Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lukas Iwan Djajaputra
"Latar belakang. Kegiatan penyelaman memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tinggi karena lingkungan bawah air bukan merupakan lingkungan normal bagi manusia. Pengetahuan dan prosedur serta pelatihan penyelaman yang memadai merupakan kebutuhan mutlak yang dibutuhkan setiap peselam, Penelitian ini dilaksanakan di Seselam Kodikal Surabaya, untuk mengevaluasi faal paru (KV, KVP, VEP, dan VVM) siswa dikbrevet TNI AL.
Metodologi. Dilakukan studi eksperi mental pra dan post test tanpa kontrol pada 31 orang siswa pendidikan brevet di sekolah penyelaman TNI AL, yang telah melalui seleksi, dengan umur antara 20 - 30 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkaran dada inspirasi, lingkaran dada ekspirasi dan status gizi serta pengukuran feat paru sebelum dan setelah pelatihan. Siswa menjalani pelatihan selam selama rentang waktu 12 minggu.
Hasil. Pada penelitian ini terlihat bahwa seluruh siswa pendidikan dalam kondisi sehat setelah pelatihan. Temuan penelitian adalah sebagai berikut.
1. Pengukuran TB, BB dan S.gizi sebelum dan setelah pelatihan didapatkan peningkatan yang sangat bermakna (p < 0,01), dan sesuai dengan hasil perhitungan deltanya.
2. Didapatkan penurunan LDE yang sangat bermakna (p < 0,01), dan didukung dengan hasil perhitungan deltanya.
3. Didapatkan penurunan rasio VEP,fKVP, tetapi masih di atas nilai normal (> 80%).
4. Didapatkan peningkatan VVM yang sangat bermakna (p < 0,01), tetapi tidak ditunjang dengan perhitungan CI 95%.
5. Analisis multivariat antara K.V setelah pelatihan dengan KVP (p < 0,05) sebelum pelatihan ternyata mempunyai hubungan yang positif bermakna.
6. Analisis multivariat antara KVP setelah pelatihan dengan KVP (p < 0,05) sebelum pelatihan ternyata mempunyai hubungan yang positif bermakna.
7. Analisis multivariat antara VVM setelah pelatihan dengan KV (p < 0,05), KVP (p 0,05) dan VVM (p < 0,01) sebelum pelatihan ternyata mempunyai hubungan yang positif bermakna.

Background . Diving requires a high degree of physical and mental fitness, as the underwater world is not the natural habitat of human beings. Adequate knowledge of diving and diving procedures as well as driving training are an absolute must for every diver. This research was carried out at the Kodikal Diving School in Surabaya in order to evaluate the pulmonary physiology (VC, FVC, FEV1 and MVV) of students at the diving school which issues diving certificates (Dikbrevet) of the Indonesian Navy.
Methodology . An experimental study of pre-tests and post-tests without control was performed on 31 students at the diving school (Dikbrevet) of the Indonesian Navy, aged between 20 and 30, who had previously passed a selection. The data were collected by measuring body height, weight, girth of the chest on inspiration and expiration as well as the nutritional state, and by measuring the pulmonary physiology before and after the training. . Students underwent a diving training during a period of 12 weeks.
Results . In this study it appeared that all students were in a healthy condition after the training. The findings of the study are as follows:
1. There was a quite significant increase in body height, weight and the nutritional state after the training ( p < 0.01 ) compared to the body height, weight and the nutritional state before the training, and this was in accordance with the delta calculation.
2. There was a quite significant reduction of the chest measurement on expiration ( p 0.01 ), which was supported by the results of the delta calculation.
3. There was a reduction in the FEV11 FVC ratio, which, however, was still above the normal value (> 80 % ).
4. There was a quite significant increase of the MVV ( p < 0.01 ), however this was not supported by the Cl calculation 95 %.
5. A multivariate analysis showed that there was a significant positive correlation between the VC after the training and the FVC ( p < 0.05 ) before the training.
6. A multivariate analysis showed that there was a significant positive correlation between the FVC (p < 0.05 ) before the training.
7. A multivariate analysis showed that there was a significant positive correlation between the MVV after the traing with the VC (p < 0.05 ), FVC (p < 0.05) and the MVV ( p < 0.01 ) before the training."
Lengkap +
Depok: Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anis Fitriyani
"ABSTRAK
Adanya pembakaran batu kapur yang berjumlah 85 buah, yang tersebar
diseluruh desa Tamansari, yang senantiasa menimbulkan asap yang mengganggu
jarak pandang .dan adanya penyakit gangguan fungsi paru di Puskesmas
Pangkalan sampai dengan bulan Desember 2012 adalah Asma 445 orang,
Bronkhitis 980 orang, Pneumonia 61 orang dan TBC, dengan BTA (+) dan BTA
(-) adalah 27 orang, sedangkan jumlah penduduk wilayah puskesmas Pangkalan
adalah 35.585.
Tujuan penelitian ini adalah diketahui pengaruh pajanan PM2,5 terhadap
kejadian gangguan fungsi paru ibu rumah tangga sekitar pembakaran batu kapur
di desa Tamansari Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang tahun 2013.
Penilitian ini menggunakan disain potong lintang atau cross sectional
dengan sampel penelitian ibu rumah tangga yang berumur antara 20 tahun sampai
dengan 60 tahun di Desa Tamansari, dengan jumlah 310 responden. Penderita
gangguan fungsi paru didapatkan dari pengukuran spirometri, sedangkan
konsentrasi partikel PM2,5 didapatkan dengan pengukuran menggunakan Huzt
Dust.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa PM2,5 berhubungan secara
signifikan (p=0,000) dengan terjadinya gangguan fungsi paru. Tempat tinggal
dengan PM2,5 yang tidak memenuhi syarat akan beresiko sebesar 73,5 kali
menderita gangguan fungsi paru. Dari model akhir didapatkan hubungan PM2,5
dengan gangguan fungsi paru di Desa Tamansari berbeda signifikant berdasarkan
faktor lama tinggal, adanya penghuni rumah yang merokok, dan pemakaian obat
nyamuk bakar

ABSTRACT
Taman Sari village burning limestone there are 85 pieces, which are
scattered throughout the village of Castle, which always causes smoke interfere
with visibility., And their lung function disorders in base until December 2012 is
Asthma 445 people, 980 people Bronchitis, Pneumonia 61 people and
tuberculosis, smear (+) and smear (-) is 27 people, while the population of the
region is 35.585 Base clinic.
The purpose of this study is known to influence exposure to PM 2,5 on the
incidence of lung function impairment housewives around burning limestone in
the village of Taman Sari Sub Base Karawang regency in 2013.
This research uses cross-sectional design or cross-sectional study with a
sample of housewives aged between 20 years to 60 years in the village of Castle,
with the number of 310 respondents. People with impaired pulmonary function
measurements obtained from spirometry, whereas the concentration of particles
PM2, 5 measurements obtained by using Huzt Dust.
From the results of the study found that the PM2,5 were significantly
associated (p = 0.000) with the occurrence of pulmonary function impairment.
Residence with PM2,5 is not going to qualify for 73.5 times the risk of suffering
from lung problems. Relations obtained from the final model PM2,5 with impaired
lung function in the Castle Village significant by factors different length of stay,
the residents of the house were smoking, and the use of mosquito coils."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T38430
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amir Luthfi
"Latar belakang penelitian: Polisi lalu lintas merupakan profesi yang mempunyai risiko sangat besar untuk terpajan zat-zat polutan yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Jenis polutan utama pada polusi udara di luar ruangan yaitu karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, volatile organic compounds (VOC) seperti hidrokarbon, particulate matter dan ozon yang akan memberikan efek berupa penurunan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi faal paru polisi lalu lintas yang bekerja di wilayah Jakarta Timur.
Metode penelitian : Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian besar Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (JABODETABEK). Penelitian dilakukan di wilayah Jakarta Timur bulan Oktober-Nopember 2012 dengan desain uji potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling melalui kuesioner Pneumobile Project Indonesia, pemeriksaan spirometri, foto toraks PA dan pengukuran kadar CO ekspirasi dan semua subyek akan diminta untuk melakukan demonstrasi penggunaan alat pelindung diri.
Hasil : Seratus tujuh puluh subjek ikut dalam penelitian ini, menunjukkan 83 orang (48,2%) berumur 41 ? 50 tahun dengan status gizi berat badan lebih 90 orang (52,9 %) , perokok aktif 91 orang (53,5 %) dan IB ringan 53 orang (31,2%). Dari Seratus tujuh puluh subjek, dengan masa tugas lebih dari 10 tahun tercatat sebanyak 132 orang (77,5%) dan 111 orang (65,3%) mempunyai kebiasaan pemakaian masker buruk, dengan photo torax normal sebanyak 163 orang (95,9%). Hasil statistk menunjukkan, penurunan nilai faal paru meliputi restriksi ringan sebesar 9,45% atau 16 orang dan obstruksi ringan sebanyak 8 orang (4,7%), serta campuran tercatat 2 orang (1,2%). Selain itu, dari keseseluruhan data yang didapat, 7 orang yang berumur 51-60 tahun dan 7 orang dengan status gizi berat lebih memiliki restriksi ringan. Dari hasil penelitian, didapatkan 11 orang dengan pemakaian masker buruk dan 12 orang subjek yang memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun juga memiliki restriksi ringan, secara statistik ditemukan hubungan yang bermakna antara umur, indeks brikman terhadap faal paru (p<0.05). tapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi, masa tugas, lama tugas, foto thoraks dan kebiasaan merokok serta pemakaian APD terhadap faal paru polisi lalu lintas (p>0.05).
Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faal paru dengan seluruh faktor yang diteliti.

Background: Air pollution due to road traffic is a serious health hazard and thus the traffic policemen who are continuously exposed to pollutant, may be at an increased risk. Types of main pollutants in the outdoor air pollution will significantly influence lung function. This study determined the factors that affect pulmonary function of traffic policemen working in the area of East Jakarta.
Method: This study is a part of the major research in the areas of Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi (JABODETABEK). A cross sectional study was conducted among traffic policemen of East Jakarta Region in the period of October-November 2012. This study has assessed respiratory clinical symptoms using questionnaires of Pneumobile Project Indonesia, examined spirometry lung function, chest x-ray, and expiratory CO measurement.
Results: A total of 170 subjects were included in this study. Most of them aged 41 to 50 years (48.2%), were over weight (52.9%), active smokers (53.5%), had low Brinkman Index (31.2%), have worked more than 10 years (77.5%), did not use masker (65.3%), and had normal chest x ray (95.9%). Results of Spirometry examination showed mild restriction in 16 subjects (9.4%), mild obstruction in 8 subjects (4.7%) and mixed problems in 2 subjects (1.2%). This study showed that 11 policemen who did not use masker and 12 policemen with history of work more than 10 year had mild lung restriction. There are significant association between age, Brinkman Index with lung function (p<0.05), but no significant association was found between nutritional status, smoking history, working history, chest x-ray, use a masker with pulmonary function of traffic policemen (p>0.05).
Conclusion: This study showed that age and Brinkman Index significantly affected lung function, but there was no significant association found between lung function with nutritional status, history of smoking, working history, chest x-ray abnormalities, and use of masker among traffic policemen.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Utami Basra
"Pencemaran udara yang berasal dari sektor transportasi, industri, dan aktivitas domestik menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengolahan semen banyak melepaskan partikulat di udara, ditambah dengan kegiatan transportasi untuk distribusinya. Menurut data yang diperoleh dari laporan tahunan Puskesmas Klapanunggal dari tahun 2016-2018, penyakit gangguan pernapasan terbanyak berada di desa sekitar industri semen.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsentrasi PM2,5 di dalam rumah dengan gangguan fungsi paru pada ibu rumah tangga di sekitar industri semen, Kecamatan Klapanunggal. Penelitian ini menggunakan studi cross-sectional yang dilaksanakan pada Bulan April-Mei 2018. Jumlah sampel sebanyak 97 orang ibu rumah tangga usia 20-55 tahun. Pengukuran konsentrasi PM2,5 dilakukan dengan menggunakan alat Haz-Dust EPAM 5000 dan pengukuran fungsi paru dilakukan dengan uji spirometri menggunakan alat spirometer.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2,5 di udara rumah adalah 70,51 g/m3. Semua sampel mengalami gangguan fungsi paru restriktif dan 8,2 diantaranya mengalami gangguan fungsi paru obstruktif. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan gangguan fungsi paru restriktif pada ibu rumah tangga di Kecamatan Klapanunggal dengan nilai p=0,199. Perlu dilakukan monitoring dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai cara menjaga kualitas udara rumah sekaligus bekerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga kesehatan lingkungan daerah setempat serta mengupayakan pemeriksaan fungsi paru secara berkala bagi masyarakat.

Air pollution from the transportation, industrial and domestic activities are problems for public health in Indonesia. Cement processing releases many particulates in the air, even with transport activities for its distribution. According to data obtained from the annual report of Klapanunggal Puskesmas from 2016 2018, most respiratory diseases are in the villages around the cement industry.
This study aims to analyze the correlation of PM2.5 concentration in household with impaired lung function among housewife around cement industry area, Klapanunggal sub district. This study used a cross sectional study conducted in April May 2018. The sample size is 97 housewives aged 20 55 years. Measurement of PM2.5 concentration was done by using Haz Dust EPAM 5000 and pulmonary function measurement was done by spirometry test using spirometer tool.
The results showed that the average concentration of PM2.5 in the house air was 70.51 g m3. All samples had impaired restrictive lung function and 8.2 of them had impaired obstructive lung function. The result of bivariate analysis showed that there was no significant correlation between PM2.5 concentration with restrictive lung function disorder in housewife in Kecamatan Klapanunggal with p value 0,199. Monitoring and counseling needs to be done to the public about how to maintain the quality of house air as well as working with local universities or environmental health agencies and seek fo regular lung function checks for the community.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
T49806
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Pada populasi penduduk, komposisi kelompok pekerja merupakan salah satu yang terbesar. Gangguan kesehatan pada kelompok pekerja akan menurunkan produktivitasnya. Penyakit pada kelompok kerja tidak hanya terkait dengan penyakit akibat kecelakaan kerja akan tetapi juga oleh penyakit umum, seperti penurunan fungsi paru. Pekerja tambang merupakan salah satu pekerjaan yang menuntut fungsi paru yang baik, oleh karena hal inilah penilaian akan kondisi fungsi paru dan pengetahuan akan faktor determinan penurunan fungsi paru diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor determinan penurunan fungsi paru. Sampel diambil dari data pemeriksaan kesehatan berkala salah satu perusahaan tambang. Penelitian ini menggunakan design penelitian kasus-kontrol. Untuk penentuan kelompok kasus dilihat dari fungsi paru yang dikelompokkan berdasarkan kriteria pemeriksaan spirometri Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) dengan parameter pemeriksaan %FEV1/FVC < 70% untuk gangguan obstruksi dan %FVC < 80% untuk gangguan resktriksi, sementara kelompok kontrol diambil dengan cara simple random sampling yang disesuaikan dengan jumlah sampel kelompok kasus. Variabel yang dianalisa untuk melihat hubungannya dengan fungsi paru pada penelitian ini adalah jenis kelamin, usia, lingkar pinggang, obesitas, dan jenis pekerjaan. Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya penurunan fungsi paru berdasarkan kelompok variabel jenis kelamin dan jenis pekerjaan (p > 0,05). Akan tetapi setelah dilakukan analisis multivariat didapatkan bahwa jenis kelamin (Adjusted OR [CI 95%]= 2,241 [1,021-4,918]), usia (Adjusted OR [CI 95%]= 1,579 [1,263-1,974]), dan lingkar pinggang (Adjusted OR [CI 95%]= 1,682 [1,309-2,162]) merupakan faktor determinan penurunan fungsi paru.

In general population, workers are one of the major group. Illness can reduce productivities of the workers. Disease of the workers consisted not only occupational disease, but also common ones, such as lung function impairment. Mine worker is one occupation that demands a good lung function. Therefore, any assessments of lung function and knowledge of determinating factor for lung function are needed. The goal of this research is to know the determinating factors of lung function impairment. This research use case-control as research design. The samples were taken from periodic health examination data from one mine company. From 5.463 periodic health examination data, we used 1.433 samples which comprised of 733 case group samples and 733 control group samples. To determine the case group is by assessing lung function based on spirometry examination criteria of Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) with examination parameter %FEV1/FVC < 70% for obstruction disorder and %FVC < 80% for restriction disorder. Meanwhile, the control group was taken by simple random sampling which was made suitable with the number of case group. Variables analyzed in order to determine the relation with lung function were gender, age, waist circumference, obesity, and type of job. There was no risk difference of lung function decreasing based on sex and type of job group (p > 0,05). However, after analyzed multivariately, it seemed that female gender (Adjusted OR [CI 95%]= 2,24 [1,02-4,92]), age ≥ 30 years old (p= 0,000 Adjusted OR [CI 95%]= 1,58 [1,26-1,97]), and waist circumference > 90 cm for male and for female ((p= 0,000 Adjusted OR [CI 95%]= 1,68 [1,31-2,16]) were determination factor of lung function impairment."
Lengkap +
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wily Pandu Ariawan
"Latar belakang: Laju penurunan VEP1 dan VEP1/KVP pada pasien PPOK dari beberapa data yang ada menunjukkan penurunan yang lebih tajam dibandingkan normal, namun untuk penelitian yang dilakukan selama 1 tahun belum pernah diperbarui di RSUP Persahabatan. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui laju penurunan nilai VEP1, VEP1/KVP pada pasien PPOK setelah 1 tahun pengobatan.
Metode: Penelitian kohort retrospektif ini dilakukan untuk mengukur laju penurunan nilai VEP1, VEP1/KVP pasien PPOK di klinik Asma PPOK RSUP Persahabatan setelah pengobatan selama 1 tahun.
Hasil: Laju penurunan nilai VEP1 setelah 1 tahun pengobatan adalah sebesar 121,53 120ml/tahun sedangkan laju penurunan nilai VEP1/KVP setelah 1 tahun pengobatan adalah sebesar 2,75 0,47 p10 80,6, derajat GOLD 2 64,5 , mengkonsumsi LABACs 64,5 dan usia terdiagnosis ≥60 tahun 64,5 . Laju penurunan VEP1 lebih banyak terjadi pada kelompok D 110ml/tahun sedangkan laju penurunan VEP1/KVP lebih banyak terjadi pada kelompok B 3,29.
Kesimpulan: Pada penelitian ini diketahui sebagian besar pasien mengalami laju penurunan VEP1 dan VEP1/KVP yang bermakna secara statistik dan sebagian kecil yang mengalami kenaikan meskipun tidak bermakna secara statistik. Tidak didapatkan hubungan yang berbeda bermakna baik antara jenis kelamin, usia, keluhan respirasi, riwayat merokok, IB, jenis rokok, komorbid, tingkat pendidikan, usia terdiagnosis, IMT, kelompok A-B dan C-D, kelompok A-C dan B-D, riwayat eksaserbasi, CAT, derajat obstruksi dan pemberian terapi LABACs dengan laju penurunan nilai VEP1 dan VEP1/KVP. Kata kunci: Penurunan fungsi paru, PPOK.

Background: The rate of decline in FEV1 and FEV1/FVC in COPD patients from some of the available data shows more decline than normal, but for a 1 year study has not been updated in Persahabatan Hospital. This study attempted to determine the rate of FEV1 and FEV1/FVC decline in COPD patients after 1 year treatment.
Methods: This retrospective cohort study was conducted to measure the rate of FEV1 and FEV1/FVC decline in COPD patients at Asthma COPD Clinic Persahabatan Hospital after 1 year treatment.
Results: The rate of decline in FEV1 after 1 year treatment was 121.53 120ml/year while the rate of decline in FEV1/FVC after 1 year treatment was 2.75 0.47 p 10 80.6 , GOLD 2 64.5 , with LABACs treatment 64.5 and diagnosed ge;60 years 64.5 . The rate of decline in FEV1 was more prevalent in group D 110ml/year while the rate of decline in FEV1/FVC was more prevalent in group B 3.29.
Conclusions: In this study most patients have a statistically significant rate of decline in FEV1 and FEV1/FVC, however a small proportion of patients experienced increases in FEV1 and FEV1/FVC although it does not reach statistical treshhold. No significant differences are found between sex, age, respiratory complaints, smoking history, BI, type of cigarette, comorbid, educational level, diagnosed age, BMI, AB and CD group, AC and BD group, history of exacerbations, CAT, obstruction and treatment of LABACs with rate of decline in VEP1 and VEP1 / KVP.
"
Lengkap +
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Tujuan: Prevalensi obesitas pada anak mengalami peningkatan yang berarti di seluruh dunia. Obesitas dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan fungsi paru. Penelitian uji fungsi paru pada anak obes masih terbatas dan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi gangguan fungsi paru pada remaja obes dini di Indonesia serta hubungan antara derajat obesitas dan derajat gangguan fungsi paru. Metode: Uji potong lintang dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM pada bulan November 2007 sampai Desember 2008. Subjek adalah remaja berusia 10-12 tahun dengan obesitas. Pada subjek dilakukan uji fungsi paru untuk menilai FEV1/FVC, FEV1, FVC, V50, dan V25. Hasil: Terdapat 110 subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Jenis kelamin lelaki sebanyak 83 (75,5%) dan perempuan 27 (24,5%); median IMT 26,7 (22,6-54,7) kg/m2, 92 subjek (83,6%) superobes. Riwayat asma dan rinitis alergi terdapat pada 32 (29,1%) dan 46 (41,8%) subjek. Uji fungsi paru abnormal ditemukan pada 64 (58,2%) subjek, terdiri dari gangguan paru campuran 33 (30%), restriktif 28 (25,5%), dan obstruktif 3 (2,7%). Rerata nilai FEV1, FVC, V50, dan V25 mengalami penurunan, sedang rasio FEV1/FVC dalam batas normal. Tidak terdapat perbedaan bermakna rerata parameter uji fungsi paru pada kelompok superobes dan obes. Tidak ada korelasi antara IMT dengan parameter uji fungsi paru. Tidak terdapat hubungan antara derajat obesitas dengan derajat gangguan fungsi paru. Kesimpulan: Gangguan fungsi paru pada remaja dini obes 58,2%. Kelainan tersering adalah tipe campuran (30%), restriktif (25,5%), dan obstruktif (2,7%). Tidak ada korelasi antara IMT dan parameter uji fungsi paru.

Abstract
Aim: Obesity leads to various complications, including pulmonary dysfunction. Studies on pulmonary function of obese children are limited and the results are controversial. This study was aimed to determine proportion of pulmonary dysfunction on early adolescents with obesity and to evaluate correlation between obesity degree with pulmonary dysfunction degree. Methods: A cross-sectional study was conducted at the Department of Child Health, Medical School, University of Indonesia, from November 2007 to December 2008. Subjects were 10 to 12 year-old adolescents with obesity. Subjects underwent pulmonary function test (PFT) to assess FEV1/FVC, FEV1, FVC, V50, and V25. Results: 110 subjects fulfilled study criteria, 83 (75.5%) were male and 27 (24.5%) were female with median BMI 26.7 (22.6-54.7) kg/m2; 92 subjects (83.6%) were superobese. History of asthma and allergic rhinitis were found in 32 (29.1%) and 46 (41.8%) subjects, respectively. 64 (58.2%) subjects had abnormal PFT results consisting of restrictive type in 28 (25.5%) subjects, obstructive in 3 (2.7%), and combined type in 33 (30%). Mean FEV1, FVC, V50, and V25 values were below normal, while mean FEV1/FVC ratio was normal. There was no statistically significant correlation between BMI and PFT parameters. No significant correlation was found between degree of obesity and the severity of pulmonary dysfunction. Conclusions: Pulmonary dysfunction occurs in 58.2% obese early adolescents. The most common abnormality was combined type (30%), followed by restrictive (25.5%), and obstructive type (2.7%). There was no correlation between BMI and pulmonary function test parameters."
Lengkap +
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2010
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Denny Ferdiansyah
"ABSTRAK
LATAR BELAKANG. Latihan yoga merupakan kombinasi unik antara gerakan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan fisik dan cara bernafas serta meditasi yang dapat memberikan ketenangan pikiran. Saat ini latihan yoga yang paling sering dilakukan adalah hatha yoga yang berfokus pada postur fisik yang disebut asanas dan teknik pernapasan atau pranayama. Sasaran dari pranayama ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan fungsi dari sistem pernapasan. Adapun untuk menilai kapasitas fungsi paru dapat dilakukan dengan pemeriksaan uji spirometri dan Ekspansi toraks merupakan suatu metode sebagai pengembangan rongga dada tidak secara langsung menandai peningkatan ventilasi. METODE. One group Pre and Post test design terhadap subjek dewasa muda sehat dengan rentang usia 18 ndash; 40 tahun. Dilakukan intervensi berupa latihan pernapasan yoga selama 6 minggu dilakukan setiap hari selama 30 ndash; 40 menit dalam satu kelompok perlakuan. Sebelum dilakukan dan setelah dilakukan intervensi dilakukan pengukuran spirometri dan ekspansi toraks. Adapun dari nilai spirometri yang dilihat adalah VC Vital Capacity , FVC Forced Vital Capacity , FEV1 Forced Expiratory Volume in 1 Second dan untuk ekspansi toraks yang dinilai adalah batas atas , tengah, dan bawah. HASIL. Didapatkan 23 subjek dewasa muda sehat dengan rentang usia 27 ndash; 36 tahun yang memenuhi kriteria penerimaan dan penolakan. Didapatkan hasil peningkatan VC P = 0.001 , FVC P = 0.02 dan FEV1 P=0.001 dimana didapatkan nilai bermakna P < 0.05 dari sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Tetapi tidak didapatkan nilai yang bermakna pada ekspansi toraks P=1.00 . SIMPULAN. Terdapat perningkatan nilai kapasitas paru pada subjek dewasa muda sehat setelah di lakukan latihan pernapasan yoga selama 6 minggu.

ABSTRACT
BACKGROUND. Yoga exercise in an unique move combinations that can increase physical healthy, breathing, and meditation that can relaxing minds.Nowadays most often yoga exercise is hatha yoga. Hatha yoga focusing on the physical posture called asanas and breathing technique called pranayama. The aim of the pranayama is to increasing breathing functions and capacity. Spirometry is the test for measuring pulmonary capacity and chest expansion is a method to measure the movement of chest that can show the increasing of pulmonary ventilation. METHODS. One group Pre and Post test design on the young healthy adults subject with age between 18 ndash 40 years. Breathing yoga exercise for 6 weeks everyday in 30 ndash 40 minutes each day as the intervention in one group. Before and after the intervention the subjects got measurement spirometry and chest expansion. From the spirometry measurement the value of VC Vital Capacity , FVC Forced Vital Capacity , FEV1 Forced Expiratory Volume in 1 Second collected and for the chest expansion measurement upper, middle and lower value that collected. RESULTS. 23 young healthy adults subjects with the range of age 27 ndash 36 years with the inclusion and exclusion criteria. The result is increasing of VC P 0.001 , FVC P 0.02 and FEV1 P 0.001 with significant differences P 0.05 before and after interventions. There is no significant differences of the chest expansion before and after interventions P 1.00 CONCLUSIONS. There was a significant differences in pulmonary capacity values in young healthy adults after 6 weeks yoga breathing exercise as the intervention. "
Lengkap +
2016
T55599
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anton Sunaryo
"ABSTRAK
Latar Belakang. Gangguan Fungsi paru dapat disebabkan oleh beberapa penyakit atau benda ndash;benda asing yang masuk ke dalam saluran napas, diantaranya debu. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan proporsi gangguan fungsi paru dan gejala klinis akibat pajanan debu hyget poliester di dalam dan di luar ruangan serta faktor-faktor risiko yang berhubungan pada pengrajin kasur lantai.Metode. Penelitian ini menggunakan Desain Comparative Cross Sectional untuk melihat proporsi penurunan fungsi paru para pengrajin yang terpajan debu hyget poliester di dalam dan di luar ruangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, pengamatan langsung, pemeriksaan fisik, pemeriksaan spirometri menggunakan alat spirometri dan pengukuran kadar debu total dengan menggunakan Low Volume Dust Sampler LVS di lapangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPSS 20. Terhadap semua variabel dilakukan uji bivariat, kemudian variabel yang mempunyai nilai p < 0.25 dilakukan uji multivariat. Hasil. Karakteristik pengrajin kasur lantai di wilayah desa X Kabupaten Purbalingga didominasi oleh pengrajin dengan usia <44,4 tahun (52%), IMT tidak normal (51%), berpendidikan sekolah dasar (96%), masa kerja >11 tahun (56%), lama kerja <7,8 jam (73%), menggunakan APD (69%), kebiasaan berolah raga yang tidak baik (82%), tidak memiliki gangguan fungsi paru (81%), memilik tekanan darah tidak normal (71%) serta mayoritas tidak memiliki riwayat sesak napas dan bronkitis kronik (99%). Berdasarkan uji kesetaraan didapatkan hasil bahwa IMT (ρ=0,065), umur (ρ=0.689). Kadar debu di dalam dan di luar ruangan dibawah nilai ambang batas 10 mg/m3.. Sedangkan untuk umur, masa kerja, lama kerja, penggunaan APD dan gangguan fungsi paru, tidak ada hubungannya dengan tempat kerja baik di dalam maupun di luar ruangan. Faktor yang paling dominan yang memiliki hubungan dengan gangguan fungsi paru obstruksi adalah pendidikan, sedangkan faktor lain (umur, IMT, penggunaan APD, masa kerja, lama kerja, kebiasaan berolahraga) tidak memiliki hubungan dengan gangguan fungsi paru baik di dalam maupun di luar ruangan.
Kesimpulan. Proporsi gangguan fungsi paru 18 (18%) orang. Restriksi 16 orang; 6 orang pengrajin di dalam ruangan (restriksi ringan), 10 orang pengrajin di luar ruangan ( 7 orang restriksi ringan dan 3 orang restriksi sedang). Gangguan fungsi paru obstruksi 1 orang di luar ruangan. Serta campuran (restriksi ringan dan obstruksi ringan) berjumlah 1 orang yang bekerja di dalam ruangan. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pajanan debu hyget di dalam dan di luar dengan faktor risiko sosiodemografi (umur, IMT dan pendidikan) dan faktor risiko okupasi (masa, lama kerja dan APD). Faktor yang paling dominan yang memiliki hubungan dengan obstruksi saluran napas adalah pendidikan.

ABSTRACT
Background. Pulmonary function disorder may be caused by several diseases or foreign materials entering the respiratory tract, including dust. This study is aimed at identifying the difference in proportion of pulmonary function disorder and clinical symptoms caused by exposure to hyget polyester dust between craftswomen working indoors and outdoors, as well as risk factors associated with floor mattress workers.Method. This study uses Comparative Cross Sectional design to see the proportion of decrease in pulmonary function disorders in craftswomen exposed to hyget polyester dust working indoors and outdoors. Data collection was conducted using questionnaires, direct observations, physical examinations, spirometry tests, and measuring total dust levels using Low Volume Dust Sampler LVS in the field. The collected data was then analyzed using SPSS version 20. All variables were tested for bivariat analysis, and those with p value<0.25 were tested for multivariate analysis.
Result. The characteristics of floor matress craftswomen in X village of Purbalingga distric are dominated by craftswomen of age <44,4 years (52%), abnormal IMT (51%), education level of primary school (96%), employment length >11 years (56%), work duration <7,8 hours (73%), using Personal Protective Equipment (PPE) (69%), non-optimal exercise habits (82%), no pre- existing pulmonary function disorders (81%), abnormal blood pressure (71%), and no history of breathing difficulties and chronic bronkitis (99%). Based on homogenity test, age ( p = 0.689) and BMI (p=0.065) in found to be homogenous. Indoor and outdoor dust level is above recommended limit ( < 10 mg/m3). However for age, education, employment length, work duration, PPE usage and pulmonary function disorder , there were no associations with working place both indoors and outdoors. The most dominant factor which had an association with pulmonary function disorder was education, while other factors (age, IMT, PPE usage, employment length, work duration, exercise habits) did not show associations with pulmonary function disorders for craftswomen both indoors and outdoors.
Conclusion. Proportion of pulmonary function disorder was discovered in 18 people (18%). Restriction of 16 craftswomen; 6 craftswomen working indoors (mild restrictions), 10 craftswomen working outdoors (7 mild restrictions and 3 medium restrictions). Impaired lung function obstruction 1 craftswomen working outdoors. As well as the mixture (mild restriction and mild obstruction) amounted to 1 craftswomen working indoors. There was no significant association between hyget®polyester dust exposure (both indoors and outdoors) with the sociodemographic risk factors (age, BMI, and education) as well as occupational risk factors (work duration, employment length, PPE). The most dominant factor which had an association with airway obstruction was education.
"
Lengkap +
2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bella Kusuma Dewi
"Gangguan fungsi paru dipengaruhi oleh akumulasi pajanan polusi udara ke tubuh manusia. Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) sebagai tempat yang padat kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang berisiko tinggi untuk menyebabkan pajanan sulfur dioksida (SO2) terhadap petugas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara konsentrasi pajanan SO2 udara ambien dengan kejadian gangguan fungsi paru pada petugas SPBU di Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner untuk wawancara, Spektrofotometer Uv-vis untuk mengukur sulfur dioksida dan spirometri untuk mengukur fungsi paru. Populasi penelitian ini adalah seluruh petugas yang bekerja di 37 SPBU. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 125 responden dan jumlah pengukuran SO2 adalah 30 sampel. Hasil penelitian berdasarkan uji Regresi Logistik Ganda dengan data kontinyu, diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi SO2 udara ambien dengan gangguan fungsi paru pada petugas SPBU di Kota Bandar Lampung, dengan nilai p=0.058. Sedangkan hasil dengan data kategorik, diketahui bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi SO2 udara ambien dengan gangguan fungsi paru pada petugas SPBU di Kota Bandar Lampung, dengan nilai p=0.136 dengan dikontrol oleh lama kerja, status gizi dan masa kerja. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai gangguan fungsi paru dengan zat pencemar lainnya.

Impaired lung function is affected by the accumulation of air pollution exposure to the human body. Fuel Filling Stations (SPBU) as places which are densely with motorized vehicles with fuel have high risk caused by sulfur dioxide (SO2) exposure to attendants. The aim of this study is that to determine the relationship between ambient air SO2 exposure concentrations and the incidence of impaired lung function in Fuel Filling Stations (SPBU) attendants at Bandar Lampung City, Lampung Province. This study used a cross sectional design. Moreover, the instruments in this study used a questionnaire for interviews, a UV-Vis spectrophotometer to measure sulfur dioxide and spirometry to measure lung function. The populations of this study were all attendants working at 37 gas stations. In addition, the numbers of samples in this study were 125 respondents and the number of SO2 measurements was 30 samples. The result of the study based on the Multiple Logistic Regression test with continuous data shows a significant relationship between ambient air SO2 concentration and impaired lung function in Fuel Filling Stations (SPBU) in Bandar Lampung City, with a value of p = 0.058. Meanwhile, the results with categorical data shows that there is no significant relationship between ambient air SO2 concentration and impaired lung function in Fuel Filling Stations (SPBU) attendants in Bandar Lampung City with a value of p = 0.136 which is controlled by length of service, nutritional status and years of service. In addition, further research is needed regards to impaired lung function with other pollutant substances."
Lengkap +
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>