Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Siti Nur Muazarah
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara viktimisasi bullying dan kejadian alexithymia pada remaja. Alexithymia merupakan kondisi psikologis di mana individu mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengungkapkan emosi, yang dapat berdampak pada kesejahteraan mental. Viktimisasi bullying dipahami sebagai pengalaman berulang menjadi korban perilaku agresif, baik secara fisik, verbal, relasional, maupun melalui media digital. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan instrumen Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ) dan Toronto Alexithymia Scale (TAS-20). Sampel penelitian adalah remaja sekolah dasar di wilayah Jakarta yang dipilih melalui teknik two-stage cluster sampling. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara dua variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara viktimisasi bullying dan kejadian alexithymia pada remaja. Temuan ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja sebagai dampak dari bullying, serta perlunya intervensi preventif dan edukatif dari pihak sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan.

This study aims to examine the relationship between bullying victimization and the occurrence of alexithymia in adolescents. Alexithymia is a psychological condition in which individuals have difficulty identifying and expressing emotions, potentially affecting their emotional well-being. Bullying victimization refers to repeated experiences of being the target of aggressive behavior, including physical, verbal, relational, and digital forms. This research employed a quantitative cross-sectional design using the Olweus Bully/Victim Questionnaire (OBVQ) and the Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) as instruments. The participants were elementary school adolescents in Jakarta selected through a two-stage cluster sampling technique. Data were analyzed using the Chi-Square test to determine the relationship between the two variables. The results showed a significant relationship between bullying victimization and the occurrence of alexithymia in adolescents. These findings highlight the importance of addressing adolescent mental health issues related to bullying and the need for preventive and educational interventions from schools, families, and health professionals."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Frederica Rea Diucandra Ajibaskoro
"Alexithymia adalah sebuah trait kepribadian yang ditandai dengan kesulitan mengidentifikasikan dan mengekspresikan emosi, serta orientasi berpikir terhadap hal-hal eksternal. Alexithymia dapat muncul akibat paparan terhadap pengalaman trauma dan telah ditemukan berhubungan dengan pengalaman childhood maltreatment. Meskipun begitu, mekanisme hubungan antara keduanya belum banyak diketahui. Penelitian ini menguji peran experiential avoidance sebagai mediator. Experiential avoidance diduga dilakukan oleh individu dengan pengalaman childhood maltreatment dan dapat mempersulit individu untuk memaknai emosinya sehingga mendukung perkembangan alexithymia. Sejumlah 558 individu emerging adults (18–29 tahun) di Indonesia telah berpartisipasi dalam kuesioner self-report dan mengisi alat ukur TAS-20, AAQ-II, dan CTQ-SF. Analisis mediasi sederhana dilakukan menggunakan PROCESS dengan mengontrol jenis kelamin dan tingkat pendidikan partisipan. Hasil analisis mediasi menemukan bahwa experiential avoidance secara signifikan memediasi hubungan antara childhood maltreatment dan alexithymia. Hubungan langsung antara childhood maltreatment dan alexithymia tetap signifikan, sehingga peran mediasi experiential avoidance hanya bersifat parsial. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa individu dengan pengalaman childhood maltreatment dan memiliki trait alexithymia dapat mendapatkan manfaat dari mereduksi experiential avoidance dengan meningkatkan psychological flexibility.

Alexithymia is a personality trait characterized by difficulty in identifying and expressing emotions, as well as externally-oriented thinking. Alexithymia can arise as a result of exposure to traumatic experiences and has been found to be associated with experiences of childhood maltreatment. However, the mechanism of the relationship between the two is not well understood. This study examines the role of experiential avoidance as a mediator. Experiential avoidance is hypothesized to be practiced by individuals with experiences of childhood maltreatment and can make it difficult for individuals to understand their emotions, thereby supporting the development of alexithymia. A total of 558 emerging adults (18–29 years) in Indonesia participated in a self-report questionnaire and completed the TAS-20, AAQ-II, and CTQ-SF. Simple mediation analysis was conducted using PROCESS while controlling for participants' gender and education level. The mediation analysis results found that experiential avoidance significantly mediated the relationship between childhood maltreatment and alexithymia. The direct relationship between childhood maltreatment and alexithymia remained significant, indicating that the mediation role of experiential avoidance was only partial. This study implies that individuals with experiences of childhood maltreatment and who possess the trait of alexithymia could benefit from reducing experiential avoidance by increasing psychological flexibility."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Alfan Nuruddin
"

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan reappraisal pada konteks perjudian menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Hasil-hasil yang tidak konsisten tersebut mungkin disebabkan oleh variabel lain yang memicu penggunaan reappraisal menjadi positive reinforcer untuk berjudi. Di dalam penelitian ini, alexithymia diperhitungkan sebagai variabel yang dapat memperkuat hubungan positif antara reappraisal dan problem gambling. Analisis moderasi sederhana dengan PROCESS digunakan untuk menganalisis peran moderasi alexithymia dalam hubungan antara cognitive reappraisal dan problem gambling pada 115 individu laki-laki yang terlibat dalam perjudian daring. Data yang dianalisis dikumpulkan melalui kuesioner self-report yang terdiri dari alat ukur SOGS, TAS-20, dan ERQ. Hasil analisis menunjukkan bahwa alexithymia memoderasi hubungan antara cognitive reappraisal dan problem gambling dengan signifikan. Walaupun demikian, reappraisal gagal dalam memprediksi problem gambling secara langsung. Secara umum, penelitian ini menemukan bahwa cognitive reappraisal dapat memperparah problem gambling pada individu dengan tingkat alexithymia yang tinggi.


Previous research has shown inconsistent results regarding the application of reappraisal in the context of gambling. These inconsistent results may be due to other variables that trigger the use of reappraisal as a positive reinforcer for gambling. In this study, alexithymia is considered as a variable that can strengthen the positive relationship between reappraisal and problem gambling. A simple moderation analysis with PROCESS was used to analyze the moderating role of alexithymia in the relationship between cognitive reappraisal and problem gambling in 115 male individuals involved in online gambling. The analyzed data were collected through self-report questionnaires consisting of the SOGS, TAS-20, and ERQ measurement tools. The results of the analysis showed that alexithymia significantly moderates the relationship between cognitive reappraisal and problem gambling. However, reappraisal failed to directly predict problem gambling. Overall, this study found that cognitive reappraisal can exacerbate problem gambling in individuals with high levels of alexithymia."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library