Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wahyu Bambang Widayatno
"Dalam tesis ini dilaporkan hasil studi sintesis paduan MnBi melalui rute mechanical alloying (MA) dan karakterisasinya untuk mengetahui kehandalan proses mechanical alloying (MA) sebagai salah satu metode alternatif untuk menghasilkan paduan MnBi. Pada tahap pertama studi, dua buah sampel dengan komposisi utama masing-masing Bi80Mn20 (at.%) dan BiMn (at.%) dipilih sebagai material yang menjalani proses pembentukan fasa melalui rute mechanical alloying. Tiga jenis alat pembentukan paduan masing-masing menggunakan metode Planetary Ball Mill (PBM) beroperasi pada temperatur kamar, Planetary Ball Mill beroperasi pada temperatur rendah, dan High Energy Milling (HEM). Dari tahapan pertama studi ini ditunjukkan bahwa HEM sebagai metode yang paling efektif dibandingkan dua metode lainnya. Pada tahap kedua, material dengan komposisi BiMn (at.%) menjalani proses pemaduan dengan menggunakan HEM dan dilanjutkan dengan pemberian perlakuan panas untuk menghasilkan fasa stabilnya (MnBi). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa fasa dominan adalah Bi24Mn2O40 sementara fasa MnBi masih sebagai fasa minor. Dapat disimpulkan bahwa fasa MnBi belum dapat terbentuk secara menyeluruh dan diperlukan kondisi yang bebas oksigen selama proses perlakuan panas.

In this thesis, results on synthesis studies of MnBi alloys prepared through mechanical alloying routes and their characterization are reported. The study was conducted in order to find out the reliability of mechanical alloying process as an alternative method for producing MnBi alloys. In the first stage of study, two main samples with compositions respectively Bi80Mn20 (at.%) and BiMn (at.%) were selected as materials to be processed for phases formation by a mechanical alloying processing. Three types of mechanical alloying tools respectively, room temperature operated Planetary Ball Mill (PBM), low temperatures operated Planetary Ball Mill, and High Energy Milling (HEM) were employed for preparation of the alloys. From the first stage of study, it is shown that HEM is the most effective method compared with that of the others. In the second stage of study, material with a composition of BiMn (at.%) was synthesized through the application of HEM and successively followed by heat treatments to yield its stable phase (MnBi). However, identification studies to the alloy indicated that Bi24Mn2O40 being the major phase and MnBi existed as the minor phase. It can be concluded that MnBi phase as the major phase for the system was not achieved and an inert condition during successive heat treatment is required."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
T29078
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Hamid Budiman
"ABSTRAK
Katalis komersial tidak selalu mempunyai properti yang baik. Katalis ini masih memerlukan perlakuan sehingga dapat memberikan kinerja yang tinggi ketika diaplikasikan pada fuel cell. Metode yang sering digunakan untuk sintesa katalis PtCo/C adalah impregnasi logam pada Platina yang disangga Karbon diikuti proses paduan/alloying pada suhu tinggi. Perlakuan pada suhu tinggi akan menyebabkan aglomerasi sehingga katalis menjadi lebih besar ukurannya, akibatnya terjadi penurunan aktifitas.
Struktur core shell terdiri atas kulit/shell dari suatu atom yang mengelilingi inti/core dari jenis atom yang lain. Struktur ini dapat dicapai melalui proses aneling suhu tinggi, chemical leaching ataupun teknik deposisi elektrokimia. Namun demikian, semua metode tersebut mempunyai kelemahan antara lain berkurangnya luas aktif area, pembentukan shell logam nobel yang tidak lengkap dan memerlukan kontrol potensial selama preparasinya.
Distribusi atom dan alloying extent dari bimetal nanopartikel dapat mempengaruhi aktifitas katalis. Akhir-akhir ini aplikasi x-ray absorption spectroscopy (XAS) banyak digunakan pada bimetal nanopartikel. Namun demikian studi tentang distribusi atom ataupun alloying extent masih terbatas. Pemahaman teori tentang distribusi atom dan alloying extent masih sangat diperlukan.
Tujuan dari studi ini adalah untuk mempelajari peningkatan aktifitas dan stabilitas katalis komersial PtCo/C dengan perlakuan Nitrogen dan Karbon Monoksida untuk mempelajari efek ukuran partikel dan struktur katalis terhadap aktifitas dan stabilitasnya.
Metodologi yang digunakan meliputi perlakuan katalis komersial PtCo/C, karakterisasi fisik, karakterisasi kimia serta pengujian kinerja sel tunggal. Katalis dilakukan perlakuan dengan Nitrogen pada berbagai macam suhu untuk mengetahui efek ukuran partikel terhadap aktifitas dan stabilitasnya, serta perlakuan dengan Karbon Monoksida pada berbagai macam waktu untuk mengetahui efek struktur katalis terhadap aktifitas dan stabilitasnya. Karakterisasi fisik yang dilakukan adalah x-ray diffraction (XRD), transmission electron microscopy (TEM) dan XAS. Sedangkan karakterisiasi kimia yang dilakukan adalah cyclic voltammetry (CV) dan linear sweep voltammetry (LSV).
Analisa XRD yang dilakukan pada katalis PtCo/C dengan perlakuan Nitrogen menunjukkan bahwa ukuran partikel menjadi lebih besar dengan bertambahnya suhu perlakuan. Analisa TEM menggambarkan distribusi partikel yang merata dan sesuai dengan hasil XRD. Sedangkan, analisa elektrokimia menunjukkan kurva voltammogram yang bentuknya seperti kurva voltammogram Pt.
Untuk katalis PtCo/C dengan perlakuan Karbon Monoksida, analisa XRD menunjukkan bahwa adanya puncak Kobal untuk katalis dengan perlakuan selama 5, 7, 10 dan 15 jam. Hal ini mengindikasikan adanya segregasi ke permukaan katalis. Analisa XAS memberikan hasil struktur Pt rich in core Co rich in shell untuk katalis dengan perlakuan selama 1, 3 dan 5 jam. Sebaliknya perlakuan selama 7, 10 dan 15 jam menghasilkan struktur Pt rich in shell Co rich in core. Dari analisa elektrokimia yang dilakukan, dihasilkan tidak adanya perubahan CV untuk katalis dengan perlakuan selama 1-5 jam, mengindikasikan adanya peningkatan aktifitas. Sebaliknya perlakuan selama 7-15 jam menunjukkan katalis bersifat kurang aktif. Pengujian stabilitas menunjukkan katalis dengan perlakuan 1-5 jam bersifat tidak stabil. Hal ini dikarenakan Pt yang terletak di core tidak mampu untuk melindungi Co yang berada di shell dari disolusi. Sebaliknya katalis dengan perlakuan selama 7-15 jam bersifat stabil, karena Pt yang terletak di shell mampu melindungi Co yang berada di core dari proses disolusi.
Pengujian kinerja sel tunggal menunjukkan bahwa katalis dengan perlakuan Karbon Monoksida selama 3 jam merupakan katalis yang mempunyai kinerja terbaik. Hal ini sesuai dengan aktifitas masa dan luas permukaan spesifik dari katalis dengan perlakuan Karbon Monoksida selama 3 jam, di mana katalis ini mempunyai aktifitas paling baik terhadap reaksi reduksi oksigen. Terlihat bahwa terjadi peningkatan power densitas sebesar 20,49 %, di mana katalis PtCo/C komersial mempunyai power density 88,33 mW/cm2 dan katalis PtCo/C dengan perlakuan Karbon Monoksida selama 3 jam mempunyai power density 108,82 mW/cm2.

ABSTRACT
The synthesis procedure on a commercial catalyst still needs to be improved in order to get a better catalyst performance for application on fuel cell. There is no guarantee that the commercial catalyst has a good property. The commonly used method to prepare PtCo/C electrocatalyst is through impregnation of the second metal on platinum supported carbon (Pt/C) followed by alloying at high temperature in an inert gas. This high temperature heat treatment facilitates the growing of the alloy nanoparticles (NPs) due to sintering, which is undesirable because it may result in reduction of the Pt mass activity for the oxygen reduction reaction (ORR).
Core shell NPs consist of a shell of one type of atom surrounding a core of another type of atom. This structure can be achieved by high temperature annealing, chemical leaching of the non noble material or electrochemical deposition technique.
Nevertheless, all of these methods exhibit significant disadvantages such as losses in active surface area and material, formation of an incomplete noble metal shell, and necessity for potential control during preparation.
It is important to understand the atomic distribution and alloying extent of participating elements in individual bimetallic NPs, as these factors also influence the intrinsic catalytic activity. In recent years, x-ray absorption spectroscopy (XAS) studies have been well explored on bimetallic NPs. However, XAS studies focusing on estimation of atomic distributions or alloying extent in the NPs are limited. Therefore, we propose a methodology to estimate the structural characteristics such as alloying extent or atomic distribution in bimetallic NPs, by deriving the structural parameters from XAS analysis and to demonstrate the results on commercially available carbon supported PtCo NPs.
The overall objective of this study is to enhance the activity and stability of commercial PtCo/C electrocatalyst through treatment with nitrogen (N2) and carbon monoxide (CO). In this work, a commercial PtCo/C catalyst was treated using two different strategies to study the effect of particle size and structure on its activity and stability The research methodology consists of PtCo/C catalyst treatment, physical characterization, electrochemical characterization and single cell proton exchange membrane (PEM) fuel cell performance test. The catalysts were treated with nitrogen at various temperatures in order to study the effect of the particle size on its activity and stability, and also treated with carbon monoxide at various times in order to study the effect of the structure on its activity and stability. Physical characterizations were done through x-ray diffraction (XRD), transmission electron microscopy (TEM) and XAS. The electrochemical characterizations were done using cyclic voltammetry (CV) and linier sweep voltammetry (LSV).
For the PtCo/C that is subjected to N2 treatment, XRD result shows the particle size is increased with increasing temperature of treatment. TEM result shows that all the PtCo NPs are well dispersed on the surface of carbon and it is in accordance with the XRD result. The electrochemical characterization shows that the base voltamogram becomes more Pt-like, which is indicative of leaching Co from the surface. While for PtCo/C that is subjected to CO treatment, the XRD result shows that treatmnet for 5, 7, 10 and 15 hours leads to surface segregation, at which the peak of Co-related species is clearly observed. The alloying extent and coordination number of the catalysts were investigated with XAS, show that treatments for 1, 3 and 5 hours resulted in Pt rich in core Co rich in shell. On the contrary, treatments for 7, 10 and 15 hours resulted in Pt rich in shell Co rich in core.
It is clearly demonstrated that the PtCo/C subjected to CO treatment for 1-5 hours shows the enhanced ORR activity, but the catalyst is unstable due to the dissolution of Co, while samples treated for 7-15 hours display poor activities. However, the catalyst is stable, which is likely due to the fact that Pt in the surface protects Co from dissolution.
The single cell PEM fuel cell performance test shows that PtCo/C subjected to CO treatment for 3 hours shows the best performance. This result is in accordance with the specific surface area and mass activity of PtCo/C that is subjected to CO treatment for 3 hours, which has a better activity toward ORR. Catalyst treatment would increase the fuel cell performance by 20.49 % (Power density of commercial PtCo/C electrocatalyst: 88.33 mW/cm2, PtCo/C electrocatalyst subjected to CO treatment for 3 hours: 108.82 mW/cm2)"
Depok: 2011
D1285
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nastiti Elwindari
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas kinetika pertumbuhan kristal dan karakterisasi
material penyerap gelombang mikro berbahan dasar LSMO di substitusi Fe-Ti
dengan formula La0.5Sr0.5Mn0.8Fe0.1Ti0.1O3. Preparasi material menggunakan
metode paduan mekanik selama 10 jam, kemudian diberikan variasi waktu 0, 1, 5
dan 24 jam pada temperatur 1000 C, 1100 C dan 1300 C. Pengujian XRD
sebelum proses sintering dan sesudah sintering yang menunjukan hasil bahwa
sintesa bahan atau paduan La0.5Sr0.5Mn0.8Fe0.1Ti0.1O3 memiliki fasa tunggal (single
phase) dengan struktur kristal orthorombik dengan parameter kisi a=7.7 Å ; b=5.5
Å ; c=5.4 Å. Berdasarkan hasil pengukuran ukuran kristal rata-rata melalui
metode Debye-Scherrer, kinetika pertumbuhan kristal rata-rata mengikuti
persamaan Avrami dengan nilai energi aktivasi sebesar Q=21.29 kJ/mol.K.
Karakteristik nilai serapan gelombang mikro pada frekuensi 8?15 GHz dianalisa
menggunakan Vector Network Analyzer (VNA). Karakterisasi kurva reflektansi
loss sampel material T1300-24jam memberikan nilai intensitas yang paling
optimal yaitu sebesar -3.58 dB atau 34% frekuensi serapan pada frekuensi optimal
12.5 GHz, dan lebar pita penyerapan sebesar 3 GHz.

ABSTRACT
The kinetics of crystallite growth and microwave characteristics for Fe-Ti
substituted LSMO with La0.5Sr0.5Mn0.8Fe0.1 Ti0.1O3 composition was investigated.
Material preparation was carried out by means of mechanical alloying process for
10 hours milling times. The powders which prepared from mechanically milled
material were sintered at temperatures 1000 C, 1100 C dan 1300 C respectively
for 0, 1, 5 and 24 hours time sintering time. The XRD traces for sintered materials
confirmed that the La0.5Sr0.5Mn0.8Fe0.1 Ti0.1O3 is a single phase material with a
orthomobic crystal structure a=7.7 Å ; b=5.5 Å ; c=5.4 Å. Refering to mean
crystallite size evaluation which employing Debye Scherrer method. It was found
that the kinetics of mean crystallite growth followed the Avrami equation with an
activation energy for crystallite growth Q=21.29 kJ/mol.K. In addition to
crystallite growth kinetics the absorbtion characteristics of material was evaluated
by a Vector Network Analyzer (VNA) in the electromagnetic frequency range 8-
15GHz. The best absorbtion characteristics was found in the sample code T1300-
24h. This follows that the reflection loss of -3.58 dB or 34% was absorb occurred
at frequency 12.5 GHz was the bandwith 3GHz.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43712
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Novizal
"In this research, analysis of the magnetic properties of the nanoscale ferromagnetic material barium strontium hexaferrite with the composition of Ba(0.7)Sr(0.3)O6(Fe2O3) or written as B7S3HF is conducted. The material was prepared by the ball mill method, followed by reducing the particle sizes of the material to reach a result in nanometers with a high pressure ultrasonic for 12 hours. In the compacting process, a parameter was given from the outside of the 50 mT magnetic field to determine the cause of the anisotropy phenomenon of the material. To identify the phase of material, changes in the magnetic properties and measurement of the Particle Size of the B7S3HF material were taken. The equipment used was X-Ray Diffraction (XRD), Permagraph (an automatic computer-contolled measuring system) and Particle Size Analyzer (PSA). The results of XRD were seen in their influence against the Buffered Hydrofluoric (BHF) acid, which were caused by the effects of the Strontium (Sr) substitution and by increasing the size of the material volume. Changes in the magnetic properties of the B7S3HF material, due to an induced magnetic field from the outside, were caused in contrast with the remanent value ranging from 0.18 T up to 0.249 T, respectively. This process did not occur, since the coersivity value was fixed at 275.54 kAm-1. Changes in the value of the remanent material rose by 0.069 T or (6.9%). This phenomenon shows the anisotropy influence in the B7S3HF material in an external magnetic induction of 50 mT. The results of the ultrasonic measurements were performed using Particle Size Analyzer (PSA) equipment, which gained a 43.5 nm particle size."
Depok: Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, 2016
UI-IJTECH 7:3 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Microstructure , crystal structure, and grain size observations on the Mg2 Al3 growth by mechanical alloying. Microstructure , crystal structure, and grain size observations on the growth of Mg2 Al3 phase by mechanical alloying have been performed. The Mg2 Al3 compound is prepared by milling process at various milling time of 10,20 and 30 h..."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Zulkarnain
"Kendala utama yang menghambat aplikasi bahan bakar fuel cell pada kendaraan bermotor saat ini adalah tabung penyimpan hidrogen (on board storage). Tabung penyimpan hidrogen berfungsi untuk menampung gas hidrogen, sama halnya seperti tangki bensin pada motor konvensional. Salah satu upaya mutakhir dalam riset penyimpan hidrogen adalah dengan menyisipkan hidrogen dalam logam tertentu atau disebut solid state hydrogen storage. Magnesium (Mg) dianggap sebagai salah satu kandidat potensial material penyerap hidrogen karena, secara teoritis, memiliki kemampuan menyerap hidrogen dalam jumlah besar (7,6 wt%). Jumlah ini melebihi batas minimum yang ditargetkan Badan Energi Dunia (IEA) yakni sebesar 5 wt%. Selain itu sifat Mg yang ringan, mudah diperoleh dan harganya yang ekonomis juga menjadi pertimbangan peneliti dunia saat ini. Akan tetapi Mg memiliki kekurangan, yakni reaksi kinetiknya sangat lambat. untuk menyerap hidrogen dibutuhkan waktu minimal 60 menit. Temperatur operasinya juga sangat tinggi (300 -SiC YANG DIPREPARASI MELALUI RUTE REACTIVE MECHANICAL ALLOYING oC). Dalam perkembangannya, penggunaan material berskala nano diikuti dengan penambahan elemen lain sebagai katalis melalui proses preparasi material (mis. mechanical alloying) kini sedang aktif dilakukan. Karena itu, dalam penelitian ini dipelajari sistem penyimpan hidrogen berbasis MgH2-SiC. Material utama yakni MgH2 dipadukan dengan menyisipkan katalis karbida SiC dan direaksikan dengan gas hidrogen bertekanan rendah (0-10 bar) selama proses miling. Tujuan dari studi ini adalah untuk memperbaiki sifat-sifat serapan (absorp dan desorp) material penyimpan hydrogen berbasis MgH2. Adapun preparasi material dikerjakan melalui rute reactive mechanical alloying. Pada metode ini, penghalusan (milling) material dilakukan dalam atmosfir reaktif H2 (10 bar). Selain itu pengaruh penggunaan katalis ganda (SiC dan Ni) skala nanopartikel juga turut dipelajari. Hasilnya, material dengan komposisi MgH2-5wt%SiC-5wt%Ni memiliki sifat-sifat lebih unggul. Dalam sistem ini hidrogen yang diserap mencapai 5,7 wt%. Hasil observasi dengan DTA diketahui temperatur desorpsinya dapat direduksi hingga 250°C. Hasil ini berhasil memperbaiki Tonset MgH2 murni yang mencapai 380°C.

Hydrogen can be stored in the form of gas, as a liquid, in solid materials (metals hydrides) with different advantages and drawbacks in terms of cost, weight, stability, convenience of usage and energy density. Hydrogen storage in metal hydrides, compared t°Conventional methods, is regarded as one of the best solutions due to the higher volumetric storage capacity and safety. Magnesium and magnesiumbased alloys are promising candidates for hydrogen storage because of their high discharge capacity and low specific gravity, they are naturally abundant and produce relatively low costs in fabrication and in the acquisition of raw materials. The hydrogen storage capacity of magnesium in the form of MgH2 amounts to 7.6 wt.%. Unfortunately, MgH2 has a high thermodynamic stability and therefore, relatively slow desorption kinetics, which are the major drawbacks for the application as a hydrogen storage material. Various techniques are developed to improve the sorption characteristics by accelerating the aforesaid processes. In this work we success to synthesis and investigate the catalytic effect of SiC and Ni (in nanostructure scale) on MgH2 using reactive mechanical alloying method in 10 bar H2. At first step, using SiC catalyst the sorption properties can be improved. The most promising step by using SiC and Ni (MgH2-5wt%SiC-5wt%Ni) which could absorp 5.7 wt% hydrogen and at the same time decrease the desorption temperature to 250°C. Compared to T onset of pure MgH2 -which desorp at 380°C- this results is very promising for MgH2-SiC system."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
D1296
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Gabriella Permata Widyaputrie
"Telah dilakukan penelitian pada paduan La0.67Ba0.33Mn1-xTixO3 dengan variasi x=0; 0.02; 0.04; 0.06 dengan mensintesa dan mengkarakterisasi bahan tersebut. Sintesa dilakukan menggunakan metode mechanical alloying dengan mencampurkan bahan-bahan dasar penyusun yakni La2O3, BaCO3, MnCO3, dan TiO2. Campuran ini kemudian dimilling selama 10 jam kemudian dikarakterisasi menggunakan Thermogravimetry Analysis (TGA). Kemudian dilakukan proses kalsinasi pada suhu 800º C selama 8 jam dan dilanjutkan dengan proses sintering pada suhu 1100º C selama 12 jam. Karakterisasi lainnya menggunakan difraksi sinar-X (XRD) sebelum sintering dan setelah sintering yang menunjukkan paduan La0.67Ba0.33Mn1-xTixO3 telah memiliki fasa tunggal dengan sistem kristal monoklinik,dengan parameter kisi a=5.53 Å ; b=5.54 Å ; c=7.8 Å dan space group I 1 2/c 1 (15), Particle Size Analyzer (PSA) menunjukkan hasil ukuran partikel besar untuk sampel yang tidak disintering. Scanning Electron Microscopy (SEM) untuk melihat morfologi permukaan. Hasil ukuran kristalit rata-rata menggunakan metode Debye-Scherrer.menghasilkan ukuran kristalit rata-rata material LBMO sebesar 60.3 nm dan LBMTO untuk setiap variasi x sebesar `~78.8 nm.

This research focuses on the mixture La0.67Ba0.33Mn1-xTixO3with the value x=0; 0.02; 0.04; 0.06. The x variation is done through synthesis and characterizing the sample. The method of synthesis is mechanical alloying, by mixing the basic compounds La2O3, BaCO3, MnCO3 with TiO2. The milling process of this mixture is 10 hours, then characterized using Thermogravimetry Analysis (TGA). Then, calcination at 800º C for 8 hours followed by sintering at 1100º C for 12 hours. XRD is done, in addition, before and after sintering. Results show the mixture La0.67Ba0.33Mn1-xTixO3have a single phase monoclinic crystal structure with cell parameter a=5.53 Å ; b=5.54 Å ; c=7.8 Åand space group I 1 2/c 1 (15). PSA shows big particles for samples not undergoing sintering. SEM is used to analyze the surface morphology. The Debye-Scherrer method calculates the average resulting crystallites, with values LBMO = 60.3nm and for LBMTO = 78.8nm (for each x variation)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S46122
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erfan Handoko
"Berdasarkan perkembangan penelitian magnet permanen dalam 100 tahun terakhir penelitian terfokus pada penemuan komposisi baru dalam material magnet sampai akhir abad 20 ketika fasa magnetik Nd2Fe14B ditemukan dan tidak ada lagi penemuan fasa magnetik baru setelahnya. Pada kenyataannya arah pengembangan penelitian bahan magnet lebih telah berubah dan terfokus pada rekayasa struktur dari material magnetik yang pernah dikembangkan sebelumnya kepada nanomaterials.
Dalam penelitian ini telah diteliti material magnetik sistem komposit Nd2Fe14B/Fe3Si yang disiapkan melalui metode mechanical alloying. Diawali dengan pembentukan paduan Nd-Fe-B komposisi stoikiometri melalui peleburan arc dalam lingkungan yang bebas oksida. Paduan Nd-Fe-B tahan oksidasi hanya dapat diperoleh melalui peleburan dan sistem dengan pencetakan dengan laju yang cepat. Validasi tahapa-tahapan pembuatan magnet sinter Nd-Fe-B telah diperoleh melalui pembuatan magnet sinter komposisi Nd15Fe77B8 (at %) yang telah terbukti memiliki memiliki sifat-sifat kemagnetan yang optimal. Penggabungan antara fasa magnetik Nd2Fe14B dan Fe3Si dalam sistem komposit dilakukan untuk menghasilkan magnet permanen Nd-Fe-B dengan sifat-sifat yang unggul. Hal ini diperoleh melalui pemanfaatan interaksi pertukaran antara fasa magnet permanen Nd2Fe14B yang memiliki magnetisasi total 1,6 T dan fasa magnet tidak permanen Fe3Si yang memiliki magnetisasi total 2 T.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa magnet komposit sistem Nd2Fe14B/Fe3Si terbentuk dengan baik namun struktur material belum dapat dikontrol dengan baik ditandai dengan masih rendahnya nilai koesivitas dan remanen. Interaksi pertukaran antar fasa-fasa magnetik hanya dapat diperoleh bila ukuran kristal fasa-fasa magnetik dalam sistem komposit masuk dalam ukuran skala nanometer."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
D1879
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Aya Addina Makarim
"ABSTRAK
Paduan memiliki peran penting di dalam industri besi dan baja untuk meningkatkan sifat dan kualitas produk akhir dengan cara mengubah mikrostrukturnya. Banyak penelitian sudah dilakukan guna meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana paduan dapat mempengaruhi kualitas besi. Berbagai jenis paduan sudah sering digunakan dalam dunia modern, salah satunya adalah FeMn. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana pengaruh FeMn pada kurva pendinginan besi, dan bagaimana FeMn bereaksi dengan besi tuang cair, teruatama besi tuang kelabu hipoeutektik. Zona reaksi diinvestigasi dibawah mikroskop dan SEM. Hasil penelitian menunjukan bahwa FeMn menurunkan temperatur eutektik dari besi tuang dan analisis mikrostruktur menunjukkan bahwa reaksi antara mangan dan besi menyebabkan mangan perlahan terdispersi ke dalam matrix besi.

ABSTRACT
Alloying has always been an important part in the iron and steel industry in order to improve the properties and qualities of end products by altering its microstructure. Many researches have been conducted to improve the understanding of how alloying elements could affect the quality of irons. Various types of alloys are already been used in the modern world. One of them is ferromanganese. This study aims to investigate the reaction of ferromanganese alloy with a cast iron melt, specifically hypoeutectic grey cast iron. The study particularly focuses on how ferromanganese affects the cooling curve of cast iron, and how it reacts with the cast iron. The reaction zones were investigated under the light microscope and scanning electron microscope (SEM). The results indicate that ferromanganese decrease the eutectic temperature of the cast iron, and the microstructure analysis shows that the reaction between manganese and iron causing the manganese to gradually disperse into the iron matrix.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andon Insani
"ABSTRAK
Desertasi ini membahas tentang karakteristik Paduan Mg3CoNi2 Sebagai Penyerap Hidrogen. Paduan dibuat dengan metode pemaduan mekanik. Untuk mendapatkan sampel yang optimal telah dilakukan variasi pembuatan sampel dengan mengombinasikan rasio berat bola terhadap sampel 1:1 dan 8:1 dengan waktu milling selama 10 menit, 5, 10, 15, 20, 30, 40 dan 60 jam. Peralatan milling adalah konvensional milling dan High Energy Milling SPEX 8000. Dari pengukuran XRD diketahui bahwa semua sampel mengalami oksidasi dengan bertambahnya waktu milling yaitu terbentuknya fasa MgO yang semakin banyak.
Untuk mengurangi oksidasi dilakukan teknik pemaduan basah dengan cara menambahkan toluen ke dalam sampel yang akan dimilling. Dari pengukuran XRD diketahui bahwa fasa yang terbentuk sebagian besar adalah Mg2Ni dan sedikit MgNi2 sedangkan fasa Mg2Co dan MgCo2 tidak terbentuk. Hal ini karena energi pembentukan Mg2Co dan MgCo2 lebih besar dari pada pembentukan Mg2Ni dan MgNi2. Fasa Mg2Ni yang terbentuk mengalami penurunan parameter kisi dari 5,22 nm menjadi 4,59 nm dan dari 13,29 nm menjadi 11,72 nm. Dari hasil pengamatan dengan SEM juga menunjukkan pengurangan ukuran partikel dan dari pengamatan dengan SANS menunjukkan penambahan luas permukaan.
Kapasitas penyerapan hidrogen terbanyak diperoleh pada sampel yang dimilling selama 40 jam pada temperatur 200°C, yaitu sebesar 3,3 % berat. Keberadaan hidrogen di dalam sampel ditunjukkan dengan terjadinya perubahan ukuran kristal pada sudut 40,95° dan pada sudut 47,7°. Keberadaan hidrogen dalam sampel juga dibuktikan dengan turunnya intensitas hamburan neutron pada pengamatan dengan menggunakan SANS.

ABSTRACT
This dissertation is discussing about the characteristics of Mg3CoNi2 alloy as an hydrogen storage. The alloy is made by mechanical alloying method. To obtain the optimal sample, a variation making of sample has been done by combining the ball to the sample weight ratio of 1:1 and 8:1 with the milling time of 10 s, 5, 10, 15, 20, 30, 40 and 60 hours. The milling apparatus used is a conventional milling and a High Energy Milling SPEX 8000. From the XRD measurement results it is known that all obtained by dry preparation method sample are oxidized into MgO phase, especially for longer milling time. To reduce the oxidation effects a wet alloying method has been done by adding toluene to the sample to be milled.
From the XRD measurement results it is known that the phases formed are mostly Mg2Ni and small amount of MgNi2, while the phases of Mg2Co and MgCo2 are not formed. This is because the energy of Mg2Co and MgCo2 formations are bigger than those for Mg2Ni and MgNi2 formation. The lattice parameters of Mg2Ni formed decrease from 5,22 nm to 4,59 nm and from 13,29 nm to 11,72 nm.
From the observation results using SEM the decrease of particle size is also shown and from SANS investigations it is shown that surface area increased with increasing milling time. The highest hydrogen absorption capacity was obtained from 40 hours milled sample at hydriding temperature of 200°C. The presence of hydrogen in the sample is indicated the change of the crystallite size calculated the angle of 40,95°and 47,7°. The presence of hydrogen in the sample is also proven with the decrease of neutron scattering intensity analyzed using SANS."
Depok: 2009
D972
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>