Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Azi Akins
"Arab Saudi dan Iran memulihkan hubungan diplomatik pada tahun 2023 dengan Tiongkok sebagai mediator. Pemulihan hubungan ini menarik lantaran keduanya memiliki sejarah persaingan yang ketat di kawasan Timur Tengah. Sejak Revolusi Iran tahun 1979, kedua negara telah terlibat dalam perang narasi, interferensi internal, hingga perang-perang proksi di sepanjang kawasan. Meskipun keduanya pernah mengalami detente pada tahun 1990-an, ini tidak berlangsung lama karena kecurigaan mendasar terhadap satu sama lain tetap ada. Ketegangan antara keduanya memuncak pada tahun 2016 ketika Saudi memutus hubungan diplomatik dengan Iran. Pemulihan hubungan diplomatik tahun 2023 cukup mengejutkan lantaran masih banyaknya konflik diantara kedua negara. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis alasan pemulihan hubungan tersebut Penelitian menggunakan teori rapprochement yang digagas oleh Matthew Fehrs (2016) yang menyatakan bahwa pemulihan hubungan dua negara rival bergantung pada variabel sistemik (persepsi) dan variabel domestik (insentif ekonomi). Perubahan persepsi akan membuka peluang bagi pemulihan hubungan dan insentif ekonomi akan mendorong negara untuk mengambil peluang tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa perubahan persepsi Saudi terhadap Iran dan sebaliknya dipicu oleh retaknya hubungan Saudi dan AS. Selain itu, penelitian menemukan bahwa kedua negara sejatinya sudah memiliki insentif ekonomi untuk memulihkan hubungan jauh sebelum pemulihan hubungan diplomatik tahun 2023, yakni insentif untuk menciptakan stabilitas kawasan guna melancarkan Vision 2030 (sisi Saudi) dan insentif untuk meringankan beban ekonomi akibat sanksi-sanksi AS (sisi Iran).

Saudi Arabia and Iran restored diplomatic relations in 2023 with China as a mediator. This restoration is intriguing given their long history of intense rivalry in the Middle East. Since the Iranian Revolution in 1979, the two countries have been involved in narrative wars, internal interference, and proxy wars across the region. Although they experienced a detente in the 1990s, it did not last long due to the deep-rooted mistrust that persisted between them. Tensions peaked in 2016 when Saudi Arabia cut diplomatic ties with Iran. The restoration of diplomatic relations in 2023 was rather surprising, considering the many ongoing conflicts between the two nations. Therefore, this research aims to analyze the reasons behind the restoration of relations. This study employs the rapprochement theory proposed by Matthew Fehrs (2016), which states that the restoration of relations between two rival states depends on systemic variables (perception) and domestic variables (economic incentives). A shift in perception opens up opportunities for rapprochement, while economic incentives drive states to seize those opportunities. This study finds that the shift in Saudi perceptions toward Iran, and vice versa, was triggered by the deterioration of Saudi-U.S. relations. Furthermore, the research finds that both countries had in fact possessed economic incentives to restore relations long before the 2023 diplomatic breakthrough—namely, Saudi Arabia’s incentive to create regional stability to support Vision 2030 and Iran’s incentive to alleviate its economic burden due to U.S. sanctions."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syaiful Muhammad Khadafi
"Penelitian ini bertujuan menjelaskan dan menjawab pertanyaan mengapa Arab Saudi menerima shuttle diplomacy China sebagai media untuk mengembalikan hubungan diplomatiknya dengan Iran, padahal sebelumnya telah ada upaya mediasi oleh negara-negara lain. Menggunakan kerangka analisis ‘tripartite approach’ yang diajukan oleh Carlsnaes (1992) penelitian ini dibahas secara kualitatif deduktif yang berangkat dari kerangka analisis tersebut. Sebelumnya telah ada literatur yang mengkaji terkait bagaimana hubungan, pengaruh dan kebijakan China di Timur Tengah dan ditemukan empat poin utama yang menjadi fokus dalam topik ini yaitu: Pengaruh China di Timur Tengah, Aspek Ekonomi-Politik Kebijakan China di Timur Tengah, Pragmatisme dalam Kebijakan China di Timur Tengah, dan Sino- Arab Saudi dan Sino-Iran. Untuk mengisi gap yang ada, penelitian ini kemudian menemukan bahwa dari kondisi objektif Arab Saudi dan pengaturan institusional mempengaruhi persepsi dan value yang kemudian menilai bahwa China memiliki peran signifikan dengan tanpa adanya catatan historis buruk di kawasan, maka Arab Saudi dengan preferensinya memilih untuk menerima China sebagai mediator perbaikan hubungan dengan Iran.

This research aims to explain and answer the question of why Saudi Arabia accepted China's shuttle diplomacy as a medium to restore its diplomatic relations with Iran, even though previously there had been mediation efforts by other countries. Using the 'tripartite approach' analytical framework proposed by Carlsnaes (1992), this research was discussed qualitatively deductively starting from this analytical framework. Previously there had been literature that examined China's relations, influence, and policies in the Middle East and found four main points that were the focus of this topic, namely: China's Influence in the Middle East, Economic-Political Aspects of China's Policy in the Middle East, Pragmatism in China's Policy in the Middle East, and Sino-Saudi Arabia and Sino-Iran. To fill the existing gap, this research then found that Saudi Arabia's objective conditions and institutional arrangements influenced perceptions and values ​​which then assessed that China had a significant role without a bad historical record in the region, so Saudi Arabia with its preference chose to accept China as a mediator to improve relations with Iran."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library