Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Risna Febriani
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keanggotaan kelompok dan konten kritik terhadap intergroup sensitivity effect (ISE) yang dimoderatori oleh status sosial sumber kritik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain faktorial 2 (keanggotaan kelompok: ingroup vs outgroup) × 2 (konten kritik: fakta vs opini) × 2 (status sosial: status sosial tinggi vs status sosial rendah) dengan between subjects design. Target kritik adalah mahasiswa Universitas Indonesia. Isi kritik berkaitan dengan kurangnya fasilitas yang terdapat di Universitas Indonesia. Sumber kritik ingroup adalah pimpinan eksekutif dan staf Universitas Indonesia, sementara sumber kritik outgroup adalah pimpinan eksekutif dan staf Universitas Gadjah Mada. Status sosial sebagai moderator divariasi berdasarkan jabatan di universitas. ISE diukur melalui evaluasi kritik dan persepsi ancaman. Alat ukur yang digunakan untuk evaluasi terhadap kritik adalah adaptasi kuesioner dari Hornsey, Oppes, dan Imani (2002) dengan Khoo dan See (2014) (a = 0,917), sementara alat ukur untuk persepsi ancaman diadaptasi dari Khoo dan See (2014) (a = 0,776). Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 400 orang. Analisis data yang digunakan adalah Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) karena penelitian ini memiliki dua variabel dependen. Berdasarkan hasil perhitungan MANOVA, hanya keanggotaan kelompok yang terkonfirmasi menjadi prediktor dalam menimbulkan perbedaan respons pada ISE, baik evaluasi terhadap kritik maupun persepsi ancaman; sementara konten kritik dan status sosial serta interaksi ketiganya tidak menimbulkan perbedaan pada evaluasi terhadap kritik maupun persepsi ancaman pada masing-masing kelompok penelitian.

This study aims to determine the effect of group membership and critical content on the intergroup sensitivity effect (ISE) which is moderated by the social status of the source of criticism. This research is an experimental research with factorial design 2 (group membership: ingroup vs. outgroup) × 2 (critical content: fact vs. opinion) × 2 (social status: high social status vs. low social status) with between subjects design. The target of criticism was students at the University of Indonesia. The contents of the criticism about the lack of facilities at the University of Indonesia. The source of ingroup criticism was the chief executive and staff of the University of Indonesia, while the source of outgroup criticism was the chief executive and staff of Gadjah Mada University. Social status as a moderator is varied based on position at the university. ISE is measured with critic evaluation and perceived threat. The measuring instrument used for critic evaluation was an adaptation of a questionnaire from Hornsey, Oppes, and Imani (2002) and Khoo and See (2014) (a = 0.917), while a measure for perceived threat was adapted from Khoo and See (2014) (a = 0.776). The participants in this study is 400 people. The data analysis used is Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) because this study has two dependent variables. Based on the results of the MANOVA calculation, only group membership confirmed to be a predictor in causing differences in response to the ISE, both critic evaluation and perceived threat; while the critical content and social status and interaction of the three variable did not cause a difference in the critic evluation and perceived threat in each research group."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T53407
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ravelto Wangistu
"ABSTRAK
Penelitian kali ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi diskriminasi terhadap dual identity yang dimoderasi dengan persepsi ancaman pada mahasiswa Tionghoa di Indonesia. Terdapat dua hipotesis dalam penelitian ini. Hipotesis pertama adalah terhadap hubungan yang signifikan antara persepsi diskriminasi dengan dual identity. Sedangkan, hipotesis kedua adalah persepsi ancaman dapat memoderasi hubungan antara persepsi diskriminasi dengan dual identity. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa sarjana yang bersuku Tionghoa (N = 183). Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan teknik statistika korelasi multiple regression, dan Hayes Process. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis pertama penelitian ini ditolak. Sedangkan, hipotesis kedua penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang signifikan antara persepsi diskriminasi dengan persepsi ancaman (F(4,178) = 3.0776, p < .05), dengan R2 sebesar 0.0647). Nilai dual identity menurun sebesar 0.046 untuk setiap peningkatan satu poin dari interaksi antara persepsi diskriminasi dengan persepsi ancaman.Hal ini membuktikan bahwa persepsi ancaman dapat memoderasi hubungan antara persepsi diskriminasi dan dual identity.

The aim of this study is to examine the relationship between perceived discrimination to
dual identity moderated by perceived threat on Chinese-Indonesian Scholar. Participant
of this studies are Chinese-Indonesian Scholar who study on bachelor’s degree (N = 183).
The statistical technique which been used are correlation, multi regression, and Hayes
Process. The result of analysis show that perceived threat significantly moderates the
relations between perceived discrimination and dual identity (F(4,178) = 3.0776, p < .05),
with R2 = 0.0647). Higher perceived discrimination and perceived threat score lead to
lower dual identity score and vice versa.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khansa Humaira Sardadi
"Indonesia merupakan negara dengan masyarakat multikultural yang memiliki sebanyak 1.340 suku bangsa. Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia yaitu masih kurangnya sikap multikultural dengan masih ditemukannya konflik antarkelompok. Studi ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi ancaman in-group terhadap out-group dengan sikap multikultural pada dewasa awal. Studi korelasional dilakukan pada 226 partisipan dengan jumlah 80 laki-laki (35%) dan 146 perempuan (65%), dengan kriteria suku Jawa dan berusia 20-35 tahun (M=23, SD=3,34). Hasil studi menunjukkan adanya hubungan signifikan negatif antara ancaman realistik dengan sikap multikultural (r(226) = -0,117, p<0,05) dan tidak ada hubungan signifikan antara ancaman simbolik dengan sikap multikultural (r(226) = -0,070, p>0,05). Implikasi penelitian ini dapat memberikan pemahaman mengenai pentingnya memiliki sikap multikultural serta pandangan mengenai perbedaan multikulturalisme di Indonesia dengan negara luar.

Indonesia has 1,340 ethnic groups and consists of multicultural society, however there are still several group conflicts among Indonesian. In this study, I examined the relationship between threat perception and multicultural attitudes in early adulthood. A correlational study conducted on 226 participants with a total of 80 males (35%) and 146 females (65%) with criteria for Javanese ethnicity and aged 20-35 years (M=23, SD=3,34). The results showed that there was a significant negative relationship between realistic threats and multicultural attitudes (r(226) = -0.117, p<0.05) and there was no significant relationship between symbolic threats and multicultural attitudes (r(226) = -0.070, p >0.05). The implication of this study can provide an understanding of the differences between multiculturalism in Indonesia and other countries, also the importance of having a multicultural attitude."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raja Nathania Olga Letticia
"Dewan Perwakilan Rakyat RI DPR RI telah mengesahkan revisi Undang-Undang Antiterorisme, pasca serangan Bom Surabaya pada bulan Mei 2018 lalu. Revisi UU ini merupakan bentuk eskalasi respon terhadap ancaman ISIS di Indonesia, dengan diperluasnya definisi terorisme sebagai ancaman terhadap keamanan negara, serta memberikan wewenang kepada Polri untuk melakukan tindakan pencegahan. Tulisan ini melakukan analisis wacana atas eskalasi respon ancaman ISIS tersebut, dilihat dari faktor fondasi demokrasi dan karakteristik terorisme yang berubah. Dengan menggunakan metode analisis wacana, tulisan ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi ancaman dengan kebijakan kontra-terorisme negara. Tulisan ini juga akan melihat retorika-retorika yang dipakai terkait ancaman tersebut, yang kemudian menyebabkan situasi genting, sehingga mendorong keberterimaan dari audiens publik.

The House of Representatives DPR RI has ratified the revision of the Antiterrorism Act, in the aftermath of Surabaya bombing in May 2018. The revision of the Act is a form of escalating the response to ISIS threats in Indonesia, with the expansion of the definition of terrorism as a threat to state security, as well as authorizing the Police to take preventive action. This paper analyzes the discourse on the escalation of the ISIS threat response, judging by the factors of democratic foundation and changing characteristics of terrorism. By using discourse analysis method, this paper aims to see the relationship between threat perception and state counter terrorism policy. This paper will also analyze the rhetoric used in relation to the threat, which then causes a precarious situation, thus encouraging the acceptance of the public audience.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library