Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sinaga, Ernawati
"ABSTRAK
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini telah mendorong penemuan berbagai senyawa makromolekul yang memiliki potensi terapeutik. Namun sayangnya, pengembangan senyawa-senyawa ini menjadi obat seringkali terhambat, karena banyak dari senyawa-senyawa terapeutik baru ini mengalami kesukaran dalam penghantarannya ke situs sasaran. Padahal suatu molekul terapeutik baru bermanfaat sebagai obat jika sudah mencapai situs sasarannya. Masalah penghantaran obat (drug delively) ini telah menjadi topik penelitian yang menarik sejak beberapa dekade yang lalu. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan penghantaran obat ke situs sasarannya, antara lain dengan modifikasi molekul (strategi prodrug) atau dengan melakukan modulasi terhadap junction antar sel.
Junction antar sel dapai dimodulasi dengan menggunakan berbagai senyawa, antara lain EDTA, surfaktan, asam-asam dan garam empedu, beberapa jenis hormon dan neurotransmiter, senyawa-senyawa silokalasin, Serta senyawa-senyawa penghambat glikolisis dan fosforilasi oksidatif. Namun senyawa-senyawa tersebut tampaknya tidak memiliki prospek yang baik untuk penggunaan klinis.

ABSTRACT
Rapid advances in combinatorial chemistry and molecular biology are responsible for the discovery of many potential therapeutic agents. These agents include newly synthesized or naturally occurring peptides and proteins. However, the practical application of peptides and proteins as therapeutic drugs is often restricted by the difficulties of delivering them to target site(s) due to the presence of biological barricades such as the intestinal mucosa and the blood-brain barrier (BBB). These barriers usually consist of cell membranes constructed from cells that form intercellular junctions.
Peptides and proteins cannot readily cross via trancellular pathways of these barriers due to their size and hydrnphilioproperties. Alternatively, these molecules maybe transported through the paracellular pathway. Unfortunately, the paracellular transport of these molecules is restricted by the presence of tight junctions. Tight junctions have minimal porosity (11 A) allowing only small molecules and ions to pass through the paracellular route. Therefore, there is a need to develop methods for improving paracellular delivery of large hydrophilic molecules such. as peptides and proteins."
2001
D1250
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Thoat Fauzi
"Tesis perancangan ini bertujuan menghasilkan model dan panduan rancang kota kawasan stasiun LRT dengan keterbatasan akses, yang penerapannya dapat diduplikasi pada konteks serupa. Pendekatan area area transit yang berbasis pada konsep Porosity terhadap kondisi eksisting struktur ruang kawasan berupa Junction digunakan dalam tesis perancangan ini. Pertanyaan Penelitian ini adalah bagaimana konsep perancangan yang memaksimalkan potensi Junction Porosity berkontribusi dalam perancangan kota dan pengembangan kawasan di Cibubur. Metode perancangan yang dipakai dalam penelitian perancangan ini adalah dengan pendekatan Evidence-Based Design yang dapat memberikan dimensi baru yang bersifat dinamis dan berfokus pada pengalaman manusia dalam interaksi dengan lingkungan perkotaan dengan melihat studi kasus preseden yang sudah ada. Pada akhirnya penelitian perancangan tesis ini dimaksudkan untuk  memperluas diskusi urban mengenai bahasan Junction Porosity yang dapat berkontribusi dalam menciptakan ruang-ruang kota yang lebih walkable, inklusif, adaptif, dan terhubung.

This design thesis aims to produce a model and urban design guidelines for LRT station areas with limited access, which can be replicated in similar contexts. The approach of transit-oriented area based on the concept of Porosity applied to the existing spatial structure of the area in the form of a Junction is used in this design thesis. The research question is how the design concept that maximizes the potential of Junction Porosity contributes to urban design and area development in Cibubur. The design method used in this research is the Evidence-Based Design approach, which can provide a new dynamic dimension and focuses on human experience in interaction with the urban environment by examining existing precedent case studies. Ultimately, this design thesis research aims to expand the urban discussion on the topic of Junction Porosity, which can contribute to creating more walkable, inclusive, adaptive, and connected urban spaces."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arrum Mutiara
"Pendahuluan: Periodontitis merupakan suatu penyakit inflamasi terkait bakteri yang dikarakteristikan dengan interaksi antara sistem pertahanan tubuh host dan patogen. Porphyromonas gingivalis (P.gingivalis) merupakan salah satu bakteri red complex yang berperan dalam menginisiasi terjadinya periodontitis. Gingiva merupakan lini pertahanan mekanis, yang disebut sebagai gingival barrier function. Tight junction gingiva merupakan salah satu yang berperan dalam fungsi pertahanan tersebut dan kemampuan tubuh dalam merespon patogen dipengaruhi oleh usia. Tujuan: Mendapatkan perbedaan ekspresi gen tight junction gingiva terhadap stimulasi P.gingivalis. Metode: Studi eksperimental menggunakan jaringan gingiva tikus usia 18 minggu dan 35 minggu. Sampel kemudian dikultur dan diberikan stimulasi live P.gingivalis dan hasil sekresi P.gingivalis. Pengukuran dilakukan untuk menilai laju proliferasi, laju metabolisme, dan ekspresi tight junction sel gingiva tikus. Hasil: Sel gingiva tikus tua menunjukkan laju proliferasi yang lebih tinggi dibandingkan sel gingiva tikus tua, namun pada uji statistik tidak terdapat perbedaan signifikan pada kedua kelompok. Terdapat kecenderungan peningkatan laju metabolisme dan ekspresi gen tight junction gingiva yang lebih tinggi pada sel gingiva tikus muda dibandingkan sel gingiva tikus tua, namun pada uji statistik tidak terdapat perbedaan signifikan pada kedua kelompok. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan ekspresi gen tight junction gingiva terkait usia.

Introduction: Periodontitis is an inflamatorry disease associated with the interaction of host immune systemn and pathogen. Porphyromonas gingivalis is one of the red complex bacteria that plays important role in initiating periodontitis. Gingiva act as mechanical defense towards the pathogen, which is known as the gingival barrier function,including gingival tight junctions. Body’s ability to respond stimuli and environmental condition is influenced by age, this also affect the respond of host immune system to pathogens. Objective: To analyse the tight junction gene expression to Porphyromonas Gingivalis intervention. Material and Methods: Aging experimental model was conducted by using two age categories male rodents, 18 and 58 weeks. Rodents gingival cell was intervened with Porphyromonas gingivalis and its product from the broth medium. Meassurements were made to analyse the proliferation rate, metabolic rate, and gingival tight junction gene expression. Result: The old rodent group shows higher proliferation rate, but there was no statistically differences between two groups. There was a tendency of increase value for the metabolic rate and gingival tight junction gene expression in young rodent group compare to old rodent group. Conclusion: There was no differences of the gingival tight junction expression in related to aging."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sidik Noertjahjono
"Detektor yang baik merupakan divais yang mampu bekerja pada frekuensi yang lebar, peka terhadap foton yang datang dan tidak menimbulkan derau yang mengganggu dalam proses komunikasi maupun dalam bidang instrumentasi.
Untuk maksud tersebut dipilih jenis fotodioda jenis p-i-n dengan bahan aktif semikonduktor GaInAsP sebagai campuran empat macam bahan semikonduktor dari komposisi III dan V pada tabel periodik kimiawi.
Dalam tesis ini dibahas tentang perhitungan dan analisa karakteristik fotodioda p-i-n, dari analisa diketahui bahwa hal ini sangat dipengaruhi aleh ketebalan lapisan yang atas (p+), sedangkan lapisan i (intrinsik) pada ketebalan tertentu sampai maksimum tidak mengalami peningkatan effisiensi, disamping itu unjuk kerja fotodioda secara umum sangat dipengaruhi pula oleh nilai resistansi bebannya.
A good device for detector should operate at. wide band range, and sensitive to incident photon and produce low noise in both fields of communication and instrumentation systems. For that purpose the device used a type of p-i-n photodiode which contains active layers as quaternary of 111 and V compound in periodic system.
This thesis describes design and analysis of p-i-n photodiode to be used as a laser detector for )..= 1,.28 wiz . The Result show that the thickness of first (p+) and second (z) layer will limit the external efficiency of the detector, and also the load resistance will effect influence the performance of the detector.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasnil Mubarak
"Pendahuluan dan tujuan: Obstruksi pada persimpangan ureteropelvic dapat ditangani dengan pembedahan atau laparoskopi. Laparoskopi pieloplasti (LP) menunjukkan hasil yang lebih baik dari pada pembedahan. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan pengalaman pertama dari laparoskopi pieloplasti sebagai penanganan pada UPJO. Bahan dan metode: Pengumpulan data retrospektif dilakukan di Rumah Sakit Adam Malik, Medan dari tahun 2017 hingga 2019. Pasien didiagnosa dengan UPJO melalui renogram atau CT Scan dan gejala yang muncul ditawarkan untuk dilakukan LP sebagai pilihan terapi. Surat persetujuan didapatkan setelah adanya penjelasan terkait resiko, alternative dan ilmu baru dari Teknik laparoskopi. Status selama operasi, yakni lama operasi, kehilangan darah, serta segala luaran yang negative, dilakukan pencatatan. Hasil: didapatkan total 10 pasien yang dilakukan LP dengan usia rerata adalah 6.10 (+ 3.64) tahun; pria dan wanita didapatkan sebanyak delapan (80%) dan dua (20%). Rata-rata waktu operasi adalah 291,00(+22,828) menit, sedangkan jumlah kehilangan darah selama operasi adalah 56.00 (+18,97)ml, dan lama perawatan adalah 5,7(+0,95) hari. Rerata waktu yang dibutuhkan untuk melakuakn aktifitas kembali adalah 7,30(+0,95) hari. Tiak ditemuan komplikasi setelah operasi pada seluruh pasien. Kami melakukan evalausi dengan USG dan menemukan adanya hidronefrosis ringan pada enam pasien (60%) dan sedang pada empat pasien (40%). Kesimpulan: Dari pengalaman pertama melakukan LP, Teknik ini ditemukan berpotensi sebagai terapi pilihan untuk pieloplasti pada kasus UPJO. Kami menemukan hasil yang sebanding dengan penelitian lain dalam hal waktu operasi dan jumlah kehilangan darah selama operasi yang lebih baik. LP dapat digunakan sebagai opsi lini pertama pada penanganan UPJO.

Introduction and objectives: Ureteropelvic junction obstruction (UPJO) can be treated with surgery or laparoscopy. Laparoscopic pyeloplasty (LP) has been shown to provide better results than surgery. This study aims to report our first experience of laparoscopy pyeloplasty as the management of UPJO. Materials and methods: Retrospective data collection were done in Adam Malik General Hospital, Medan from 2017 to 2019. Patients with UPJO diagnosed by renogram or CT scan and symptoms were offered LP as the treatment option. Informed consent was obtained after explanation about risks, alternatives, and novelty of the laparoscopic technique. Intraoperative status, including duration of operation, blood loss, and all negative outcome, was documented.

Results: A total of 10 patients underwent LP with the average of age was 6.10 (± 3.64) years old; male and female patients were eight (80%) and two (20%). The mean of operation time was 291.00 (±22.828) minutes, while intraoperative blood loss was 56.00 (±18.97) mL, and the length of stay was 5.70 (±0.95) days. The average time to perform daily activities was 7.30 (±0.95) days. No postoperative complication was found in all of our patients. We performed an USG evaluation and revealed mild hydronephrosis in six patients (60%) and moderate hydronephrosis in four patients (40%). Conclusion: From our first experience in performing LP, this technique was found to be a potential treatment option in pyeloplasty for UPJO. We found the comparable result to other studies in term of operative times and a better intraoperative blood loss. LP could be used as the first line option for management of UPJO."

Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hadi Sardjono
"Currently, three single junction–type Thermal Voltage Converter (TVC) standard units represent the highest standard of AC (Alternating Current) voltages owned by the Electrical Metrology Laboratory, Research Centre for Metrology—Indonesian Institute of Sciences. The accuracy of the single junction–type TVC is maintained regularly via intercomparison processes using a one-step build-up and build-down method. To reduce the calibration process quantity, three steps of build-up and build-down measurements that refer to the 4 V measurement point of a HOLT production single junction–type TVC were carried out. The dissemination processes with the best measurement accuracy up to 20 ppm were successfully obtained from measurement points between 1 V and 20 V via 4–1V, 4–2V, 4–3V, 4–6V, 4–10V, and 4–20V formations."
Depok: Faculty of Engineering, Universitas Indonesia, 2018
UI-IJTECH 9:1 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Ablasi AV junction terbukti efektif pada pasien atrial fibrillasi (AF) yang refrakter dengan isolasi vena pulmonalis maupun antiarimia."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yoga Yuniadi
"Ablasi A V junction terbukti efektif pada pasien atrial flbrilasi (AF) yang refrakter dengan isolasi vena pulmonalis inaupun antiaritmia. Akan tetapi pada hampir 15% kasus ablasi AV junction dengan teknik konvensional (sisi-kanan) gagal. Penelitian ini berinjuan mempelajari karakterislik potensial berkas His pada ablasi AV junction secara konvensional inaupun dengan teknik sisi-kiri. Dua puluh pasien AF yang simtomatik dan refrakter terhadap antiarimia (rerata umur 60,539,28 tahun, 11 wanita) dilakukan ablasi AV junction dengan teknik konvensional. Bila 10 kali aplikasi energi frekuensi-radio tidak dapat menyebabkan blok A V total, maka ablasi dilakukan melalui sisi-kiri. Amplitud berkas His yang terekam pada tempat ablasi dianalisa. Seluruh pasien berhasil diablasi, 17 dengan cam konvensional dan 3 pasien degan teknik sisi-kiri setelah teknik konvensional gagal. Amplitud berkas His pada sisi-kiri lebih besar daripada sisi-kanan yang berkesesuaian (16,0 ±4,99 mm vs. 6,9 ±4,02 mm, p = 0,001, 95% IK -14,0 to -4,3). Dengan nilai titikpotong amplitude berkas His sisi-kanan > 4,87 mm didapatkan sensitifitas 8!.3% dan spesiftsitas 53,8% untuk keberhasilan ablasi pada sisi yang bersangkutan. Teknik sisi-kiri pada ablasi AV junction efektif bila teknik konvensional gagal. Pada pasien dengan amplitud berkas His sisi-kanan yang rendah (< 4, 87 mm) dianjurkan untuk ablasi dengan teknik sisi-kiri untuk menghindari pemberian energi frekuensi-radio yang tidak perlu. (MedJ Indones 2006; 15:109-14)

AV junction ablation has been proven effective to treat symptomatic atrial fibrillation refractory to antiarrhythmias or fail of pulmonary vein isolation. However, about 15% of conventional right-sided approach AV junction ablation failed to produce complete heart block. This study aimed to characterize His bundle potential at ablation site during conventional or left-sided approach of AV junction ablation. Twenty symptomatic AF patient (age of 60.5 ±9.28 and 11 are females) underwent conventional AV junction ablation. If 10 applications of radiofrequency energy are failed, then the ablation was performed by left-sided approach. Seventeen patients are successfully ablated by conventional approach. In 3 patients, conventional was failed but successfully ablated bv left-sided approach. The His bundle amplitude at ablation site was significantly larger in left-sided than correspondence right-sided (16.0 ±4.99 mm vs. 6.9 ±4.02 mm respectively, p = 0.001, 95% Cl -14.0 to -4.3). ROC analysis of His bundle potential amplitude recorded from right-sided revealed that cut off point of > 4.87 mm given the sensitivity of 81.3% and specificity of 53.8% for successful right-sided approach of AV junction ablation. In case of failed conventional approach, the left-sided approach is effective for AV junction ablation. An early switch to the left-sided approach may avoid multiple RF applications in patients with a low amplitude His-bundle potential (< 4.87 mm). (MedJIndones 2006; 15:109-14)"
[place of publication not identified]: Medical Journal of Indonesia, 2006
MJIN-15-2-AprilJune2006-109
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Djoko Hartanto
"ABSTRAK
Suatu peninjauan akan dilakukan terhadap divais semikonductor dengan empat terminal yang disebut metal oxide semiconductor bipolar junction transistor (MOSBJT). Dalam divais ini karakteristik listriknya berdasarkan gabungan dua prinsip yaitu; prinsip metal oxide semiconductor (MOS) atau field effect transistor (FET) dan prinsip bipolar junction transistor (BJT). Pada keadaan forward active, struktur permukaan MOS bersifat terbalik (inverted) dan kontak listrik yang terdifusi (diffused electrical contact), drain, memberikan suatu mekanisme untuk reverse bias lapisan inversion terhadap base. Pembawa minoritas yang diinjeksikan ke base, berdifusi sepanjang base, dikumpulkan pada permukaan yang inverted dan selanjutnya mengalir ke terminal drain. Resistansi lapisan inversion menyebabkan suatu voltage drop sepanjang lapisan inversion dan akan mengurangi reverse bias dari inversion-layer/base junction. Voltage drop ini dapat mengurangi/membalik bias dari inversion-layer/base junction yang letaknya paling jauh dari kontak drain. Pengurangan/pembalikan bias ini akan mengurangi daerah active collector untuk mengumpulkan arus drain. Karena resistansi lapisan inversion tergantung dari tegangan gate dan base bias, maka kedua terminal kontrol (gate dan base) tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap sifat listrik dari divais.
Berdasarkan prinsip dasar Hall effect dan magnetoresistance, pengaruh medan magnet terhadap divais ternyata mendominasi pengurangan/pembalikan bias dari inversion-layer/base junction, mempertahankan daerah active dan menyebabkan suatu penurunan besarnya resistansi lapisan inversion.
Empat set model divais untuk sensor medan magnet telah difabrikasi dengan bentuk geometri gate, yaitu; Large-L shape, Medium-L shape, Small-L shape dan T shape. Divais tersebut difabrikasi secara bersama, memakai suatu prosedur yang didisain untuk mengoptimalkan keandalan kedua komponen, FET dan BJT, dari MOSBJT.
Suatu kenaikan yang sangat berarti terjadi pada arus collector, telah diobservasi, selama divais dipengaruhi oleh medan magnet dengan tiga arah yang saling tegak lurus. Pengaruh ini berkaitan dengan resistansi lapisan inversion yang menyebabkan bertambahnya daerah active MOSBJT dalam keadaan forward active MOSBJT pada harga gate bias tertentu. Besarnya magnetosensitivity dari divais yang difabrikasi adalah; a) absolute magnetosensitivies S'As, besarnya antara 0.002 µA/G dan 0.200 µA/G, serta b) relative magnetosensitivies S'Rs, besarnya antara 0.03 %/G dan 15.67 %/G. Besarnya magnetosensitivity tersebut di atas merupakan keunggulan (excellent achievements) dari divais yang difabrikasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
D4
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinaga, Ernawati
"Banyak senyawa protein, peptida dan peptidomimetik yang ditemukan akhir-akhir ini memiliki potensi terapeutik yang besar, namun terhambat aplikasinya sebagai obat karena mengalami masalah penghantaran ke situs sasarannya (drug delivery).
Dalam beberapa tahun belakangan ini telah dikembangkan satu metode baru dalam modulasi junction antar sel menggunakan senyawa-senyawa peptida kadherin, yaitu peptida yang sekuensnya diturunkan dari sekuens fragmen peptida yang terdapat pada situs pengikatan kadherin. Dalam penelitian ini telah dievaluasi aktivitas beberapa peptida kadherin dalam memodulasi junction antar sel. Hasilnya menunjukan bahwa peptida-peptida Ac-LFSHAVSSNG-NH2 (HAV-10), Ac-SHAVSS-NH2 (HAV-6), Ac-QGADTPPVGV-NH2 (ADT-10), dan Ac-ADTPPV-NH2 (ADT-6) memiliki aktivitas yang cukup tinggi dalam memodulasi junction antar sel-sel MDCK (Madin Darby Canine Kidney). Hasil penelitian ini telah memberikan sumbangan yang berarti dalam pemantapan suatu metoda baru dalam penghantaran obat melalui modulasi junction antar sel menggunakan senyawa-senyawa peptida kadherin.

Modulation of Intercellular Junction by Utilization of Cadherin Peptides as an Effort to Improve Drug Delivery. Rapid advances in combinatorial chemistry and molecular biology has influenced the discovery of many proteins, peptides and peptidomimetics as potential therapeutic agents. Unfortunately, the practical application of these potential drugs is often restricted by the difficulties of delivering them to target site(s) due to the presence of biological barriers.
Recently, a new method to improve the drug delivery, that is by modulating the intercellular junction, has been evaluated. Modulation of intercellular junction could be achieved by modulating the proteins which play important role in establishing the intercellular junction, one of which is cadherin. In the present work we have demonstrated the ability of several cadherin peptides, i.e. Ac-LFSHAVSSNG-NH2 (HAV-10), Ac-SHAVSS-NH2 (HAV-6), Ac-QGADTPPVGV-NH2 (ADT-10), and Ac-ADTPPV-NH2 (ADT-6) to modulate the intercellular junction of MDCK (Madin Darby Canine Kidney) cells, this finding is a contribution to the establishment of a new method to improve the drug delivery by utilization of cadherin peptides by modulating the intercellular junction.
"
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2004
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>