Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aisha Zharifadelia Muliawan
"Penuaan merupakan proses biologis alami yang dapat dipercepat oleh faktor eksternal, salah satunya paparan sinar ultraviolet A (UV-A). Paparan UV-A meningkatkan produksi spesies oksigen reaktif dalam sel, yang memicu stres oksidatif dan ketika berlangsung secara terus-menerus, dapat menyebabkan apoptosis. Untuk mencegah kerusakan tersebut, diperlukan agen antipenuaan yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi seperti ekstrak Morinda citrifolia (mengkudu). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak mengkudu sebagai agen antipenuaan pada sel fibroblas L929 yang diinduksi oleh sinar UV-A. Pengujian dilakukan melalui uji fototoksiksitas terhadap sel akibat paparan UV-A, uji sitotoksiksitas ekstrak mengkudu, uji migrasi sel (uji wound scratch dan uji migrasi transwell), serta analisis ekspresi gen yang berperan dalam biogenesis mitokondria, yaitu Sirt1, Pgc1a, dan FoxO3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi UV-A pada dosis 1,5 J/cm2 berhasil menurunkan viabilitas sel secara signifikan. Sementara itu, penambahan ekstrak M. citrifolia cenderung meningkatkan viabilitas sel secara signifikan pada pemberian ekstrak dengan konsentrasi 200 μg/mL. Uji migrasi menunjukkan adanya peningkatan migrasi sel pada perlakuan yang diberikan ekstrak M. citrifolia dengan konsentrasi 100, 200, 400, dan 600 μg/mL. Hasil analisis ekspresi gen menunjukkan adanya peningkatan ekspresi gen Pgc1a dan FoxO3 pada kelompok perlakuan yang diberi ekstrak M. citrifolia. Sementara itu, ekspresi gen Sirt1 cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan antara kelompok yang diinduksi UV-A maupun yang diberi ekstrak. Temuan ini mengindikasikan bahwa ekstrak M. citrifolia berpotensi sebagai agen antipenuaan alami melalui modulasi ekspresi gen terkait stres oksidatif dan fungsi mitokondria.

Aging is a natural biological process that can be accelerated by exposure to ultraviolet A (UV-A) radiation. UV-A exposure increases the production of reactive oxygen species (ROS) within cells, triggering oxidative stress which, when prolonged, can lead to apoptosis. Such damage can be prevented by treatment using anti-aging agents with antioxidant and anti-inflammatory properties, such as the extract of Morinda citrifolia (noni). This study aims to evaluate the potential of noni extract as an anti-aging agent in UV-A-induced L929 fibroblast cells. The methods used include phototoxicity assay on UV-A-exposed cells, cytotoxicity assay of the noni extract, cell migration assays (wound scratch and transwell migration), and gene expression analysis of key regulators involved in mitochondrial biogenesis and protection, including Sirt1, Pgc1a, and FoxO3. The results of this study showed that UV-A induction at a dose of 1.5 J/cm² significantly reduced cell viability. In contrast, the addition of Morinda citrifolia extract tended to increase cell viability, with a statistically significant increase observed at a concentration of 200 μg/mL. Migration assays showed upregulation of cell migration in groups treated with M. citrifolia extract at concentrations of 100, 200, 400, and 600 μg/mL. Gene expression analysis revealed increased expression of Pgc1a and FoxO3 in the groups treated with M. citrifolia extract. Meanwhile, Sirt1 expression remained relatively unchanged between the UV-A–induced group and the extract-treated group. These findings suggest that M. citrifolia extract holds potential as a natural anti-aging agent through the modulation of genes involved in oxidative stress response and mitochondrial function."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lutfiya Ammara Fahmidaria
"Penuaan kulit merupakan perubahan biologis yang disebabkan oleh faktor intrinsik, seperti akumulasi waktu, dan dapat dipercepat oleh faktor ekstrinsik, seperti paparan sinar ultraviolet dan gaya hidup. Faktor-faktor tersebut menjadi penyebab terjadinya stres oksidatif yang merupakan mekanisme utama dalam penuaan kulit dan dapat mengarah pada disfungsi mitokondria. Stres oksidatif dapat disebabkan oleh metilglioksal (MGO) yang meningkat pada kondisi hiperglikemik. Stres oksidatif dan disfungsi mitokondria dapat dicegah menggunakan liquiritin yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Strategi sel dalam mengatasi stres oksidatif diregulasi oleh beberapa gen, di antaranya Pgc-1a, Sirt1, dan Foxo3. Penelitian ini menggunakan sel fibroblas L929 yang berasal dari mencit dan umum digunakan untuk uji sitotoksisitas dan biologi sel. Belum ada penelitian yang membahas potensi liquiritin sebagai antipenuaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antipenuaan liquiritin terhadap viabilitas, migrasi sel, dan ekspresi gen Pgc-1a, Sirt1, dan Foxo3. Metode pada penelitian ini mencakup uji viabilitas dengan MTS, uji migrasi (scratch assay dan transwell migration assay), dan uji ekspresi gen menggunakan qPCR. Pada hasil viabilitas, konsentrasi MGO 1.000 µM menurunkan viabilitas secara signifikan dan konsentrasi liquiritin 5; 7,5; dan 10 µM mampu meningkatkan viabilitas sel fibroblas L929 yang diinduksi oleh MGO. Hasil uji migrasi menunjukkan peningkatan penutupan luka dan jumlah sel yang bermigrasi meningkat setelah diberi liquiritin. Ekspresi gen Pgc-1a, Sirt1, dan Foxo3 memiliki pola peningkatan ekspresi yang sama, yaitu optimal pada konsentrasi 5 µM. Berdasarkan hasil penelitian, liquiritin memiliki potensi sebagai antipenuaan.

Skin aging is a biological process caused by intrinsic factors, such as the accumulation of time, and can be accelerated by extrinsic factors like ultraviolet exposure and lifestyle. These factors trigger oxidative stress, which is a key mechanism in skin aging and can lead to mitochondrial dysfunction. One contributor to oxidative stress is methylglyoxal (MGO), whose levels increase under hyperglycemic conditions. Oxidative stress and mitochondrial dysfunction may be prevented by liquiritin, a compound with known antioxidant and anti-inflammatory properties. The cellular strategies to counter oxidative stress are regulated by several genes, including Pgc-1a, Sirt1, and Foxo3. This study used L929 fibroblast cells, which are mouse-derived and commonly applied in cytotoxicity and cell biology assays. There has been no research discussing the potential of liquiritin as an anti-aging agent. Therefore, this study aimed to evaluate the anti-aging effects of liquiritin on cell viability, cell migration, and gene expression of Pgc-1a, Sirt1, and Foxo3. The methods included MTS assay for viability, scratch assay and transwell migration assay for cell migration, and qPCR for gene expression analysis. Results showed that 1.000 µM MGO significantly reduced cell viability, while liquiritin at 5; 7,5; and 10 µM restored the viability of MGO-induced L929 cells. Migration assays revealed enhanced wound closure and increased migrating cells after liquiritin treatment. Gene expression analysis showed a similar increase in Pgc-1a, Sirt1, and Foxo3, with optimal expression at 5 µM. These findings suggest that liquiritin shows potential as an anti-aging agent."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library