (ship operations), dimana Perseroan menyewakan ruang muatan kapal kepada pihak ketiga.
3. Jasa keagenan kapal (ship agency), dimana Perseroan bertindak sebagai agen bagi kapal-kapal asing yang mengunjungi pelabuhan di wilayah Indonesia.
Mencermati hal-hal yang dapat diperoleh dari penerapan Balanced Scorecard untuk perkembangan bisnis perusahaan tersebut, PT Berlian Laju Tanker Tbk perlu menerapkan Balanced Scorecard agar visi, misi, dan strategi Perseroan dapat diwujudkan secara sistematis. Dengan menerapkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Balanced Scorecard, diharapkan strategi yang dirumuskan menj adi selaras dengan kegiatan operasional Perseroan sehari-hari.
Sesuai dengan keadaan Perseroan saat ini sistem pengukuran kinerja bisnis berdasarkan pendekatan Balanced Scorecard disusun dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Memahami dan memperdalam Balanced Scorecard.
2. Implementasi Balanced Scorecard untuk menterjemahkan, visi, misi, dan strategi Perseroan ke dalam empat prespektif.
3. Menentukan tolok ukur yang tepat untuk masing-masing prespektif Balanced Scorecard sesuai dengan kondisi Perseroan.
Hal tersulit yang mungkin dirasakan adalah pada saat pengimplementasiannya. Untuk itu perlu adanya dukungan semua pihak, agar pelaksanaan Balanced Scorecard dapat terkoordinasi dengan baik, sehingga sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Penerapan awalnya adalah dengan mengklarifikasikan, mendapatkan konsesus dan komitmen atas strategi yang telah ditentukan, mengkomunikasikannya ke seluruh jajaran Perseroan, yang selanjutnya mentransformasikan Balanced Scorecard menjadi sebuah
sistem manajemen.
"
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Armi Tunggal Yuwani
"Dalam melak:ukan investasi, seorang investor akan memperhitungkan resiko dan return yang diperoleh dari investasi yang dilak:ukan. Untuk mengurangi resiko dan memperoleh return yang maksimal, para investor membuat suatu portofolio dari asset yang optimal. Hasul dari portofolio tersebut berupa risk premium, yaitu selisih antara return yang diharapkan dengan return aktual yang tersedia pada investasi risk free.
Pada dasamya terdapat dua resiko yang mempengaruhi return suatu saham yaitu systematic risk dan unsystematic risk. Systematic risk adalah resiko yang ditimbulkan oleh pengaruh dari luar perusahaan. Risiko jenis ini tidak dapat dikurangi atau disebar dengan diversifikasi. Unsystematic risk adalah risiko yang ditimbulkan dari dalam perusahaan sendiri. Risiko ini bersifat unik dan dapat dikendalikan oleh pimpinan perusahaan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel rasio keuangan dengan risiko sistematik saham yang berada di sektor restoran, hotel, pariwisata, printing, advertising dan media karena berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Chun dan Ramasamy (1989) menyatakan bahwa perbedaaan data keuangan/ akuntansi yang digunakan oleh setiap perusahaan akan memberikan informasi yang berbeda untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko sistematik suatu saham.
Penyusun melakukan analisa terhadap 16 perusahaan dari sektor restoran, hotel, pariwisata, printing, advertising dan media dengan pengumpulan data harian harga saham pada tahun 2000-2004 yang digunakan untuk menentukan parameter dari individual return saham. Selain itu penyusun meiakukan pengumpulan harga saham IHSG harian untuk menentukan nilai dari market return. Variabel keuangan yang digunakan oleh penyusun adalah rasio ROE (Return on Equity), ROI (Return on Investment), PBV (Price to Book Value), NPM (Net Profit Margin), Current ratio dan Debt ratio.
Pengolahan data dilakukan dengan menghitung nilai koefisien beta dari setiap saham individu. Untuk menentukan koefisien beta suatu saham, maka digunakan hubungan tinier antara tingkat pengembalian saham dan tingkat pengembalian pasar. Model ini diturunkan dari model Capital Asset Pricing Model (CAPM). Kemudian dilakukan regresi berganda untuk menentukan hubungan antara variabel bebas rasio keuangan dan risiko sistematik.
Tujuan utama dari model regresi ini hanyalah untuk melihat besar kecilnya pengaruh variabel rasio keuangan dan ukuran perusahaan terhadap resiko sistematik, sehingga dapat diasumsikan tidak terdapat multikolinieritas. Model regresi ini dijelaskan sesuai kondisi aktual karena tidak dilakukan penyesuaian terhadap variabel bebas yang tidak mencerminkan model. Dari basil model regresi berganda tersebut, dilakukan beberapa pengujian lain untuk meningkatkan model regresi yang baik. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji heterokedastisitas, uni multikolinieritas, dan uji autokorelasi."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2005
T15903
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anna Fransiska
"ABSTRAK
Investasi merupakan kegiatan menanamkan modal baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan harapan pada waktunya nanti, pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari basil investasi tersebut. Dalam berinvestasi di pasar modal ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah adanya kemungkinan menderita kerugian disamping mendapatkan keuntungan. Keuntungan dan kerugian akan dipengaruhi oleh kemampuan investor menganalisa keadaan harga saham dan kemungkinan naik turunnya harga di bursa. Harga suatu saham perusahaan yang berfluktuasi sangat penting untuk diamati, khususnya bagi para investor yang berniat untuk menanamkan sahamnya ataupun yang telah memiliki saham suatu perusahaan.
Penelitian ini mencoba untuk membahas kinerja saham perusahaan pada industry restoran, hote4 pariwisata, printing, advertising, dan media, terutama tentang tingkat pengembalian saham perusahaan tersebut. Penelitian juga akan melihat pengaruh variable makro dan pengaruh hubungan variabel mikro (karakteristik industri) terhadap tingkat pengembalian saham perusahaan-perusahaan yang berada di industri restoran, hotel, pariwisata, printing, advertising, dan media.
Variabel-variabel ekonomi makro yang diduga berpengaruh terhadap return saham adalah nilai tukar rupiah atas dollar Amerika, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga sertifikat Bank Indonesia yang terjadi selama beberapa tahun, yang telah disesuaikan dengan tingkat inflasi. Selain variabel ekonomi makro, penelitian juga mencoba melihat variabel pasar yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau pasar terhadap kinerja saham Restoran, Hotel, Pariwisata, Printing, Advertising, dan Media. Kemudian pada masing- asing industri akan coba dilihat mengenai variabel-variabel karakteristik masing-masing industri terhadap kinerja saham di masing-masing industri.
Untuk industri restoran, hotel dan pariwisata, variabel yang diperhatikan adalah jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke wilayah Indonesia. Kemudian untuk industri printing dan advertising digunakan data pendapatan dari basil iklan industri printing dan advertising. Untuk industri media data yang digunakan adalah besamya rating dari setiap stasiun TV. Dengan adanya variabel-variabel tersebut nantinya akan dilihat korelasi atau hubungan antara variabel-variabel yang disebutkan diatas dengan return saham perusahaan pada masing-masing industri.
Kinerja saham industri restoran, hotel, pariwisata, printing, advertising dan media yang dimaksud adalah kinerja saham-saham sektor industri tersebut yang tercatat di BEJ sesuai dengan periode pengamatan yaitu dalam periode 2000-2004. Perusahaan-perusahaan yang menjadi obyek penelitian adalah ANTA, BAYU, JSPT, MAMI, PANR PLIN, PNSE, PTSP, SHID, FAST, ABBA, FORU, IDKM, JTPE, SCMA, dan TMPO. Pengolahan data hingga menghasilkan data final yang siap dianalisa dilakukan dengan bantuan Eviews 4.
Kinerja saham industri restoran, Hotel, Pariwisata, Printing, Advertising dan Media di Bursa Efek Jakarta berdasarkan basil penelitian menunjukkan bahwa kinerja saham perusahaan pada industri ini beraneka ragam. Penambahan faktor makroekonomi dan parameter spesifik industri di tiap model juga memberikan tingkat pengembalian saham yang berbeda. Antara variabel dengan tingkat pengembalian saham berhubungan secara positif maupun negatif. Ada yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengembalian saham dan ada yang tidak berpengaruh secara signifikan."
2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Handayani
"Industri perbankan memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Selain berfungsi untuk mengumpulkan dana dari masyarakat, perbankan melempar dana tersebut dalam bentuk kredit yang digunakan untuk memajukan dunia usaha, yang pada gilirannya mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak, terutama usaha kecil yang berpotensi untuk berkembang, serta meningkatkan produksi nasional. Karena itu, adanya penurunan kinerja yang berakibat pada penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dapat menjadi sorotan terutama otoritas moneter negara yang bersangkutan. Hal ini karena kegiatan perbankan menyangkut seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadinya disfungsi bahkan kegagalan dalam menjalankan kegiatannya secara benar akan mempengaruhi perekonomian nasional suatu negara. Akibat krisis moneter pada tahun 1998 mengakibatkan pemerintah mengambil tindakan untuk mengevaluasi kinerja bank-bank di Indonesia untuk menentukan bank-bank yang dapat bertahan, yang masih perlu diselamatkan, serta yang harus dilikuidasi.
Tujuan dari penulisan karya akhir ini adalah untuk menganalisis kinerja salah satu bank swasta di Indonesia, PT. Bank ABC, yang berhasil menjadi salah satu bank yang paling pertama keluar dari BPPN pasca krisis ekonomi. Data-data yang digunakan untuk analisis ini adalah laporan keuangan Bank ABC periode 2001-2003 beserta catatan atas laporan keuangan untuk menganalisis rasio-rasio keuangan seperti rasio likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, efisiensi usaha, risiko usaha, dan ROE Model. Selain itu untuk memperoleh gambaran yang lebih realistis, maka dibuat analisis pembanding dengan menggunakan PT. Bank Mega, Tbk. yang memiliki total aset hampir sama dengan Bank ABC, yaitu berkategori bank dengan aset di bawah Rp 50 milyar.
Dari hasil analisis rasio keuangan dan ROE Model, tampak bahwa tingkat likuiditas Bank ABC menampakkan kinerja yang baik, lebih baik daripada ffank Mega. Semua rasio likuiditas Bank ABC mengalami peningkatan selama periode 2001-2003. Kinerja solvabilitas dan risiko usaha berfluktuasi dimana sebagian rasio mengalami penurunan namun sebagian lainnya mengalami peningkatan, dan kinerjanya berada di bawah Bank Mega. Kinerja rentabilitas, efisiensi usaha, dan ROE mengalami penurunan dan juga berada di bawah bank Mega. Berdasarkan analisis, penurunan disebabkan karena meskipun net income dan pendapatan bunga bersih mengalami peningkatan, namun peningkatannya tidak setara dengan peningkatan total asset dan deposit sehingga perubahan dari tahun 2002 ke tahun 2003 tidak signifikan, di bawah level 20%.
Kesimpulan dari analisis ini adalah bahwa Bank ABC perlu lebih meningkatkan kinerjanya dari segi net income melalui pengefektifan kegiatan usahanya seperti pelemparan kredit dengan NPL yang tetap terjaga serta pemanfaatan modal yang lebih maksimal agar kinerja rasio keuangannya bisa lebih baik lagi dari sekarang."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Nugroho Wicaksono, Author
"ABSTRAK
Dalam berinvestasi di dalam obligasi, risiko yang dominan mempengaruhi harga obligasi adalah tingkat suku bunga. Ketika tingkat suku bunga turun, harga obligasi mengalami kenaikan, sebaliknya ketika tingkat suku bunga mengalami kenaikan maka harga akan mengalami penurunan. Dalam hal ini tentu investor yang membeli obligasi untuk dimiliki hingga jatuh tempo, menghadapi ketidakpastian required Field yang diterima.
Untuk menghadapi kondisi ini, duration telah dikenal mampu menganalisa risiko obligasi terhadap perubahan tingkat suku bunga. Duration merupakan rata-rata tertimbang cash flow maupun nilai pokok suatu obligasi terhadap yield yang dimiliki oleh obligasi tersebut. Sebagai pengukur risiko, harga obligasi yang volatilitasnya tinggi maka duration juga terlihat tinggi. Namun yang yang menarik dari manfaat duration adalah Duration yang diwakili dari Modified Duration, bahwa pergerakan required Yield dapat melakukan penaksiran terhadap pergerakan harga suatu obligasinya. Hal ini dikarenakan Modified Duration merupakan tangen hubungan antara harga dengan Yield obligasinya. Namun pengukuran Modified duration hanya efektif atas perubahan yield yang relatif kecil tetapi tidak efektif untuk perubahan yield yang besar. Hal iri disebabkan oleh Modified duration menggambarkan huoungan harga dengan yield yang berbentuk liner. Sementara hubungan perubahan harga belum tentu tinier terhadap perubahan yield, namun cenderung berbentuk cembung atau convex. Karena itu dengan perhitungan convexity dari kurva harga dan yield, mencoba menutupi error yang terjadi dari estimasi duration yang kurang akurat.
Dengan perhitungan Modified duration dan convexity secara bersama-sama dapat mengukur perubahan harga lebih akurat terhadap perubahan required yield-nya. Dari obligasi korporasi yang tercatat di BES per Desember 2002, sebanyak 113 obligasi, penulis melakukan metode Sample purposive dengan kriteria-kriteria obligasi yang berpendapatan tetap tanpa opsi, yang memiliki jatuh tempo lebih dari 1 tahun terhitung Juni 2003, dan dirating oleh Pefindo serta tidak dalam keadaan Default. Adapun sample terpilih adalah 15 obligasi.
Analisa penulis lakukan dalam 4 kelompok, dimana obligasi yang telah listing ditahun 1999, obligasi yang telah listing di tahun 2000, obligasi yang telah listing ditahun 2001, obligasi yang telah listing ditahun 2002. Adapun Duration dan convexity dari masing-masing obligasi dihitung dua kali dalam setahun, yaitu di Bulan Januari dan Juli. Sementara sebagai benchmark dari pergeseran Yield obligasi digunakan pergeseran tingkat suku bunga 1 bulan.
Beberapa kesimpulan yang penulis dapatkan dari hasil analisa adalah:
1. Semakin tinggi volatilitas yield obligasi, maka duration akan semakin tinggi. Perhitungan Convexity sebagai pelengkap untuk memprediksi harga, mulai berperan ketika tingkat suku bunga SBI bergerak leb~ dari 1%, ketika tingkat suku bunga SBI bergerak di bawah 1 %, multiplier dari Convexity sangat rendah. Disisi lain harga prediksi yang dihasilkan Modified duration dan Convexity. Terlihat lebih banyak overestimate terhadap perubahan harga actualnya.
2. Untuk obligasi yang harga actualnya dapat diprediksi dengan menggunakkan Modified Duration dan Convexity dari pergeseran tingkat suku bunga SBI ada 8 obligasi dari 15 obligasi yang dijadikan sample, dengan uji t yang tingkat signifikansinya 5% dan 10%. Sementara perubahan harga obligasi yang tidak dapat diprediksi, penulis mencoba menggunakan pengujian statistik apakah pergeseran Yield obligasi karena pergeseran yang non-parallel dengan tingkat suku bunga. Dalam hal ini, pergerakan yield tidak parallel dengan tingkat suku bunga yang ditunjukkan dcngan Beta yang lebih kecil dari 1, namun secara statistik tidak dapat dibuktikan signikansinya, sehingga penulis menyimpulkan bahwa ada faktor error yang menyebabkan yield obligasi bergerak
3. Di dalam pembentukan portofolio, investor yang rasional akan memilih asset dalam efficient frontier-nya, atau berinvestasi pada aset yang memiliki return yang lebih tinggi dengan risiJco yang sama atau berinvestasi pada aset yang memiliki risiko yang rendah untuk tingkat return yang sama. Dalam hal ini risiko obligasi yang diwakili dengan modified duration, jika investor dihadapkan dengan modified duration yang sama tentu investor akan memilih total return yang lebih tinggi.
Penulis mencoba menggunakan teori Yield Curves Strategy, yang memiliki tiga pendekatan yaitu Bullet Strategy Portofolio,dimana berinvestasi pada obligasi pada satu titik jatuh tempo, Barbell Strategy Portofolio yaitu portofolio yang terdiri dari obligasi yang memiliki jatuh tempo yang berbeda jatuh tempo yaitu jangka pendek dan jangka panjang, sementara ladder strategy portofolio memiliki bobot nilainya sama setiap jatuh temponya.
Dari hasil analisa sensitivitas pergeseran Yield Curve secara parallel, dengan duration yang sama terlihat bahwa total return Barbell Strategy lebih baik dibandingkan Bullet Strategy, namun untuk pergeseran dibawah 1% Barbell Strategy juga lebih baik dibandingkan Bullet Strategy, yang berbeda dengan hasil penelitian yang terjadi di luar negeri. Dimana Bullet Strategy memilki kinerja yang lebih baik untuk pergeseran Yield Curve di bawah 1%. Dalam hal ini penulis melihat bahwa tingkat jatuh tempo obligasi dari masing-masing obligasi yang hampir mendekati, hal ini menyebabkan nilai total return yang juga tidak jauh berbeda dari masing-masing obligasi. Mengingat juga bahwa obligasi korporasi di Indonesia yang rata-rata memiliki jatuh tempo sekitar 5 tahunan. Jika jatuh tempo dari obligasi Barbell strategy memiliki perbedaan yang cukup ekstrim, maka kemungkinan Bullet strategy dapat memiliki kinerja yang lebih baik untuk pergeseran Yield Curve yang relatif kecil atau dibawah 1%. Sementara penulis juga membandingkan kinerja Barbell Strategy dengan Ladder Strategy. Dengan duration yang sama, kinerja dari portofolio barbell strategy juga menunjukkan lebih baik.
Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa kinerja Barbell portofolio bisa menjadi menjadi salah satu alternatif untuk mengambil keputusan pembentukan portofolio, dengan asumsi pergerakan dari Yield obligasi adalah parallel dengan tingkat suku bunga SBL
"
2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mayveen Sumantyohadi
"Industri baja nasional merupakan salah satu industri yang dinamis karena memiliki lingkungan yang terus berubah. Hal ini berpengaruh terhadap proses penilaian suatu aset atau perusahaan yang digunakan investor dalam mengambil keputusan investasi. Investor yang bijaksana akan melakukan analisa yang matang sebelum mengambil keputusan menanamkan modalnya di industri ini.
Salah satu analisa yang cukup efektif dan akurat dalam melakukan proses penilaian aset atau perusahaan adalah dengan melakukan analisa fundamental. Keefektifan analisa fundamental adalah bahwa analisa tersebut tidak hanya dilakukan hanya pada nilai aset atau perusahaan semata tetapi juga sumber dari nilai itu sendiri. Diperlukan informasi yang berbeda untuk menilai dua aset yang berbeda pula. Persepsi yang digunakan dalam suatu penilaian hams didukung oleh realitas yaitu bahwa harga suatu aset hams mencerminkan cash flow yang diharapkan dapat dihasilkan dikemudian hari.
Analisa fundamental dimulai dengan analisa perekonomian makro, analisa industry dimana perusahaan berada dan analisa perusahaan itu sendiri. Analisa makro mencakup analisa terhadap analisis pertumbuhan ekonomi dengan indikator-indikator seperti Produk Domestik Bruto, inflasi dan tingkat suku bunga, perkembangan investasi di Indonesia baik Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing, serta prospek pertumbuhan ekonomi itu sendiri di masa depan. Analisa industri merupakan analisa terhadap industri baja secara khusus serta perkembangannya di Indonesia akhir-akhir ini serta analisa industriindustri yang terkait erat dengan industri baja baik secara langsung atau pun tidak langsung. Sementara itu analisa perusahaan adalah melihat kondisi dan kineija perusahaan di masa lalu dan sekarang untuk memperkirakan prospek perusahaan di masa depan. Yang dilakukan di analisa perusahaan adalah analisa terhadap laporan keuangan, strategi perusahaan, dan penghitungan nilai wajar pcrusahaan dengan menggunakan metode discounted free cash flow.
Berdasarkan analisa fundamental yang dilakukan dengan metode discounted free cash flow diperoleh indikasi nilai wajar perusahaan sebesar USD 185,475,310 atau nilai intrinsic saham sebesar USD 4,745 per lembar saham. Selanjutnya penulis membandingkan dengan nilai par yaitu nilai pada saat saham tersebut disetor dan menganalisa perbedaannya. Namun demikian dengan bet.jalannya waktu kesimpulan tersebut dapat saja berubah dengan adanya kondisi yang baru. Hal ini disebabkan karena variabel-variabel yang telah dibuat menjadi tidak relevan lagi sehingga kesimpulan akhir yang telah diperoleh dapat juga berubah."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Catur Wahyu Prasetyo
"Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan gas biometan sebagai bahan bakar Bis Transjakarta berdasarkan potensi sampah organik Pasar Induk Kramat Jati dan dari aspek lingkungan dan aspek ekonomi. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis, dengan potensi sampah organik di Pasar Induk Kramat Jati sebesar 40.763 ton/tahun, dapat dihasilkan potensi biogas sebesar 5.656.040 m3/tahun, dan potensi gas biometan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar Bis Transjakarta sebesar 2.381.680 m3/tahun, dengan potensi pengurangan emisi karbon sebesar 2.927,89 tCO2/tahun. Sedangkan berdasakan analisis kelayakan keuangan diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 6.313.952.701,-, Payback period sebesar 7,49 tahun, dan nilai IRR sebesar 13,02%, maka dapat dikatakan pemanfaatan gas biometan sebagai bahan bakar Bis Transjakarta layak untuk dilaksanakan.

This research aimed to analyze the use of biomethane gas as transjakarta bus fuel based on the organic waste potential at Pasar Induk Kramat Jati, its environment and the economy aspects. The findings demonstrate that, from 40,763 tons/year organic waste at Pasar Induk Kramat Jati, one can generate 5,656,040 m3/year biogas potential, and 2,381,680 m3/year biomethane gas that can be used as transjakarta bus fuel, with carbon emission reduction of 2.927,89 tCO2 per year. While from financial feasibility analysis, it results NPV as much as Rp. 6.313.952.701,-,with 7,49 year payback period and 13,02% IRR. It can be concluded that the use of biomethane gas as transjakarta bus fuel is highly feasible to implemented."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T27879
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>