Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 27 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Besty Ryana
"[ABSTRAK
Ragam bahasa yang digunakan pada situs jejaring sosial Twitter disesuaikan dengan keadaan dan tujuan dari
masing-masing pengguna, baik individu maupun kelompok. Campur kode sering digunakan oleh pengguna
Twitter yang menguasai dua bahasa atau lebih. Penelitian ini membahas mengenai kata-kata bahasa Inggris yang
muncul dan penggunaannya pada Twitter @MEIDENmagazine. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah deskriptif. Dari penelitian ini campur kode pada Twitter @MEIDENmagazine banyak ditemukan dalam
bentuk kata dan termasuk ke dalam kelas kata sifat, interjeksi dan nomina. Kata bahasa Inggris yang digunakan
kebanyakan digunakan di awal dan akhir kalimat.ABSTRACT Language variation used in social networking site Twitter is adapted based on the situation and purpose of each
user, whether it is individual or group. Code mixing is often used by twitter users who are fluent in two
languages or more. This research discusses the usage of English words on Twitter account @MEIDENmagazine
by using the descriptive method. In this study found that usage of code mixing are frequently apparent in
@MEIDENmagazine twitter in the form of words and classified as adjectives, interjections, and nouns. The
English words are used mostly in the beginning and end of sentences.;Language variation used in social networking site Twitter is adapted based on the situation and purpose of each
user, whether it is individual or group. Code mixing is often used by twitter users who are fluent in two
languages or more. This research discusses the usage of English words on Twitter account @MEIDENmagazine
by using the descriptive method. In this study found that usage of code mixing are frequently apparent in
@MEIDENmagazine twitter in the form of words and classified as adjectives, interjections, and nouns. The
English words are used mostly in the beginning and end of sentences., Language variation used in social networking site Twitter is adapted based on the situation and purpose of each
user, whether it is individual or group. Code mixing is often used by twitter users who are fluent in two
languages or more. This research discusses the usage of English words on Twitter account @MEIDENmagazine
by using the descriptive method. In this study found that usage of code mixing are frequently apparent in
@MEIDENmagazine twitter in the form of words and classified as adjectives, interjections, and nouns. The
English words are used mostly in the beginning and end of sentences.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Inta Putrinta
"[ABSTRAK
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa hampir seluruh penduduk Belanda mampu berbicara setidaknya satu bahasa asing dengan baik. Salah satu faktor penyebabnya adalah pengajaran bahasa asing di sekolah. Situasi masyarakat Belanda yang bilingual tersebut memicu terjadinya alih kode. Fenomena alih kode tidak hanya ditemukan di kehidupan nyata tetapi juga dalam dunia maya. Penguasaan bahasa Inggris masyarakat Belanda yang cukup baik menyebabkan para penutur bahasa Belanda di Belanda beralih kode dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris pada media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Belanda adalah Facebook. Jurnal ini membahas mengenai jenis alih kode dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris dan sebaliknya pada lini masa Facebook penutur bahasa Belanda di Belanda serta alasan mereka beralih kode. Dalam penelitian ini digunakan teori dari Appel dan Muysken yang membagi jenis alih kode berdasarkan letak dan alasan beralih kode yang dibagi menurut fungsinya.ABSTRACT A research showed that almost all of Dutch population are capable of speaking at least one foreign language fluently. One of the driving factor is foreign language education at school. Dutch society bilingual situation triggers the occurance of code-switching. This linguistic phenomenon could be found both in real life and also online. Good English language proficiency of people in Netherlands cause Dutch speakers in The Netherlands switch codes from Dutch to English in social medias. One of the social media that are most-used by The People in Netherlands is Facebook. This journal examines types of code-switching from Dutch to English and vice versa on Facebook timeline of Dutch speakers in Netherlands as well as their motives behind such action. This research utilizes Appel and Muysken?s theories that divided types of code switching based on the position and the reason that are divided according to functions.;A research showed that almost all of Dutch population are capable of speaking at least one foreign language fluently. One of the driving factor is foreign language education at school. Dutch society bilingual situation triggers the occurance of code-switching. This linguistic phenomenon could be found both in real life and also online. Good English language proficiency of people in Netherlands cause Dutch speakers in The Netherlands switch codes from Dutch to English in social medias. One of the social media that are most-used by The People in Netherlands is Facebook. This journal examines types of code-switching from Dutch to English and vice versa on Facebook timeline of Dutch speakers in Netherlands as well as their motives behind such action. This research utilizes Appel and Muysken?s theories that divided types of code switching based on the position and the reason that are divided according to functions., A research showed that almost all of Dutch population are capable of speaking at least one foreign language fluently. One of the driving factor is foreign language education at school. Dutch society bilingual situation triggers the occurance of code-switching. This linguistic phenomenon could be found both in real life and also online. Good English language proficiency of people in Netherlands cause Dutch speakers in The Netherlands switch codes from Dutch to English in social medias. One of the social media that are most-used by The People in Netherlands is Facebook. This journal examines types of code-switching from Dutch to English and vice versa on Facebook timeline of Dutch speakers in Netherlands as well as their motives behind such action. This research utilizes Appel and Muysken’s theories that divided types of code switching based on the position and the reason that are divided according to functions.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Napitupulu, Jason Philip
"Artikel ini berisikan hasil penelitian ciri-ciri leksikal, morfologis, dan sintaktis surat-surat yang terkandung dalam surat-surat yang terkandung dalam PCEEC (Parsed Corpus of Early English Correspondence) yang ditujukan pada dua raja Inggris, yakni Henry VIII dan James I. Penelitian bertujuan untuk menjabarkan variasi dalam ciri-ciri yang disebutkan diatas baik secara intra-korpus maupun ekstra-korpus, dan mengetahui sejauh mana ciri-ciri tersebut dipengaruhi oleh latar belakang sosiolinguistik para pengirim, dengan menggunakan nilai-nilai kuantitatif (frekuensi dan rasio). Sarana yang digunakan antara lain daftar frekuensi kata, daftar konkordasi, dan koefisien korelasi point-biserial (PBC atau r). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dari segi leksikal dan morfologis antara surat yang ditujukan pada Henry VIII dan James I. Meskipun terdapat ciri-ciri tertentu yang lebih mencolok pada individu dan kelompok sosiolinguistik pengirim tertentu, pengaruh parameter sosiolinguistik, yakni gender, status sosial, dan hubungan kekerabatan dengan kedua raja, dalam memengaruhi ciri bahasa dalam surat-surat yang bersangkutan tidak sekuat pengaruh dari penerima (Henry VIII atau James I). Parameter-parameter lainnya yang tidak diperhitungkan dalam studi ini (usia, konten/genre, variasi topolektal, dll.) mungkin bisa dimuat dalam obyek penelitian yang mendatang.

The paper investigates certain lexical, morphological, and syntactical features of letters within the PCEEC (Parsed Corpus of Early English Correspondence) addressed to two Kings of England: Henry VIII and James I. It aims to ascertain differences in the aforementioned features within and outside the corpus (employing the whole PCEEC as comparand), and the extent to which these features are influenced by the sociolinguistic backgrounds of the letter's senders by the use of quantifiable measures (frequencies and ratios). Tools employed include word- frequency lists, concordance lists and the Point-Biserial Correlation Coefficient (PBC or r), an objective measure of correlation. Findings reveal differences in both lexical and morphological features within letters sent to Henry VIII and James I. Although certain isolated features are more prevalent among some senders and sociolinguistic categories within the corpus, sociolinguistic parameters, in particular gender, social status, and familial relations with the Kings (or absence thereof), play a less decisive role in shaping the language of the letters. Future studies might be able to take into account other parameters not accounted for in this study (age, content/genre, topolectal variation, etc.)"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vinka Puspa Mulyadi
"Penelitian ini membahas fenomena campur kode pada lirik lagu di dalam album ‘One-reeler / Act IV’ oleh IZ*ONE. Campur kode dapat kita temui dengan mudah pada film, drama, komik, lirik lagu dan juga novel. Fenomena campur kode yang muncul biasanya percampuran antara bahasa asing seperti bahasa Inggris dengan bahasa Korea. Selain itu, campur kode juga sering digunakan oleh masyarakat multilingual dalam percakapan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan penggunaan campur kode yang terdapat di lirik lagu pada album ‘One-Reeler / Act IV’ oleh IZ*ONE. Penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan penelitian yakni bagaimana wujud dan jenis campur kode yang terdapat pada lirik lagu dalam album One-Reeler / Act IV oleh IZ*ONE. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatifnyang bersifat deskriptif. Pada penelitian ini, peneliti menganalisis campur kode berdasarkan wujud dan jenisnya berdasarkan klasifikasi oleh Suwito (1983). Hasil analisis penelitian ini menunjukkan adanya kemunculan campur kode sebanyak 27 data dalam album One-Reeler / Act IV oleh IZ*ONE. Data tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 11 data berwujud unsur kata, 6 data berwujud unsur frasa, 2 data berwujud unsur pengulangan kata dan 8 data berwujud klausa. Selain wujud campur kode, penelitian ini juga menunjukkan kemunculan jenis campur kode. Jenis campur kode yang ditemukan pada penelitian ini sebagian besar merupakan jenis campur kode keluar dan tidak ditemukan jenis campur kode ke dalam.

This research discusses the phenomenon ofncode-mixing in song lyrics on the album titled 'One-reeler / Act IV' by IZ*ONE. Code-mixing can easily be found in movies, dramas, comics, song lyrics and novels. Code-mixing phenomenon that usually appears is a mixture of foreign languages such as Korean and English. In addition, code- mixing is also often used by multilingual people in their daily conversations. This research aims to explain the use ofncode-mixing ofkthe song lyrics in the album 'One-Reeler / Act IV' by IZ*ONE. The purpose of this research is to find out how the form and type of code-mixing of the song lyrics in the album ‘One-Reeler / Act IV’ by IZ*ONE. This research is descriptive qualitative research with a qualitative descriptive approach. In this study, researcher analyzed the code-mixing based on the form and type with the classification by Suwito (1983). Based on the results, it can be concluded that there are 27 code-mixed data in the album 'One-Reeler / Act IV' by IZ*ONE. The data can be classified into 11 data in the form of word, 6 data in the form of phrases, 2 data in the form of repetition, and 8 data in the form of clauses. In addition, this study also shows the types of code-mixing. The types of code-mixing that is found in this study mostly the outer code-mixing."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yogyakarta : Kanisius, 1989
410 PEL II (2);410 PEL II (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Arcan, 1988
410 UNI p I
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Yulianti
"Dalam perspektif sosiolinguistik, sabîl lebih cenderung digunakan untuk mengungkapkan suatu jalan atau cara, yang pada umumnya bermakna jalan maknawi. Sedangkan ṭarīq (‫)طريق‬ bermakna jalan fisik, yaitu jalan yang dapat dilalui menuju suatu destinasi fisik pula. Di dalam al-Qur’an, nomina sabîl (‫)سبيل‬ diulang sebanyak 170 kali, dan ṭarīq (‫)طريق‬ diulang sebanyak 4 kali. Namun, di dalam al-Qur;an, perbedaan ini tidak begitu tampak, khususnya pada QS. Al-Baqarah [2]:108 yang menyebutkan sawa assabîl (‫ل‬ِ ‫ي‬‫ب‬ِ ‫س‬‫ال‬ ‫ء‬َ ‫ا‬‫و‬َ ‫س‬) yang artinya ‘jalan yang lurus’ dan dalam QS.) yang artinya ‘jalan yang Al-ahqaf [46]:30 menyebutkan ṭarīqi mustaqim (‫يم‬ٍ ‫ق‬ِ َ ‫ت‬‫س‬ْ ‫م‬ُ ‫ق‬‫ي‬‫ر‬ِ ‫ط‬ lurus’. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persamaa n danperbedaan nomina sabîl (‫)سبيل‬ dan ṭarīq (‫)طريق‬ dalam al-Qur’an yang diliha t dariperspektif sosiolinguistik. Penelitian ini termasuk penelitian pustaka (library research), yang tergolong pada penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu nomina sabîl (‫)سبيل‬ dan ṭarīq (‫)طريق‬ yang terdapat dalam al-Qur’an dan koran Arab. Data yang diambil dari al-Qur’an mer upakandata yang ingin dikaji persamaan dan perbedaannya, sedangkan data yang diambil dari koran merupakan data perspektif sosiolinguistiknya. Sehingga, pemaknaan nomina sabîl (‫)سبيل‬ dan ṭarīq (‫)طريق‬ dalam al-Qur’an dapat dianalisa melalui penggunaannya dalam koran. Hasil penelitian tesis ini menunjukkan bahwa persamaan antara nomina sabîl (‫)سبيل‬ dan ṭarīq (‫)طريق‬ berada dalam konteks makna leksikal, yaitu makna fisik sebenarnya yang sudah terverifikasi oleh hasil pengamatan indera manusia. Maka makna leksikal cenderung apa adanya sesuai dengan makna dalam kamus. Kemudian persamaan makna gramatikal, atributif, denotatif, dan konseptual. Sedangkan perbedaannya terletak pada konteks makna kontekstual, yaitu makna sebuah leksem yang berada dalam suatu konteks kalimat. Fungsi nomina sabîl (‫)سبيل‬ selain sebagai jalan maknawi, juga sebagai cara, jalur, alur, jejak, rute, saluran, sarana, medium, dan alat yang tertuju pada posisi yang maknawi pula. Sedangkan fungsi dan posisi nomina ṭarīq (‫)طريق‬ untuk menunjukkan jalan fisik yang dapat terukur ukurannya, baik panjangnya, lebarnya, dan medannya. Setiap ‘jalan’ yang menggunakan terminologi ṭarīq (‫)طريق‬ pasti menunjukkan bahwa jalan yang dimaksud adalah jalan fisik. Di dalam al-Qur’an, jalan menuju surga dan neraka menggunakan terminologi ṭarīq(‫)طريق‬, yang dalam perspektif sosiolinguistik nomina tersebut menunjukkan jalan fisik. Jalan menuju surga terdapat dalam QS. Al-Ahqaf ayat ke 30, sedangkan jalan menuju neraka terdapat dalam QS. An-Nisa ayat ke 169. Hal inilah yang menjadi signifikansi adanya pembedaan kata ‘jalan’ dalam al-Qur’an.

In sociolinguistic’s perspective, sabîl (‫)سبيل‬ and ṭarīq (‫)طريق‬ occupy different functions and positions. Sabîl (‫)سبيل‬ is more likely to be used to express a way, which generally means a contextual path. While ṭarīq (‫)طريق‬ its use in the physical context, that’s a path that can be passed to a physical destination as well. In the Qur'an, nomina sabıl (‫)سبيل‬ is repeated 170 times, and ṭarīq (‫)طريق‬ is repeated four times. However, in the Qur'an, this distinction is not very visible, especially in the QS. Al-Baqarah [2]: 108 which mentions sawa assabîl (‫السبيل‬ ‫)سواء‬ which means 'straight path' and in QS. Al-ahqaf [46]: 30 mentions ṭarīqi mustaqim (‫مستقيم‬ ‫)طريق‬ which means 'straight path'. Therefore, this study aims to reveal the similarities and differences of nomina sabîl (‫)سبيل‬ and ṭarīq (‫)طريق‬ in the Qur'an from sociolinguistic perspective. This research includes library research, which belongs to qualitative research in the language paradigm. The data required in this study are nomina sabıl (‫)سبيل‬ and ṭarīq (‫)طريق‬ which mentioned in the Qur'an and Arab newspapers. The data which is taken from al-Qur'an is the data to be studied equations and differences, while data which is taken from the newspaper is the data for the sociolinguistic perspective. Thus, the meaning of nomina sabıl (‫)سبيل‬ and ṭarīq (‫)طريق‬ in the Qur'an can be analyzed through its use innewspapers. The result of this thesis research shows that the equation between sabıl (‫)سبيل‬ and ṭarīq (‫)طريق‬ is in the context of lexical meaning, that is, the actual physical meaning that has been verified by the observation of the human senses. Then the lexical meaning tends to be what it is in accordance with the meaning in the dictionary. Then the meanings of grammatical, attributive, denotative, and conceptual. While the difference lies in the context of contextual meaning, namely the meaning of a lexm that is in a sentence context. The function of nomina sabıl (‫)سبيل‬ other than as a means of contextual, also as a way, path, trace, route, channel, medium, and tools are fixed in a position that contextual too. While the function and position nomina ṭarīq (‫)طريق‬ to show the physical path that can be measured size, both the length, width, and terrain. Any 'path' using the term of ṭarīq (‫)طريق‬ must indicate that the road in question is a physical path. The significance of the distinction of the word 'path' in the Qur'an is a miracle of language that explains the authenticity of the physical path to heaven and hell. In the Qur'an, the road to heaven and hell uses the term of ṭarīq (‫)طريق‬, which in the sociolinguistic perspective, terminology of ṭarīq (‫)طريق‬ shows the physical path to a physical destination as well. The road to heaven is in the QS. Al-Ahqaf verse 30, while the path to hell is contained in the QS. An-Nisa verse 169."
Depok: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Rahma Dewi
"Campur kode merupakan fenomena menggunakan lebih dari satu bahasa untuk berkomunikasi dalam masyarakat. Penggunaan campur kode juga dapat ditemukan dalam berbagai media, salah satunya melalui film Mencuri Raden Saleh karya Angga Dwimas Sasongko dan Nussa karya Bony Wirasmono. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bentuk campur kode, jenis campur kode, dan faktor penggunaan campur kode yang dituturkan oleh orang dewasa dalam film Mencuri Raden Saleh dan anak-anak dalam film Nussa. Analisis dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik dengan teori bentuk campur kode berdasarkan bentuk dan jenisnya yang dikemukakan oleh Suwito (1983), serta teori faktor terjadinya campur kode yang dikemukakan oleh Suandi (2014). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan bentuknya, film Mencuri Raden Saleh memiliki lima bentuk campur kode, yaitu kata, frasa, klausa, baster, serta ungkapan atau idiom, sedangkan film Nussa memiliki empat bentuk campur kode yaitu, kata, frasa, klausa, dan baster. Berdasarkan jenisnya, film Mencuri Raden Saleh hanya menggunakan satu jenis, yaitu campur kode ke luar, sedangkan film Nussa menggunakan dua jenis, yaitu campur kode ke luar serta campur kode ke dalam. Berdasarkan faktor penggunaan campur kode, film Mencuri Raden Saleh memiliki tujuh faktor, yaitu keterbatasan penggunaan kode, adanya penggunaan kosakata lain yang lebih populer, latar belakang budaya dan kepribadian penutur, mitra bicara, topik pembicaraan, pokok pembicaraan, dan modus pembicaraan, sedangkan film Nussa memiliki empat faktor, yaitu latar belakang budaya dan kepribadian penutur, mitra bicara, pokok pembicaraan, dan modus pembicaraan.

Code mixing is a phenomenon of using more than one language to communicate in society. The use of code mixing can also be found in various media, one of which is film Mencuri Raden Saleh by Angga Dwimas Sasongko and Nussa by Bony Wirasmono. This study aims to compare the forms of code mixing, the types of code mixing, and the factors of using code mixing spoken by adults in film Mencuri Raden Saleh and children in film Nussa. The analysis was carried out using a sociolinguistic approach with the theory of code-mixing forms based on their forms and types put forward by Suwito (1983), as well as the theory of occurrence factors of code-mixing put forward by Suandi (2014). The method used in this research is descriptive qualitative. The search shows that based on the form, film Mencuri Raden Saleh has five forms of code mixing, namely words, phrases, clauses, basters, and expressions or idioms, while film Nussa has four forms of code mixing, namely words, phrases, clauses, and basters. Based on its type, film Mencuri Raden Saleh uses only one type, namely outer code-mixing, while film Nussa uses two types, namely outer code-mixing and inner code-mixing. Based on the use of code-mixing, film Mencuri Raden Saleh has seven factors, namely the limited use of the code, the use of other more popular vocabulary, the cultural background and personality of the speaker, the interlocutor, the topic of conversation, the subject matter, and the mode of conversation, while film Nussa has four factors, namely the cultural background and personality of the speaker, the addressee, the subject matter, and the mode of conversation"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Surrey: Curzon Press, 2001
410 LAN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>