Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ilham Nugroho Widananto Kusuma
"Latar Belakang: Polifarmasi dan pengobatan berpotensi tidak tepat (Potentially inappropriate medication/PIM) merupakan permasalahan terkait obat pada usia lanjut terutama dengan multimorbiditas dan berhubungan dengan luaran buruk pada geriatri termasuk kejadian perawatan rumah sakit (admisi).
Tujuan: Mengetahui hubungan polifarmasi dan pengobatan berpotensi tidak tepat pada pasien usia lanjut yang menjalani pengobatan rawat jalan di RSCM dengan kejadian admisi di rumah sakit selama 1 tahun.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif yang diikuti sampai dengan 1 Tahun pasca kedatangan di poli rawat jalan. Sampel diambil secara konsekutif sampai tercapai jumlah sampel yang diperlukan sesuai penghitungan. Follow up selama 1 Tahun Pasien dipantau setiap bulan selama 1 Tahun paska kunjungan rawat jalan pertama atau kunjungan rumah jika diperlukan. Data akan dikonfirmasi dengan rekam medik elektronik lalu dilakukan pemantauan meliputi jumlah kejadian perawatan rumah sakit dan kriteria polifarmasi dan PIM menggunakan STOPP versi 2 selama 1 Tahun
Hasil: Dari 528 subjek penelitian, mendapatkan polifarmasi 465 (88,07%), peresepan obat berpotensi tidak tepat (PIM) berdasarkan kriteria STOPP versi 2 sebanyak 134 (25,38%) subjek. Polifarmasi menurunkan risiko perawatan di rumah sakit selama 1 tahun, dengan crude RR sebesar sebesar 0,542 ( 95% IK 0,353-0,832, p=0,005). Tidak ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat berpotensi tidak tepat dengan admisi rumah sakit RR 0,994 (95% IK 0,653-1,511, p=0,977). Status fungsional, dan penyakit akut merupakan variabel perancu dalam analisis hubungan polifarmasi dan kejadian admisi selama 1 Tahun sedangkan Status kerentaan merupakan faktor perancu PIM dengan kejadian admisi di RS..
Kesimpulan: Polifarmasi dengan angka PIM rendah pada usia lanjut dengan multikomorbiditas menurunkan kejadian admisi di rumah sakit selama 1 tahun pemantauan. PIM tidak memiliki hubungan dengan kejadian admisi di RS pada pasien usia lanjut selama 1 tahun pemantauan.

Background: Polypharmacy and potentially inappropriate medication (PIM) are drug-related problems in the elderly, especially with multimorbidity, and are associated with poor geriatric outcomes including admission.
Aim: To determine the association between polypharmacy and potentially inappropriate medication in elderly patients undergoing outpatient treatment at RSCM with hospital admission over 1 year
Method: This study used a prospective cohort design followed up to 1 year after arrival at the outpatient clinic. Samples were taken consecutively until the required number of samples was reached according to the calculation. Patients are monitored every month for 1 year after the first outpatient visit or home visit if necessary. Data will be confirmed with electronic medical records and then monitoring will be carried out covering the number of admission incidents and polypharmacy criteria and PIM (based on STOPP version 2) for 1 year.
Result: Of the 528 research subjects, 465 (88,07%) received polypharmacy, 134 (25,38%) subjects received potentially inappropriate drug prescriptions (PIM) based on the STOPP version 2 criteria and 78 (23.85%) subjects. There was no significant association between polypharmacy and the risk of admission for 1 year, with a crude RR of 0,542 ( 95% IK 0,353-0,832, p=0,005). There is no significant association between potentially inappropriate medication use and admission RR 0,994 (95% IK 0,653-1,511, p=0,977). Functional status and acute disease are confounding variables in the association between polypharmacy and admission and frailty is a confounding variable in the association between PIM and admission over 1 year.
Conclusion: Polypharmacy with low PIM rates in the elderly with multi-comorbidity reduces the incidence of hospital admission over 1 year. PIM was not significantly associated with hospital admission in elderly patients over 1 year.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Fauziyah
"Obat berpotensi tidak tepat (potentially inappropriate medications / PIMs) umumnya terjadi pada usia lanjut dengan multi morbiditas dan polifarmasi. PIMs menjadi salah faktor penyebab kejadian tidak diinginkan (KTD). Penelitian ini mengembangkan instrumen identifikator PIMs versi Bahasa Indonesia melalui adaptasi dari kriteria STOPP version 2, mengidentifikasi PIMs menggunakan instrumen STOPP versi Bahasa Indonesia, dan menilai hubungan PIMs dengan KTD. Adaptasi instrumen meliputi terjemahan kedepan, terjemahan balik, tinjauan pemegang otoritas, tinjauan tim ahli, dan pra uji. Tahap ini melibatkan penerjemah, pemegang otoritasi STOPP version 2, tim ahli, dan 34 apoteker rumah sakit umum (RSU). Tahap validasi diikuti 230 apoteker RSU di Indonesia dengan desain survei melalui post sampling. Tahap identifikasi PIMs dan menilai hubungan dengan KTD, melibatkan 63 pasien usia ≥ 60 tahun, multi morbiditas, dan menjalani hospitalisasi di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Data kategorikal dan dikotom dalam dalam jumlah (%), diskrit dalam mean ± SD. Analisis menggunakan Content validity ratio (CVR), content validity index (CVI), Pearson correlation, explanatory factor analysis (EFA) dan Cronbach alpha untuk validitas dan reliabilitas. Mann Whitney U Test untuk menilai perbedaan rata-rata (means) antara kelompok pasien dengan obat teridentifikasi PIMs dan tanpa PIMs. Analisis chi-square dan Kappa untuk menilai hubungan antara PIMs dengan KTD, pada α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adaptasi instrumen STOPP version 2 ke Bahasa Indonesia dapat diterima. Setiap kriteria memberikan CVR > 0,75, r Pearson > 0,45 (p < 0,001), dan faktor loading > 0,4. Reliabilitas instrumen sebesar 0,978. Subyek penelitian pada tahap identifikasi PIMs melibatkan pasien usia 70 ± 7,7 tahun, komorbiditas 6,6 ± 2 CCI, terapi obat 9,9 ± 3,1 obat, dan lama hari rawat 16,3 ± 10,3 hari. Ada perbedaan rata-rata bermakna untuk variabel polifarmasi dan lama rawat antara dua kelompok subyek (p <0,001). Hubungan antara PIMs dengan KTD menunjukkan nilai kemaknaan, p < 0,001 dan nilai Kappa sebesar 0,72 (p < 0,001). Obat yang teridentifikasi PIMs dan menyebabkan KTD adalah golongan antihipertensi, obat dengan efek kolinergik, antikoagulan, dan OAINS. Mayoritas KTD yang diderita pasien, seperti hipotensi orthostatik (sesuai kriteria K3), hiponatremi (sesuai krietria A3 dan D4), perdarahan (sesuai kriteria C3 dan C5), dan penurunan LFG (sesuai kriteria E4). Penelitian menghasilkan instrumen STOPP versi Bahasa Indonesia yang valid dan reliabel dan hasil identifikasi PIMs memberikan pengukuran kesepakatan yang baik.

Potentially inappropriate medications (PIMs) commonly occur in the elderly with multiple morbidity and polypharmacy. PIMs are one of the factors causing adverse events (AEs). This study developed an Indonesian version of the PIMs identifier instrument through adaptation of the STOPP version 2 criteria, identifying PIMs using the Indonesian version of the STOPP instrument, and assessing the relationship between PIMs and AEs. Adaptations of the instrument include forward translation, reverse translation, authority review, expert team review, and pre-test. This stage involved the translator, the holder of STOPP version 2 authorization, a team of experts, and 34 general hospitals (GH) pharmacists. The validation phase was followed by 230 pharmacists at the RSU in Indonesia with a survey design through post sampling. The identification phase of PIMs and assessing the relationship with AEs involved 63 patients aged ≥ 60 years, multimorbidity, and underwent hospitalization at Cipto Mangunkusumo National Hospital. Data were categorical and dichotomous in numbers (%), discrete in mean ± SD. Data were analyzed with content validity ratio (CVR), content validity index (CVI), Pearson correlation, explanatory factor analysis (EFA) and Cronbach alpha for validity and reliability. Mann Whitney U test to assess the mean difference (means) between groups of patients with PIMs and without PIMs. Chi-square and Kappa analysis to assess the association between PIMs and AEs, at α = 0.05. The results showed that the adaptation of the STOPP version 2 instrument to Indonesian was acceptable. Each criterion gives a CVR> 0.75, Pearson's r> 0.45 (p <0.001), and a loading factor> 0.4. The reliability of the instrument was 0.978. Research subjects at the PIMs identification stage involved patients aged 70 ± 7.7 years, comorbidity 6.6 ± 2 CCI points, drug therapy 9.9 ± 3.1 drugs, and length of stay 16.3 ± 10.3 days. There was a significant mean difference for polypharmacy variables and length of stay between the two groups of subjects (p <0.001). The correlation between PIMs and AEs showed a chi-square value of p <0.001 and a Kappa value of 0.72 (p <0.001). Drugs identified as PIMs and causing AEs are antihypertensive, drugs with cholinergic effects, anticoagulants, and NSAIDs. The majority of adverse events suffered by patients, such as orthostatic hypotension (according to K3 criteria), hyponatremia (according to A3 and D4 criteria), bleeding (according to criteria C3 and C5), and decreased eGFR (according to criteria E4). The study produced a valid and reliable Indonesian version of the STOPP instrument and the results of the identification of PIMs provided a good measure of agreement to AEs."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library