Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Osrifoel Oesman
"Selama ini para ahli yang mempelajari bangunan kuno di Indonesia, termasuk arkeolog dan arsitek, cenderung memusatkan perhatiannya pada bangunan suci yang dikenal dengan istilah candi. Penelitian terhadap bangunan kuno yang jumlahnya ratusan itu tidak diimbangi oleh usaha-usaha melakukan penelitian terhadap bangunan yang bukan candi seperti bangunan hunian biasa (dwelling house). Hai ini mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa bangunan suci pada umumnya dibuat dari bahan yang tahan lama sehingga masih dapat dilihat wujudnya dengan jelas hingga kini.
Sebagaimana diketahui, di lama misalnya, hingga kini masih dapat dilihat sejumlah besar tinggalan masa lalu berupa candi terutama dari masa Hindu-Buda. Sebaliknya, tidak satu pun bangunan hunian dari masa tersebut yang dapat disaksikan. Bukti-bukti arkeologis pun belum dapat memberi keterangan yang dapat menjelaskan bagaimana sesungguhnya ukuran denah dan bentuk arsitektur bangunan hunian pada masa Hindu-Buda tersebut. Padahal sudah lama para ahli menyadari pentingnya pengkajian atas bangunan hunian sebagai satuan terkecil dari suatu sistem permukiman yang dapat dijadikan dasar untuk mengetahui dan memahami perilaku dan gagasan orang pada masa lalu.
Kecenderungan perhatian yang tidak seimbang itu juga terdapat di beberapa bagian dunia, misalnya di Mesir, Yunani, dan Italia di belahan barat dunia, dan Cina serta Jepang di belahan timur. Tinggalan bangunan-bangunan monumental berupa The Great Pyramid of Giza sampai kini masih berdiri tegak di Mesir, Temple of Artemis dan Parthenon di Yunani, Pantheon dan Colosseum di Roma, Great Temple of Canton di Cina, dan Todaji Shrine serta Zen Buddhist Temple di Jepang (Sagenal dan Jonathan Meades 1980:6--7).
Tidak seperti jenis bangunan-bangunan tersebut yang didirikan dengan rancang bangun yang canggih dan akurat, tinggalan berupa bangunan hunian masa lalu pada umumnya masih bersifat sederhana selain juga jumlahnya sedikit, misalnya (1) hunian atau tempat pernaungan (shelter) di Qlduvai Gorge, Tanzania, yang ditemukan oleh Louis Leaky memperlihatkan unsur-unsur batu berbentuk setengah lingkaran yang mungkin menjadi tempat penahan angin dan dapat dianggap sebagai prototipe sebuah gubug dengan lebar lebih kurang 2 meter (Rapoport 1979:11); hunian tertua di dunia itu diperkirakan berasal dari 1,5--2,0 juta tahun lalu (Howell 1976); (2) bekas suatu gugusan tempat pernaungan manusia yang denahnya berbentuk bujur telur dengan satu tiang terdapat di Terra Amata, dekat kota Nice di selatan Perancis, yang diperkirakan lebih kurang 300.000 tahun lalu; (3) suatu bekas pemukiman tetap yang di dalamnya terdapat sejumlah tempat tinggal, peralatan, kuburan manusia dan hewan peliharaan, serta tempat upacara, yang ditemukan daiam penggalian oleh Stuart Strueven di Koster Illinois, St. Louis, Amerika Serikat, yang diduga berasal dari 7,000 tahun sebelum Masehi; (4) sebuah pemukiman dari komunitas bersahaja dijumpai pula di Stonehenge, Inggris, lebih kurang 4.000 tahun -sebelum Masehi; bahkan bekas suatu bangunan kayu yang ditemukan dan diduga berasal dari 2.500 tahun sebelum Masehi, bergaris tengah sekitar 40 meter."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abimanyu T. Alamsyah
Jakarta: UI-Press, 2009
PGB 0353
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
cover
James Jatmiko Oetomo
"Pada problem dua bangunan yang akan dibangun berdekatan biasanya dimiliki alternatif berupa pemberian dilatasi untuk mencegah benturan atau dengan melakukan penggabungan kedua struktur tersebut. Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan elemen karet sebagai penahan benturan antar kedua struktur. Efektivitas penggunaan elemen karet menjadi objek utama dalam penelitian ini dengan parameter yang diamati antara lain peralihan titik, gaya dalam balok dan kolom, serta deformasi dan gaya dalam aksial pada karet. Pada penelitian ini, kinerja dari penggunaan elemen karet diamati dengan melakukan beberapa variasi simulasi, antara lain variasi model, variasi eksitasi beban gempa, variasi bukaan model non karet, variasi bukaan model karet, dan variasi dari kekakuan karet. Pengamatan dari respon parameter yang maksimum dilakukan pada setiap lantai struktur dimana dilakukan pembandingan antara beberapa model, yaitu pada: (1). Model gabungan dan model karet; (2). Model dengan dilatasi dan model karet; (3). Model karet dan model non karet. Permodelan non karet dalam penelitian ini dibuat dengan memberi kekakuan yang sangat besar pada elemen sambungan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penggunaan karet memiliki keuntungan dan kerugian dibandingkan dengan alternatif berupa dilatasi struktur maupun gabungan struktur. Efek benturan dari hasil simulasi tampak pada gaya dalam aksial balok. Penggunaan model gabungan menunjukkan pembesaran gaya dalam aksial yang utamanya ditunjukkan pada gaya dalam aksial balok bangunan rendah dari model berdampingan.
In structural design problem of two adjacent building, usually we usually use a dilatation as a gap between the structures or make the two structures as a compounded structure. Other alternative is by using an elastomeric rubber as a pounding resisting element between the joint of two structures. Effectiveness of applying elastomeric rubber component in adjacent structures is the main focus in this paper. We will consider following parameters: joint displacements, forces in beam and column, deformation and axial forces in elastomeric rubber. In this paper, effectiveness of an elastomeric rubber observed by using various simulation variations, there are: model variation, earthquake excitation variation, open of non elastomeric element, open of elastomeric rubber, and elastomeric rubber stiffness. Observation of maximum response parameters will be done in each story floor where this paper will compare those parameters between these models: (1). Compounded model and model with elastomeric rubber; (2). Model with dilatation and model with elastomeric rubber; (3). Model with elastomeric rubber and model with non elastomeric element. Modeling of non elastomeric element will be done by using a very high stiffness value in joint link element. Simulation results shows that using elastomeric rubber component as a pounding resisting element has various advantages as well as disadvantages compared to the other alternative. Pounding effect from the simulation showed by beam axial forces. Thus, using compounded model shows amplification in beam axial forces which is mainly affected lower story building from adjacent building model."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S35247
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simarmata, Nathaniel Januardo
"Konstruksi modular menjadi solusi inovatif dalam penyediaan hunian karena keunggulannya dalam efisiensi waktu, pengurangan limbah, dan fleksibilitas desain. Namun, ketahanan strukturnya terhadap beban gempa masih perlu dievaluasi, terutama di wilayah rawan gempa seperti Indonesia. Penelitian ini menganalisis kinerja bangunan modular rumah tinggal menggunakan metode riwayat waktu nonlinier (NLTH) melalui pemodelan di ETABS dan pengujian eksperimental dinamik. Evaluasi dilakukan pada model satu lantai dan model bertingkat dengan variasi mutu pasangan bata sebagai elemen dinding. Hasil analisis menunjukkan bahwa respons struktur sangat dipengaruhi oleh kualitas material dinding serta konfigurasi elemen struktural. Metode NLTH berhasil menggambarkan deformasi, gaya dalam, dan pembentukan sendi plastis secara rinci di bawah eksitasi gempa bidirectional. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam mengenai perilaku dinamis bangunan modular dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan desain struktur modular yang lebih tahan gempa. 

Modular construction offers an innovative solution for housing development due to its advantages in time efficiency, waste reduction, and design flexibility. However, its structural resistance to seismic loads still needs to be evaluated, especially in earthquake-prone regions such as Indonesia. This study analyzes the performance of modular residential buildings using the Nonlinear Time History (NLTH) method through ETABS modeling and dynamic experimental testing. The evaluation was conducted on both single-story and multi-story models with varying quality of masonry walls as structural elements. The analysis results indicate that the structural response is significantly influenced by the wall material quality and the configuration of structural components. The NLTH method effectively captures deformation, internal forces, and the formation of plastic hinges in detail under bidirectional seismic excitation. This research provides a deeper understanding of the dynamic behavior of modular buildings and can serve as a reference in developing more earthquake-resistant modular structural designs."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Rahmaniah R. Sugiarto
"Penelitian ini mengidentifikasi jenis jenis bahan banguann dengan campuran plastic, analisis factor Risiko yang mempengaruhi kelayakan ekonomi serta mitigasi yang mempengaruhi kelayakan ekonomi dari penggunaan bahan bangunan tersebut pada pembangunan rumah tinggal. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa jenis bahan bangunan yang telah divalidasi dapat digunakan pada pembangunan rumah tinggal  adalah  beton, bata, paving block, ornamen interior dan eksterior, dan genteng plastik. Risiko yang termasuk Risiko tinggi adalah Risiko Kualitas Bahan bangunan dengan campuran sampah plastic tidak sebaik bahan bangunan konvensional dan Risiko kompatibilitas bahan bangunan dengan campuran sampah plastic dengan bahan lain. Harga Material Bata dengan campuran plastik adalah Rp. 6.000/pcs kemudian ditambahkan dengan biaya Risiko sebesar 17% menjadi Rp. 7000/pcs sedangkan Harga material Bata konvensional berdasarkan sumber E catalog LKPP adalah Rp. 7.000/pcs sehingga dapat disimpulkan bahwa harga material bata dengan menggunakan campuran plastik masih sama jika dibandingkan dengan harga bata hebel konvensional dengan ukuran yang sama. Harga Material Paving Block dengan campuran plastik adalah Rp. 125.000/m2 kemudian ditambahkan dengan biaya Risiko sebesar 17% menjadi Rp. 146.250/m2 sedangkan Harga material bata konvensional berdasarkan sumber E catalog LKPP adalah Rp. 254.000/m2 sehingga dapat disimpulkan bahwa harga material paving dengan menggunakan campuran plastik masih lebih murah jika dibandingkan dengan harga pavng block konvensional dengan ukuran yang sama. Harga Material Roster dengan campuran Plastik di pasaran adalah Rp. 15.000/pcs kemudian jika ditambahkan dengan biaya Risiko sebesar 17% maka didapatkan Rp. 17.550/pcs sedangkan Harga material roster konvensional berdasarkan sumber E catalog LKPP adalah Rp. 23.000/pcs. Sehingga dapat dikatakan layak digunakan.

This study identifies the types of building materials with a mixture of plastic, analysis of risk factors that affect economic feasibility and mitigation that affects the economic feasibility of using these building materials in the construction of residential houses. The results of the study that have been conducted indicate that the types of building materials that have been validated to be used in the construction of residential houses are concrete, brick, paving blocks, interior and exterior ornaments, and plastic roof tiles. Risks that are included in high risk are the risk of building material quality with a mixture of plastic waste is not as good as conventional building materials and the risk of compatibility of building materials with a mixture of plastic waste with other materials. The price of brick material with a mixture of plastic is IDR 6,000 / pcs then added with a risk cost of 17% to IDR 7,000 / pcs while the price of conventional brick material based on the LKPP E catalog source is IDR 7,000 / pcs so it can be concluded that the price of brick material using a mixture of plastic compared to the price of conventional hebel bricks with the same size is the same or equivalent. The price of paving block material with a mixture of plastic is IDR 125,000 / m2 then added with a risk cost of 17% to IDR. 146,500/m2 while the price of conventional brick material based on the LKPP E catalog source is Rp. 254,000/m2 so it can be concluded that the price of paving material using a plastic mixture is still cheaper when compared to the price of conventional paving blocks with the same size. The price of Roster Material with a plastic mixture on the market is Rp. 15,000/pcs then if added with a risk cost of 17% then it is obtained Rp. 17,550/pcs while the price of conventional roster material based on the LKPP E catalog source is Rp. 23,000/pcs. So it can be said to be feasible to use. "
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library