Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
Ai Nurhamidah
"Organisasi Pramuka di Bahrain beregerak sebagai organisasi kepemudaan yang mendidik para pemuda Bahrain agar menjadi seorang yang “be prepared”. Di tengahtengah krisis kepemimpinan yang melanda dunia, baik dunia bagian barat maupun dunia bagian timur, pramuka diyakini sebagai organisasi yang membina para anggotanya untuk menjadi seorang yang memiki kualitas diri dan memiliki karakter pemimpin yang baik, begitu pula dengan Pramuka Bahrain. Pramuka Bahrain juga sebagai organisasi kepemudaan yang membina anggotanya agar memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang baik, pribadi yang siap untuk melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan negara, serta siap untuk menjadi seorang volunteer dan pioneer bagi sesamanya.
Metode yang digunakan dalam penulisan jurnal ini adalah metode studi pustaka, metode wawancara dan metode deskriptif. Kemudian kerangka teorinya berdasarkan teori organisasi sosial yang dikemukanan oleh Stephen P. Robbins (1994). Penulisan jurnal ini diharapkan mampu mendeskripsikan Pramuka Bahrain dari perspektif pendidikan soft skill yang bergerak di bidang sosial. Pramuka Bahrain banyak ikut serta dalam kegiatan sosial, seperti membersihkan daerah tercemar, penyemprotan insektisida, membantu untuk mengatur pelayanan donor darah, berperan aktif dalam acara-acara olahraga dan mengambil alih pertolongan pertama (P3K) di sekolah-sekolah maupun dalam acara besar lain yang diadakan oleh Gulf Cooperation Council (GCC).
Scouts Organization in Bahrain moves as a youth organization that educates the youth of Bahrain to become a "be prepared". In the midst of a leadership crisis that hit the world, both the world and the western part of the eastern world, scouts believed to be an organization that fosters its members to become a thinking about the qualities and has the character of a good leader, as well as Bahrain Scouts. Bahrain Scouts youth organizations as well as to foster their members to have a good personality and leadership, personal ready to carry out his duty to God and country and is ready to become a volunteer and pioneer for others.The method used in writing this journal is book study method, interview and descriptive methods. Then the framework of his theory based on the theory of social organization dikemukanan by Stephen P. Robbins (1994). Writing journals are expected to describe the Bahrain Scouts from the perspective of soft skills education engaged in the social field. Scouting Bahrain many participate in social activities, such as cleaning up polluted areas, spraying insecticide, helping to organize the service blood donors, active in sports events and take over first aid (P3K) in schools and in other large events are held by Gulf Cooperation Council (GCC)."
Depok: [Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia], 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja Universitas Indonesia Library
Agung Permadi
"Naskah singkat ini membahas Kebijakan Pembukaan Islamic Bank of Britain (IBB) dan implikasinya terhadap dunia perbankan di Inggris. Inggris merupakan negara non-Timur Tengah yang mengembangkan keuangan Islam sejak masuknya Al-Baraka international lembaga keuangan dari Bahrain pada tahun 1982. Pada saat ini, Inggris merupakan pusat bank Islam di Eropa dan memegang peran penting dalam sektor perbankan Islam. Penelitian ini menganalisis kebijakan Inggris dalam membuka IBB dengan sudut pandang hubungan internasional. Teori yang digunakan adalah Regional Security Complex, Constructivist Institutionalism dan konsep Institutional Considerations and Causality. Konsep amity and enmity dalam Regional Security Complex digunakan untuk melihat kerjasama tersebut dapat terjalin. Teori Constructivist Institutionalism digunakan untuk merekonstruksi kerjasama Inggris dengan Al-Baraka international untuk mengembangkan perbankan Islam di Inggris. Konsep Institutional Considerations and Causality digunakan untuk menganalisis implikasi pembukaan Islamic Bank of Britain (IBB) terhadap dunia perbankan Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data kualitatif diperoleh dengan menggunakan analisis terhadap jurnal-jurnal ilmiah bereputasi, buku-buku, dan laporan resmi pemerintah. Dari sumber yang sama, disajikan data kuantitatif yang dikualifikasikan. Temuan dalam penelitian ini adalah terdapat pasar potensial di Inggris untuk perbankan Islam. IBB merupakan keuangan alternatif lain di Inggris berkontribusi terhadap perekonomian Inggris.
This research discusses the UK`s Islamic Bank of Britain (IBB) policy and its implications for the British banking sector. The UK is a pioneer of Islamic bank from non-Middle East country. The UK developed Islamic bank since Al-Baraka international, a financial institution from Bahrain in 1982. Currently, the UK is the center of an Islamic bank and become an outstanding role model of Islamic bank sector in Europe. This research analyzes the UKs policy for IBB by International Relations perspective. The theory used to explain this issue is Regional Security Complex Theory, Constructivist Institutionalism Theory, and Institutional Considerations and Causality Concept. Concept of Amity and Enmity in Regional Security Complex theory was used to find out why the UK and Al-Baraka international cooperated. Constructivist institutionalism theory used to reconstruct cooperation between UK and Al-Baraka international to develop Islamic bank in the UK. Institutional considerations and causality concept used to analyze the implications of IBB for the British banking sector. This study uses a qualitative research methodology. Qualitative data is obtained by using an analysis of reputable scientific journals, books, and official government report. From the same source, quantitative data are presented qualified. The findings in this research state that there`s a potential market for an Islamic bank in the UK. IBB is an alternative financial sector that contributes to the British economy."
Depok: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2019
T53966
UI - Tesis Membership Universitas Indonesia Library
Mariska Kumalayanti
"Tulisan membahas alasan Bahrain bergabung dan alasan Persatuan Emirat Arab (PEA) tidak bergabung dalam Operasi Prosperity Guardian (OPG). OPG adalah koalisi militer inisiasi Amerika Serikat (AS) di Laut Merah untuk mencegat serangan Houthi terhadap kapal-kapal Komersial. Serangan Houthi dan keberadaan OPG mengganggu rantai perdagangan internasional, meningkatkan militerisasi kawasan, dan meningkatkan kemungkinan eskalasi. Bahrain dan PEA adalah dua negara dengan status mitra keamanan utama yang unik hanya untuk keduanya oleh AS, normalisasi hubungan dengan Israel, dan sejarah konflik dengan Houthi. PEA juga memiliki keterlibatan lebih dalam perekonomian Laut Merah. Namun, hanya Bahrain yang bergabung dalam OPG. Dengan menggunakan metode studi komparatif, tulisan membandingkan kasus Bahrain dan PEA untuk menemukan faktor pendorong Bahrain dan PEA tidak. Perbandingan akan didasari teori oleh Kathleen J. McInnis yang mengatakan bahwa negara bergabung dalam koalisi militer karena memiliki kepentingan yang dapat dicapai melaluinya. Tulisan menemukan bahwa negara bergabung dalam koalisi militer tidak hanya karena kepentingan, tetapi ada faktor lain juga. Bergabungnya Bahrain dapat dijelaskan oleh teori Namun, tidak dengan PEA. Kasus PEA baru dapat dijelaskan melalui faktor geopolitik terutama terkait sumber daya. Ada pula kemungkinan faktor dari negara insiator dan atau pemimpin koalisi militer serta faktor efektivitas operasional koalisi militer.
This article discusses the reasons behind Bahrain joining and United Arab Emirates (UAE) not joining Operation Prosperity Guardian (OPG). OPG is a military coalition in the Red Sea against Houthi attacks on commercial ships initiated by the United States (US). The attacks carried out by the Houthis and OPG disrupt the international trade chain, increase the militarization of the region, and increase possibilities of escalation. Bahrain and UAE are two countries with major security partner status, —unique to both—, by the US, normalization with Israel, and a history of conflict with the Houthis. UAE also has more involvement in the Red Sea economy. However, only Bahrain joined the OPG. Using a comparative study method, the article compares the cases of Bahrain and the UAE to find out what factors encouraged Bahrain and discourage UAE. The comparison will be based on a theory by Kathleen J. McInnis, —countries join military coalitions because they have interests that can be achieved through it. The article finds that countries join military coalitions not only because they have interests. Bahrain has interest-according to assumptions—in the OPG, especially related to the US. However, it turns out that the UAE also has interests that can be advanced in the OPG. The UAE's decision not to join the OPG can be explained by geopolitics of resources In addition, there are also factors from the initiator country and or the leader of the military coalition as well as the operation effectiveness."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library