Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
M.T. Siera Santi
"Penggunaan surat kabar, radio dan televisi untuk menyeinformasi pembangunan telah sering dilakukan. Pemerintah Indonesia nampaknya mulai melirik untuk menggunakan film yang diputar di bioskop guna menyebarluaskan pesan— dikatakan oleh Menteri barkan Kini, pesan pembangunan, seperti yang Penerangan Harmoko pada HUT ke-35 Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) di Palembang. Himbauan Menpen ini nantinya menggerakkan sejumlah pengusaha untuk bekerjasama membuat Yayasan Bangun Citra Nusantara (BCN) yang memproduksi film pembangunan tersebut. Pada tanggal 11 Maret 1991, film yang diberi judul Gelora Pembangunan Indonesia (GPI) dan nantinya sejalan dengan waktu berubah judul menjadi Nuansa Pembangunan Indonesia diputar di dalam Kelompok Bioskop 21. Film 5 menit ini memaparkan keberhasilan telah dicapai dalam pembangunan Indonesia. Pendapat pro kontra terhadap film ini pun bermunculan, ada yang menyatakan GPI / NPI adalah sebuah propaganda. Sementara itu, studi tentang propaganda memperlihatkan bahwa pesan satu sisi hanya berjalan baik pada orang terten— terhadap pesan ' (NPI), mulai sepanj ang dan hal-hal yang dan antara lain tu, yaitu mereka yang sejak semula setuju tersebut dan mereka yang berpendidikan rendah. Kelompok Bioskop 21 sendiri nampaknya ingin menjaring masyarakat dengan status sosial tertentu yang mampu untuk membeli tiket pertunjukan seharga Rp 4.000,- sampai Rp 7.000,-. Karenanya, peneliti tertarik untuk mengetahui tanggapan penonton bioskop Kelompok 21 atas pemutaran film GPI / NPI tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan didukung data kualitatif dari responden dan orang-orang kompeten di bidang perfilman. Data dikumpulkan melalui survei di lapangan dan diperoleh melalui teknik wawancara berstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penonton Kelompok Bioskop 21 tidak berminat terhadap film GPI / NPI. Hal ini disebabkan karena mutu film kurang bagus. Responden juga kurang tertarik dengan film GPI / NPI karena tema-tema yang diangkat tidak lagi menyajikan kebaruan. Temuan menarik lain dari penelitian ini bahwasannya responden tidak menyukai isi pesan GPI / NPI yang pemerintah dan hanya menunjukkan sisi positif pembangunan semata. Sehingga responden berpendapat film GPI / NPI adalah sebuah propaganda pemerintah. cenderung menampilkan proyek Walau demikian, responden menyatakan bahwa kebutuhan akan film semacam ini tetap ada, dimana unsur informasi adalah hal yang paling diutamakan. Karenanya bila film dengan misi khusus semacam GPI / NPI ini tetap ingin dibuat hendaknya dari segi teknis harus dilakukan pembenahan. Apapun bentuknya, film f^arus dibuat dengan pendekatan seni yang tentunya mengandung keindahan. Selain itu, tema-tema yang diangkat hendaknya sederhana namun berkaitan erat dengan kebutuhan khalayak. Tak kalah pentingnya adalah tentang isi pesan, hendaknya tak hanya memaparkan satu sisi pesan sehingga kesan propaganda pun dapat dihindari."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1993
S4009
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
S4792
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riafinola Rahma Vianti
"
BAB 1
Analisis Situasi
Kasus bunuh diri di Indonesia terhitung mengkhawatirkan. Angka kematian akibat bunuh diri setiap tahunnya mengalami peningkatan dan masih banyak orang yang tidak peka terhadap isu ini. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk memproduksi dokudrama seputar isu kesehatan mental dan bunuh diri dengan cara yang kreatif dan edukatif
BAB 2
Manfaat dan Tujuan Pengembangan Prototipe
Manfaat karya ini untuk memberikan media hiburan terhadap target yang disasar serta memberikan edukasi kepada remaja seputar isu kesehatan mental dan bunuh diri agar remaja lebih peka terhadap lingkungan sosialnya.
Tujuannya memberikan gambaran penting atas kepekaan sosial terhadap isu seperti ini agar dapat melakukan pencegahan bunuh diri
BAB 3 Prototipe yang DikembangkanDokudrama ini berdurasi 10 menit, bercerita tentang Aya, seorang remaja yang sedang mengalami permasalahan dalam hidupnya karena anxiety disordernya dan hal tersebut memicunya untuk melakukan bunuh diri. Namun tindakan tersebut dapat dicegah dengan bantuan lingkungan sekitarnya.
BAB 4 EvaluasiEvaluasi pretest menggunakan metode mini-theater dan focus group discussion serta youtube analytics
BAB 5 AnggaranAnggaran pembuatan tayangan sebesar Rp 950.000,00. Perkiraan pendapatan tayangan yang didapatkan sebesar Rp 17.930.000,00. Untuk evaluasi dikenakan biaya Rp 200.000,00 untuk FGD
BAB 6 PenutupanDi Indonesia, kasus bunuh diri kian meningkat, namun edukasi masyarakat seputar isu ini dirasa masih kurang, sehingga dokudrama menjadi pilihan media alternatif yang edukatif. Pembuatan dokudrama harus memperhatikan banyak hal penting di dalamnya agar menghasilkan suatu tayangan yang baik
BAB 6 PenutupanDi Indonesia, kasus bunuh diri kian meningkat, namun edukasi masyarakat seputar isu ini dirasa masih kurang, sehingga dokudrama menjadi pilihan media alternatif yang edukatif. Pembuatan dokudrama harus memperhatikan banyak hal penting di dalamnya agar menghasilkan suatu tayangan yang baik

Chapter 1 Situation AnalysisSuicides in Indonesia are alarming. Death rate caused by suicide increases every year and people still have no sensitivity to this issue. Hence, the writer is interested in making a creative and educative docudrama about mental health and suicide
Chapter 2
Benefits and Purpose of Prototype Development
The benefit of the project is to provide media entertainment to the audience and to educate teenagers about mental health and suicide issue, so that teenagers nowadays give more attention to their social environment.It aims at giving important picture about social sensitivity about this issue to prevent suicide.
Chapter 3 Developed PrototypeThis docudrama is 10 minutes long. It tells a story about Aya, a teenager who has a lot of problems in her life due to her anxiety disorder. It has triggered her to kill herself, however it could be prevented by her environmental assistance.
Chapter 4 EvaluationThe pretest evaluation uses a mini-theater method, focus group discussion, and youtube analytics.
Chapter 5 BudgetingThe production budget is about Rp 950.000,00. The income plan is about Rp 17.930.000,00. The cost of evaluation is Rp 200.000,00 for FGD.
Chapter 6 ClosingIn Indonesia, the number of suicide is increasing, but people have not been educated on this issue. Docudrama is chosen to be an effective alternative media. In a docudrama production, we should put attention to important things, so that the output will be excellent.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andhika Maharetsi
"Perkembangan tren vaporizer di Indonesia sudah menjamur dimana-mana. Namun, sebagai tren yang menghasilkan uang jutaan rupiah, pemerintah ingin memberikan payung hukum dalam bentuk penerapan nilai cukai sebesar 57%. Tujuan dari pembuatan program ini adalah untuk mengedukasi masyarakat luas terhadap tren vaporizer, dan menjadi alternative hiburan bagi para penonton. Program dokumenter ini akan menayangkan dunia rokok elektrik dan perspektif para narasumber yang terkait. Durasi dari program dokumenter ini kurang lebih 24 menit.

Vaporizer has been a trend in Indonesia lately. As a trend that generates millions of Rupiahs, the government wants to regulate this trend by applying an excise tax of 57 . The purpose of this documentary program is to educate the society about the vaporizer trend in Indonesia and being able to serve the society with an alternative form of entertainment. This program will bring you into the world of vaporizer with the perspective of interviewees related to this topic. The duration of this program is approximately 24 minutes."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2018
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Syaiful Halim
Depok: Rajawali Pers, 2019
070.18 SYA d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sabilla Bianca
"Wisata kuliner memilki peranan penting dalam industri pariwisata. Dengan mempromosikan makanan, keinginan untuk mengunjungi tempat di suatu daerah dapat semakin meningkat. Makanan yang ada di Indonesia tidak hanya terdiri dari satu jenis masakan, melainkan keanekaragamaan masakan yang terdapat di Indonesia. Hasil riset pasar menunjukan adanya minat khalayak terhadap program dokumenter kuliner. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kuliner Indonesia. Penulis ingin menggali lebih dalam mengenai kekayaan masakan- masakan di Indonesia sehingga menjadi pengetahuan bagi masyarakat. Melalui acara ini, diharapkan makanan-makanan di Indonesia semakin diminati dan mendapat apresiasi dari masyarakat.
"Kisah Rasa" merupakan program dokumenter kuliner yang membahas mengenai cerita dibalik masakan di suatu daerah di Indoneisa. ?Kisah Rasa? terdiri dari 13 episode. Setiap episodenya menampilkan satu daerah beserta makanan khasnya. Dipandu oleh penduduk lokal sebagai host dan narrator. "Kisah Rasa" tidak hanya terfokus pada cita rasa sebuah makanan, melainkan mengenai cerita dibaliknya. Anggaran pembuatan prototype episode pilot ini sebesar Rp. 1.755.000,00. Rencana anggaran produksi program sebesar Rp. 30.850.000,00. Rencana anggaran evaluasi sebesar Rp. 1.100.000,00. Program ini diperkirakan akan mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 138.200.000,00. per episode.

Food tourism has important role in tourism industry. By promoting the local cuisine, the desire to visit certain places will be increased. Indonesian cuisine is not only consisting one type of food. The diversity of the dishes contained in the existing areas in Indonesia. Marketing research has shown a result that shown the presence of public interest in culinary documentary program. This program?s goal is to raise public awareness in one of Indonesian noble heritage, which is the food. The author would like to dig deeper into the wealth of the dishes in Indonesia so that it becomes knowledge to society. Through this program, it is expected that society will appreciate Indonesian cuisines.
"Kisah Rasa" is a culinary documentary program about the story behind the dish. "Kisah Rasa" consists of 13 episodes. Each episode has one place with its unique foods. This program will be featuring a local people covered as narrator and host. "Kisah Rasa" is not only focused on the taste of the food, but also the story behind them. The budget for this pilot episode is Rp. 1,755,000.00. The budget?s plan to produce one episode professionaly is Rp. 30,850,000.00. The budget?s plane to do the evaluation is Rp. 1.100.000.00. This program is expected to have Rp. 138.200.000,00. as the revenue for each episode.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Faris Muhammad Hanif
"Sebagai jenis film yang merepresentasikan kenyataan, film dokumenter memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan mengubah pandangan orang yang menyaksikannya. Sudah banyak contoh film dokumenter yang berhasil menjadi katalisator bagi gerakan sosial yang pada akhirnya mendorong perubahan sosial. Jurnal ini bertujuan untuk menggali aspek-aspek yang mempengaruhi sebuah film dokumenter hingga dapat mendorong perubahan sosial dengan studi kasus film The Invisible War. Baik itu melihatnya sebagai dokumenter aktivisme yang bertujuan untuk mengintervensi proses perubahan dengan memproduksi dan mendistribusi teks dokumenter, atau sebagai teks kultural yang memiliki retorika yang kuat.

As a type of film that represents the real life, a documentary has the ability to influence and change those who watch it. There have been numerous documentaries that have succeeded in being a catalyst for social movements which also stimulates social changes. This journal aims to seek various aspects in a documentary which drives social changes in a case study of a documentary called The Invisible War. We will see the case as an activist documentary that aims to intervene the process of change by producing and distributing documentary text, or as a cultural text that has a powerful rhetoric.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Andre Rinaldy Fakhruddin
"Propaganda dapat berpengaruh terhadap sikap ldeologi seseorang, karena propaganda umumnya bersifat psikologis bagi seseorang. Tetapi propaganda itu sendiri tidak akan mempunyai pengaruh yang efektif. apabila tidak disertai faktor-faktor Iain seperti : faktor ekonomis, faktor hubungan, faktor alat-alat propaganda lain, seperti ; media massa dan sebagainya.
Film sering dibuat sebagai propaganda, karena sebagai bagian dari media massa, film dinilai memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk opini umum. Terlebih Iagi dengan kemajuan teknologi Serta meluasnya penggunaan media audio-visual saat ini, film dapat dikemas sedemikian rupa hingga dapat membawa emosi serta persepsi penontonnya kepada keinginan para pembuat film. Oleh karena itu film dan informasi televisi dinilai lebih berpengaruh dalam menyampaikan propaganda, dibandingkan dengan media cetak.
Dalam konteks Indonesia, film yang berunsur propaganda memang tidak banyak dan tidak semaju film dari luar negeri, terutama dengan terpuruknya film-film Indonesia beberapa tahun yang lalu. Namun saat ini film Indonesia menunjukkan perkembangan kearah positif, indikasi ini diikuti dengan mulai banyaknya genre film Indonesia yang diproduksi dan diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Salah satu yang menarik perhatian adalah diputarnya film dokumenter bertemakan politik yang berjudul Tragedi Jakarta 1998 (Gerakan Mahasiswa di Indonesia) di bioskop.
Film dokumenter mengenai politik juga berperan dalam memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Malia peneliti mencoba melihat hal tersebut lebih spesifik, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat peran propaganda lilm dokumenter Tragedi Jakana 1998 dalam mempengaruhi sikap politik mahasiswa pasca refonnasi. Peneliti menggunakan Focus Group Discussion dalam pengambilan datanya Peserta mahasiswa yang merupakan subjek peserta peneliti merupakan mahasiswa yang masuk universitas mereka setelah peristiwa tahun 1998. Peneliti menganggap subjek peserta tidak mempunyai pengalaman empiris pada saat situasi reformasi bergulir, agar mereka dapat memberikan keterangan yang lebih objektif.
Dari hasil penelitian dan analisanya, didapat dua hal penting yaitu pertama terjadinya perubahan pandangan politik mahasiswa, dimana keingintahuan Serta keperdulian terhadap kasus-kasus yang terjadi saat itu relatif Iebih meningkat dibandingkan sebelumnya. Kritikan tajam pun terlontar pada cara aparat menangani aksi mahasiswa. Maka secara umum pandangan politik peserta terlihat Iebih berkembang.
Sedangkan yang kedua mengenai peran propaganda dalam film dokumenter Tragedi Jakarta 1998 yang cukup efektif dalam mempengaruhi pandangan peserta akan peristiwa yang terjadi pada tahun 1998. Perannya terlihat ketika berhasil membangun emosi peserta FGD setelah menonton Elm dokumenter ini. Dan ini juga memperlihatkan bahwa propaganda merupakan salah satu pendekatan kepada persuasi politik selain periklanan dan retorika. yang seluruhnya ini mempunyai tujuan (purposif), disengaja dan melibatkan pengaruh, serta semuanya menghasilkan berbagai tingkat perubahan dalam persepsi, kepercayaan, nilai dan pengharapan pribadi.
Seperti diketahui bahwa kondisi utama yang mendukung keberhasilan propaganda adalah adanya monopoli terhadap informasi. Selain itu karakteristik propaganda yang berusaha mengontrol arus informasi juga turut memberikan pengaruh pada penonton, dimana apabila arus komunikasi hanya dikendalikan oleh komunikator maka situasi tersebut dapat menunjang persuasi yang efektif.

Propaganda can make influence to someone ideology, because propaganda generally act psychology to someone. But the propaganda it self cannot effectively make influence without support from other factors, such as : economic factor, relationship factor, and other propaganda tools factor, including mass media and others.
Lots of tilm being made for propaganda, because it part of mass media, film usually have a big influence in creating public opinion. Especially in advance of technology and the function of audio-visual spreads everywhere this time. The packaging of film can bring emotion and perception of the audience to a filmmaker desire. That is why film and television infomation more influence in presenting propaganda, if we compare it with printed media.
In Indonesia context, not much film with propaganda issue and not like in advance of other countries, especially when the down of Indonesian cinema. But now Indonesian cinema is growing to a positive situation. This indication follow by grow of many genre in producing Indonesian cinema and viewed in movie theater all over Indonesia. One thing that gets an attention is viewing a political documentary film in movie theater, the titfe is berjudul Tragedi Jakarta 1998 (Gerakan Mahasiswa di Indonesia).
A political documentary film also can make a contribute in the political education for all society. So the researcher try to see that issue more specific, that is why this research have a purpose to see the function of propaganda in Tragedi Jakarta 1998 documentary film to influence the political believes of a college student after the refomration. Researcher using Focus Group Discussion to collect data from a student. A college student participant is students who enter their University after the reformation in Indonesia. Researcher think the participant not have an experience when a following of reformation in Indonesia, to give an objective opinion.
From a result of this research, we get two important things such as; first there is change in a politi l believes of a college student participant, their seems more care of this tragedy then before. So generally their political believes seems to grow. And the second one is about the function of propaganda in Tragedi Jakarta 1998 documentary film is effectively influence to a political believes of a this tragedy. The propaganda work in building an emotion of all college student participant after watching this documentary film. This also showing that propaganda is one of part from political persuasion besides advertising and rhetoric, and all of this have a purpose, deliberate and include influence, and all of it have a result in many level of change in perception, believes, value and personal hope.
As we know that a main condition of propaganda is the monopoly of information. Besides that a propaganda characteristic who try to control the flow of information also gave a contribute to influence an audiences. Because if a flow of information only control by a communicator, this situation can make an effective persuasion."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2007
T17365
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jugiarie Soegiarto
"ABSTRAK
Film Mother Dao The Turtlelike(fMD) merupakan sebuah film yang disusun dari penggalan-penggalan film dokumenter Hindia-Belanda (1912-1933). Penggalan film dari masa kolonial tersebut disusun dalam bentuk kolase dan dibubuhi sonor berupa bunyi-bunyian, tembang dalam bahasa Jawa dan Sunda, puisi dalam bahasa Indonesia serta sebuah mitos penciptaan Nias. Disertasi ini berusaha mengungkap cara sineas memanfaatkan unsur-unsur sinematografis dan naratif untuk menawarkan suatu memori kolektif poskolonial yang lebih kritis.
Dengan memperlakukannya sebagai teks, analisis struktur film dilakukan dengan menggunakan teori naratologi film. Hasil analisis memperlihatkan perbedaan pandangan tentang kolonialisme antara para kinematograf film Hindia-Belanda(fHB) dan sineas fMD. Bagi para kinematograf dan pemesannya kolonialisme diyakini sebagai upaya pengentasan penduduk dan pengembangan wilayah koloni. Pandangan sineas fMD sebagaimana tercermin dalam sonor memperlihatkan hal yang bertentangan: kolonialisme adalah eksploitasi manusia atas manusia dan alam.
Susunan berbentuk kolase dan pengimbuhan sonor mengubah gambaran kolonial dalam fHB. Dengan cara itu sineas menjadikan filmnya sebagai langkah awal pembentukan memori poskolonial yang lebih kritis.

ABSTRACT
The documentary film Mother Dao the Turtlelike (MDT) is not a remake but composed from footages of the Ducth East Indies (DEI) films made between 1912 and 1933. A sound-over is then added on this collage composition which consist of Javanese and Sundanese songs, Indonesian poems, and the mythology of creation of Batu Islands, Nias. This dissertation tried to find out the way the filmmaker uses the cinematographic and narrative elements in an attempt to construct a new postcolonial collective memory.
Assuming film as a text, the film?s structure is then analysed using the theory of film narratology. Despite the highly complicated structure, sinds there is no commentary added to the collage composition, a comprehensive analyses have to be conducted. The analysis showed the different perspectives of the cinematographers of DEI films and of MDT. Colonialism is still believed as an effort to develop the colony and its people. On the contrary the composition of collages and sonores in MDT clearly show the missery and extreme sufferings of the indigenous people. As well as the exploitation of their nature for the sake of the welfare of the colonialist.
The composition of colages and sonores in MDT change the colonial image of DEI films. The colage and the sonores in MDT give the chance to the viewer to see what colonialism really meant. MDT will enhance spectators critical thinking as well as their an humanistic postcolonial collective memory;The documentary film Mother Dao the Turtlelike (MDT) is not a remake but composed from footages of the Ducth East Indies (DEI) films made between 1912 and 1933. A sound-over is then added on this collage composition which consist of Javanese and Sundanese songs, Indonesian poems, and the mythology of creation of Batu Islands, Nias. This dissertation tried to find out the way the filmmaker uses the cinematographic and narrative elements in an attempt to construct a new postcolonial collective memory.
Assuming film as a text, the film?s structure is then analysed using the theory of film narratology. Despite the highly complicated structure, sinds there is no commentary added to the collage composition, a comprehensive analyses have to be conducted. The analysis showed the different perspectives of the cinematographers of DEI films and of MDT. Colonialism is still believed as an effort to develop the colony and its people. On the contrary the composition of collages and sonores in MDT clearly show the missery and extreme sufferings of the indigenous people. As well as the exploitation of their nature for the sake of the welfare of the colonialist.
The composition of colages and sonores in MDT change the colonial image of DEI films. The colage and the sonores in MDT give the chance to the viewer to see what colonialism really meant. MDT will enhance spectators critical thinking as well as their an humanistic postcolonial collective memory.
"
2012
D1383
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anastasia Woro Ayu Pangastuti
"RINGKASAN EKSEKUTIF
Bagian 1 Analisis Situasi
Kegiatan menunggu menjadi sebuah rutinitas yang sering dilakukan oleh para mahasiswa, termasuk para mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Indonesia. Tak jarang saat para mahasiswa menunggu, mereka memiliki beragam pengalaman. Di samping itu, perkembangan film dokumenter saat ini sedang pesat dan sudah diminati oleh kalangan muda, dengan mendatangi festival film atau menonton video melalui gadget mereka. Maka dari itu, penulis terdorong untuk membuat film dokumenter dengan tema rutinitas mahasiswa yang selama ini tidak dianggap penting, yaitu menunggu.
Bagian 2 Manfaat dan Tujuan Pengembangan Prototipe
Manfaat utama pengembangan prototipe ini adalah memberikan wawasan pengetahuan serta himbauan mengenai kegiatan menunggu. Sedangkan tujuan utama pengembangan prototipe ini adalah sebagai bentuk teguran dan kritikan kepada beberapa pihak pengelola jasa fasilitas umum seperti perusahaan transportasi, pemerintah, dan kepolisian, agar dapat meningkatkan kualitas dan keamanan kepada fasilitas-fasilitas umum yang biasa digunakan masyarakat untuk menunggu.
Bagian 3 Prototipe yang Dikembangkan
Prototipe ini berbentuk film dan bergenre dokumenter, dengan judul "Waiting or Wasting Story", yang menceritakan tentang kisah unek-unek empat orang mahasiswa dari beragam fakultas, jurusan, dan angkatan di Universitas Indonesia, mengenai pengalaman dan tanggapannya seputar menunggu, dengan diimbangi oleh tanggapan dari narasumber ahli.
Bagian 4 Evaluasi
Evaluasi Film Dokumenter "Waiting or Wasting Story" akan dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu menggunakan fitur dalam YouTube bernama YouTube Analytics serta mengadakan screening.
Bagian 5 Anggaran
Anggaran yang digunakan dalam pembuatan prototipe ini adalah sebesar Rp. 3.977.000,00. Untuk rencana anggaran penerbitan media perlu dikeluarkan biaya sebesar Rp. 16.720.000,00. Sedangkan untuk evaluasi film dokumenter ini perlu dikeluarkan biaya sebesar Rp. 10.857.000,00.

EXECUTIVE SUMMARY
Chapter 1 Situation Analysis
Waiting becomes a routine activity that is often performed by students, especially for students in University of Indonesia. Quite often when students wait, they have a variety of experience. In addition, the development of documentary movie currently is being rapidly and already interested by young people, to go to film festivals or watch videos through their gadgets. Therefore, authors are encouraged to make a documentary movie with the theme of the routine for students who are not considered to be important, namely "waiting".
Chapter 2 The Benefit and Goal for Movie
The main benefit of this prototype development is to provide knowledge and appeal about waiting. While the main goal of this prototype is as a form of rebuke and criticism to some of the managers of public facilities services such as transportation companies, government, and the police, in order to improve the quality and safety of the public facilities which are used by people to wait.
Chapter 3 Developed Prototype
This prototype is documentary movie, with the title "Waiting or Wasting Story", which tells the story of four students from various faculties, departments, and classes in University of Indonesia, about the experience and response about waiting, with balanced by feedback from expert sources.
Chapter 4 Evaluation
The evaluation of Documentary Movie "Waiting or Wasting Story" will be performed using two methods, which using YouTube Analytics and make the screening.
Chapter 5 Budget
The budget is used in the manufacture of this prototype is Rp. 3.977.000,00. For media publishing budget plans need to be issued a fee of Rp. 16.720.000,00. As for the evaluation of this documentary needs to issue a fee of Rp. 10.857.000,00.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>