Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Faras Syadad
"Penginderaan jauh merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam eksplorasi mineral. Dengan penginderaan jauh, pemetaan mineral dalam suatu wilayah dapat dilakukan. Selain pemetaan mineral, pemetaan struktur geologi dan mineral alterasi hidrotermal juga dapat menggunakan metode penginderaan jauh sehingga potensi endapan bijih mineral dapat diidentifikasi. Metode penginderaan jauh yang dilakukan pada penelitian ini adalah FFD (Fault Fracture Density) dan PCA (Principal Component Analysis). FFD adalah suatu metode untuk menganalisis kerapatan suatu kelurusan yang dapat menentukan struktur geologi pada suatu wilayah. Sedangkan PCA adalah suatu teknik transformasi gambar untukmenyoroti respons spektral mineral spesifik hasil alterasi hidrotermal. Selain penginderaan jauh, observasi lapangan juga dilakukan sebagai salah satu metode untuk membantu menentukan mineral alterasi hidrotermal berupa analisis struktur, geomorfologi, persebaran litologi, dan analisis petrografi. Penelitian ini akan terfokus pada identifikasi potensi endapan bijih mineral dan alterasi hidrotermal pada daerah Belik, Pemalang, Jawa Tengah dan sekitarnya yang merupakan daerah dengan potensi endapan bijih mineral dan alterasi hidrotermal yang tinggi karena terdapat berbagai macam tubuh intrusi batuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 jenis alterasi yang ada pada daerah penelitian, yaitu alterasi potasik, filik, argilik, dan propilitik. Mineralisasi pada daerah penelitian berupa pirit yang terkonsentrasi pada intrusi porfiri daerah penelitian. Penentuan jenis alterasi dan tipe mineralisasi tersebut berdasarkan hasil kombinasi dari analisis penginderaan jauh melalui metode FFD dan PCA serta observasi lapangan melalui analisis struktur geologi, geomorfologi dan petrografi. Akurasi metode penginderaan jauh yang dilakukan pada penelitian ini setelah dilakukan integrasi dengan observasi lapangan memiliki tingkat akurasi cukup baik hingga kurang baik. Akurasi dapat ditentukan secara kualitatif dari hasil korelasi antara hasil analisis metode penginderaan jauh dengan observasi lapangan.

Remote sensing is one method that can be used in mineral exploration. With remote sensing, mineral mapping in an area can be done. In addition to mineral mapping, mapping of geological structures and hydrothermal alteration minerals can also use remote sensing methods so that potential mineral ore deposits can be identified. Remote sensing methods used in this study are FFD (Fault Fracture Density) and PCA (Principal Component Analysis). FFD is a method to analyze the density of a line that can determine the geological structure of an area. While PCA is an image transformation technique to highlight the spectral response of specific minerals resulting from hydrothermal alteration. In addition to remote sensing, field observations are also carried out as a method to help determine hydrothermal alteration minerals in the form of structural analysis, geomorphology, lithological distribution, and petrographic analysis. This research will focus on identifying the potential for mineral ore deposits and hydrothermal alteration in the Belik, Pemalang, Central Java and surrounding areas which are areas with high potential for mineral ore deposits and hydrothermal alteration due to the presence of various types of rock intrusion bodies. The results showed that there were 4 types of alterations in the study area, namely potassic, philic, argillic, and propylitic alterations. Mineralization in the study area is in the form of pyrite which is concentrated in porphyry intrusions in the study area. Determination of the type of alteration and the type of mineralization is based on the results of a combination of remote sensing analysis through FFD and PCA methods and field observations through geological structure analysis, geomorphology and petrography. The accuracy of the remote sensing method carried out in this study after integration with field observations has a fairly good to poor level of accuracy. Accuracy can be determined qualitatively from the results of the correlation between the results of the analysis of remote sensing methods with field observations."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fathia Seivita Zahirani
"Penambangan bawah tanah merupakan kegiatan eksplorasi yang memanfaatkan endapan mineral terperangkap di bawah permukaan tanah. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan mineral tambang yang ekonomis. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran dan penelitian untuk memahami proses mineralisasi, khususnya proses terjadinya alterasi. Penelitian ini menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) untuk mengetahui bagaimana proses mineralisasi terjadi pada alterasi hornfels dan alterasi prograde skarn yang bersifat konduktif di tambang bawah tanah Big Gossan, footwall west, pada tiga level berbeda (level 2800, 2860, dan 2900 m) dengan panjang lintasan 9 meter di setiap lintasan dan total 9 titik pengukuran. Analisis yang dilakukan meliputi analisis amplitudo, spectrum density, dan bandwidth agar zona alterasi dapat teridentifikasi berdasarkan besar energi yang terserap (loss factor) akibat perbedaan konstanta dielektrik maupun konduktivitas. Hasil analisis data GPR menggunakan 3 parameter tersebut menunjukkan bahwa GPR mampu mengidentifikasi batas kontak alterasi terakhir serta mengestimasi jarak antar setiap alterasi. Perubahan amplitudo dan pola karakteristik sinyal pada kurva spektrum densitas yang rendah dan nilai bandwidth yang cenderung bernilai kecil serta bervariasi menunjukkan adanya perbedaan alterasi antara alterasi hornfels dan alterasi prograde skarn. Selanjutnya, model 3-dimensi dikembangkan berdasarkan hasil GPR yang menunjukkan kemiripan struktur dengan model data geologi drive mapping.

Underground mining is an exploration activity that utilizes mineral deposits trapped beneath the Earth’s surface. This process is expected to yield economically viable mineral resources. Therefore, comprehensive study and research are essential to understand the mineralization process, particularly the occurrence of alteration. This study employs the Ground Penetrating Radar (GPR) method to investigate how mineralization occurs within conductive hornfels and prograde skarn alterations in the Big Gossan underground mine, specifically in the footwall west area, across three different levels (2800, 2860, and 290 m ). Each survey line spans 9 meters, totaling 9 measurement points. The analysis includes amplitude response, spectrum density, and bandwidth to identify alteration zones based on energy loss (loss factor) due to dielectric constants and conductivity variations. The GPR data analysis using these three parameters demonstrates the capability of GPR to delineate the final alteration boundaries and estimate the distance between alteration zones. Changes in amplitude and the signal characteristics, such as low spectral density and narrow, variable bandwidths, indicate differences between hornfels and prograde skarn alterations. Furthermore, a 3D model developed from the GPR data reveals structural similarities with the geological model derived from drive mapping observations."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ridley, John, 1957-
"
ABSTRACT
Mapping closely to how ore deposit geology is now taught, this textbook systematically describes and illustrates the major ore deposit types, linking this to their settings in the crust and the geological factors behind their formation. Written for advanced undergraduate and graduate students with a basic background in the geosciences, it provides a balance of practical information and coverage of the relevant geological sciences, including petrological, geochemical, hydrological and tectonic processes. Important theory is summarized without unnecessary detail and integrated with students' learning in other topics, including magmatic processes and sedimentary geology, enabling students to make links across the geosciences. Students are supported by further reading, a comprehensive glossary, and problems and review questions that test the application of theoretical approaches and encourage students to use what they have learnt. A website includes visual resources and combines with the book to provide students and instructors with a complete learning package."
Cambridge, UK: Cambridge University Press, 2013
553 RID o
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Roro Pradnya Palupi
"Permintaan global terhadap nikel yang terus meningkat menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dunia. Pulau Halmahera, Maluku Utara, memiliki potensi endapan nikel laterit yang tinggi karena tersusun oleh kompleks ofiolit. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona profil laterit dan membangun model geologi endapan nikel sebagai dasar estimasi kadar sumberdaya daerah penelitian. Data yang digunakan berupa data sekunder seperti collar, survey, assay, foto core, serta data logging sebagai penunjang validasi. Metode yang diterapkan yaitu analisis statistik univarian dan estimasi dengan metode ordinary kriging menggunakan unsur Ni sebagai fokus utama. Hasil analisis menunjukkan pengaruh signifikan topografi terhadap ketebalan endapan. Daerah dengan kemiringan lereng landai (0–8°), terutama di bagian tengah, selatan, dan tenggara, menunjukkan ketebalan zona limonit dan saprolit yang tinggi karena pelapukan dan akumulasi material yang lebih stabil. Sebaliknya, lereng curam (>16°) di barat laut dan timur laut memiliki endapan tipis akibat erosi. Domain geologi terbagi menjadi tiga, yaitu domain limonit, saprolit, dan bedrock. Zona mineralisasi mencakup domain limonit (densitas 1,6 gr/cm³) dan saprolit (1,5 gr/cm³). Klasifikasi sumberdaya menghasilkan tiga kategori kelas yaitu terukur, tertunjuk, dan tereka. Hasil klasifikasi dengan menggunakan cut off grade 1% yang menghasilkan kadar rata-rata Ni 1,21% dan jumlah volume 1,472,188 m3 dan tonase 2,355,500 ton pada domain limonit. Sementara, pada domain saprolit menghasilkan kadar rata-rata Ni 1,39% dan jumlah volume 7,736,094 m3 dan tonase 11,604,141 ton. Kategori terukur menandakan daerah penelitian memiliki tingkat keyakinan geologi yang tinggi untuk membuktikan kandungan mineral dan kemenerusan kadar, sehingga daerah penelitian memiliki potensi sumberdaya sebagai pertimbangan kegiatan penambangan.

The increasing global demand for nickel has made Indonesia one of the world's major nickel producers. Halmahera Island, North Maluku, has a high potential for laterite nickel deposits because it is composed of an ophiolite complex. This study aims to map the laterite profile zone and develop a geological model of nickel deposits, providing a basis for estimating the resource content of the study area. The data used are secondary data such as collars, surveys, assays, core photos, and logging data as validation support. The methods applied are univariate statistical analysis and estimation using the Ordinary Kriging method, with the Ni element as the primary focus. The results of the analysis show a significant effect of topography on the thickness of the deposits. Areas with gentle slopes (0–8°), especially in the central, southern, and southeastern parts, show a high thickness of limonite and saprolite zones due to weathering and accumulation of more stable materials. In contrast, steep slopes (>16°) in the northwest and northeast have thin deposits due to erosion. The geological domain is divided into three, namely the limonite, saprolite, and bedrock domains. The mineralization zone includes limonite domains (density 1.6 gr/cm³) and saprolite (1.5 gr/cm³). Resource classification produces three class categories, namely measured, indicated, and inferred. The classification results using a cut-off grade of 1% produced an average Ni content of 1.21% a volume of 1,472,188 m3 and a tonnage of 2,355,500 tons in the limonite domain. Meanwhile, the saprolite domain produced an average Ni content of 1.39% a volume of 7,736,094 m3, and a tonnage of 11,604,141 tons. The measured category indicates that the research area has a high level of geological confidence to prove mineral content and continuity of content so that the research area has resource potential as a consideration for mining activities."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library