Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Roselinda
Abstrak :
Angka kejadian seksio sesarea dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini dilaporkan meningkat. Karena kemudahannya ada kecenderungan untuk melakukan SC tanpa dasar yang cukup kuat. Peningkatan SC dengan dasar indikasi yang tidak jelas mendorong Depkes RI mengeluarkan surat edaran guna menekan tindakan SC di RS rujukan/RS pendidikan sampai dibawah 20 %. Berdasarkan pada kenyataan ini, perlu dilakukan penelitian tentang faktor risiko yang berhubungan dengan SC tidak standar yang merupakan analisis terhadap data rekam medis ibu melahirkan di RS MH Thamrin Cileungsi Kabupaten Bogor Januari 2001 s/d Mei 2002. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian SC tidak standar yaitu umur ibu, paritas, masa kerja ahli kebidanan, status rujukan, kelas perawatan, cara pembayaran, perawatan pasca operasi dan kedaruratan. Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol dengan jumlah sampel yang digunakan sebesar 276 ibu bersalin dengan tindakan SC di RS MH Thamrin Cileungsi. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni 2002, dengan menggunakan lembaran pengumpul data yang dikembangkan sesuai dengan variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan SC tidak standar berhubungan bermakna secara statistik dengan variabel: masa kerja ahli kebidanan (OR = 0,39 p value = 0,014 95% Cl = 0,19 - 0,83), perawatan pasca operasi (OR = 5,79 p value = 0,000 95% Cl = 3,34 - 10,02). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perawatan pasca operasi dengan SC tidak standar, ibu dengan perawatan pasca operasi di luar RS berisiko 5,8 kali lebih besar untuk mengalami SC tidak standar. Tindakan promosi kualitas rekam medis perlu dilakukan, terutama bagi kasus dengan perawatan pasca operasi di luar RS. Factors Related to Non Standard SC in MH. Thamrin Hospital Cileungsi January 2001 - May 2002Number of SC was reported increased in the last two decades. Because of this easiness, it was tendency to increase SC, which not base strong enough. The improvement SC that not base real indications to push. Dept. of Health RI for takes out document for push down SC in Reconciliation Hospital/Educational Hospital until less than 20 %. Based on these facts were need to do research on learn the risk factors related to non standard SC, which to analyzed mother giving birth medical record in MH.Thamrin Hospital Cileungsi in Bogor district January 2001,until May 2002. The aim of this research to know factors related to non standard SC, there are age, parity, duration of obgyn working state of reconciliation, class of treatment, treatment of after operation, and state of emergency. This research was made by using case control study with 276 sample size with SC status in MH. Thamrin Hospital Cileungsi. Data collection has done in June 2002, using by form of data collection, which developed appropriate with analyzed variables. The result of this research showed that non-standard SC is was statistically significant with duration of obgyn working (OR = 0,39, 95% Cl 0,19 - 0,83), after operation treatment (OR = 5,79 95 % CI = 3.34 - 10,02). The conclusion that there was correlation treatment of after operation with non standard SC, mother whom has treatment of after operation outside of Hospital has 5,8 greater risk for non standard SC. Promotion to quality of medical record in need of continuous by health provider, especially to patient whom get treatment after operation outside the hospital.
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T11190
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Echa Aisyah
Abstrak :
ABSTRAK
Nama : Echa AisyahProgram Studi : Ilmu Kesehatan MasyarakatJudul : Evaluasi Ekonomi Penggunaan Antibiotika Profilaksis CefotaximeDan Ceftriaxone Pada Pasien Operasi Seksio Sesarea Di RumahSakit X Tahun 2017Pemberian antibiotik profilaksis pada operasi seksio sesarea sangat dianjurkan.Menurut pedoman umum penggunaan antibiotik obat dipilih atas dasar keamanan danefektivitas biaya. Evaluasi ekonomi ini menggunakan metode alongside observationalstudy, data dikumpulkan selama bulan April ndash;Mei 2017 secara prospektif mencakup 60pasien dengan operasi seksio sesarea yang mendapatkan antibiotik profilaksis,membandingkan efektivitas biaya antara Cefotaxime dan Ceftriaxone. Hasil ujistatistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik pada 60 pasien tersebut.Analisis menggunakan perspektif rumah sakit, dilaksanakan di rumah sakit milikPemerintah di Jawa Barat. Hasil Systematic Review menunjukkan bahwa tidak adaperbedaan efikasi pada penggunaan kedua obat tersebut. Hasil penelitian inimenkonfirmasi bahwa tidak ada perbedaan outcome klinis berupa infeksi luka operasibaik pada pasien yang mendapatkan antibiotik profilaksis Ceftriaxone maupunCefotaxime. Komponen biaya terbesar adalah biaya operasional 84,79 , diikutibiaya alokasi dari unit penunjang 13,68 , lalu biaya investasi 1,2 dan biayapemeliharaan 0,32 . Analisis memberikan hasil biaya inkremental sebesar Rp.342.535,00 pada satu episode rawat inap. Rumah sakit memiliki potensi untukmenghemat sebesar Rp. 317.529.945,00 setahun dengan memilih antibiotik profilaksisCefotaxime pada pasien operasi seksio sesarea.Kata Kunci : Antibiotik Profilaksis; Operasi Seksio Sesarea; Efektivitas Biaya.
ABSTRACT
Name Echa AisyahProgram of Study Public HealthTitle Economic Evaluation on The Use of Prophylaxis AntibioticCefotaxime and Ceftriaxone in Caesarean Section SurgeryPatients at X Hospital in The Year 2017.Prophylactic antibiotic for patients with caesarean section surgery is highlyrecommended in the clinical guideline. The use of antibiotics is selected by usingcriteria safety and cost effectiveness. This economic evaluation was using alongsideobservational study method, prospective data was collected from April to May 2017covering 60 patients with cesarean section surgery who received prophylaxisantibiotics, comparing cost effectiveness between Cefotaxime and Ceftriaxone. Thestatistical test showed that there was no differences of characteristics in the 60 patients.The analysis based on hospital perspective, carried out in a public hospital in WestJava. The Systematic Review showed that there were no difference in the efficacy ofthe drugs. This study confirmed that there was no difference in clinical outcome onsurgical wound infections either in patient who received Ceftriaxone prophylaxis orCefotaxime. The greatest component of the cost was the operational cost 84,79 ,followed by the indirect cost 13,68 , investment cost 1,2 , and maintenance cost 0,32 . The analysis suggested the incremental cost was IDR 342.535 in one episodeof treatment. Hospital would save cost of IDR 317.529.945 a year by choosingCefotaxime prophylactic antibiotics for patients with cesarean section surgery.Keywords Prophylaxis Antibiotic Cesarean Section Surgery Cost Effectiveness
2017
T47798
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arifuddin Djuanna
Abstrak :
Seorang ibu primigravida berumur 20 tahun hamil 38 minggu dengan komplikasi tumor uterus intraligamenter kiri yang besar dan padat. Operasi dimulai dengan seksio sesarea untuk melahirkan bayi. Diberikan uterotonika intramural dan kontraksi uterus baik; diberikan infus oksitosin intra dan postoperatif selama 24 jam. Teknik jahitan ?double circle? dilakukan pada bagian lateral mioma sebelum miomektomi. Tidak diberikan transfusi darah. Histopatologinya adalah leiomioma. Pasien tersebut pulang dalam keadaan sehat 4 hari setelah operasi. (Med J Indones 2004; 13: 66-8)
A 20-year-old primigravida with 38th weeks of gestation complicated with a left large solid intraligamentous uterine tumor. The operation started with lower segment cesarean section to delivere the fetus. Intramural uterotonica was given and the uterus contracted well; intra- and up to 24 hours post-operatively oxytocin infusion was administered. Double circle stitching technique was performed on lateral side of the mioma before starting myomectomy. No blood transfusion was given. The histopatological report was leiomyoma. She was discharged in healthy condition 4 days post-operatively. (Med J Indones 2004; 13: 66-8)
2004
MJIN-13-1-JanMar2004-66
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Abstrak :
Trends of cesarean section trend in Indonesia (2007-2012) have doubled the risk of long-term and short-term health problems. This study was aimed to determine relation between antenatal care provider and cesarean section. This quantitative study used cross-sectional design with a total sample of 5,143 women aged 15-49 years who gave birth to the last child through cesarean section or not as in urban areas selected in samples of 2012 Indonesia Demographic and Health Survey. Logistic regression multivariate analysis was used to determine relation between antenatal care provider and section cesarean, which was controlled by maternal age, antenatal care facility, parity, and place of birth. Results showed that antenatal care at obstetrician was 6.6 times higher, while antenatal care at obstetrician and midwife was 2.1 times higher for cesarean section compared to women who had antenatal care at midwife after controlled by maternal age, antenatal care facility, parity, and place of birth. There is interaction between socioeconomic status and obstetrician for a cesarean section. Regulation on cesarean section by health authority, as well as protective and preventive labor applied towards on the high economic class community may reduce unnecessary cesarean section. Trends of cesarean section trend in Indonesia (2007-2012) have doubled the risk of long-term and short-term health problems. This study was aimed to determine relation between antenatal care provider and cesarean section. This quantitative study used cross-sectional design with a total sample of 5,143 women aged 15-49 years who gave birth to the last child through cesarean section or not as in urban areas selected in samples of 2012 Indonesia Demographic and Health Survey. Logistic regression multivariate analysis was used to determine relation between antenatal care provider and section cesarean, which was controlled by maternal age, antenatal care facility, parity, and place of birth. Results showed that antenatal care at obstetrician was 6.6 times higher, while antenatal care at obstetrician and midwife was 2.1 times higher for cesarean section compared to women who had antenatal care at midwife after controlled by maternal age, antenatal care facility, parity, and place of birth. There is interaction between socioeconomic status and obstetrician for a cesarean section. Regulation on cesarean section by health authority, as well as protective and preventive labor applied towards on the high economic class community may reduce unnecessary cesarean section.
Depok: Universitas Indonesia, 2018
613 KESMAS 12:3 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hutagalung, Hot Saroha
Abstrak :
BAB I PENDAHULUAN

A, Latar Belakang Penelitian

Ekstraksi vakum merupakan persalinan dengan tindakan yang terbanyak (23,557.) setelah seksio sesaria di RSCM (Dardiri dan Prakosa, 1996).

Hudono (1970) selama 6 tahun (1964-1969) melakukan penelitian mengenai bayi lahir dengan tindakan EV dan hasilnya:
frekwensi asfiksia (19,3%,) dan gangguan serebral/neuralogik (5,5%) lebih tinggi dari partus spontan (7,5% dan 3,3%); keadaan ibu sebelum partus dan kelainan ibu ikut menentukan morbiditas anak; angka kematian perinatal EV (4,5%) lebih tinggi dari partus spontan (1,1%).

Sejak tahun 1980 sistem RG telah dilaksanakan di RSCM (Jakarta), yaitu hanya untuk bayi lahir spontan, berat lahir 2500-4010 gram, masa gestasi 38-42 minggu, letak kepala, tanpa asfiksia, tanpa KPD, tidak ada kelainan kongenital, refleks isap baik dan keadaan ibu baik.

Suradi (1983) meneliti selama periode 1 Januari 1981 sampai dengan 31 Desember 1982, dari 2729 bayi yang memenuhi kriteria tersebut, hanya 1971 bayi saja yang dapat dirawat di fasilitas rawat gabung dan 758 bayi terpaksa dirawat pisah oleh karena terbatasnya tempat.

Dengan membandingkan kedua kelampok ini ternyata angka mortalitas, morbiditas dan lama perawatan berbeda bermakna, Lebih rendah pada bayi yang di rawat gabung (0,47%; 0,05%; 17,9%; 2,13%; 4,7 ± 2,6; 2,5 ± 1,5 hari).

Melihat kenyataan tersebut di atas maka pada tahun 1983 kapasitas rawat gabung ditambah menjadi 40 tempat tidur dan kriteria rawat gabung diperlonggar. Bayi dengan berat lahir rendah antara '2000-2500 gram dan masa gestasi antara 36-38 minggu dapat di rawat di fasilitas rawat gabung bila refleks isap baik. Demikian juga pada bayi lahir letak bokong, seksio sesaria dan EV setelah di observasi ketat di ruang transisi seiama 6-24 jam dan memenuhi syarat yang telah ditentukan, dapat dirawat gabung (Rustina dan Wiknjosastro,1984;Sami1,1986).

Pada tahun itu juga dilakukan observasi o1eh Rustina dan Wiknjosastro (1984) pada bayi yang lahir dengan tindakan (termasuk EV) yang di RG, ternyata sebagian besar (84,7X) tidak mengalami kesulitan dan ditemukan morbiditas antara lain hiperbilirubinemia (8,37..), diare (2,0%), hipoglikemi (2,0%), funikulitis (1,0'%) dan lain--lain (2,0%).

Sejak saat itu terjadi peningkatan jumlah bayi EV yang dirawat gabung (gambar L). Evaluasi rawat gabung pada bayi lahir melalui.seksia sesaria sudah dilakukan oleh Idris (1985) di RSCM dengan kesimpulan bahwa bayi yang lahir dengan tindakan seksio sesaria dapat dirawat gabung, dan rawat gabung mempengaruhi kecepatan pengeluaran ASI serta-menurunkan angka morbiditas .

Sampai saat ini belum adayang me1aporkan secara khusus bayi yang lahir dengan cara ekstraksi vakum yang dirawat gabung di RSCM?
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dita Aditianingsih
Abstrak :
Latar belakang dan tujuan: Anastasia subarahnoid adalah salah satu tindakan anestesia regional yang sexing dilakukan untuk bedah sesar. Bupivakain hiperbarik 0,5% adalah obat anestetik lokal yang lazim dipakai untuk tehnik pembiusan tersebut. Posisi tubuh dan gaya gravitasi memiliki efek dan mempengaruhi penyebaran dari obat yang bersifat hiperbarik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh posisi tubuh saat penyuntikan obat bupivakain hiperbarik 0,5% terhadap efek hipotensi yang ditimbulkan. Metode : Penelitian dilakukan terhadap 90 wanita hamil berstatus ASA I-II usia 17-50 tahun yang menjalani bedah sesar, dibagi secara arak menjadi 2 kelompok duduk dan lateral dekubitus kiri. Setelah dilakukan penyuntikan obat, setelah 2 menit pasien dikembalikan ke posisi terlentang miring kiri 15 derajat, dan dilakukan co loading kristaloid 10 mllkgBB selama 10 menit Dilakukan pencatatan tekanan darah selama operasi setiap 2 menit selama 20 menit pertama clan selanjutnya tiap 5 menit. Ketinggian hambatan sensorik clan ketinggian maksimal hambatan, jumlah total efedrin dan cairan kristaloid yang diberikan selama operasi juga dicatat. Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan uji t, uji Mann Whitneydan uji Chi kuadrat. Hasil : Kekerapan hipotensi antara kelompok posisi duduk dan lateral dekubitus kiri tidak berbeda secara statistik meskipun lebih banyak terjadi pada kelompok lateral dekubitus kiri (67%) dibandingkan posisi duduk (51%). Posisi duduk mengalami hipotensi lebih lambat, derajat hipotensinya lebih rendah dan pemakaian efedrin yang lebih sedikit. Kesimpulan: Posisi tubuh saat penyuntikan that bupivakain hiperbarik 0,5% pada anestesia subarahnoid mempengaruhi derajat hipotensi yang terjadi pada kasus bedah sesar.
Backgrounds and objectives . Spinal anesthesia is one of the regional anesthesia technique frequently performed for cesarean section. Hyperbaric bupivacaine 0.5% is the most frequent local anesthetic used for this technique. Spread of the hyperbaric local anesthetics is affected by the position of the patient and gravity. In the present study we evaluated the effect of maternal posture whether sitting position during the induction of spinal anesthesia using 05% hyperbaric bupivacaine would induce less hypotension as compared with the left lateral position. Methods. Ninety pregnant women underwent cesarean delivery were randomly assigned to receive a spinal injection consisting of 12.5 mg 0.5% hyperbaric bupivacaine in either sitting or left lateral position. After 2 minutes, patients were turned to a 15 degrees left lateral position and intravenous infusion of 10 mllkgbodyweigh t of crystalloids was started for 10 minutes along with the induction of spinal anesthesia. Intraoperative blood pressure were recorded , in this study hypotension is defined as a decrease in systolic blood pressure less than 100 mmHg or 20% below baseline values. The height of sensory block was measured, time to T6 spread of the sensory block and the highest level of sensory blockade were noted. Total given of ephedrine and crystalloids rntraopertive were also noted. Statistical evaluation was performed using t?test, Mann Whitney test and Chi square as appropriate. Result : The incidence of hypotension was not significantly different between sitting and left lateral position but more often in lateral position (51% vs 67%). Sitting position group has longer interval of the first hypotension (p=0.008),less severe of hypotension (p=0.042), less ephedrine supplementation (p=0.014), and longer interval for reaching the T6 dermatome blockade (p <0,0001). Conclusion: Maternal posture during induction of spinal anesthesia using 0.5% hyperbaric bupivacaine has influence to severity of hypotension for cesarean section.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Terry Yuliana Rahadian Pristya
Abstrak :
Penyalahgunaan operasi sesar dan dilakukan tanpa keperluan medis berisiko munculnya masalah kesehatan jangka panjang maupun pendek. Tren persalinan sesar di Indonesia tahun 2007-2012 mengalami peningkatan dua kali lipat. Sikap tenaga pemeriksa kehamilan menjadi isu dalam menurunkan angka persalinan sesar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tenaga pemeriksa kehamilan dengan persalinan sesar. Metode penelitian cross sectional ini menggunakan sampel penelitian 5.143 wanita usia subur 15-49 tahun yang melahirkan anak terakhir di wilayah perkotaan Indonesia yang terpilih dalam sampel SDKI 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan kehamilan pada spesialis kandungan 6,6 kali lebih tinggi 95 CI 3,2-13,7 , sedangkan pemeriksaan kehamilan pada spesialis kandungan dan bidan 0,5 kali lebih rendah untuk melakukan persalinan sesar dibandingkan dengan pemeriksaan kehamilan 2,1 kali lebih tinggi 95 CI 1,0 ndash;4,3 untuk melakukan persalinan sesar dibandingkan dengan ibu yang melakukan pemeriksaan kehamilannya di bidan setelah dikontrol oleh usia ibu, tempat periksa hamil, paritas, dan tempat melahirkan. Adanya interaksi spesialis kandungan dengan sosial ekonomi untuk persalinan sesar. Penetapan peraturan dilakukannya persalinan sesar oleh institusi kesehatan, serta melakukan upaya protektif dan preventif persalinan pada kelompok masyarakat ekonomi tinggi bertujuan untuk mengurangi terjadinya persalinan sesar yang tidak perlu. ......Abuse of caesarean section and performed without medical purposes risky health long and short problems. Trends cesarean deliveries in Indonesia in 2007 and 2012 has increased two fold. The attitude of antenatal care provider become an issue in reducing the number of cesarean delivery. The purpose of this study is to know the relationship antenatal care provider with cesarean section. The methods of this this study is cross sectional, using sample of 5.143 women of childbearing age 15 49 years who gave birth to the last child through cesarean delivery and cesarean deliveries in urban areas selected in the sample Indonesia Demographic and Health Survey 2012. The results showed that antenatal care in obstetrician 6.6 times higher 95 CI 3.2 to 13.7 , while antenatal care in obstetrician and midwife 0.5 times less likely to perform cesarean delivery compared with antenatal 2.1 times higher 95 CI 1.0 to 4.3 to perform cesarean delivery compared with women who undergo pregnancy examinations in midwifery after controlled by maternal age, a pregnancy check, parity, and place of birth. Their interaction with the content of socio economic specialist for a cesarean delivery. Formation of rules does a cesarean delivery by health institutions, as well as make efforts to protective and preventive labor in high economic communities aim to reduce the occurrence of unnecessary cesarean deliveries.
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2017
T46874
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yundri Martiraz
Abstrak :
Dengan kemajuan dalam bidang kedokteran yang terus menerus melakukan peningkatan perbaikan layanan demi kepuasan dan keselamatan pasien yang lebih baik. ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Section) merupakan suatu kemajuan dalam layanan kedokteran terutama dalam bidang obstetric, dimana pendekatan multimodal dalam persiapan pre operasi, intra operasi, dan juga pasca operasi. ERACS merupakan kolaborasi multidisplin yang sangat menentukan keberhasilan luaran dari ERACS, kolaborasi anatar dokter spesialis obgyn, dokter spesialis anastesi, perawat/bidan, dan juga pasien itu sendiri. ERACS juga telah dilaksakan di RSIA Kemang Medical Care sejak November 2021 dan masih menjadi pilihan layanan untuk pasien yang akan melahirkan secara operasi terencana/elektif sampai dengan saat ini. Untuk itu dalam upaya untuk menjamin mutu pelayanan di RSIA Kemang Medical Care, maka perlu untuk mengukur efektivitas (length of stay, nyeri, dan biaya) dari penerapan protocol ERACS di RSIA Kemang Medical Care tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kuantitatif cross sectional. Dimana data yang diambil merupakan data sekunder untuk melihat kepatuhan penerapan protocol ERACS yang dilihat berdasarkan daftar tilik ERACS RSIA Kemang Medical Care. Selain itu juga melihat kepatuhan masing-masing tenaga kesehatan yang terlibat begitu juga dengan kepatuhan pasien yang menjalankan proyokol ERACS. Wawancara dilakukan kepada beberapa pihak manajemen sebagai pemangku kebijakan untuk memperkuat hasil penelitian. Berdasarkan hasil analisis statistik, dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p value 0,04) antara kepatuhan penerapan protocol ERACS terhadap efektivitas ERACS di RSIA Kemang Medical Care. Dimana setiap kepatuhan penerapan protocol ERACS akan berpengaruh sebesar 8 kali terhadap efektivitas ERACS di RSIA Kemang Medical Care pada tahun 2022. ......With advances in the medical field, we are continuously improving services for better patient satisfaction and safety. ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Section) is an advancement in medical services, especially in the field of obstetrics, where there is a multimodal approach in pre-operative, intra-operative and also post-operative preparation. ERACS is a multidisciplinary collaboration that really determines the success of ERACS outcomes, collaboration between ob-gyn specialists, anesthesiologists, nurses/midwives, and also the patients themselves. ERACS has also been carried out at RSIA Kemang Medical Care since November 2021 and is still the service of choice for patients who are going to give birth via planned/elective surgery until now. For this reason, in an effort to guarantee the quality of service at RSIA Kemang Medical Care, it is necessary to measure the effectiveness (length of stay, pain and costs) of implementing the ERACS protocol at RSIA Kemang Medical Care in 2022. This research uses a quantitative cross sectional study approach. Where the data taken is secondary data to see compliance with the implementation of the ERACS protocol which is seen based on the RSIA Kemang Medical Care ERACS checklist. Apart from that, it also looks at the compliance of each health worker involved as well as the compliance of patients who carry out the ERACS procedure. Interviews were conducted with several management parties as policy makers to strengthen the research results. Based on the results of statistical analysis, it was stated that there was a significant relationship (p value 0.04) between compliance with the implementation of the ERACS protocol and the effectiveness of ERACS at RSIA Kemang Medical Care. Where every compliance with the implementation of the ERACS protocol will have an impact of 8 times on the effectiveness of ERACS at RSIA Kemang Medical Care in 2022
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>