Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sumadi Paryoto
"Meningkatnya permintaan produk minyak bumi dan penurunan tekanan alami sumur selama produksi minyak membawa fokus industri minyak ke pengembangan dan peningkatan teknik pengurasan minyak tahap lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR). Dari berbagai jenis teknik EOR, chemical enhanced oil recovery (CEOR) merupakan salah satu jenis metode untuk peningkatan produksi tahap lanjut dengan menggunakan bahan kimia untuk mendapatkan tingkat pengurasan minyak yang tinggi. Secara umum, metode CEOR terdiri dari beberapa tipe antara lain adalah injeksi sumur dengan menggunakan surfaktan sebagai bahan aktif. Untuk mendapatkan recovery minyak yang tinggi diperlukan pemilihan surfaktan yang disesuaikan dengan karakter batuan dan fluida reservoir, juga kombinasi surfaktan dengan bahan yang lain misalnya nanopartikel. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sinergitas dalam pengaplikasian antara surfaktan dan nanopartikel Fe3O4 dalam proses EOR. Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa dari kombinasi 3 jenis surfaktan menunjukkan interfacial tension (IFT) dan phase behavior yang baik adalah kombinasi 75%S11: 25%S20. Larutan surfaktan tersebut pada konsentrasi 4% dan ditambahkan nanopartikel Fe3O4 sebesar 0,01 wt% menunjukkan kestabilan yang paling baik dan IFT yang kecil. Pada pengujian coreflooding, kombinasi surfaktan 75%S11:25%S20 yang ditambahkan nanopartikel Fe3O4 0,01 wt% memberikan penambahan perolehan recovery factor sebesar 5,09% OOIP (17,8% ROIP). Penambahan ini cukup besar dikarenakan recovery factor sebelumnya dengan waterflooding dan surfaktan sudah tercapai sebesar 71,40% OOIP. Total recovery factor yang didapatkan sebesar 76,52% OOIP.

The increasing demand for petroleum products and the natural pressure drop in wells during oil production has brought the oil industry's focus to the development and improvement of Enhanced Oil Recovery (EOR) techniques. Of the various types of EOR techniques, chemically enhanced oil recovery (CEOR) is one method for increasing production at an advanced stage using chemicals to obtain a high level of oil extraction. The CEOR method generally consists of several types, including good injection using surfactants as active ingredients. In order to obtain high oil recovery, it is necessary to select a surfactant that is adjusted to the characteristics of the rock and reservoir fluids, as well as a combination of surfactants with other materials, such as nanoparticles. Therefore, this study aims to study the synergy in applying surfactants and Fe3O4 nanoparticles in the EOR process. The results of the tests showed that the combination of the three types of surfactants showed good IFT and phase behaviour, namely the combination 75%S11: 25%S20. The surfactant solution at a concentration of 4% and 0.01 wt% Fe3O4 nanoparticles added showed the best stability and the smallest IFT. In the core flooding test, the surfactant combination 75%S11:25%S20 added with 0.01 wt% Fe3O4 nanoparticles gave an additional recovery factor of 5.09% OOIP (17.8% ROIP). This addition is large because the previous recovery factor with waterflooding and surfactants has reached 71.40% OOIP. The total recovery factor obtained was 76.52% OOIP."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"This book clearly demonstrates the progression of nanoparticle therapeutics from basic research to applications. This book, unlike others covering nanoparticles used in medical applications, presents the medical challenges that can be reduced or even overcome by recent advances in nanoscale drug delivery. Each chapter highlights recent progress in the design and engineering of select multifunctional nanoparticles with topics covering targeting, imaging, delivery, diagnostics, and therapy."
New York: Springer, 2012
e20418238
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Jason
"Latar belakang: Indonesia terletak dalam sabuk talasemia dengan prevalensi karier yang tinggi. Saat ini, terapi kelasi besi dibutuhkan oleh pasien talasemia dependen transfusi. Namun, terapi kelasi besi yang tersedia saat ini memiliki harga yang mahal serta efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu, mangiferin merupakan salah satu senyawa alternatif yang berpotensi sebagai terapi kelasi besi karena mampu mengikat besi serta bertindak sebagai antioksidan. Studi ini bertujuan untuk menilai pengaruh mangiferin dan penggunaan nanopartikel kitosan-alginat terhadap aktivitas SOD jantung.
Tujuan: Mengetahui kemampuan mangiferin sebagai alternatif terapi besi berlebih
Metode: Sebanyak 25 tikus Sprague-Dawley dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan yaitu: kelompok normal (N), kelompok besi berlebih (IO), dan kelompok terapi (IO+M50, IO+MN50, IO+MN25). Iron dekstran 15mg diberikan dua kali seminggu secara intraperitoneal selama 4 minggu, sedangkan mangiferin dan mangiferin dalam nanopartikel diberikan secara intraperitoneal sesuai dosis setiap hari selama 4 minggu. Aktivitas SOD diukur pada organ jantung menggunakan kit SOD dan spektrofotometer. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji ANOVA Welch post-hoc Games-Howell dengan nilai kemaknaan 0,05.
Hasil: Studi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara aktivitas SOD jaringan jantung tikus Sprague-Dawley dalam setiap kelompok percobaan (ANOVA Welch, p=0,071). Kelompok dengan besi berlebih menunjukkan kecenderungan penurunan aktivitas SOD dibandingkan kelompok normal (rerata 0,0092 vs 0,0175 U/mg), peningkatan jika diberikan mangiferin 50mg/kgBB (rerata 0,092 vs 0,0108 U/mg), dan penurunan ketika mangiferin diberikan dalam nanopartikel kitosan-alginat (rerata 0,0108 vs 0,0093 vs 0,0054 U/mg).
Simpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan pada aktivitas SOD jantung tikus Sprague-Dawley antara setiap kelompok, baik dari pemberian besi berlebih maupun dengan terapi mangiferin.

Introduction: Indonesia is located inside the thalassemia belt with high prevalence. Until now, transfusion dependent thalassemia needs iron chelator therapy. But currently, the iron chelator therapies available are so expensive and have side effects. Currently, mangiferin is extensively studied because of its ability to act as an iron chelator and also as antioxidant. This study aims to evaluate the effect of mangiferin and mangiferin in chitosan-alginate nanoparticle to SOD activity in heart with iron overload condition.
Purpose: To know the extent of mangiferin potential as iron chelator therapy alternative
Methods: Twenty-five Sprague-Dawley rats were divided into 5 groups of 5 each: normal (N), iron overload (IO), 50 mg/kg/day mangiferin therapy (IO+M50), 50 mg/kg/day mangiferin therapy in nanoparticle delivery (IO+M50), and 25 mg/kg/day mangiferin therapy in nanoparticle delivery (IO+MN25). Iron dextran and mangiferin were administered intraperitoneally according to each group dose for 4 weeks. SOD activity was measured with spectrophotometer and analysed with Welch’s ANOVA followed by Games-Howell post-hoc test with significance level of 0.05.
Results: This study demonstrated no significant difference of SOD activity compared in each group (Welch’s ANOVA, p=0.071). SOD activity tend to be higher in N group when compared to IO group (mean 0.01175 vs 0.0092 U/mg), tend to increase with mangiferin therapy (mean 0.0108 U/mg), but tend to be lower when carried by chitosan-alginate nanoparticle with IO+MN25 being the lowest (mean 0.0108 vs 0.0093 vs 0.0054 U/mg).
Conclusion: There is no significant difference of SOD activity from comparison of each group of Sprague-Dawley rat’s hearts.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Suci Ningrum
"ABSTRAK
Daun matoa selain dimanfaatkan sebagai obat-obatan, juga dapat digunakan untuk biosintesis nanopartikel perak. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses biosintesis ialah pH. Oleh karena itu, pada penelitian ini telah dilakukan biosintesis nanopartikel perak menggunakan air rebusan daun matoa serta pengaruh pH air rebusan terhadap bentuk, ukuran dan stabilitas nanopartikel perak yang dihasilkan. Biosintesis dilakukan dengan mencampurkan air rebusan daun matoa 2 dan larutan AgNO3 1 mM yang kemudian diinkubasi selama 24 jam. Pengaruh pH air rebusan menjadi variabel proses yang diteliti pada penelitian ini. Terdapat empat variasi pH yang digunakan yaitu 4, 7, 9 dan 11. Nanopartikel perak dikaraktersasi berdasarkan perubahan warna, spektrofotometer UV-Vis, TEM Transmission Electrone Microscopy , dan PSA Particle Size Analyzer . Kadar fenol, flavonoid dan kekuatan antioksidan air rebusan diketahui menggunakan uji TPC, TFC, dan uji DPPH. Hasil foto dan spektrum UV-Vis perlakuan pH menunjukkan adanya perubahan warna larutan menjadi kuning-kecokelatan dan memiliki serapan pada panjang gelombang 400--500 nm yang mengindikasikan terbentuknya nanopartikel perak. Hasil TEM menunjukkan air rebusan daun matoa tanpa perlakuan pH menghasilkan nanopartikel perak dengan bentuk spherical, segitiga, dan segi enam. Perlakuan pH cenderung menghasilkan nanopartikel bentuk spherical. Semakin tinggi pH ukuran nanopartikel yang dihasilkan semakin kecil, serta stabilitas nanopartikel perak yang dihasilkan cenderung belum stabil kecuali pada NPP pH 9 yang memiliki stabilitas nanopartikel yang tergolong cukup stabil dan memiliki persebaran nanopartikel yang tersebar. Air rebusan daun matoa diketahui memiliki kadar fenol sebanyak 2286,21 ?gGAE, dan kadar flavonoid sebesar 1273,7 ?gRE, serta aktivitas antioksidan 89,69 .

ABSTRACT<>br>
Matoa leaves which has been used as medicines, can also be used for biosynthesis of silver nanoparticles. One of many factors that affect biosynthesis process is pH.Therefore, in this research biosynthesis of silver nanoparticles has been done using aqueous extract of matoa leaves and effect of aqueous extract pH on shape, size and stability of silver nanoparticles. Biosynthesis was done by mixing 2 aqueous extract of matoa leaves and 1 mM AgNO3 solution, then incubated for 24 hours. The effect of aqueous extract pH was the process variables studied in this study. There are four variations of pH used, which are 4, 7, 9 and 11. Silver nanoparticles were characterized based on color change, UV Vis spectrophotometers, TEM Transmission Electrone Microscopy , and PSA Particle Size Analyzer . The content of phenol, flavonoid and antioxidant activity of aqueous extract were characterized TPC, TFC, and DPPH test. Photographic and UV Vis spectra results of pH treatment showed a change of color to yellow brown and have an absorption at 400 500 nm wavelength, which indicates the formation of silver nanoparticles. TEM results showed that aqueous extract of matoa leaves without pH treatment resulted in silver nanoparticles with spherical, triangular, and hexagon shapes. pH treatment tends to produce spherical nanoparticles. The increasing pH produce small nanoparticles, and the stability of silver nanoparticles produced tends to be unstable except on the NPP pH 9 which has moderately stable and diffuses of dispersed nanoparticles. The aqueous extract of matoa leaves is known to have phenol content of 2286.21 gGAE, flavonoid level of 1273.7 gRE, and antioxidant activity 89.69 ."
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shafa Putri Nadhirah
"Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh fungsionalisasi nanopartikel magnetik Fe3O4 dengan asam oleat (OA) terhadap karakter fisikokimia, kapasitas loading dan release obat doxorubicin (Dox), serta aktivitas antioksidannya. Nanopartikel Fe3O4 berhasil disintesis menggunakan metode kopresipitasi dan difungsionalisasi dengan OA dalam konsentrasi 0.5 M, 1 M, dan 2.5 M. Hasil karakterisasi FTIR menunjukkan keberhasilan fungsionalisasi melalui munculnya puncak vibrasi karakteristik gugus CH₂ dan COO⁻ dari OA, sedangkan XRD mengonfirmasi bahwa struktur kristalit nanopartikel Fe3O4 tetap terjaga. Efisiensi loading obat meningkat secara signifikan pada Fe3O4-OA 0.5 M dan 1 M, dengan nilai tertinggi sebesar 78.42% pada konsentrasi OA 0.5 M. Pengujian release obat menunjukkan burst effect pada 4 jam pertama dengan release yang lebih tinggi pada nanopartikel yang difungsionalisasi OA seiring peningkatan konsentrasi OA. Aktivitas antioksidan yang diuji dengan metode DPPH menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan aktivitas dibandingkan Fe3O4, nanopartikel Fe3O4-OA tetap menunjukkan aktivitas antoksidan yang tinggi dilihat dari nilai % Radical Scavenging Activity yang tinggi dan nilai IC50 yang rendah.

This study aims to evaluate the effect of functionalizing Fe3O4 magnetic nanoparticles with oleic acid (OA) on their physicochemical properties, doxorubicin (Dox) loading and release capacity, as well as their antioxidant activity. Fe3O4 nanoparticles were successfully synthesized using the co-precipitation method and functionalized with OA at concentrations of 0.5 M, 1 M, and 2.5 M. FTIR characterization confirmed successful functionalization through the appearance of characteristic CH₂ and COO⁻ vibrational peaks from OA, while XRD analysis confirmed that the Fe3O4 nanoparticles crystal structure remained intact. Drug loading efficiency significantly increased in Fe3O4-OA, with the highest value of 78.42% observed at 0.5 M OA concentration. Drug release testing showed a burst effect within the first 4 hours and higher release efficiency in OA-functionalized nanoparticles with increasing OA concentration. Antioxidant activity assessed using the DPPH method indicated that although a decrease in activity was observed compared to unmodified Fe3O4, the Fe3O4-OA nanoparticles still exhibited high antioxidant performance, as evidenced by a high % Radical Scavenging Activity and low IC50 values."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diana, Boraschi
Boston, MA: Academic Press, 2014
616.079 BOR n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library