Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"The aim of this research was to know antioxidant activity in-vitro and hepatoprotector of iridoid fraction of hedyotis corymbosa (diamond flower) in rabbit's liver induced by acetaminophen....."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ocsyavina
"

Latar Belakang: Kanker hati, khususnya karsinoma sel hati (KSH), adalah masalah kesehatan utama secara global, dengan rekurensi dan tingkat kematian yang tinggi. Peradangan kronis dan stres oksidatif adalah faktor utama dalam perkembangan KSH. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa parasetamol, obat anti-inflamasi umum, dapat mencegah KSH dengan menghambat jalur siklooksigenase (COX) dan mengurangi peradangan serta stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektif asetaminofen terhadap insiasi KSH oleh Diethylnitrosamine (DEN) pada tikus jantan.

Metode : Tikus Jantan jenis Sprague-Dawley (usia 5-6 minggu, Berat badan 240-290gr) dibagi kedalam kelompok kontrol dan perlakuan (masing-masing 6 tikus tiap kelompok) kedua kelompok diinisiasi KSH dengan injeksi DEN (50mg/kgBB) intraperitoneal setiap minggu selama 10 minggu. Kelompok perlakuan diberikan asetaminofen 200 mg/kg/hari peroral 1 minggu sebelum diberikan DEN sampai 24 minggu. Dilakukan pemeriksaan biomarka fungsi hati (AST, ALT,AFP, Bilirubin dan albumin) dan dilakukan pemeriksaan histopatologi sel hati. Data dianalisis menggunakan SPSS. Normalitas data dinilai dengan uji Shapiro-Wilk. Setelah itu, dilakukan uji analisis numerik tidak berpasangan berupa uji T-test tidak berpasangan

Hasil : Kelompok asetaminofen (perlakuan) menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam nilai AST, ALT dan bilirubin dari waktu ke waktu serta nilai AST, ALT dan bilirubin yang lebih baik dari kelompok kontrol (p < 0.05). Tikus dalam kelompok kontrol mengalami kerusakan hati yang substansial dan kematian dini, sedangkan tikus dalam kelompok perlakuan menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup dan fungsi hati yang lebih baik. Analisis histopatologis mengungkapkan lebih sedikit perubahan nekrotik dan prakanker pada kelompok perlakuan. Selain itu, tingkat albumin berhubungan signifikan dengan manifestasi sirosis (p = 0.005), dan tingkat ALT serta bilirubin berkorelasi dengan kondisi prakanker (p < 0.05).

Kesimpulan: Asetaminofen dengan dosis 200 mg/kg berat badan memiliki efek protektif pada hepatosit tikus terhadap kerusakan hati dan potensi karsinogenesis yang diinduksi oleh DEN. Studi ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk penelitian lanjutan yang mempertimbangkan penggunaan asetaminofen pada pasien dengan fibrosis hati yang menjalani reseksi hati untuk mencegah kekambuhan dan mengurangi peradangan pada pasien yang menjalani reseksi hati.


Background: Liver cancer, particularly hepatocellular carcinoma (HCC), is a major global health issue, with high recurrence and mortality rates. Chronic inflammation and oxidative stress are key factors in the development of HCC. Previous studies have shown that paracetamol, a common anti-inflammatory drug, can prevent HCC by inhibiting the cylclooxygenase (COX) pathway and reducing inflammation and oxidative stress. This study aims to investigate the hepatoprotective effects of acetaminophen against diethylnitrosamine (DEN)-induced liver carcinoma in male rats.

Methods: Male Sprague-Dawley rats (5-6 weeks old, 240-290g) were divided into control and treatment groups (6 rats each). Both groups initiated HCC with DEN (50 mg/kg body weight) intraperitoneally once a week for 10 weeks. The treatment group additionally received acetaminophen (200 mg/kg/day) from one week before DEN administration until the 24th week. Liver function biomarkers (AST, ALT, AFP, Bilirubin and albumin) were measured, and liver tissues were histopathologically evaluated. Data were analyzed using SPSS, employing Shapiro-Wilk tests for normality and unpaired T-tests for comparisons.

Results: Acetaminophen group resulted in significant differences in Aspartate Aminotransferase (AST), Alanine Aminotransferase (ALT), and bilirubin values over time and had better AST, ALT, bilirubin levels compared to control group (p < 0.05). Control group rats exhibited substantial liver damage and early death, whereas the treatment group showed improved survival and liver function. Histopathological analysis revealed fewer necrotic and pre-cancerous changes in the treatment group. Albumin levels were significantly associated with cirrhosis manifestation (p = 0.005), and ALT and bilirubin levels correlated with pre-cancerous conditions (p < 0.05).

Conclusions: Acetaminophen at 200 mg/kg body weight has protective effect on rat hepatocytes against DEN-induced liver damage and potential carcinogenesis. This study can be further developed for future research to be considered for use in patients with liver fibrosis undergoing liver resection to prevent recurrence and reduce inflammation in patients undergoing liver resection."

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kartini Apriliyana Virgine
"Parasetamol merupakan salah satu obat yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Keterbatasan asam asetat anhidrida (AAA) sebagai bahan baku sintesis parasetamol memicu pengembangan reaksi alternatif berbahan baku asam asetat glasial (AAG) dengan memanfaatkan katalis berbasis bentonit alam.
Pengembangan reaksi alternatif ini diawali dengan preparasi katalis, karakterisasi katalis, penentuan katalis terbaik, dan penentuan kondisi operasi dengan melakukan variasi kondisi meliputi suhu, perbandingan molar p-aminophenol (PAP) dan AAG, dan waktu reaksi.
Preparasi bentonit ini menghasilkan 4 jenis katalis, yaitu BA (bentonit alam), BS (bentonit sintetis), HB (H-bentonit), dan ZnB (Zn-Bentonit). Berdasarkan persentase terkonversi, diperoleh dua katalis terbaik untuk reaksi alternatif pada sintesis parasetamol, yaitu BA (dengan konversi PAP 71,79 %) dan BS (dengan konversi PAP 58,20 %).

Paracetamol is commonly and widely used by people as analgesic and antipyretic. The lack of acetic anhydride (AAA) as material in synthesis of paracetamol encourage an alternative method in reaction using acetic acid glacial (AAG) as primary reacting material with natural bentonite as catalyst.
The alternative reaction consist of catalyst preparation, characterization of catalyst, choice of best catalyst, and choice of operation condition with all variation condition in temperature, molar ratio of p-aminophenol and AAG, and reaction time.
Preparation of bentonite gets four kinds of catalyst, which are BA (natural bentonite), BS (activated bentonite), HB (H-bentonite), and ZnB (Zn-bentonite). Concerning the percentage conversion, two best catalysts for this alternative reaction are BA (71.79 %-conversion based on PAP) and BS (58.20 %-conversion based on PAP).
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S52267
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Margaretha Gunawan
"Latar Belakang: Nyeri pascaoperasi menyebabkan penglepasan sitokin proinflamasi yang secara resiprokal dapat memodulasi sensitifitas nyeri. Asetaminofen merupakan analgetik yang sering digunakan dan bekerja pada susunan saraf pusat, sedangkan ibuprofen menghambat siklooksigenase dan diyakini dapat mengurangi penglepasan sitokin. Penelitian ini membandingkan ibuprofen intravena 800 mg dan asetaminofen intravena 1000 mg dalam mengurangi respons inflamasi pascaoperasi ekstremitas bawah dengan parameter konsentrasi IL-6 dan CRP sebagai penanda nyeri.Metode: Uji klinis acak tersamar ganda dengan kontrol aktif di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo pada Juli - November 2017. Setelah mendapatkan izin dari Komite Etik, 62 subjek yang menjalani pembedahan elektif ortopedi ekstremitas bawah dialokasikan secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok A Asetaminofen mendapatkan asetaminofen intravena 1000 mg sedangkan Kelompok I Ibuprofen mendapatkan ibuprofen intravena 800 mg masing-masing setiap 6 jam. Sampel darah untuk pemeriksaan respons inflamasi IL-6 dan CRP diambil sesaat sebelum selesai pembedahan sebelum obat dimasukkan, 4, 6, dan 24 jam setelah pemberian obat pertama kali. Derajat nyeri VAS saat istirahat maupun bergerak diukur pada saat setelah pasien tersadar dari pembiusan, 4, 6, 8 dan 24 jam pascaoperasi. Hasil: Serum IL-6 dan CRP tidak berbeda bermakna antara kelompok A dan I pada semua waktu pengukuran. VAS saat bergerak dan istirahat lebih rendah pada kelompok I pada 24 jam pascabedah p

Background Postoperative pain causes release of proinflammatory cytokines that reciprocally modulate pain sensitivity. Acetaminophen is a commonly used analgesic and acts on central nervous system, whereas ibuprofen inhibits cyclooxygenase and is believed to reduce cytokine release. This study compared intravenous ibuprofen 800 mg and intravenous acetaminophen 1000 mg in reducing postoperative inflammatory responses in lower extremity surgery with IL 6 and CRP as pain indicator.Methods Double blind randomized clinical trial with active control at RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo in July November 2017. After obtaining approval from Ethics Committee, 62 subjects undergoing elective orthopedic surgery of lower extremities were randomly assigned to 2 groups. Group A Acetaminophen received 1000 mg intravenous acetaminophen while Group I ibuprofen received 800 mg intravenous ibuprofen every 6 hours respectively. Blood samples for inflammatory responses IL 6 and CRP were taken at the end of surgery prior to administration of study drug, 4, 6, and 24 hours afterward. Pain VAS at rest and with movement was assessed immediately after the surgery when patient recovered, 4, 6, 8 and 24 hours postoperative.Results There is no significant difference in serum IL 6 and CRP between group A and I at all time measurements. VAS at rest and with movement was lower in group I at 24 hours postoperative p."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hartika Guspayane
"[ABSTRAK
Penggunaan zat aktif dalam bentuk kombinasi pada sediaan obat merupakan hal yang sangat lazim ada dalam proses produksi sediaan obat. Namun zat aktif yang dikombinasikan dapat berinteraksi secara fisik satu sama lain. Asetaminofen merupakan zat aktif yang sering dikombinasikan dengan zat aktif yang lain dalam sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis interaksi pada campuran biner asetaminofen dan klorfeniramin maleat dengan menggunakan metode Differential Scanning Calorimetry (DSC). DSC merupakan metode yang umum digunakan dalam menganalisis perubahan fisik pada suatu material. Perubahan fisik yang dimaksud adalah perubahan pada fenomena-fenomena termal seperti jarak lebur, entalpi peleburan serta pembentukan campuran eutektik. Hasil analisis DSC didukung dengan melakukan analisis menggunakan X-Ray Diffractometry (XRD) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FT-IR). Campuran biner asetaminofen-klorfeniramin maleat dibuat dalam perbandingan (50:50) dan (99,5:0,5) dengan menggunakan metode triturasi dan spatulasi. Campuran biner asetaminofen-klorfeniramin maleat pada perbandingan berat 50:50 mengalami interaksi fisik yang ditandai dengan perubahan bentuk kurva endotermik dan penurunan kristalinitas yang teramati pada hasil analisis DSC dan XRD. Sedangkan campuran biner asetaminofen-klorfeniramin maleat pada perbandingan berat 99,5:0,5 tidak mengalami interaksi.

ABSTRACT
, The use of active pharmaceutical ingredients in combination is very prevalent in the production of dosage forms. However, the active drug pharmaceutical ingredients in combination can physically interact with each other. Acetaminophen is the active pharmaceutical ingredients which are often combined with other drugs in the dosage form. This study aimed to identify and analyze the interaction of the binary mixture of acetaminophen and chlorpheniramine maleate using Differential Scanning Calorimetry (DSC). DSC is a common method used in analyzing physical change in materials. Physical changes in question are a change in the thermal phenomena such as melting point, the enthalpy of fusion and the formation of eutectic mixture. To support the results of DSC analysis was also performed the analysis using X-Ray Diffractometry (XRD) and Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FT-IR). The binary mixtures of acetaminophen-chlorpheniramine maleate were made in the ratio of (50:50) and (99.5: 0.5) by using trituration and spatula. Binary mixture of acetaminophen - chlorpheniramine maleate in a weight ratio of 50:50 undergo physical interactions which were characterized by changes in endothermic curve shape and crystallinity decrease observed in DSC and XRD analysis results. Whereas the binary mixtures of acetaminophen-chlorpheniramine maleate in a weight ratio of 99.5 : 0.5 did not experience any interaction.
]
"
2015
S60411
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library