Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sri Mumi
"Agama Islam masuk ke Pulau Lombok diperkirakan pada abad ke-16. Dugaan ini diperkuat dengan adanya peninggalan Mesjid Kano Bayan Beleq yang terletak di Dustin Karang Baja, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Barat. Keberadaan dan fungsi mesjid tua ini masih tetap dipertahankan seperti semula.
Mesjid Kuno Bayan Beleq bukan hanya merupakan bangunan peninggalan sejarah dalam syiar agama Islam, tetapi juga menjadi identitas kekhasan Islam Wetu Telu yang merupakan sinkretisme antara kepercayaan asli Sasak, agama Hindu yang dibawa dari Bali, dan agama Islam yang datangnya kemudian.
Penelitian di Desa Bayan didasarkan atas pertimbangan bahwa saksi sejarah yakni mesjid kuno yang masih berfungsi dalam berbagai kegiatan keagamaam Islam Wetu Telu. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dan studi pustaka.
Perjalanan yang cukup panjang dalam proses syiar agama Islam dimulai dengan kedatangan Pangeran Prapen, putera Sunan Giri dari Jawa. Mulanya orang Sasak mengenal agama baru ini sebagai agama kerajaan yang kemudian mengharuskan rakyat taklukannnya untuk memeluk agama Islam. SeIanjutnya, datanglah Pangeran Pengging atau lebih dikenal dengan Pangeran Mangkubumi yang juga menyiarkan agama Islam dengan beberapa penyimpangan. Ia menetap di Bayan dan menyebarkan agama Islam Wetu TeIu. Orang Bayan sendiri percaya pada mitologi tentang kebenaran Islam Wetu Telu.
Selanjutnya, masuknya pengaruh asing yang dibawa oleh Belanda membuat antipati dari golongan yang ingin mempertahankanadat Sasak dan membentuk gerakan Dawi Anjani, sehingga agama Islam Wetu Telu kelak menolak segala bentuk pembaharuan.
Namun, syiar agama Islam terus berupaya untuk menyempurnakan ibadah umatnya di negeri Putri Mandalika hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri Pula bahwa keberadaan Islam Wetu Telu masih bertahan. Hal ini dapat diamati dengan masih berfungsinya mesjid kuno untuk shalat para kyai dan peringatan-peringatan hari-hari besar Islam yang berbaur dengan adat Sasak. Keberadaan Islam Wetu Telu ini justru menjadi aset pariwisata Pulau Lombok yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1999
LP 1999 62
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Siuli Hemas Saraswati
"ABSTRAK
Komunitas Kakure Kirishitan ditemukan pada masa Meiji ketika seorang pastor Perancis membangun Gereja di daerah Nagasaki setelah kaikoku (buka negara). Ketika hukum kebebasan beragama dikeluarkan pada tahun 1890, tidak semua orang dari komunitas ini mau kembali ke Gereja Katolik, dan memilih untuk hidup dengan agama yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Agama Kakure Kirishitan merupakan hasil sinkretisme antara agama Katolik pertengahan, Budhisme Jepang, Shinto, dan kepercayaan rakyat yang terjadi secara represi karena persekusi pada masa pemerintahan Tokugawa. Dengan menggunakan metode dekriptif analitis, kepustakaan, dan melihat agama sebagai hasil kebudayaan, penelitian ini bertujuan membahas konsep santo-santa Gereja Katolik yang dianut oleh umat Kakure Kirishitan, dan kekhasan yang timbul dari penganutan konsep tersebut dalam pemujaan leluhur yang membedakannya dengan pemujaan leluhur secara umum di Jepang. Kakure Kirishitan mengambil konsep orang kudus dari santo-santa yang digunakan untuk menguduskan leluhur mereka supaya dapat menjadi kami Kristen, dan berbeda dengan pemujaan leluhur yang bertempatan di kuil, tempat suci yang digunakan Kakure Kirishitan merupakan kuburan martir.

ABSTRACT
The Kakure Kirishitan community was discovered during the Meiji period when a French priest was building a Church in Nagasaki after Kaikoku (open country). When the law on religious freedom was issued in 1890, not all the people from this community wanted to return to the Catholic Church, and chose to live by the religion inherited from their ancestors. Kakure Kirishitan religion was the result of syncretism between medieval Catholicism, Japanese Buddhism, Shintoism, and popular belief which occurred in repression because of persecution during the Tokugawa administration. By using descriptive analytical method, literature review method, and seeing religion as a cultural outcome, this study aims to discuss the concept of Catholic Church s saints adhered to by the Kakure Kirishitan people, and the peculiarities that arise from the submission of these concepts in ancestral worship that distinguish them from ancestral worship generally found in Japan. Kakure Kirishitan took the concept of holiness from the saints which is used to sanctify their ancestors in order to become Christians Kami, and in contrast to the worship of ancestors who took place in temples, the sanctuary used by Kakure Kirishitan was a tomb of martyrs."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Wawan Susetya
Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019
181.16 WAW s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Wawan Susetya
Jakarta : Elex Media Komputindo, 2019
181.16 WAW s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Wawan Susetya
Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019
181.16 WAW s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library