Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Margaretha Putri Pratamadewi Widianto
"Telah dilakukan penelitian mengenai Pola Perilaku Pengasuhan Induk Betina Orangutan (Pongo sp.) terhadap Anak di Kawasan Konservasi Ex-Situ Taman Safari Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pola perilaku harian dan pengasuhan, faktor-faktor yang memengaruhi, dan pengaruh perilaku harian induk betina orangutan di Taman Safari Bogor terhadap perilaku pengasuhannya. Subjek pengamatan yang diamati berjumlah dua individu induk betina orangutan, yaitu P1 (Pongo pygmaeus) di Kandang Lokasi dan P2 (Pongo abelii) di Baby Zoo yang memiliki anak berumur 1 dan 4 tahun masing-masingnya. Pengamatan perilaku harian menggunakan metode pencatatan focal instantaneous sampling dengan time point 5 menit. Pengamatan perilaku pengasuhan menggunakan metode pencatatan ad libitum. Pengamatan dilakukan selama satu bulan dengan pengulangan sebanyak 12 kali untuk masing-masing individu. Hasil penelitian didapatkan data yang setara dengan 156 jam waktu pengamatan. Perilaku harian P1 didominasi oleh aktivitas moving (38,6%), sedangkan P2 didominasi oleh aktivitas feeding (41,7%). Perilaku pengasuhan P1 didominasi oleh aktivitas encourages (34,0%), sedangkan P2 didominasi oleh aktivitas breast feeding (29,1%). Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan usia orangutan anak yang lebih besar pada P2 dibandingkan dengan P1. Aktivitas orangutan anak berupa begging menyebabkan tingginya aktivitas breast feeding sebagai bentuk positive feedback dari induk betina orangutan. Mother rejection ditemukan pada P1 sebagai bentuk dorongan lokomosi, sedangkan pada P2 disebabkan oleh tingginya aktivitas orangutan anak. Pola perilaku harian dan pengasuhan induk betina orangutan P1 dan P2 berbeda secara signifikan (Uji Friedmann, P<0,05). Umur orangutan anak dan pemberian enrichment merupakan faktor yang secara umum paling berpengaruh pada pola perilaku harian dan pengasuhan induk betina orangutan di Taman Safari Bogor. Perilaku harian berupa feeding dan moving cenderung memengaruhi perilaku pengasuhan sebagai bentuk pilihan investasi waktu dan energi oleh induk betina orangutan (Uji Spearman, P<0,05).

Research has been conducted about Parenting Pattern of Mother Orangutans (Pongo sp.) to Their Infants in Ex-Situ Conservation Site Taman Safari Bogor, West Java. The study was conducted to evaluate the patterns of daily behavior and parenting activities, factors that influence it, and the influence of daily behavior of mother orangutans in Taman Safari Bogor on their parenting behavior. Subjects observed were two orangutan female parents, namely P1 (Pongo pygmaeus) in Kandang Lokasi and P2 (Pongo abelii) at the Baby Zoo which had children aged 1 and 4 years respectively. Observation of daily behavior using the focal instantaneous sampling recording method with a time point of 5 minutes. Observation of parenting behavior using the ad libitum recording method. Observations were carried out for one month with repetition 12 times for each individual. The results of the study obtained data equivalent to 156 hours of observation time. P1 daily behavior is dominated by moving activities (38.6%), whereas P2 is dominated by feeding activities (41.7%). P1 parenting behavior is dominated by encourages activities (34.0 %), whereas P2 is dominated by breast feeding activities (29.1%). This is due to the greater age in P2 compared to P1. Activities of infant orangutans in the form of begging cause high breast feeding activities as a form of positive feedback from mother orangutans. Mother rejection was found in P1 as a form of locomotion drive, whereas in P2 was caused by high activity of infant orangutans. Daily behavior patterns and parental care of orangutan mother P1 and P2 are differed significantly (Friedmann's Test, P<0.05). Age of infants orangutans and enrichment are generally the most influential factors in the daily behavioral and parenting patterns of mother orangutans in Taman Safari Bogor. Daily behavior in the form of feeding and moving tends to influence parenting behavior as a form of investment choice of time and energy by mother orangutans (Spearman Test, P<0.05)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putera Ikhsan
"Orangutan kalimantan yang sebelumnya dipelihara oleh manusia menunjukkan perilaku stereotipe dan tingkat agresivitas yang rendah sehingga mereka sulit untuk bertahan hidup ketika dilepasliarkan. Program rehabilitasi orangutan kalimantan bertujuan untuk mengurangi kemunculan perilaku stereotipe, pengurangan ketergantungan kepada manusia, dan mengembalikan perilaku alami orangutan kalimantan. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan menganalisis pola perilaku stereotipe dan agonistik pada orangutan kalimantan kandidat rilis di Sintang Orangutan Center. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Hutan Jerora, Sintang Orangutan Center. Pengamatan orangutan dilakukan secara instantaneous sampling dengan metode focal animal sampling. Subjek penelitian ini adalah empat orangutan kandidat rilis, yaitu Kingkong, Mongki, Tom, dan Awin. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, keempat individu menunjukkan perilaku stereotipe dan tingkatan perilaku agonistik yang berbeda. Frekuensi kemunculam perilaku stereotipe dan frekuensi interaksi perilaku agonistik di kandang lebih tinggi di bandingkan di sekolah hutan. Perilaku stereotipe yang memiliki kemunculan tertinggi adalah memantul, configure lips, melipat tangan kebelakang, dan menghisap jari. Berdasarkan hasil pengamatan perilaku agonistik, orangutan kandidat rilis menampilkan tingkatan agresivitas yang berbeda. Awin merupakan orangutan yang memiliki angresivitas tertinggi dan Mongki merupakan orangutan dengan agresivitas terendah.

Bornean orangutans previously kept by humans exhibit stereotypic behaviors and low levels of aggression, making it difficult for them to survive when released into the wild. The bornean orangutan rehabilitation program aims to reduce the occurrence of stereotypic behaviors, decrease dependency on humans, and restore natural behaviors in Bornean orangutans. A study has been conducted to analyze the patterns of stereotypic and agonistic behaviors in release candidate bornean orangutans at the Sintang Orangutan Center. This research was carried out at the Jerora Forest School, Sintang Orangutan Center. Observations of the orangutans were conducted using instantaneous sampling with the focal animal sampling method. The subjects of this study were four release candidate orangutans, that is Kingkong, Mongki, Tom, and Awin. According to the research results, the four individuals showed different levels of stereotypic and agonistic behaviors. The frequency of stereotypic behavior and the frequency of agonistic interactions were higher in the cage compared to the forest school. The stereotypic behaviors with the highest occurrence were bouncing, configuring lips, folding arms behind the back, and sucking fingers. Based on observations of agonistic behavior, the release candidate orangutans displayed different levels of aggressiveness. Awin was the orangutan with the highest aggressiveness, while Mongki had the lowest aggressiveness."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Margaretha Putri Pratamadewi Widianto
"Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pola perilaku harian dan pengasuhan, faktor-faktor yang memengaruhi, dan pengaruh perilaku harian induk betina orangutan di Taman Safari Bogor terhadap perilaku pengasuhannya. Subjek pengamatan yang diamati berjumlah 2 individu induk betina orangutan, yaitu P1 (Pongo pygmaeus) di Kandang Lokasi dan P2 (Pongo abelii) di Baby Zoo dengan anak berumur 1 dan 4 tahun masing-masingnya. Pengamatan perilaku harian dicatat menggunakan metode focal instantaneous sampling dan perilaku pengasuhan menggunakan ad libitum. Pengamatan dilakukan selama satu bulan dengan pengulangan sebanyak 12 kali untuk masing-masing individu dan total waktu pengamatan kedua individu setara 156 jam. Pola perilaku harian dan pengasuhan induk betina orangutan P1 dan P2 berbeda secara signifikan (Uji Friedmann, P<0,05). Perilaku harian P1 didominasi oleh aktivitas moving (38,6%), P2 oleh aktivitas feeding (41,7%). Perilaku pengasuhan P1 didominasi oleh aktivitas encourages (34,0%), P2 oleh aktivitas breast feeding (29,1%). Hal tersebut disebabkan perbedaan usia orangutan anak dan pemberian enrichment. Aktivitas orangutan anak berupa begging menyebabkan tingginya aktivitas breast feeding sebagai bentuk positive feedback dari induk betina orangutan. Feeding dan moving memengaruhi perilaku pengasuhan sebagai pilihan investasi waktu dan energi (Uji Spearman, P<0,05). Mother rejection ditemukan pada P1 sebagai bentuk dorongan lokomosi, sedangkan pada P2 disebabkan oleh tingginya aktivitas orangutan anak.

The study was conducted to evaluate the patterns of daily behavior and parenting activities, influencing factors, and the influence of daily behavior of mother orangutans in Taman Safari Bogor on their parenting behavior. Subjects observed were two orangutan female parents, P1 (Pongo pygmaeus) in Kandang Lokasi and P2 (Pongo abelii) at the Baby Zoo, children aged 1 and 4 years respectively. Daily behavior was recorded using focal instantaneous sampling method and parenting behavior using ad libitum. Observations were carried out 12 times for each individual, 156 hours of total observation time. Daily behavior patterns and parental care are differed significantly (Friedmann's Test, P<0.05). P1 daily behavior was dominated by moving activities (38.6%), whereas P2 was feeding (41.7%). P1 parenting behavior was dominated by encourages activities (34.0 %), whereas P2 was breast feeding (29.1%). The age difference in infant orangutans and enrichment are the cause. Begging activities of infant orangutans cause high breast feeding as a positive feedback from its mother. Feeding and moving influence parenting behavior as a form of investment choice of time and energy (Spearman Test, P<0.05). Mother rejection was found in P1 as a form of locomotion drive, whereas in P2 was high activity of infant orangutans."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rozza Saputri Zulty
"Penelitian pengenalan sumber pakan dan perilaku bersarang orangutan borneo Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760 golongan umur anak tanpa induk di Sekolah Hutan Tembak, Sintang Kalimantan Barat telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengamati pengenalan sumber pakan dan perilaku bersarang orangutan anak dalam Kandang Sosialisasi dan Sekolah Hutan Tembak. Sebanyak dua orangutan anak diamati melalui metode focal animal sampling dan ad libitum. Melalui 401 jam pengamatan, hasil penelitian yang diperoleh yaitu jenis makanan kedua orangutan anak di Kandang Sosialisasi didominasi oleh buah 76,82 , sedangkan di Sekolah Hutan Tembak didominasi oleh daun 38,32 . Perilaku bersarang kedua orangutan anak di Kandang Sosial dan Sekolah Hutan Tembak cukup baik. Kedua orangutan anak mampu membuat sarang meskipun belum sampai pada tahap penguncian sarang.

The research of explore to food sources and nesting behaviour of orphaned juvenile bornean orangutan Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760 at Tembak Forest School, Sintang West Kalimantan has been conducted. The study aims to observe food sources exploration and nesting behaviour of juvenile orangutan in Socialization Cages and Tembak Forest School. Two juvenile orangutans were observed through focal animal sampling and ad libitum methods. With 401 hours observation, the result showed that food sources introduction at Socialization Cages of both juvenile orangutans are dominated by fruits 76,82 while at Tembak Forest School are dominated by leaves 38,32 . The nesting behaviour both of juvenile orangutans are quite good, both of juvenile orangutans are able to make nest even though it has not reached the nest locking stage.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S68753
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Azka Revanza Ahnaf
"Salah satu upaya untuk menjaga populasi orangutan kalimantan adalah merehabilitasi orangutan sitaan untuk dikembalikan ke alam liar, seperti yang dilakukan di Sekolah Hutan Jerora, Sintang Orangutan Center, Kalimantan Barat. Orangutan di sekolah hutan harus mampu mengenali minimal 25 spesies tumbuhan pakan alami sebagai syarat pelepasliaran, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku adaptasi pengenalan pakan sebagai bentuk penilaian kesiapan individu orangutan kandidat rilis. Pengamatan dilakukan terhadap tiga individu orangutan kandidat rilis dengan metode focal animal sampling untuk mencatat perilaku harian dan scan sampling untuk mencatat perilaku makan. Pencatatan perilaku adaptasi pengenalan dibagi menjadi tiga kategori yaitu makanan langsung ditelan, makanan dikeluarkan dari mulut lalu diabaikan, dan makanan dikeluarkan dari mulut lalu dimakan kembali. Dua individu orangutan remaja (BR1 dan BR2) telah mengenali lebih dari 25 spesies tumbuhan pakan dengan baik, yang dibuktikan dengan perilaku menelan langsung makanan yang menjadi bentuk perilaku tertinggi. Perilaku memakan kembali makanan yang dikeluarkan dari mulut hanya terjadi pada individu BR1. Individu JA hanya mampu mengenali setidaknya 5 spesies tumbuhan pakan karena keterbatasan kemampuan lokomosi yang membuatnya tidak dapat menemui banyak tumbuhan pakan di dalam enclosure. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu BR1 adalah yang paling siap untuk dilepasliarkan, diikuti oleh individu BR2 jika dilihat dari kemampuannya dalam mengenali sumber pakan alami.

One of the efforts to preserve the Bornean Orangutan population is to rehabilitate confiscated orangutans so they can be returned to the wild, as is done at the Jerora Forest School, Sintang Orangutan Center, West Kalimantan. Orangutans at the forest school must be able to recognize at least 25 species of natural food plants as a prerequisite for release, so this study aims to analyze the adaptation behavior of food recognition as an assessment of the readiness of individual orangutans who are release candidates. Observations were conducted on three release candidate orangutans using the focal animal sampling method to record daily behaviors and scan sampling to record feeding behaviors. The recording of adaptation behavior of food recognition was divided into three categories: food is swallowed immediately, food is taken out of the mouth and then ignored, and food is taken out of the mouth and then eaten again. Two juvenile orangutans (BR1 and BR2) were able to recognize more than 25 species of food plants well, as evidenced by the behavior of immediately swallowing the food, which was the most frequently observed behavior. The behavior of eating food again after taking it out of the mouth was only observed in BR1. The individual JA was only able to recognize at least 5 species of food plants due to limited locomotion abilities, which prevented it from encountering many food plants within the enclosure. The results of this study indicate that BR1 is the most ready to be released, followed by BR2, based on their ability to recognize natural food sources."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hapsari Indriastuti
"Orangutan kalimantan merupakan satwa yang dilindungi baik secara lokal maupun global. Salah satu strategi konservasi orangutan yaitu penyelamatan, rehabilitasi, dan reintroduksi. Sintang Orangutan Center (SOC) adalah nongovernmental organization yang ada di Kalimantan Barat yang berfokus pada strategi konservasi tersebut. Sebelum dilepasliarkan, orangutan harus memenuhi kriteria yang salah satunya adalah mampu membuat sarang. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kemampuan dan karakteristik sarang empat orangutan betina yang merupakan kandidat rilis serta menganalisis komposisi vegetasi di Sekolah Hutan Jerora untuk menunjang perilaku bersarang. Penelitian dilakukan pada November 2024 sampai Februari 2025 dengan metode focal animal sampling untuk pengamatan sarang dan analisis vegetasi pada plot 20 m x 20 m untuk mengetahui komposisi vegetasi. Tiga dari empat orangutan kandidat rilis (Jamilah, Joss, dan Bondan) memiliki kemampuan sedang dalam membuat sarang, sementara Penai dikategorikan sebagai kurang mampu. Karakteristik sarang yang digunakan subjek penelitian relatif sama pada masing-masing kelas usia. Pohon sarang yang digunakan oleh orangutan remaja lebih beragam dibandingkan dengan pohon sarang yang digunakan oleh orangutan dewasa. Berdasarkan pengamatan kemampuan membuat sarang, Jamilah, Joss, dan Bondan sudah siap untuk dilepasliarkan, sementara Penai belum siap untuk dilepasliarkan. Komposisi vegetasi di Sekolah Hutan Jerora terdiri dari 13 famili baik di enclosure 1 maupun enclosure 2. Famili tumbuhan dengan spesies terbanyak di kedua enclosure yaitu Dipterocarpaceae dan Fabaceae. Pohon dan tiang dengan INP tertinggi merupakan pohon yang digunakan sebagai pohon sarang, yaitu bambang (Lithocarpus sp.), menyatu (Palaquium sp.), resak (Vatica sp1.), dan resak ampelas (Vatica sp2.).

Bornean orangutans are protected both locally and globally. One of the orangutan conservation strategies is rescue, rehabilitation, and reintroduction. The Sintang Orangutan Center (SOC) is a nongovernmental organization in West Kalimantan that focuses on these conservation strategies. Before being released, orangutans must meet criteria, one of which is the ability to build nests. The objectives of this study were to analyze the nesting ability and characteristics of four female orangutans who are release candidates and to analyze the composition of vegetation in Jerora Forest School to facilitate nesting behavior. The research was conducted from November 2024 to February 2025 using the focal animal sampling method for nest observation and vegetation analysis on 20 m x 20 m plots for vegetation composition. Three of the four release candidate orangutans (Jamilah, Joss, and Bondan) were moderately capable of nest building, while Penai was categorized as less capable. The characteristics of the nests used by the research subjects were relatively similar across each age group. Nest trees used by juvenile orangutans were more diverse than those used by adults. Based on observations of nest-building ability, Jamilah, Joss, and Bondan are ready for release, while Penai is not yet ready for release. The vegetation composition at Jerora Forest School consisted of 13 families in both enclosure 1 and enclosure 2. The plant families with the most species in both enclosures are Dipterocarpaceae and Fabaceae. Trees and poles with the highest INP are trees used as nest trees, namely bambang (Lithocarpus sp.), menyatu (Palaquium sp.), resak (Vatica sp1.), and resak ampelas (Vatica sp2.). "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emira Fajarini
"Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui perilaku orangutan anak terhadap pengasuhan dan pembelajaran sosial dari orangutan remaja tidak berkerabat yang terjadi di Sekolah Hutan Tembak. Subjek pengamatan yang diamati yaitu dua individu orangutan borneo, Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760 dari kelas umur anak dan remaja. Pengamatan perilaku menggunakan metode pencatatan data focal instantaneus sampling dengan interval 5 menit dan ad libitum sampling untuk perilaku sosial yang mengindikasikan pengasuhan dan pembelajaran sosial. Pengasuhan pada individu yang tidak berkerabat merupakan suatu bentuk perilaku altruisme. Orangutan remaja memenuhi peran induk dengan kebiasaan berbagi makanan, berbagi sarang, dan menunggu ketika menjelajah. Kedekatan di antara kedua subjek pengamatan memungkinkan terjadinya pembelajaran sosial. Pembelajaran sosial menyebabkan orangutan anak banyak mengimitasi perilaku orangutan remaja. Hasil penelitian didapatkan data yang setara dengan 396 jam waktu pengamatan di Kandang Sosialisasi dan Sekolah Hutan. Terdapat perbedaan signifikan Uji Friedman, P < 0,05 antara proporsi aktivitas orangutan anak ketika beraktivitas bersama dan terpisah dengan orangutan remaja. Proporsi aktivitas harian orangutan lebih menyerupai orangutan remaja ketika bersama dibandingkan ketika berpisah. Hal tersebut membuktikan bahwa jarak kedekatan memungkinkan terjadinya pengasuhan dan pembelajaran sosial yang berpengaruh pada perilaku orangutan anak.

Adoption or parental care behavior to unrelated individuals is a form of altruism. The adoption of orangutans is demonstrated by parental care habits, such as sharing food, sharing nests, and wait during travel, fulfilling the parent role to juvenile orangutan. This research was conducted to find out juvenile orangutan rsquo s behavior responses to adoption and social learning by unrelated adolescent orangutans that occurred at Tembak Forest School. In the case of social learning, the juvenile orangutan will copy or imitate the behavior of adolescent orangutan when in close proximity. The observation used focal instantaneous sampling with 5 minute interval and ad libitum sampling for recording the social behavior, social learning, and altruism data. The results of the study were equals to 396 hour observation at Socialization Cage and Forest School, both showed significant difference Friedman Test, P 0.05 between activity proportion when juvenile orangutan in close proximity and separated with the adolescent orangutan. When in close proximity, juvenile orangutan rsquo s behavior is more similar to adolescent orangutan than when separated. Close proximity between individuals enable parental care behavior and social learning that affecting juvenile orangutan rsquo s behavior.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S69084
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library