Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 22 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Cucu Setyawati
"Reaksi thermal dari campuran kaolin dengan magnesium hidroksida dan kaolin dengan magnesium karbonat diamati untuk mendapatkan keramik cordierite tanpa penambahan zat aditif. Komposisi campuran ditentukan berdasarkan rumus molekul 2MgO.2Al2O3.5SiO2. Pembakaran campuran bahan-bahan pada perbandingan mol berdasarkan formula tersebut diharapkan dapat menghasilkan bentuk fasa amorf pada temperatur sekitar 900°C, yang merupakan temperatur dekomposisi. μ-Cordierite kemudian mengkristal pada temperatur sekitar 950°C, dan perlahan-lahan berubah menjadi keramik α-cordierite. Campuran reaktan dipress menjadi benda uji dan dibakar untuk mendapatkan keramik α-cordierite pada temperatur 1300 oC dan 1350°C. Keramik cordierite sebanyak 80,41 - 86,62 % dihasilkan dari campuran kaolin dengan magnesium karbonat dan metakaolin dengan magnesium karbonat pada temperatur pembakaran 1300 oC dan 1350 oC. Uji katalitik dilakukan terhadap cordierite untuk mendekomposisi gas NO, di mana 44,17 % NO terdekomposisi pada temperatur 400°C.

Thermal reaction of mixed kaolin with magnesium hydroxide and kaolin with magnesium carbonate were studied to produce cordierite ceramic without additives. Its composition was determined based on the molecular formula of 2MgO.2Al2O3.5SiO2. The firing of those mixed materials at mole ratios of this formula was expected to produce μ-cordierite at temperature of 900°C due to its thermal decomposition. The μ-Cordierite was then crystallized at temperature around 950°C, and was gradually transformed into α-cordierite. This study was conducted by prssing the reactants mixtures as specimens which were then fired to obtain α-cordierite ceramic at 1300°C and 1350°C. Cordierite of 80.41-86.62 % were resulted from the mixture of kaolin with magnesium carbonate and metakaolin with magnesium carbonate at the firing temperature of 1300 oC and 1350°C. The catalityc activity of cordierite was tested to decompose NO was tested, in which 44,17% NO could be decomposed at 400°C."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2007
T40083
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Thariq Ahmad Ghazali
"Peningkatan konsumsi energi dunia setiap tahunnya berpotensi meningkatkan polutan yang diemisikan industri. Pengaruh emisi polutan industri terhadap manusia dan alam telah menjadi perhatian para ilmuwan selama bertahun-tahun. Polutan seperti nitrogen oksida (NOx) dan sulfur dioksida (SO2) berkontribusi terhadap penurunan kualitas kesehatan manusia dan alam. Beberapa teknik pemisahan gas NOx & SO2 berhasil dikembangkan, salah satunya adalah teknologi kontaktor membran yang memiliki keunggulan seperti luas area spesifik yang tinggi dan kemudahan operasi. Penelitian ini akan mempelajari proses penyisihan gas NOx dan SO2 pada modul membran serat berongga menggunakan pelarut NaClO2. Modul membran serat berongga yang digunakan adalah polysulfone dimana NaClO2 digunakan sebagai pelarut. Gas umpan yang mengandung NOx & SO2 dialirkan pada bagian tube membran, sedangkan NaClO2 dan NaOH akan mengisi bagian shell membran. Variabel bebas yang digunakan penelitian ini adalah variasi laju alir gas umpan, yaitu 100 - 200 L/min; variasi konsentrasi pelarut NaClO2, yaitu 0,01-1 M; beserta variabel tetapnya berupa jumlah serat membran sebanyak 50. Pada penelitian ini, nilai tertinggi untuk efisiensi penyerapan, koefisien perpindahan massa, dan fluks perpindahan yang diperoleh yaitu 93,09%, 9,86 x 10-3 cm/s, 8,37 x 10-8 mmol/cm2.s, secara berurutan untuk gas NOx dan 99,99%, 3,37 x 10-2 cm/s, 1,03 x 10-5 mmol/cm2.s untuk gas SO2.

The effects of emissions of industrial combustion pollutants on human health and the environment have been of concern to scientists for many years. Pollutants such as nitrogen oxides (NOx) and sulfur dioxide (SO2) contribute to deterioration of human and environmental health. Several NOx & SO2 gas separation techniques have been successfully developed, and one of them is the membrane contactor technology which has advantages such as high specific area and ease of operation. This research study the removal process of NOx and SO2 gas in a hollow fiber membrane module using NaClO2 and NaOH solvent. The hollow fiber membrane used is polysulfone. The independent variables used in this study were the flowrate of the feed gas which are 100 - 200 L/min; concentration of NaClO2 which are 0.01- 1 mol/L; with the fixed variable which are the number of fibers as many as 50. The highest values of absorption efficiency, mass transfer coefficient and mass transfer flux achieved in the study were 93,09%, 9,86 x 10-3 cm/s, 8,37 x 10-8 mmol/cm2.s for NOx and 99,99%, 3,37 x 10-2 cm/s, 1,03 x 10-5 mmol/cm2.s for SO2."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Imanuel Bagas Sugiarto
"ABSTRAK
Gas Nitrogen Oksida (NOx) yang tergolong sebagai pencemar udara primer seperti Nitrogen Monoksida (NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Kadar NOx yang sangat tinggi di lingkungan akibat dari kendaraan bermotor dan industri menyebabkan peristiwa hujan asam dan eutrofikasi terjadi. Oleh karena itu, proses absorpsi yang dikombinasikan dengan membran serat berongga dapat menjadi alternatif untuk menjadi metode untuk mengurangi gas NOx sehingga mengurangi emisi gas yang dibuang ke lingkungan sesuai dengan regulasi yang ada. Proses absorpsi menggunakan pelarut sodium klorit (NaClO2) dan sodium hidroksida (NaOH). Penelitian dilakukan dengan sumber gas NOx dengan komposisi NO sebesar 34,51 ppm dan NO2 sebesar 525,68 ppm. Pada penelitian ini divariasikan laju alir gas NOx dengan laju 100-200 mL/menit, konsentrasi NaClO2 0,02-0,1 M dan serat membran 50, 100, 150. Nilai tertinggi untuk efisiensi penyerapan NOx, koefisien perpindahan massa, dan fluks perpindahan yang diperoleh pada penelitian secara beturut-turut adalah 94,88%, 0,01534 cm/s, 9,4 x 10-8 mmol/cm2.s."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ida N Finahari
jakarta: Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia, 2007
600 JST 17:1 (2007)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Catharina Candra Pratita
"

Polutan yang terdapat di udara, khususnya gas buang yang berasal dari sisa-sisa pembakaran, salah satunya mengandung unsur Oksida Nitrogen (NOx). Dimana gas tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan ozon, menghasilkan efek rumah kaca, hujan asam dan kabut fotokimia. Untuk mengatasi agar kandungan gas tersebut tidak mengakibatkan pencemaran udara yang berlebih, perlu dilakukan penelitian untuk menurunkan kadar emisi gas NOx. Eksperimen ini bertujuan untuk mengeliminasi NOx dari udara melalui penyerapan menggunakan campuran larutan H2O2 dan HNO3 sebagai penyerap dalam modul membran. Proses absorpsi berlangsung dengan mempertemukan gas NOx dengan absorben yang merupakan campuran oksidator yaitu H2O2 dan HNO3 . Variabel independen yang diuji adalah laju aliran gas NOx antara 100 mL/mnt, 125 mL/mnt, 150 mL/mnt, 175 mL/mnt dan 200 mL/mnt dengan konsentrasi gas NOx 600 ppm dan variasi H2O2 (0,5%, 5%, 10% wt) dengan campuran 0,5 M HNO3. Nilai efisiensi penghilangan NOx tertinggi, koefisien perpindahan massa, fluks dan NOx Loading  yang dicapai dalam percobaan adalah  95,61%, 9,6x10-8 mmol/cm2 , 1,3x10-2 cm/s, 9x10-3. Semua jenis aliran gas ialah turbulen berdasarkan nilai b trendline bilangan Reynold yang didapatkan yaitu 0,9542 ; 0,9608 ; 0,9419.

 


Pollutants found in the air, especially exhaust gases from combustion residues, one of which contains Nitrogen Oxide (NOx). Where gas can cause damage to the ozone layer, resulting in a greenhouse effect, acid rain and photochemical fog. To overcome the problems, it necessary to conduct a research to reduce the level of NOx gas emissions. This experiment aims to eliminate NOx from the air through absorption using a mixture of H2O2 and HNO3 solutions as absorbers in the membrane module. The absorption process takes place by combining NOx gas with absorbent which is a mixture of oxidizers namely H2O2 and HNO3. The experiment started with the absorbent were at static phase inside shell of membrane while the feed gas flowing inside the tube of membrane. The independent variables tested were NOx gas flow rate between 100 mL/min, 125 mL/min, 150 mL/min, 175 mL/min and 200 mL/min with NOx gas concentration of 600 ppm and H2O2 variation (0,5%, 5%, 10% wt) reacted with 0,5 M HNO3. The highest values of NOx removal efficiency, mass transfer coefficient, flux and NOx Loading achieved in the experiment were 95.61%, 9.6x10-8 mmol/cm2 , 1.3x10-2 cm/s, 9x10-3 respectively. All gas flow types based on the Reynold value obtained are 0.9542, 0.9608, 0.9419.

 

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clarissa Merry
"Pencemaran udara disebabkan oleh polutan gas-gas beracun, salah satunya adalah Nitrogen Oksida (NOx) yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna. Untuk mengatasi masalah ini, sejumlah teknologi untuk penyisihan gas NOx terus dikembangkan, salah satunya adalah absorpsi kimia menggunakan modul membran. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan modul membran serat berongga berbahan dasar polisulfon, yang diaplikasikan dengan prinsip reaktor gelembung. Absorpsi berlangsung dengan menggunakan campuran absorben H2O2 dan HNO3 yang bersifat oksidator kuat. Variabel bebas yang diuji adalah konsentrasi larutan absorben H2O2 sebesar 0,25; 0,5; 1; 5; 10 %wt pada konsentrasi HNO3 konstan sebesar 0,5M dan jumlah serat membran 16, 32, dan 48. Laju alir gas masuk dibiarkan konstan pada 150 ml/menit. Nilai efisiensi penelitian tertinggi dari penelitian adalah 94,64% pada konsentrasi H2O2 10% wt dan jumlah serat membran 48. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa jumlah gas NOx yang terabsorbsi bersama dengan efisiensi penyerapan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi H2O2 pada absorben. Percobaan juga menunjukkan bahwa modul membran dengan jumlah membran yang lebih banyak menghasilkan efisiensi penyerapan yang lebih tinggi.

Air pollution is mostly caused by toxic gas pollutants, one of which is Nitrogen Oxide (NOx) which is produced from incomplete combustion processes. To overcome this, a number of technologies for NOx gas removal has been continuously developed, one of which is chemical absorption using membrane modules. This research aims to find out about the optimum absorption condition of polysulfone-based hollow fiber module membrane with strong oxidizing agent mixture composed of hydrogen peroxide (H2O2) and nitric acid (HNO3) as its absorbent. Hollow fiber membrane module is used with bubble reactor working principle. The independent variable observed is the H2O2 concentration which is set to 0,25; 0,5; 1; 5; 10 %wt and number of membrane fibers at 16,32, and 48, while the concentration of HNO3 is kept constant at 0,5M. The inlet flow rate of the NOx gas is set constant at 150 ml/minute. The highest absorption efficiency rate obtained was 94,64% at H2O2 concentration of 10%wt and number of fibers of 48. The experimental results has showed that the amount of NOx absorbed and absorption efficiency improves with increasing H2O2 absorbent concentration. On the other hand, the experiment also shows that membrane modules with more number of fibers results in higher absorption efficiency."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irfan Purnawan
"Pencemaran air dan udara menjadi tantangan utama dalam pengelolaan lingkungan saat ini, karena membahayakan kehidupan manusia dan kehidupan lainnya. Limbah cair industri tahu, sebagai studi kasus penelitian ini, adalah salah satu limbah berbahaya karena banyak mengandung bahan yang membahayakan lingkungan dan kehidupan air serta menghasilkan bau yang menyengat. Sedangkan NOx (NO dan NO2) adalah salah satu pencemar udara yang membahayakan kehidupan dan dapat mengakibatkan terjadinya infeksi pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat membran datar berbasis Polivinilidena Fluorida (PVDF) menggunakan aditif Polivinilpirolidona (PVP) dengan variasi komposisi 14,9/0,1; 14,85/0,15 dan 14,8/0,2 gram PVDF/gram PVP. Membran datar dimanfaatkan untuk mengolah limbah cair industri tahu dengan proses ultrafiltrasi (UF) yang sebelumnya diolah dengan proses koagulasi-flokulasi melalui jar tester menggunakan poli aluminium klorida (PAC) sebagai koagulan. Penelitian ini juga bertujuan untuk membuat membran serat berongga berbasis PVDF tanpa aditif untuk penyisihan gas NOx menggunakan berbagai senyawa absorben, yaitu larutan hidrogen peroksida dan asam nitrat (H2O2-HNO3), natrium klorit dan natrium hidroksida (NaClO2-NaOH), serta natrium klorat dan natrium hidroksida (NaClO3-NaOH). Untuk memahami dan membandingkan perubahan sifat fisik dan kimia yang terjadi, dilakukan karakterisasi membran diantaranya pemindaian mikroskop elektron (SEM), sudut kontak air, dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Berdasarkan karakterisasi membran datar berbasis PVDF untuk pengolahan limbah cair industri tahu, penambahan aditif PVP memperbesar ukuran dan distribusi pori serta membuat membran bersifat lebih hidrofilik sehingga meningkatkan permeabilitas serta nilai fluks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh PVP terhadap fluks yang paling besar yaitu pada membran PVDF/PVP 0,15 baik air maupun limbah cair industri tahu. Persentase rejeksi tertinggi untuk TSS, TDS dan kekeruhan diamati pada membran PVDF/PVP 0,1 secara berturut-turut besar 99,11%, 23,49% dan 96,67%. Pada penyisihan gas NOx didapatkan bahwa kekuatan oksidan mempengaruhi efisiensi penyisihan NOx. Larutan penyerap yang mengandung hidrogen peroksida memiliki efisiensi penyisihan tertinggi karena merupakan oksidan yang paling kuat, diikuti oleh natrium klorit dan natrium klorat dengan nilai secara berturut-turut sebesar 99,7%, 99,2% dan 99,3%. Ketiga senyawa absorben memberikan efisiensi penyisihan NOx yang tinggi (di atas 90%), yang berarti bahwa semua absorben yang digunakan dalam penelitian ini sangat potensial digunakan untuk mereduksi NOx melalui proses basah. Efisiensi penyisihan NOx pada laju aliran gas umpan yang sama meningkat seiring dengan peningkatan jumlah serat dan konsentrasi penyerap. Namun, efisiensi penghilangan NOx berkurang karena laju aliran gas umpan meningkat pada modul membran dan konsentrasi penyerap yang sama.

Water and air pollution have become significant challenges in current environmental management, posing threats to human life and other organisms. Wastewater from the tofu industry, as the case study in this research, is one hazardous waste due to its high content of environmentally harmful substances, affecting aquatic life and emitting a pungent odor. Meanwhile, nitrogen oxides (NOx), including NO and NO2, are air pollutants that endanger life and can lead to respiratory infections. This research aims to develop a flat sheet membrane based on Polyvinylidene Fluoride (PVDF) using Polyvinylpyrrolidone (PVP) as an additive with various composition of 14.9/0.1; 14.85/0.15; and 14.8/0.2 grams of PVDF/gram of PVP. The flat sheet membrane is utilized for tofu wastewater from the tofu industry using the ultrafiltration (UF) process, preceded by coagulation-flocculation through jar testing using poly aluminum chloride (PAC) as a coagulant. Additionally, the study aims to create a hollow fiber membrane based on PVDF without additives for NOx gas removal using various absorbent compounds, namely hydrogen peroxide and nitric acid (H2O2-HNO3), sodium chlorite and sodium hydroxide (NaClO2-NaOH), and sodium chlorate and sodium hydroxide (NaClO3-NaOH). To understand and compare the physical and chemical property changes, membrane characterization was conducted, including scanning electron microscopy (SEM), water contact angle, and Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Based on the characterization of the PVDF-based flat sheet membrane for treating wastewater from the tofu industry, the addition of PVP enlarges pore size and distribution, making the membrane more hydrophilic, thereby increasing permeability and flux. The research results indicate that the most significant impact of PVP on flux is observed in the PVDF/PVP 0.15 membrane, both for water and wastewater from the tofu industry. The highest rejection percentages for TSS, TDS, and turbidity are observed in the PVDF/PVP 0.1 membrane, with values of 99.11%, 23.49%, and 96.67%, respectively. In NOx gas removal, it is found that the oxidizing strength influences the efficiency of NOx removal. The absorbent solution containing hydrogen peroxide shows the highest removal efficiency as it is the strongest oxidizer, followed by sodium chlorite and sodium chlorate with values of 99.7%, 99.2%, and 99.3%, respectively. All three absorbent compounds exhibit high NOx removal efficiency (above 90%), suggesting their great potential for NOx reduction through the wet process. The efficiency of NOx removal at the same feed gas flow rate increases with the rising number of fibers and absorbent concentration. However, the removal efficiency decreases as the feed gas flow rate increases for the same membrane module and absorbent concentration."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adinda Puspa Hayati
"NOx dan SO2 merupakan polutan udara yang dapat menyebabkan kerusakan lapisan ozon, hujan asam dan kabut fotokimia, sehingga diperlukan kajian mengenai cara menurunkan tingkat emisi gas NOx dan SO2 secara simultan. Berdasarkan berbagai literatur, beberapa teknik pemisahan gas NOx dan SO2 telah berhasil dikembangkan, salah satunya adalah teknologi membran serat berongga dengan berbagai jenis material membran dan jenis pelarut yang bersifat oksidator. Penelitian ini bertujuan untuk menyisihkan NOx dan SO2 secara simultan melalui kontaktor membran serat berongga polisulfona dengan menggunakan kombinasi pelarut NaClO3/NaOH sebagai larutan penyerap dan membandingkan kinerja pelarut NaClO3/NaOH dengan NaClO2/NaOH dan H2O2/NaOH. Reaksi dilakukan pada modul membran serat berongga dengan berbagai variasi laju alir gas dan konsentrasi absorben. Gas umpan yang mengandung NOx dan SO2 dialirkan pada bagian tube membran, sedangkan pada bagian shell membran akan diisi oleh kombinasi pelarut yaitu NaClO3/NaOH untuk mengoksidasi gas secara simultan. Umpan yang digunakan berupa campuran gas NOx dan SO2 dengan konsentrasi masing-masing 600 ppm dan 500 ppm. Aktivitas membran serat berongga dan pelarut di uji terhadap efisiensi penyerapan gas NOx dan SO2, fluks perpindahan massa dan NOx dan SO2 loading. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelarut dengan kandungan H2O2 memiliki efisiensi penyisihan tertinggi, kemudian diikuti oleh NaClO2 dan NaClO3. Ketiga jenis larutan tersebut memberikan efisiensi penyisihan NOx dan SO2 yang tinggi sehingga semua pelarut yang digunakan sangat potensial digunakan untuk mereduksi NOx dan SO2. Nilai tertinggi pada parameter efisiensi penyerapan NOx dan SO2 serta fluks perpindahan massa NOx dan SO2 secara berurutan adalah 97,53%, 100% dan 9,34×10-6 mmol/cm2.s, 1,12×10-5 mmol/cm2.s.

NOx and SO2 are air pollutants that can cause damage to the ozone layer, acid rain, and photochemical smog. Therefore, it is necessary to study how to reduce NOx and SO2 gas emissions. Based on various literature, several gas separation techniques have been successfully developed: hollow fiber membrane technology with various types of membrane materials and types of oxidizing solvents. This study aims to remove NOx and SO2 gas simultaneously through a polysulfone hollow fiber membrane module using a combination of NaClO3/NaOH solvent as an absorbent solution and compare the performance of NaClO3/NaOH with NaClO2/NaOH dan H2O2/NaOH. The reaction was carried out on a hollow fiber membrane module with various variations of gas flow rate and absorbent concentration. The feed gas containing NOx and SO2 flows to the membrane tube section, while the membrane shell section will be filled with a combination of solvents, NaClO3/NaOH, to oxidize the gas simultaneously. The feed used in this research is a mixture of NOx and SO2 gases containing 600 ppm and 500 ppm, respectively. The hollow fiber membrane and solvent activity were tested on the efficiency of NOx and SO2 gas absorption, mass transfer flux, and NOx and SO2 loading. The experimental results showed that the absorbent solutions containing hydrogen peroxide (H2O2) had the highest removal efficiency, followed by sodium chlorite (NaClO2) and sodium chlorate (NaClO3). The three pairs of absorbents provide a high NOx and SO2 removal efficiency, which means all the absorbents used in this study can potentially be used to reduce NOx and SO2. The highest values for NOx and SO2 absorption efficiency and mass transfer flux of NOx and SO2 were 97,53%, 100%, and 9,34×10-6 mmole/cm2.s, 1,12×10-5 mmole/cm2.s, respectively."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jevon Radytia
"Sektor transportasi merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Keberadaan kendaraan, terkhusus kendaraan bermotor dapat mempersingkat waktu tempuh sebuah perjalanan. Namun karena banyaknya jumlah kendaraan yang diproduksi, kerap kali kendaraan-kendaraan tersebut menyebabkan terjadinya kemacetan di berbagai ruas jalan, tidak terkecuali jalan tol.
Jalan tol merupakan jalan yang dibuat khusus untuk kendaraan beroda empat atau lebih. Sistem transaksi tiket pada pintu tol mengkondisikan kendaraan untuk berhenti. Pada saat volume kendaraan sedang dalam keadaan tinggi, tidak jarang pintu tol ini menjadi area kemacetan. Dampak buruk yang diakibatkan kemacetan tersebut adalah penurunan kualitas udara. Pekerja pengumpul tol diduga menjadi orang-orang yang terkena dampak negatif akibat adanya pencemaran ini.
Salah satu parameter pencemar di udara yang berbahaya dan diemisikan oleh kendaraan adalah NOx. Karena itu perlu dilakukan penelitian terhadap konsentrasi NOx pada udara ambien di sekitar pintu tol dan melihat risikonya terhadap kesehatan para pekerja pengumpul tol. Pengukuran NOx pada udara ambien menggunakan metode Griess Saltzman sesuai dengan SNI 19-7119.2-2005. Alat yang digunakan untuk mengambil sampel bernama impinger. Pengambilan data dilakukan pukul 06.00-13.00. Konsentrasi NOx terbesar pada penelitian ini adalah 159,94 μg/m3.
Dengan melihat hubungan antara konsentrasi NOx terhadap jumlah kendaraan yang melalui pintu tol, diperoleh nilai korelasi terhadap parameter NO selama 3 hari sebesar 0,21; -0,28; dan 0,51, sedangkan untuk NO2 adalah -0,19; 0,36; dan 0,04. Munculnya korelasi yang sangat lemah disebabkan karena adanya faktor lain yang menentukan jumlah konsentrasi NOx di udara selain kendaraan, seperti faktor alam dan meteorologis.
Penelitian ini mendapati kendaraan jenis kendaraan bermotor penarik atau gandeng atau tempel menjadi kontributor terbesar polutan NOx di udara. Hasil penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa konsentrasi NOx yang diemisikan kendaraan amat dipengaruhi oleh volume silinder kendaraan. Risiko kesehatan terhadap pekerja tol dinyatakan tidak ada karena Risk Quotient (RQ) < 1. Angka RQ tertinggi adalah sebesar 0,50.

Transportation is one of the technology advances that holds a very important function in human's daily activities. The existence of vehicles, especially the motorized vehicles, can greatly shorten the time people need to reach their destination. But then, because there are more and more vehicles been produced these days, frequently they have been causing traffic jams everywhere on the street and the worse part is sometimes it also happen at freeway.
Freeway is especially made for vehicles with four wheels or more. Ticket transaction system on toll gate creates a situation where every vehicle has to stop. When the vehicles volume is in peak situation, sometimes traffic jam could happen at the toll gate. One of the negative effects for this situation is the degradation of air quality. The officers who collect the toll estimated to be the one that suffer the most from the air pollution.
One of the pollutants in the air that emitted by vehicles is NOx. Therefore, there is a need to do the experiment on the concentration of NOx in ambient air around the toll gate and to observe the health risks of the officers that have been exposed to the pollutant.
NOx measurement in ambient air is using Griess Saltzman's method according to SNI 19-7119.2-2005. The name of the equipment that is used for taking the data is impinger. The air sample is taken from 06.00 AM to 01.00 PM. The largest concentration of NOx from this experiment is 159,94 μg/m3.
This experiment shows that heavy duty truck is the biggest contributor of NOx pollutant in the air. It shows that NOx concentration that emitted by vehicles is depending on the volume of the vehicle's cylinder. And also, it is determined that there are no health risks upon the officers because Risk Quotient (RQ) < 1. The highest RQ is 0,5.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S1337
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Osha Ombasta
"Penggunaan transportasi udara di Indonesia selalu meningkat setiap tahun. Antara tahun 2003-2009 terjadi peningkatan jumlah penumpang angkutan udara mendekati 100%. Peningkatan penggunaan transportasi udara berakibat kepada pertambahan beban emisi di sekitar bandar udara oleh aktivitas LTO pesawat.
Pada penelitian ini, parameter pencemaran dari transportasi udara yang diukur adalah oksida nitrogen atau NOx yang terdiri atas NO dan NO2. Digunakan empat titik pengukuran mengelilingi Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk memahami karakteristik penyebaran emisi dari tahap-tahap LTO pesawat.
Hasil pengukuran dan pengolahan data menunjukkan emisi fase LTO pesawat mempengaruhi konsentrasi NOx udara ambien yang dibuktikan dengan korelasi r antara 0,211-0,76 dan kontribusi rata-rata 28%. Nilai konsentrasi NOx yang terukur rata-rata berada di bawah baku mutu 400 μg/m3. Namun, pada kondisi cuaca tertentu, nilai ini dapat meningkat sampai kisaran 434,59-962,8 μg/m3. Ditemukan pula bahwa pesawat penyumbang emisi terbesar di Bandar Udara Soekarno-Hatta adalah Boeing B737-900ER, B737-800 and B737-400 dikarenakan jumlahnya yang besar dan seringnya penggunaan tiga varian pesawat tersebut.

The use of air transportation in Indonesia tend to grow every year. An increase to almost 100% was recorded between the year 2003 and 2009. This increasing trend of air transportation lead to an inevitable addition of environmental burden due to aircraft emission during the LTO activities.
In this study, the pollution parameter measured is oxides of nitrogen (NOx) which consist NO and NO2, with four points of measurement circling the Soekarno-Hatta Airport which enabling researcher to understand the characteristic of emission dispersion due to each phases in LTO activities.
The result shows that the emission during LTO phases affects the NOx concentration in ambient air as evidenced by r coefficient between 0,211-0,76 with average contribution of 28%. The NOx values measured were in average below the national standard of 400 μg/m3. Nevertheless, in some wheather condition, it can increase to a range of 434,59-962,8 μg/m3. The study also reveal the aircraft with the highest emission contribution for Soekarno-Hatta Airport, which are Boeing B737-900ER, B737-800 and B737-400 due to their large number and frequent use.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S1432
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>